Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 128 S3 Menangis


__ADS_3

"Ka-kayla."


Kayla bisa melihat wanita yang merupakan ibu kandungnya itu berdiri dan terbata saat mengucapkan namanya. Ekspresi senang dan terkejut tampak jelas dimata Kayla.


Kenapa, Bu? Ibu kaget melihatku yang sudah sebesar ini? Ibu kaget karena melihatku masih bisa bertahan hidup ditengah kesulitan yang kami alami?


Kayla berjalan mendekat. Matanya mengunci sosok wanita yang tega meninggalkannya hanya untuk bekerja di luar negeri. Tidak memberi kabar lagi. Tidak pernah pulang dan terakhir, tepat nya beberapa tahun lalu ia malah melihat akun sosial media ibunya yang memamerkan keluarga bahagia barunya.


"Kayla ..." Wanita itu memeluk erat tubuh Kayla yang berdiri tegak. Wanita itu terisak merasa terharu karena bisa memeluk tubuh putrinya lagi.


"Ibu sangat merindukan kamu."


Bahu Kayla dipegangnya. Tatapan mata mereka saling bertemu. Kayla memang meneteskan air mata tapi tangannya enggan membalas pelukan itu.


Bohong kalau ia tidak rindu. Bohong kalau ia tidak rindu pelukan ini. Tapi, entahlah mengapa kepulangan wanita ini tidak pernah ia harapkan lagi semenjak ayahnya tiada.


Ia sudah terbiasa sendiri. Ia sudah terbiasa hidup tanpa kehadiran sosok ibu. Ia juga sudah tidak mengharapkan lagi kepulangan wanita itu.


"Dia siapa, Kay?" Ibunya melirik Susi yang sedari tadi melihat interaksi mereka.


"Istri baru ayah kamu? Mengapa mereka tinggal di rumah kita? Di rumah ini, masih ada hak ibu, Kay." Ada nada marah sekaligus kecewa dalam kalimat yang wanita itu ucapkan.


Kayla mendelik. Ia tak menyangka ibunya malah berfikir demikian. Hak? Hak apa yang sedang ibu bicarakan? Kemana kewajiban yang harusnya ibu tunaikan? Mengapa ibu tidak melupakan kewajiban itu?


Kayla belum menjawab. Tapi, ibunya malah membahas hal lain.


"Dia siapa?" Tunjuknya pada Kalandra.


"Suami kamu atau tukang ojek, Kay?"


"Atau memang suami kamu yang pekerjaannya hanya sebagai tukang ojek."


Oh God, rasanya ingin sekali Kalandra menjadi pesulap. Ia ingin mengubah celana jeans dan kaos pendek itu menjadi setelan jas rapi dan bermerek yang biasa ia pakai.


Kayla tak peduli. Ia memasang wajah datar tanpa ekspresi lalu melirik anak perempuan dibelakang ibunya sebagai kode bahwa ia juga minta penjelasan tentang anak perempuan itu.


"Ah, ya. Dia adik kamu, Kay!" Ibunya merangkul bahu anak perempuan itu dan membawanya ke hadapan Kayla.


"Kamila, ini kakak kamu, Nak."


Kayla tersenyum palsu pada anak perempuan yang mencium punggung tangannya. Tidak mungkin ia marah pada anak yang belum tahu inti permasalahan mereka.


Kayla dan yang lainnya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Karena merasa tidak enak pada tetangga yang mulai muncul di depan rumah mereka masing-masing hendak mencari tahu apa yang sedang terjadi.


"Rumah ini sangat nyaman. Sudah banyak sekali perubahan. Dimana ayah kamu? Apa dia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, Kay?"

__ADS_1


Wanita itu mengedarkan pandangan sekelilingnya. Rumah ini memang sudah banyak berubah dibanding 13 tahun lalu. Barang-barang di dalamnya juga ada beberapa yang masih baru.


Kayla menatap ibunya. "Sebenarnya apa tujuan ibu datang ke rumah ini?"


"Dan kenapa ibu baru kembali setelah sekian lama?"


"Ibu mendengar kabar kalau kamu sudah menikah. Katanya dengan pengusaha kaya, tapi malah yang ibu lihat hanya tukang ojek."


"Siapa orang itu? Mengapa bisa ibu dan dia berkomunikasi?"


"Kami baru-baru ini berkomunikasi lewat sosial media. Kamu saja yang tidak punya sosial media. Kamu sama saja seperti ayah kamu, Kay. Terlalu kuno."


Kayla menipiskan bibirnya. Ia bukan tidak punya, ia punya dan jarang sekali membukanya. Akunnya juga tidak menggunakan nama lengkapnya.


