Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 116 S2 Mempersiapkan


__ADS_3

Melani turun dari mobil dengan bantuan Jendra yang memegangi tangannya. Bukan karena manja, tapi karena kain batik yang membuatnya kesulitan melangkah.


"Selamat datang di rumah sa ...." Jendra berhenti sejenak.


"Rumahku atau rumah papa, Pa?" tanya Jendra pada pria yang sedang tertawa dibelakangnya.


"Rumah kita, Jend!" sahut Surendra. Bisa-bisanya Jendra ragu menyebut rumah ini milik siapa. Rumah ini memang miliknya. Tapi, bukankah semua miliknya adalah milik Jendra juga.


"Selamat datang di rumah kita ...." Jendra terus menggandeng tangan Melani.


Melani masuk ke dalam rumah besar yang sangat terasa nyaman itu. Seluruh pekerja di rumah itu berkumpul di ruang tamu.


"Aku akan memperkenalkan kamu pada semua orang di sini. Masih sanggup berdiri, kan?" tanya Jendra.


Melani melirik kesal dan mengangguk. Dia bukan wanita lemah yang akan mengeluh lelah saat berdiri sebentar saja.


"Selamat siang semuanya!" sapa Jendra pada semua karyawannya. Ia sudah meminta agar mereka berkumpul siang ini.


"Dia adalah istriku!" Jendra menatap semua orang. Ia merangkul bahu Melani.


Melani tersenyum menyapa satu persatu dari mereka. Ia melihat ada sekitar lima orang wanita dan empat orang pria.


"Sebagian dari kalian pasti sudah pernah bertemu dengannya." Jendra menatap ke arah supir yang pernah mengantar Melani.


Ini bukan kali pertama Melani masuk ke rumah ini. Tapi, ia malah merasa takjub dengan banyaknya karyawan Jendra.


"Mulai sekarang, hargai dan hormati dia seperti kalian menghormati saya."


"Dia tidak galak, asal tidak disenggol."


Melani seketika menatap tajam padanya. Ia hanya bisa tertawa.


"Dia berhak memberikan perintah dan dia juga berhak membuat peraturan di rumah ini."


"Mas, tidak perlu berlebihan begitu!" bisik Melani.


"Tidak apa-apa, sayang!" bisik Jendra.


"Yang ini, namanya Bi Inah." Tunjuk Jendra pada salah satu asisten rumah tangga yang berpakaian lebih rapih dari pada yang lain.


"Beliau adalah kepala asisten rumah tangga di rumah ini. Dia yang mengkoordinasi mereka semua."


"Beliau adalah pengasuhku sejak kecil. Wajar jika aku lumayan akrab dengannya."


"Jangan cemburu, ya?" Jendra mencolek hidung Melani dengan telunjuknya.


Melani mengangguk malu saat kelakuan Jendra malah membuat beberapa orang di depannya menahan senyum. Tak terkecuali mama dan papa mertuanya yang sedang duduk.


Pantas saja, selama ini aku selalu melihatnya lebih dominan dari pada yang lain. Mas Jendra juga lebih sering meminta apapun padanya.

__ADS_1


"Yang lainnya bekerja sesuai pekerjaan mereka masing-masing. Ada yang menetap di sini, ada juga yang pulang ke rumah masing-masing."


Keduanya segera berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua dimana kamar Jendra berada. Rumah ini terdiri dari tiga lantai. Di lantai dua, terdapat kamar Jendra dan beberapa ruangan lainnya, termasuk ruang kerja papanya dulu.


Sementara di lantai tiga hanyalah rooftop yang digunakan untuk tempat bersantai karena adanya taman dan ruang kosong yang biasanya Jendra gunakan untuk main basket serta adanya sebuah kolam renang yang tidak terlalu luas.


"Gantilah pakaianmu!" Perintah Jendra yang sedang membuka jam tangannya dan meletakkannya di atas meja rias.


Melani mendengarkan Jendra, tapi ia merasa heran karena kamar ini lebih banyak berubah dibanding beberapa waktu lalu saat ia menemani Jendra pasca kecelakaan.


"Mel ...."


"Iya, Mas! Aku sedang melihat perubahan di kamar kamu."


Jendra tertawa. "Aku hampir lupa."


Jendra membawa Melani mendekat ke sebuah lemari pakaian berukuran sangat besar. Sementara lemari pakaian milik Jendra sudah tidak ada lagi.


"Lemari ini, milik kita berdua. Aku sengaja membuang lemari lamaku agar kita bisa berbagi lemari."


"Rencananya aku ingin membuat walk in closet. Tapi, belum bisa karena untuk merenovasi kamar ini butuh waktu lebih lama."


"Para tukang harus menghancurkan dinding itu agar kamar ini menjadi lebih luas." Jendra menunjuk dinding pembatas antara kamarnya dengan kamar sebelah.


"Apa sampai harus menghancurkan dinding itu, Mas? Kamar ini saja sudah sangat luas."


