
Setelah bertemu kembali dengan ibu kandungnya, kehidupan Melani berubah drastis. Di luar rencananya, selama beberapa waktu yang lumayan lama, ia rutin pergi ke rumah sakit demi kesembuhan ibunya.
Berbagai cara di tempuh, dengan berkonsultasi maupun dengan mengkonsumsi obat-obatan.
Melani mendapat dukungan penuh dari suami dan kedua mertuanya. Gayatri juga selalu mendampingi Marshella yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.
Mereka tidak pindah dari rumah itu, tapi kedua orang tua Jendra yang rutin mengunjungi mereka.
Gayatri tak perlu lagi mengurus rumah karena Melani sudah mempekerjakan asisten rumah tangga di rumah itu. Tidak menginap memang, karena takut Marshella merasa terganggu.
"Iya, besok, aku dan mas Jendra akan datang, Bun," ucap Melani pada seorang wanita yang wajahnya tampak di layar ponselnya.
"Bunda ingin oleh-oleh apa?" tanya Melani.
"Bunda tidak ingin apapun selain memeluk kamu."
Melani tersenyum, ia mengusap layar ponselnya seolah tengah menyentuh wajah wanita yang berjuang untuk melupakan masa lalunya itu.
"Bunda akan masak banyak makanan untuk kamu."
"Bunda sepertinya banyak belajar memasak menu baru." Melani tertawa. "Nenek Gayatri suka sekali mengirimkan foto hasil masakan bunda kepadaku."
Marshella tampak tertawa lebar. "Dia memang selalu antusias jika bunda melakukan hal baru."
"Dia juga suka memberi nilai pada masakan bunda."
Aku juga sangat senang, Bun. Bunda tidak lagi hanya duduk di depan jendela, memegang kalung milik ayah dan memandangi fotonya. Aku senang saat bunda mulai melakukan kegiatan yang positif.
"Marshella, cepatlah! Kita sudah ditunggu." Suara Gayatri bisa didengar oleh Melani.
"Sayang, sudah dulu ya! Nenek tua itu mengajak bunda untuk lari pagi bersama nenek-nenek komunitas senam."
Melani tertawa. Ia juga tak menduga, kedua wanita itu memiliki perkumpulan kaum lansia yang selalu melakukan kegiatan positif, seperti senam dan kadang memasak bersama.
"Bunda tidak yakin dia bisa lari. Nanti bunda kirimkan padamu videonya," ucap Marshella seperti sedang mengejek Gayatri.
"Jangan remehkan kemapuanku, Marshella!"
"Aku berkata jujur, Bibi Gayatri."
"Sudah dulu ya sayang. Daaaaa!"
Marshella mengakhiri video call mereka. Sedari tadi tawa Melani yang menggema di dalam kamar membuat Jendra hanya bisa senyum-senyum sendiri.
"Sudah selesai?" Jendra tiba-tiba memeluk leher Melani dari belakang sofa.
Melani mengangguk. "Sudah, sayang."
"Kita pergi sekarang!" ajak Jendra.
Melani mengangguk. Ia dan Jendra bersiap akan pergi ke dokter kandungan. Bukan untuk memeriksakan kehamilan, tapi untuk sekedar berkonsultasi.
Sudah hampir 4 bulan usia pernikahan mereka, namun tanda-tanda akan hamil belum terlihat. Mereka memutuskan untuk menjalani program kehamilan. Berhubung kondisi Marshella yang sudah jauh lebih baik.
Mereka masuk ke ruangan dokter. Melani memang ingin memeriksakan dirinya sebelum program kehamilan mereka jalani. Ia hanya ingin memastikan dirinya tidak memiliki kendala apapun.
Ia tidak tahu, mengapa jantungnya berdetak kencang. Padahal ini hanya pemeriksaan biasa.
__ADS_1
"Coba kita lihat kondisi rahimnya dulu, Pak!" ucap dokter yang sudah berada di depan layar sebuah alat USG.
Melani dibantu perawat, berbaring diatas ranjang. Perut ratanya diberi gel. Terasa dingin, tapi tak butuh waktu lama, Melani mulai terbiasa.
"Haid terakhirnya tanggal 25 ya, Bu. Itu artinya sudah 3 minggu yang lalu."
Dokter tersenyum senang. Pria itu terus mengusapkan alat di perut Melani.
Mengapa dia senyum-senyum seperti itu? Apa dia senang saat tangannya berputar-putar diatas perut istriku? Batin Jendra kesal.
Padahal, pria itu tidak bergerak sedikitpun. Ia seperti patung, hanya saja matanya yang bergerak melirik istrinya, dokter, dan layar besar di depan dokter tersebut secara bergantian.
Sementara itu, Melani juga merasa illfeel saat melihat dokter itu senyum-senyum sendiri.
