
Semua orang di rumah Kalandra sibuk melakukan persiapan acara aqiqahan baby Ara. Tidak ada acara meriah, hanya ada pengajian yang dihadiri oleh warga sekitar serta beberapa anak yatim yang sengaja mereka undang.
Puluhan nasi kotak yang mereka pesan dari restoran Reyga, mereka bagikan ke beberapa panti asuhan dan masyarakat tidak mampu di jalanan, seperti tunawisma, pemulung, pengamen bahkan tukang becak. Kalandra mengerahkan orang-orangnya untuk melaksanakan niat baiknya ini.
Semua tamu sudah hadir, Kalandra dan Kayla menyambut mereka. Keduanya sangat senang karena hampir semua warga yang mereka undang bisa hadir pada siang hari ini.
Acara berjalan lancar tanpa kendala apapun. Hanya saja Baby Ara tampak tidak nyaman karena selalu berpindah tangan, dari Riana, Melani hingga Oma yang datang dari jauh untuk turut hadir dalam acara ini.
"Pulang, yuk!" ajak Jendra pada istrinya yang masih memandang wajah baby Ara dalam gendongannya.
"Sebentar lagi, Sayang!" tolak Melani tanpa menatapnya.
Kalandra dan Kayla saling tatap lalu sama-sama tertawa melihat Melani yang begitu gemas pada putri mereka.
Jendra berjongkok di depan Melani. Ia mendekatkan wajahnya hendak mencium putri Kalandra.
Melani menjauhkan wajah Ara dari suaminya. "Mau apa kamu, Mas?"
"Cium."
"No!" marah Melani. Matanya melotot dan kepalanya menggeleng pelan.
"Cuma cium, sayang!"
"Kamu tanya Kayla, pernah atau tidak Pak Kalandra mencium bayinya ketika dari luar rumah?"
Jendra melihat ke arah Kayla dan Kalandra. Keduanya kompak menggeleng.
"Kenapa?" tanya Jendra. Padahal hanya cium, dan bukankah bayi ini anak mereka?
"Karena bayi seusia Ara,daya tahan tubuhnya masih lemah. Jadi, dia masih rentan terhadap infeksi kuman dan virus yang akhirnya menimbulkan beberapa masalah kesehatan," jawab Kayla.
"Yang terlihat bersih belum tentu bersih, Mas." Melani ikut memberi pengertian. "Kalau Ara sakit, yang repot bukan kamu, Mas. Tapi, orang tuanya."
"Jadi, jangan ulangi lagi! Kamu harus banyak belajar dari pak Kalandra, Mas."
Jendra mencebikkan bibir. "Dia pintar karena ikut kelas, Mel."
"Aku juga akan pintar kalau ikut kelas sepertinya," lanjut Jendra.
Kalandra memang menceritakan pada Jendra kalau ia dan Kayla ikut kelas untuk belajar merawat putri mereka.
Kayla juga ikut senam untuk memudahkan persalinannya. Kayla mengisi waktu luangnya untuk hal-hal yang bermanfaat, terlebih saat ia sudah cuti sebulan sebelum melahirkan.
"Iya ... iya...." balas Melani yang tidak ingin berdebat lagi dengan suaminya. "Nanti kita akan melakukan hal yang sama, Mas."
Riana membawa beberapa cemilan untuk di hidangkan pada Melani dan Jendra yang kebetulan memang datang terlambat.
__ADS_1
"Tidak perlu repot-repot tante," ucap Jendra sopan.
Riana tertawa. "Kenapa? Biasanya ambil sendiri, Jen?"
"Haha ... iya tante." Jendra tertawa.
"Ma, sudah, Ma. Duduk dan istirahatlah! Mama terlalu sibuk sejak pagi. Andra tidak mau melihat mama kelelahan."
"Iya, Andra! Lagi pula mama senang melakukannya."
"Silakan dimakan, Melani."
Melani tersenyum. "Terima kasih, tante."
"Dia tidak makan apapun, tante."
"Loh, kenapa?"
"Hamil muda, tan," jawab Jendra.
Riana tersenyum lebar. "Sama seperti saat tante hamil Andra dulu. Tidak bisa makan apapun. Tapi kamu hebat loh, bisa aktivitas seperti ini."
"Tante dulu hanya tiduran saja. Badan terasa lemas karena tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuh."
"Tapi, tante coba makan semua makanan. Dan kalau ada yang tidak membuat mual, tante rutin memakan makanan itu."
"Wah, bisa jadi anaknya mbak Melani laki-laki dong, Ma," ucap Kayla senang.
