
"Mel ..."
Melani terkejut saat melihat Jenar yang memanggilnya. Wanita cantik itu sedang duduk di ruang tv tepatnya di dekat tangga.
"Ma ..." balas Melani.
"Sudah?" tanya Jenar dengan ekspresi terkejut.
Ia tak bisa berkata-kata saat melihat Melani turun dari lantai dua dengan rambut yang tampak basah. Padahal keduanya belum dua jam berada di dalam kamar.
"Sudah?" tanya Melani yang malah diartikan sebagai jawaban bagi Jenar.
Jenar menepuk keningnya. Dasar anak kurang ajar! Siang-siang begini menggempur istrinya. Dia fikir Melani tidak merasa lelah?
"Mama kenapa?" Melani segers turun dengan cepat saat melihat Jenar menepuk keningnya
Jenar menatap Melani yang bisa berjalan seperti biasa bahkan lebih lincah. Terbukti dengan keberadaannya di hadapan Jenar dalam waktu beberapa detik saja.
Tidak mungkin Melani selincah ini jika memang Jendra sudah melakukannya.
"Belum, kan Mel?" tanya Jenar memastikan.
Melani mengerutkan kening dan alisnya hampir menyatu karena heran melihat mertuanya yang seketika tampak syok, namun kini tampak penasaran.
"Tadi sudah, dan sekarang belum. Aku tidak mengerti, mama sedang membahas apa, ma?"
Jenar menghembuskan nafas lega. "Tadi kamu bilang sudah."
"Justru aku menanyakan pada mama, apanya yang sudah?"
Jenar tertawa membuat Melani semakin salah tingkah. "Ma ..." Melani melihat mata Jenar yang sampai meneteskan air mata karena terlalu keras tertawa.
"Astaga, Mel. Maksud mama, kalian sudah melakukannya apa belum?"
"Melihat rambut kamu yang basah, tidak salah kan kalau mama mengira kalian sudah ...."
Melani menunduk malu. "Belum, Ma."
"Pantas saja. Mana mungkin pengantin baru sudah selesai bahkan kurang dari dua jam."
"Memang harusnya berapa jam, Ma?" tanya Melani yang baru tahu akan hal itu. Dua jam masih dibilang sebentar?
Di kantor saja, ia tidak betah terus-terusan duduk di kursi kerja. Kadang ia mencari kesempatan untuk berjalan ke meja Kayla atau ke kamar mandi.
Apa jadinya jika ia dan Jendra harus menghabiskan waktu lebih dari dua jam?
Matanya membulat sempurna. Aku tidak yakin tulang-tulangku masih utuh jika sampai lebih dari dua jam.
"Jangan khawatir, kamu pasti akan suka, Mel!" Jenar berusaha menenangkan fikiran Melani karena ia melihat menantunya itu tampak tegang dan ketakutan.
"Tidak seburuk yang kamu bayangkan, kok! Apa lagi kalau kamu dan suamimu saling mencintai."
"Tenanglah. Dia pasti bisa membuat suasana jadi menyenangkan. Serahkan saja padanya."
Apa mama sedang mengakui kalau Mas Jendra memang sangat berpengalaman? Huh! Aku memang seharusnya tidak perlu takut. Dia pasti lebih faham cara mengatasinya.
__ADS_1
Jendra turun dari lantai dua dan tampaklah Melani dan Jenar yang sedang berbincang-bincang. Surendra ada di sana juga, tapi lebih banyak diam karena Jenar dan Melani sedang membicarakan Jendra.
"Dia memang seperti itu, ma. Tidak akan ada siapapun yang berani mengganggunya jika hatinya sedang mendung." Jenar tak henti tertawa saat Melani menceritakan bahwa mood Jendra sering berubah-ubah hingga membuat karyawan enggan untuk menemuinya.
"Apa lagi ditambah badai petir! Manager saja tidak ingin masuk ke dalam ruangannya, Ma!" Keduanya tertawa bersama.
"Menceritakan aib suami, berdosa loh, Sayang!"
Melani menatap Jendra. "Kita kan membahas fakta, Mas. Mama saja senang mendengar ceritaku."
Jendra duduk di samping papanya. "Kalau kamu memutuskan untuk bercerita dengan mama, maka bersiaplah kamu akan terus bercerita tanpa henti."
"Ini sih masih lumayan, kamu ngobrolnya secara langsung."
"Kalau via video call, bisa habis batrai dan kuota kamu, Mel!" ucap Jendra.
Melani tertawa tanpa suara. "Mama suka anak yang terbuka, Mas."
"Mama hanya ingin kamu menceritakan apapun yang terjadi pada kamu, meski hanya saat kamu menginjak kerikil, Mas."
"Mama ingin hal itu. Mama ingin jarak diantara kalian menjadi tidak berarti kala kamu menceritakan semuanya pada mama."
"Mama ingin bercerita setiap hari kan, Mas?"
Jendra mengangguk. "Ya, hampir setiap hari, Mel. Kadang aku merasa bosan."
"Pantas saja kamu sering menolak panggilan mama, Jend!" sambar Jenar.
Jendra meringis saat papanya menarik telinganya. "Jadi, kamu sengaja membuat istriku khawatir, hah!"
