Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 99 S2 Rumah Sakit


__ADS_3

Setelah hampir semalaman ia tak bisa tidur, pagi ini ia terbangun karena mendengar suara gemericik air dari arah luar.


Melani terkejut saat melihat cahaya matahari menembus jendela kaca dan kain gorden berbahan tipis itu.


Ia segera turun dan membuka gorden. Tampak Jendra tengah membawa selang panjang dan menyirami tanaman di samping rumah tersebut.


Melani menyambar handuk. Ia juga mengambil pakaian ganti. Bisa-bisanya pria itu lebih dulu bangun dibanding dirinya.


"Melani ... jangan menganggap rumah ini seperti hotel. Apa kamu lupa, kalau kamu sedang menumpang di rumah orang lain!" gumamnya merutuki diri sendiri.


"Bisa-bisanya bangun kesiangan!"


"Semua ini gara-gara singa gil* itu!"


Melani segera mandi karena setelah itu ia harus mencuci pakaian kotornya. Ia tidak ingin kembali dengan membawa sekoper pakaian kotor.


"Astaga!" Melani hampir terpeleset saat melihat Jendra sudah ada di depan matanya saat ia membuka pintu kamar mandi dari dalam. Ia hendak keluar setelah selesai mandi.


Pria yang bajunya tampak basah dengan kening yang juga basah, entah karena keringat atau air itu, menatap Melani datar. Tak ada senyum sedikitpun.


Jendra melewati tubuh Melani begitu saja. Ia masuk ke kamar mandi tanpa banyak bicara.


Begitupun dengan Melani yang lebih memilih berjalan menuju ruang cuci yang merupakan bagian paling belakang di rumah ini.


Melani tidak menggunakan mesin cuci. Ia memilih mencuci tangan semua pakaiannya.


Melani lagi-lagi terkejut saat melihat pakaian Jendra sudah dijemur. Bahkan pakaian pria itu sudah berkibar tertiup angin seperti umbul-umbul perlombaan.


"Jam berapa dia bangun? Bahkan aku tidak mendengar saat ia mencuci," gerutunya sambil mengucek pakaian yang belum lama ia rendam.


"Malu rasanya saat aku kalah rajin dari seorang singa gil*," gumamnya pelan.


"Mbak, mengapa tidak pakai mesin cuci saja?"


Melani terkejut saat seorang wanita paruh baya tiba-tiba muncul di belakangnya dengan membawa alat pel lantai beserta ember.


"Heeemm ...." Melani tersenyum lebar. "Tidak apa-apa, kok bu."


"Saya biasa mencuci dengan tangan."


"Wah, persis sekali seperti Bu Jenar. Ibu juga jarang mencuci menggunakan mesin." Wanita itu menatap takjub ke arah Melani.


Jadi, untuk apa mesin cuci mahal ini ada disini? Hanya untuk pajangan saja? Batin Melani.


"Sudah cantik, rajin lagi!" Seru wanita itu. Melani yang tengah menunduk mengucek pakaiannya hanya bisa tersenyum.


"Cocok sekali jadi menantu Bu Jenar. Mas Jendranya ganteng, mbaknya cantik."


Matanya seketika membulat. Ia berbalik, untuk membantah ucapan wanita yang bekerja hanya berberes di rumah itu.


Tapi sayang, wanita itu sudah meninggalkannya dan berjalan menuju halaman belakang.


"Mengapa semua orang selalu salah faham, sih?" geramnya.

__ADS_1


Bahkan orang yang tidak mengenalnya saja berani menebak seperti itu. Padahal, ia bukan kedapatan tengah bermesraan dengan Jendra.


Sementara itu, Jendra sudah selesai mandi. Ia juga tidak bisa tidur karena malam tadi, Melani tidak menanggapi permintaannya. Melani malah menyuruhnya beristirahat, dan pergi begitu saja.


Ia ingin mengejar gadis itu dan memohon seperti adegan romantis dalam film, tapi semua itu tidak mungkin karena Melani bukan kekasihnya.


Mereka bukan sepasang kekasih yang tengah bertengkar lalu si pria membujuk si wanita. Bukan seperti itu. Mereka hanya rekan kerja, dan permintaan Jendra memang terbilang berlebihan.


Ia jelas tahu, Melani bukan abege labil yang akan klepek-klepek saat diajak pacaran oleh seorang CEO tajir sepertinya. Melani gadis mandiri, berprinsip dan tentunya pintar.


Ia yang terlalu gegabah dan egois memikirkan kepentingannya sendiri. Jika mamanya saja, yang sama-sama perempuan dan mereka bicara dari hati ke hati nyatanya tak bisa meluluhkan perasaan Melani. Apa lagi dia, pria yang setiap hari selalu membuat gadis itu kesal.


"Saya akan ke rumah sakit," ucap Jendra saat ia keluar dari kamar dan melihat Melani akan masuk ke dalam kamar.


"Saya ikut," ucap Melani cepat.


Jendra mengangguk. "Saya tunggu di depan."


Ia berjalan keluar. Jendra berdiri di teras rumah. Ia melihat sekitar rumah tersebut dengan yang yang menopang di pagar pembatas teras.


"Rumah ini memang sangat nyaman. Wajar jika mama dan papa ingin tetap tinggal di sini."


"Apa ku buat saja duplikatnya di Jakarta?"