"Tidak bisa dijadikan patokan, Sayang!" ucap Kalandra. "Kamu ingat, dokter mengatakan hal itu, kan?"
"Ngidam, bentuk perut, kebiasaan tidur, letak gerakan, dan lain-lain tidak bisa dijadikan patokan untuk mengetahui jenis kelamin bayi yang sedang dikandung, Sayang."
Kayla tertawa. Ia merasa geli saat tahu, kalau ternyata Kalandra begitu mengingat semua ucapan dokter saat mereka boerkonsultasi saat hamil Ara beberapa waktu lalu.
"Kamu masih ingat, Mas?" tanya Kayla.
Kalandra mengangguk. "Tentu ingat, Kay!"
"Lalu, kenapa kamu diam saja saat aku mengatakan bahwa baby dalam kandunganku adalah bayi perempuan saat aku merasakan gerakannya lebih sering di perut sebelah kiri?"
Kalandra tertawa. Ia mengingatnya. Saat itu, usia kehamilan Kayla baru 5 bulan. Kayla bercerita kalau bayi dalam kandungan Kayla lebih banyak bergerak di perut bagian kiri, lalu istrinya itu mengatakan bahwa jenis kela-min bayi mereka adalah perempuan.
"Jadi, aku harus apa, Kay? Karena aku juga tidak tahu, dia laki-laki atau perempuan."
"Percuma saja berdebat dengan kamu saat itu. Karena aku tidak yakin suasana hati kamu akan baik-baik saja."
Kayla tertawa. "Iya, aku mudah sekali mengalami perubahan suasana hati."
__ADS_1
"Dia juga seperti itu, Kay!" Jendra menunjuk istrinya dengan lirikan mata.
"Dalam 5 menit, dia bisa tertawa sekaligus menangis. Aku sampai geli sendiri melihatnya. Dia sedang kesurupan atau apa?"
Melani menyerahkan baby Ara pada Kayla. "Tolong pegang, Kay."
Melani langsung memukul bahu Jendra. "Itu gara-gara kamu, Mas!" ucapnya dengan wajah cemberut.
"Kamu tidak menuruti keinginanku, Mas."
"Hati-hati, katanya kalau ngidam tidak terpenuhi, anak kamu bisa ileran, Jend!" Kalandra menakut-nakuti Jendra. Padahal pria itu tahu, hal itu hanyalah mitos belaka.
Jendra tertawa. "Kamu tahu, dia ingin apa Kal?"
"Dia ingin melihatku memakai daster sambil memasak nasi goreng jam 2 malam dengan disaksikan oleh seluruh asisten rumah tangga."
Kalandra merapatkan bibirnya menahan tawa. Ia sendiri tidak sanggup membanyangkan bagaimana malunya jika itu terjadi.
"Sepertinya anak kamu suka saat papanya dipermalukan, Jend!" Kalandra tak tahan lagi, akhirnya ia tertawa juga.
Kayla juga tertawa, tapi melihat Melani yang murung, ia mengusap bahu temannya itu.
"Ibu hamil itu memang ajaib, mbak Mel." Melani seketika menatapnya.
"Mbak Mel belum merasakan rasanya ingin makan rujak pas tengah malam, kan?"
"Mbak Mel tahu kan, kalau selama aku mengandung Ara, aku selalu membawa sabun mandi batang beraroma stroberi di dalam tasku?
Melani mengangguk. Saat itu ia menganggap Kayla sangat aneh. Wanita itu beberapa kali tampak menghirup aroma sabun mandi saat sedang bekerja.
Kalandra tertawa. "Bahkan sampo dan sabunku juga berganti dengan aroma stroberi."
"Untung saja, tidak dengan parfumku." Ucapan Kalandra itu memancing tawa mereka.
"Kamu cuma perlu pakai daster kan, Jend?"
"Aku malah di minta untuk memakai celananya hanya karena aku melarangnya memakai dress saat bekerja."
"Salah kamu, Mas. Aku mana bisa memakai celana dengan keadaan perut yang semakin besar."
"Untung mama bisa membuat kamu mengerti." Kayla cukup berterima kasih pada Riana karena bisa membuat Kalandra mengerti bahwa memakai celana saat perut sudah membesar, rasanya tidaklah nyaman.
Riana mengangguk. "Tidak perlu bersedih, Melani. Katakan saja apa yang kamu inginkan."
"Dan kamu." Riana menunjuk Jendra. "Turuti saja, Jend. Karena kamu tidak tahu bagaimana rasanya tengah mengandung."
Melani tersenyum senang karena mereka juga membela dirinya selain mama mertua dan bundanya.
__ADS_1