"Aduh, Pa!" Jendra menahan tangan papanya agar tidak menarik telinganya terlalu kuat.
"Lebih baik telinga kamu yang lepas dari pada wanita itu merasa sedih berhari-hari."
"Tapi, wanita yang papa maksud itu mamaku!"
"Iya, tapi dia istri papa, Jend!"
Jendra akhirnya dilepaskan setelah merengek minta bantuan mamanya.
"Padahal mama bisa melihatku dari cctv!" gumam Jendra mengusap telinganya yang memerah.
Ia menatap papanya yang mendelik ke arahnya. "Bukankah hanya itu pekerjaan kalian? Menonton rekaman cctv rumah dan kantor!"
"Sekalian saja, pasang di mobilku, atau di kamarku, atau mungkin di kamar mandiku!"
Jendra terus mengomel meski papa dan mamanya serta istrinya sedang menahan tawa karena tingkahnya yang seperti anak kecil.
"Akan mama pertimbangkan!"
Jendra seketika menatap mata mamanya. Ia terkejut dengan jawaban mamanya. Ia bukan sedang memberi masukan. Ia sedang mengeluhkan kelakuan kedua orang tuanya.
"Kalian ingin bulan madu ke mana?" tanya Surendra menjadi penengah dalam situasi yang mulai panas itu. Ia sengaja mengalihkan perhatian putranya.
"Bali!" Jendra dan Melani mengucapkan tempat yang sama.
__ADS_1
"Mengapa harus kesana, Sayang?" tanya Jenar.
"Kenapa ma? Apakah tidak boleh?" tanya Melani takut. Ia takut keluarga Jendra mengira ia ingin liburan mewah di pulau itu.
"Tentu boleh!" balas Jenar mengelus rambut Melani. "Tapi, bukankah kalian sudah pernah kesana? Lagi pula resepsi kalian juga akan diadakan disana."
"Tidak masalah, Ma. Aku sangat menyukai tempat itu. Entah mengapa, tapi rasanya aku betah tinggal di sana."
Malam harinya ....
"Sedang apa?" tanya Jendra pada istrinya yang sedang duduk bersila di depan koper yang isinya sudah dipindahkan di dalam lemari.
Melani menarik sudut bibirnya. Ia menunjukkan kalung dengan liontin bentuk kupu-kupu yang kemarin malam diberikan oleh ibu panti.
"Cantik sekali!" Jendra memegang liontin itu. Ia membolak-baliknya.
"Itu adalah salah satu benda yang orang tuaku tinggalkan bersamaku saat aku dibuang di panti asuhan, selain selimut ini."
Jendra seketika menatap istrinya. Ada guratan kesediahan, namun berusaha ditutupi dengan senyuman. Melani juga mengalihkan kesedihannya dengan mengusap selimut berbulu tebal itu.
Jendra memutar benda berbentuk kupu-kupu itu untuk melihatnya secara keseluruhan.
Jendra terkejut saat menyadari sesuatu. "Sepertinya ini bisa dibuka, Mel!"
Melani melihat ke arah benda ditangan Jendra. "Dibuka bagaimana, Mas?" tanya Melani.
"Sebentar!" Jendra berdiri dan mengambil gunting kuku. Ia menggunakan bagian yang agak runcing untuk mencongkel benda itu.
"Lihat! Tampak seperti ada sela kan?" Jendra menunjuk bagian bawah yang memang sepertinya tampak ada sela sedikit.
Benar saja. Liontin itu bisa terbelah dua, tepatnya dibagian tubuh kupu-kupu dan memisahakan dua sayapnya.
"Ada sesuatu di dalamnya, Mel!"
Tampak bagian dalamnya terdapat benda yang pipih berbetuk love dengan ukiran diatasnya. Selama ini Melani tidak pernah tahu.
"M.A." Jendra menatap wajah Melani setelah membaca tulisan itu.
"Sama seperti yang terdapat di selimut, Mas." Melani menunjukkan tulisan yang sama di selimut itu.
"Mungkin itu inisial nama kamu, Mel."
Melani mengangkat bahu. Mungkin saja, Mas. Dan ayah, ibu memberiku nama dengan inisial yang sama."
"Ini bisa kita jadikan petunjuk, Mel!"
"Untuk apa, Mas? Sudah 30 tahun juga. Terlalu lama, Mas."
"Mereka tidak pernah melihatku padahal mereka tahu harus mencariku kemana!"
Melani masuk ke dalam pelukan Jendra saat suaminya itu merengkuh tubuhnya.
"Kalau kamu tidak ingin bertemu mereka tidak masalah, Sayang!"
"Tapi, jika kamu bertemu mereka, setidaknya kamu bisa mengatakan bahwa kamu baik-baik saja tanpa mereka."
__ADS_1
"Aku sebanarnya tidak sepenuhnya baik-baik saja, Mas. Ada kalanya aku sedih karena tidak seberuntung anak-anak lain."
"Tapi, kadang aku merasa jauh lebih beruntung karena ayah dan ibu mengurusku dengan baik. Tidak seperti anak-anak lain yang bahkan tidur di jalanan."