Jendra berdecak. "Tapi percuma saja. Mereka juga tidak akan mau."


"Mungkin hanya dengan hadirnya seorang cucu, yang dapat meluluhkan hati mereka."


Jendra berbalik saat mendengar suara pintu yang tertutup. Melani menutup pintu itu, karena wanita yang bekerja sebagai asisten rumah tangga itu sudah pulang.


"Apakah hari Senin ada jadwal meeting, Mel?"


"Sepertinya tidak ada, Pak. Jadwal anda kosong sampai hari Selasa."


Jendra mengangguk. "Saya belum ingin pulang, malam ini."


"Saya akan pesankan tiket untuk kamu. Maaf, kamu harus pulang sendiri, Mel."


"Bukan tidak ingin bertanggung jawab karena telah mengajak kamu, tapi karena Kayla yang sedang hamil itu tidak mungkin bekerja sendirian."


Melani mengangguk mengerti. "Saya faham, Pak."


"Saya bisa pulang sendiri."


Jendra berhenti di sebuah warung makan. "Kita sarapan sebentar, Mel." Ya, keduanya memang belum sempat sarapan karena Jendra juga enggan memasak.


***


Di rumah sakit.


"Ma, apa sebaiknya kita tinggal bersama Jendra saja?" tanya Surendra pada wanita yang kini tengah ia suapi potongan buah itu.


"Papa khawatir dengan kondisi mama. Setidaknya, mama tidak perlu capek-capek saat tinggal bersama Jendra."

__ADS_1


Wanita itu menggeleng. "Di Jakarta itu masih rumah kita, Pa. Jadi, kenapa kesannya seperti kita yang akan menumpang padanya?"


"Lagi pula, bukankah pindah ke kota ini sudah menjadi kesepakatan kita karena kita ingin selalu bersama, Pa?"


"Iya, tapi kondisi mama yang seperti ini membuat papa khawatir, ma."


"Mama hanya akan pindah jika dia sudah menikah, Pa. Agar mama punya teman. Rumah itu sangat besar, tapi terasa hampa."


"Seandainya Jendra menikah dan seger punya anak, mungkin rumah itu akan ramai Pa."


Surendra mengakui hal itu. Semenjak Jendra tumbuh dewasa, rumah itu mulai terasa dingin. Tidak ada gelak tawa karena putranya itu mulai sibuk dengan aktivitasnya sendiri seperti kuliah dan setelahnya bekerja di perusahaan.


Obrolan mereka terhenti saat pintu ruangan itu di buka. Tampak Jendra dan Melani datang bersamaan. Keduanya tidak saling bicara. Melani menghapiri Jenar sementara Jendra duduk di sofa.


"Bagaimana kondisi anda sekarang, Bu?"


"Sudah lebih baik, Mel." Jenar tersenyum. "Bagaimana tidurmu? Kamu betah kan tinggal di rumah kami?"


Melani tersenyum kecil. Bukan kondisi rumah yang membuat saya tidak nyaman, tapi mulut singa gil* yang tidak bisa dikondisikan itu yang membuat saya tidak bisa tidur, Bu. Batin Melani. Ia melirik Jendra yang tengah menatapnya juga.


"Apa Jendra membuatmu tidak bisa tidur, Mel?" tanya Jenar lagi yang mencium adanya hal tidak beres antara keduanya.


Melani menelan ludah dengan susah payah. Anda terlalu cerdas, Bu. Perkataan anda tepat sekali.


Jenar tertawa. "Dia tidak mengganggu kamu kan?"


"Dia memang begitu. Sengaja minum kopi agar biasa bergadang dan tak tidur semalaman."


"Kadang dia dan papanya menonton film hingga hampir subuh."


Melani menggeleng pelan. "Tidak, Bu. Saya tidur dengan nyenyak, kok," ucapnya bohong.


"Aku akan pulang besok, Ma. Jika dokter sudah mengizinkan mama pulang."


Jenar melihat kearah Jendra. Dan Surendra yang baru saja duduk di depan putranya itu juga tampak terkejut.


"Untuk apa sampai menunggu mama pulang?" tanya Jenar was-was. Takut Jendra membawanya paksa kembali ke Jakarta.


"Kamu bisa pulang segera, Jend. Mama sudah sehat."


Jendra menggeleng. "Aku masih bisa menunggu. Pekerjaanku juga tidak banyak, Ma."


Jenar tahu, putranya itu sangat mengkhawatirkan dirinya. Jika biasanya Jendra tidak berani mendebatnya, kini pria itu malah bertingkah seperti penguasa yang tidak ingin dibantah. Dan itu semua karena Jendra ingin melakunan yang terbaik untuknya.


"Lalu Melani?"


"Dia akan pulang malam ini!"


"Pengecut," sindir Surendra dengan suara pelan membuat Jendra seketika menoleh pada papanya.


"Mama tidak setuju. Kamu yang mengajaknya, kamu juga yang harus membawanya pulang, Jend!"


"Ma, jangan terlalu banyak bicara, sayang. Dan tahan emosi mama. Papa tidak ingin mama pingsan lagi karena berdebat dengannya." Surendra seketika menatap tajam kearah Jendra.

__ADS_1


Entah mengapa, sepertinya hari ini semua orang sedang memusuhinya. Mulai dari Melani hingga kedua orang tuanya.


__ADS_2