
Melani terkesiap saat tiba-tiba ia melihat kedua orang tua Jendra berada di kantor. Keduanya berjalan mendekat tanpa ekspresi.
Auranya berbeda sekali. Jangan-jangan ada yang tidak beres.
"Selamat siang, Ibu, Bapak," sapa Melani dengan senyum ramah. Ia bersikap profesional karena saat ini masih jam kerja.
Kayla tidak ada di tempat, istri Kalandra itu sedang menemani Jendra di ruang meeting.
Jendra sengaja tidak mengajak Melani karena ia ingin Melani bekerja sedikit lebih santai menjelang hari pernikahan mereka.
Persiapan pernikahan sudah rampung hampir seratus persen. Mereka hanya perlu hadir di sebuah masjid, tiga hari lagi.
Melani berdebar saat kedua orang tua Jendra menatapnya tajam, dari atas hingga ke bawah. Bahkan ia bisa merasakan keringat menetes di punggungnya.
Bu Jenar tampak menatap perutnya. Entah apa yang dicari, Melani tidak tahu. Melani hanya merasa risih karena ia sedang memakai rok pensil setinggi betis dengan blazer dan di dalamnya ia memakai kemeja yang ia masukkan ke dalam rok.
"Jendranya ada, Mel?"
Melani mengangguk. "Ada, Bu. Pak Jendra sedang meeting bersama klien. Mungkin sebentar lagi selesai."
"Mari saya antar ke ruangan beliau!"
Melani menghela nafas lega karena berhasil menggiring keduanya masuk ke dalam ruangan Jendra.
"Silakan ditunggu, sebentar, Bu! Saya akan buatkan kopi untuk bapak dan ibu."
Melani berjalan keluar ruangan. Ia bertanya-tanya mengapa orang tua Jendra bersikap tidak ramah terhadapnya. Sangat berbeda dari biasanya.
Apa karena ia pernah menolak Jendra sehingga keduanya marah padanya? Tapi, bukankah mereka akan menikah tiga hari mendatang?
Jangan-jangan, mas Jendra belum memberitahu kedua orang tuanya?
Melani kalang kabut, jika memang benar, sudah bisa dipastikan mereka dalam masalah besar. Pergi ke Bali tanpa memberi tahu mereka saja bisa menjadi masalah, apalagi untuk hal sepenting ini.
Dimana fikiran Mas Jendra? Mengapa dia tidak memberi tahu orang tuanya mengenai pernikahan kami?
Ia bergegas membuatkan kopi dan segera membawanya ke ruangan Jendra. Bertepatan dengan keluarnya Jendra dari ruang meeting.
Melani meletakkan nampan diatas mejanya dan segera menarik Jendra untuk bicara berdua saja.
Kayla memberi kode seolah bertanya ada apa? Tapi Melani tidak menjawab. Ia malah menarik Jendra menjauh dari pintu masuk menuju ruang kerja pria itu.
"Ada apa, Mel?" tanya Jendra yang merasa kalau Melani sedang panik. "Kamu sakit?"
"Mengapa membawaku ke sini?"
Melani menatapnya tajam dengan tangan yang terlipat di dada.
Jendra tersenyum tipis. "Kangen, ya? Ingin mesra-mesraan denganku?" Ia senang menggoda calon istrinya.
Melani mencubit perutnya. "Mimpi!"
"Kamu buat masalah apa lagi, Mas? Orang tua kamu tiba-tiba datang dan bersikap tidak ramah!" bisik Melani.
"A-apa? O-orang tuaku?" tanyanya tergagap.
"Dimana?" Jendra melihat sekeliling. Ia terkejut karena orang tuanya tidak memberi kabar. Orang tuanya memang ia minta untuk datang besok. Tapi mengapa sudah tiba siang ini?
"Di ruangan kamu! Ayo ikut! Aku juga harus mengantarkan kopi untuk mereka," ajak Melani menarik kembali tangan Jendra.
"Pasti kamu membuat masalah lagi, Mas! Aku tidak mau terlibat dalam masalah yang kamu buat dengan orang tua kamu."
__ADS_1
Jendra dan Melani masuk ke ruangan itu. Dan tampak kedua orang tua Jendra tengah duduk di sofa.
"Kemarilah!"
Belum sempat menyapa, Jendra dan Melani malah diminta mendekat. Melani meletakkan nampan di tangannya ke atas meja. Ia menunduk hormat pada penguasa Dewandaru Group itu.
"Papa dan mama mengapa tidak memberi ka-"
"Tidak perlu memberi kabar pada kamu!" Potong Jenar dengan nada marah.
"Mama tanya sama kamu. Mau jadi anak durhaka atau memang tidak ingin diakui sebagai anak?" Jenar benar benar tampak marah. Matanya terbuka lebar dengan urat yang menonjol disekitar lehernya.
Jendra menunduk. Ia tahu letak kesalahannya. Niatnya ingin memberi kejutan, malah dia yang harus terkena amukan ibu negara.
"Atau kita coret saja dari KK, ma!" sahut Surendra yang tampaknya terlihat lebih santai ketimbang Jenar.
Melani menelan ludah dengan susah payah. Ia takut sekali melihat kemarahan Jenar. Ia melirik pria di sampingnya yang juga tengah menunduk.
Apa ini, ya Tuhan? Mengapa aku dan dia malah terlihat seperti anak SD yang sedang dihukum oleh gurunya. Batin Melani.
Jendra menghela nafas. "Ma, sebenarnya ..."