"Aku memang seperti ayah, Bu. Semua kebiasaan ayah melekat padaku. Karena memang hanya ayah, satu-satunya orang yang selalu ada untukku."


"Dan soal pekerjaan suamiku, apa masalahnya, Bu? Selagi pekerjaan itu menghasilkan uang yang halal, ku rasa tidak masalah."


Ibunya tersenyum lebar. "Sebaiknya kamu ikut dengan ibu. Disana kamu bisa bekerja dan mendapat gaji lumayan banyak."


"Jika dia mau, ajak saja dia bersama kamu." Ibunya melirik Kalandra.


"Kalian bisa mengumpulkan uang untuk modal usaha di sini."


Bu Susi datang membawakan minuman untuk Kalandra dan Kayla. Wanita itu langsung kembali ke dapur karena tidak ingin ikut campur urusan mereka.


Kayla masih sanggup menahan air matanya. Meskipun sesak rasanya mendengar hinaan demi hinaan keluar dari mulut wanita yang dulu ia sayangi itu.


"Ternyata waktu bisa mengubah manusia dengan begitu cepat," desis Kayla.


Wanita itu mendelik menatap Kayla.


"Ibu banyak berubah, Bu. Ibu berubah drastis. Apa yang membuat ibu jadi seperti ini? Kehidupan mewah di luar sana? Atau penghasilan besar yang membuat ibu silau?"


"Ibu sampai melupakan anak dan suami ibu disini." Air mata itu tak lagi bisa ia bendung.


"Dan ibu pulang membawa keangkuhan?" Kayla membuang muka.


"Ibu tidak pernah bertanya bagaimana kabarku?"


"Bagaimana kabar ayah?"


"Apa kami sehat?"


"Apa kami bisa makan hari ini?"

__ADS_1


"Apa kami bisa hidup tanpa ibu?"


Kayla menggeleng. "Tidak, Bu. Ibu lupa menanyakan hal itu."


Kayla berdiri dari kursinya. "Harusnya ibu tidak perlu kembali, Bu."


Wanita itu membulatkan matanya. "Tuhan sudah memberi tahuku. Ibu sudah menikah lagi, kan?"


Wanita itu mengangguk pelan.


Kayla tersenyum lebar. "Ibu, pergilah! Bahagialah bersama keluarga baru Ibu."


"Bukan ingin menjadi anak durhaka, Bu. Tapi, aku sudah bahagia tanpa ibu. Aku juga tidak ingin ibu kehilangan kebahagiaan bersama keluarga baru ibu."


"Tapi, kamu harus ikut dengan ibu, Kay. Ada pekerjaan yang lebih baik untuk kalian."


"Apa, Bu? Menjadi asisten rumah tangga dan supir? Bukankah sama saja seperti disini?"


"Hanya berbekal informasi kalau aku sudah menikah, dan ibu memutuskan untuk pulang?"


Wanita itu mengangguk. "Ya, ibu ingin memastikan kamu hidup layak setelah menikah. Ibu tidak ingin kamu merasakan kesulitan ekonomi seperti yang ibu rasakan dulu."


"Ternyata cinta saja tidak cukup, Kayla."


Kayla tertawa. "Seharusnya ibu cari informasi yang lebih akurat dan terpercaya."


"Bahkan ibu sudah salah menilai yang telah ibu lihat dengan mata kepala ibu sendiri."


"Dia, dia memang suamiku, Bu. Namanya mas Kalandra." Kayla menunjuk Kalandra.


Kalandra menyalami ibu mertuanya meski ia merasa malas karena sudah dihina.


"Rumah ini, memang banyak berubah, Bu."


"Wanita tadi, namanya Ibu Susi. Ia memang tinggal disini bersama putranya yang masih sekolah."


"Dan ayah ... " Kayla memejamkan matanya sejenak.


"Ayah sudah meninggal 2 tahun lalu."


Wanita itu tertegun. Ia lihat Kayla dengan perasaan bersalah. Ia tidak tahu kalau suaminya itu sudah meninggal. Ia tidak tahu kalau ternyata wanita yang pertama kali ia lihat di rumah ini ternyata bukan siapa-siapa.


Tujuannya datang sebenarnya untuk mengurus surat cerai. Dan jika memungkinkan, ia ingin membawa Kayla beserta haknya atas rumah ini. Tapi, ia salah besar. Apa yang ia lihat ternyata tidak sama dengan apa yang ia fikirkan.


"Maafkan ibu ..." Kayla hanya mematung saat kembali dipeluk.

__ADS_1


"Ibu tidak tahu kalau seperti itu kenyataannya."


"Maafkan ibu, Kayla. Maafkan ibu ...."


__ADS_2