Melani mengerutkan kening. Ia bukan tipe wanita yang suka mengkoleksi barang-barang seperti itu. Ia hanya perlu menyimpan banyak stok makanan karena ia lebih suka makan dibanding tas mahal.


"Belum lagi saat kita akan punya bayi nanti. Aku tidak ingin bayi kita tidur sendiri apalagi bersama baby sitter." Jendra menggeleng.


"Aku ingin bayi kita tidur sekamar dengan kita. Otomatis akan bertambah satu lemari bayi, tempat tidur bayi dan beberapa perlengkapan lain termasuk tempat untuk mengganti popok dan sofa menyusui."


Melani menghela nafas. "Kamu berfikir terlalu jauh, sayang!"


Jendra tertawa. "Semua itu harus kita rencanakan, sayang. Apa lagi kita akan menggunakannya dalam jangka waktu yang lama."


"Soal anak ...."


Jendra melihat Melani yang sepertinya sedang khawatir.


"Jangan fikirkan soal anak. Kita buat saja dulu!" Ia tersenyum jahil. Alisnya naik turun menggoda istrinya yang terlalu polos.


Melani seketika menatap Jendra. Wajahnya memucat dan tangannya mulai berkeringat. Inikah saatnya aku menjadi mangsanya?


Jendra tertawa. Ia tahu apa yang ada dalam fikiran Melani. Sungguh terlihat lucu dan menggemaskan wajah istrinya itu.


"Setidaknya gantilah pakaian kamu lebih dulu, Mel. Hapus make up ini agar wajahmu tidak ditumbuhi jerawat."


"Setelah itu, istirahatlah."

__ADS_1


Jendra mengerutkan kening saar Melani malah mematung. "Jangan berfikir terlalu jauh, Mel!"


"Aku tidak akan melakukannya sekarang!"


Melani terkesiap. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi. "A-aku mandi dulu."


Jendra menahan tawanya. Ia membuka beskap dan melemparkannya asal. Jendra menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.


"Mel, tidak ada drama datang bulan, kan?" tanya Jendra karena biasanya hal itu menjadi drama menjengkelkan bagi sepasang pengantin baru.


"Tidak! Aku baru selesai dua hari lalu," sahut Melani dengan suara lantang.


"Baguslah! Setidaknya aku tidak perlu terburu buru karena dikejar jadwal!" Jendra tertawa.


"Kamu tidak ingin mandi?" tanya Melani yang keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe dan handuk yang melilit di rambutnya.


Jendra melihat ke arah istrinya yang sedang membuka lemari pakaian. "Sebentar lagi. Aku sepertinya ingin tidur dulu."


"Tidurlah! Aku tidak ingin tidur!" balas Melani yang sedang menghindari perang di terik siang begini.


"Aku tidak mengajak kamu!" balas Jendra. "Aku ingin tidur sendiri untuk menyimpan tenanga yang akan ku pergunakan untuk kerja paksa nanti malam!"


Melani menatap Jendra yang tengah memejamkan mata. "Terserah, Mas."


Melani membuka lemari dan terkejut saat melihat isinya. "Semua ini kamu yang siapkan, Mas?" tanya pada Jendra saat ia melihat puluhan pasang pakaian baru.


"He'em," balas Jendra sebagai jawaban ya.


Ia menarik laci dan melihat banyak pakaian dalam yang matching antara atasan dan bawahan.


"Termasuk pakaian da ... lam." Suaranya melemah diakhir kalimat.


"Ya..."


Mengapa bisa pas begini? Siapa yang memberi tahunya? Bukankah kami tidak pernah membahas mengenai hal ini? Batin Melani saat ia melihat beberapa pasang pakaian dalam itu memang sesuai ukurannya dengan yang biasa ia pakai.


"Aku pernah melihat pakaian kamu di jemuran apartemen! Jadi, jangan bertanya-tanya dari mana aku mengetahuinya!" ucap Jendra yang sepertinya tahu apa yang tengah Melani pikirkan.


"Ba- bagaimana kamu bisa, Mas?" Maksud Melani adalah bagaimana Jendra bisa memilih dan membeli pakaian dalam sebanyak ini. Apakah dia tidak malu saat membelinya? Tapi, Melani merasa gugup sehingga pertanyaannya tidak jelas.


"Bagaimana apanya sayang? Aku hanya perlu memesannya dari aplikasi dan barang-barang itu datang dengan selamat."


"Dibungkus rapi dan diantar kurir hingga ke depan rumah, lagi!"


Melani menghela nafas lega. "Ku fikir kamu datang ke toko dan membelinya sendiri!" Melani tertawa mebayangkannya.


"Aku tidak mungkin segil* itu sayang!"


Mungkin saja. Kamu kan memang gil*, Mas! Melani masuk kembali ke dalam kamar mandi karena ia harus mengganti pakaianannya.

__ADS_1


__ADS_2