"Sebenarnya apa? Kamu menganggap orang tua kamu hanya tamu?" tanya Jenar.
"Kamu sengaja membuat mama dan papa tidak melakukan persiapan apapun?"
"Atau ...." Jenar menatap Melani.
"Kamu sudah hamil?"
Melani seketika menatap Jenar. Ia terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia bahkan sampai melongo sangking tak percaya mendengar pertanyaan Jenar yang menuduhnya.
Atau Mas Jendra sudah memberi tahu, tapi tidak menjelaskan alasannya sehingga mereka mengira demikian?
"Mel ...."
Melani terkesiap. "Ti-tidak, Bu. Saya tidak sedang hamil."
"Dan kamu!" Jenar menatap putranya yang sempat menepuk dahi saat ia menuduh Melani sedang hamil.
"Mengapa tidak memberi tahu mama dan papa kalau kalian akan menikah?"
"Kamu anggap apa kami ini, Jend?" tanya Jenar. Wanita itu menahan geram.
"Duduk, Ma. Jangan emosi. Biarkan mereka menjelaskan lebih dulu."
"Tidak bisa, Pa. Mama harus membuat putra papa ini sadar bahwa apa yang ia lakukan salah."
Jendra mendekati mamanya dan meminta wanita cantik itu untuk duduk di sofa. Jendra mengusap punggung mamanya perlahan.
"Mama tenang dulu. Aku punya alasan mengapa aku melakukan semua ini."
"Aku sengaja tidak memberi tahu mama karena aku ingin memberikan kejutan!"
"Ya, kamu berhasil membuat mama terkejut!" balas Jenar menatap tajam putranya.
"Mel, duduk dulu!" Perintah Jendra kepada Melani. Meski mamanya sedang marah, ia tetap harus memperhatikan gadis itu.
"Mama ...." Jendra menggenggam tangan mamanya.
"Alasan mengapa aku tidak memberi tahu mama mengenai pernikahan ini adalah karena aku tidak ingin mama kerepotan."
__ADS_1
"Kedua, mama akan kelelahan karena terlalu antusias."
"Ketiga, mama dan papa pasti ingin mengundang banyak tamu sementara kami ingin pernikahan yang khidmat dengan tidak banyaknya tamu yang diundang."
"Tapi, semuanya bisa dibicarakan baik-baik Jend!"
"Bisa, Pa. Tapi, apa mama bisa dicegah?"
"Mama akan sibuk mempersiapkan semuanya, lalu mama akan kelelahan. Apa gunanya jika saat hari H mama malah sakit."
"Tapi, kamu kurang ajar. Meminta kami datang hanya karena alasan rindu!" Jenar membuang muka.
Ya, Jendra meminta orang tuanya datang bukan karena alasan ingin menikah. Tapi, ia beralasan karena rindu sementara ia tidak punya waktu untuk mengunjungi orang tuanya.
"Memangnya kamu siapa? Sok sibuk sekali!" ucap Jenar sinis.
Jendra malah tertawa. Ia memeluk mamanya dari samping. "Hahaha ... aku kan anak mama yang paling tampan!"
"Sebentar lagi, anak mama akan menikah dengan gadis yang dulu pernah mama pilihkan!" Jendra menunjuk Melani dengan tatapan matanya.
Jendra menggoyangkan tubuh Jenar yang masih berada dalam pelukannya. Ia memperlakukan mamanya seperti anak kecil.
"Jangan marah padanya, Ma. Semua ini memang rencanaku. Aku ingin meminta restu dengan berlutut di depan mama dan papa."
"Ya, walaupun aku tahu, kalian pasti akan memberi restu."
"Tapi, ternyata mama sudah lebih dulu mengetahui rencana pernikahan kami. Padahal tidak ada siapapun yang tahu kecuali kami berdua dan ...."
Mata Jendra membulat sempurna. "Kalandra!" Ia menyebutkan satu nama yang ia duga menjadi biang keroknya.
"Dia yang memberi tahu mama?" Jendra melepas pelukannya dan menatap mamanya.
Jenar mengangguk. "Jangan salahkan dia karena semua ini juga salah kamu!"
"Dia menghubungi mama tadi malam. Dia meminta mama membelikan makanan yang diinginkan istrinya yang sedang ngidam."
"Mungkin dia mengira mama sudah tahu. Atau mungkin dia juga yang kelepasan bicara."
Jendra menghela nafas. Ia menggenggam tangan mamanya.
"Karena sudah seperti ini kejadiannya. Sekalian saja, Ma. Aku meminta doa mama agar niat baik kami bisa berjalan lancar."
"Begitu juga dengan papa. Doakan selalu, agar rumah tangga kami langgeng hingga maut memisahkan."
"Papa sebenarnya senang, mendengar kabar kamu akan menikah!"
"Tapi, papa dan mama merasa tidak di hargai sebagai orang tua."
"Dan harusnya kami sadar. Kalau kami mempunyai anak yang sedikit gil*!"
Melani menutup mulutnya saat Surendra mengakui bahwa putranya sedikit gil*.
"Jadi, hal seperti ini bisa saja terjadi."
Jenar mengangguk. "Kalian berhutang cerita, mengapa akhirnya kalian memutuskan untuk menikah."
Melani mengangguk.
"Bukan karena hamil, kan Jend?" tanya Jenar sekali lagi.
Jendra tertawa. "Belum ma. Seratus persen ori dan masih tersegel!" bisik Jendra. Melani sampai tersipu malu dibuatnya.
__ADS_1