Apa yang ada di fikiran dokter ini? Mengapa dia malah senyum seperti itu?
"Sepertinya bapak dan Ibu sedang mendapat kejutan, nih."
Melani dan Jendra kompak mengerutkan kening.
"Lihat lingkaran kecil ini? Ini namanya kantung janin."
Sebagai pasangan belum berpengalaman, Jendra dan Melani sama-sama belum memahami apa yang dimaksud oleh dokter tersebut.
Keduanya mengira, kantung janin adalah rahim. Bukankah setiap wanita memang memiliki rahim?
"Loh, kenapa malah bengong?" Dokter itu tertawa melihat Jendra dan Melani seolah tak bahagia.
"Bapak dan Ibu ingin program, kan?"
"Kalian belum program, tapi sepertinya Tuhan sudah menitipkannya pada kalian."
"Ma-maksudnya bagaimana, dokter?" tanya Jendra.
"Ini namanya kantung janin, Pak, Bu."
"Biasanya terbentuk di usia 3-5 minggu kehamilan."
"Kantung inilah yang akan menjadi tempat berkembangnya janin."
"Jadi, istri saya hamil, Dok?" tanya Jendra semangat.
Dokter itu mengangguk. "Benar."
Jendra segera menghambur memeluk istrinya. "Selamat sayang! Selamat!"
Ia mengusap air mata di pipi Melani. "Sehat selalu sayang!" Jendra mengecup kening Melani.
"Saya harus jelaskan dulu, Pak."
"Ah, ya. Maaf dokter!" Jendra salah tingkah. Ia kembali duduk untuk mendengarkan penjelasan dokter.
"Begini, Pak, Bu."
"Kantung janin sudah terlihat, tapi janinnya belum terlihat."
"Jadi, maksudnya apa, dok? Janinnya ada dimana? Cari yang benar, dok!" Jendra tampak panik saat dokter mengatakan janinnya belum terlihat.
__ADS_1
Melani menghela nafas. "Tenang dulu, Mas. Biar dokter menjelaskan dulu."
"Hal ini sangat wajar, Pak, Bu. Janin memang baru terlihat di usia kehamilan 6 sampai 8 minggu."
"Selama beberapa minggu ke depan, ibu harus makan makanan bergizi, tidak boleh kelelahan atau stress, apalagi sampai jatuh dan hal-hal lain yang menyebabkan perdarahan."
"Saya akan resepkan vitamin untuk ibu."
"Dok, apakah boleh naik pesawat karena rencananya, besok kami akan pergi ke luar kota?"
Dokter tampan itu menggeleng. "Sebaiknya dihindari, ya Bu."
"Banyak hal yang harus dihindari sebenarnya, seperti rokok, minuman beralkohol, mengurangi minuman yang mengandung kafein, hindari memasang kutek pada kuku karena aroma cat kuku yang belum tentu aman untuk ibu hamil."
Dokter juga menjelaskan banyak hal yang boleh dan tidak boleh Melani lakukan. Jendra terlihat antusias. Ia benar-benar tidak ingin menyianyiakan apa yang sudah Tuhan titipkan pada mereka.
Di perjalanan pulang, hanya ada ocehan Jendra dengan sejuta peraturan baru yang harus Melani patuhi.
"Mas, mengapa kamu begitu berlebihan?" protes Melani saat Jendra seolah mencabut semua kebebasan yang selama ini ia miliki.
"Ini tidak berlebihan, sayang!"
"Aku hanya melarang kamu melakukan beberapa hal."
"Ku ulangi, ya..."
Melani melirik kesal.
"Tidak perlu datang ke kantor karena menyebabkan stres dan kelelahan."
"Tidak boleh naik turun tangga karena beresiko kamu akan terpeleset."
Melani memutar bola matanya karena merasa peraturan baru yang suaminya buat terlalu konyol.
"Makan sesuai anjuran dokter."
"No heels, hanya boleh sandal jepit, atau sepatu tanpa hak."
"Hanya itu, sayang."
"Hanya itu?" Melani menatap tajam. Dadanya naik turun, ia berusaha mengatur nafas. Kesal sekali rasanya saat Jendra malah mengatakan hanya untuk hal sebesar itu.
"Bagaimana aku bisa bekerja jika aku tidak ke kantor, Mas."
"Siapa yang meminta kamu bekerja, Mel?"
"Kamu, ku pecat!"
Melani mendelik. "A-apa? Kamu sudah tidak waras, Mas!" teriaknya sehingga Jendra segera menutup telinga. Padahal mereka sedang dalam perjalanan pulang.
"Siapa yang akan membantu kamu? Kayla sudah resign."
Ya, Kayla terpaksa resign demi menuruti perintah Kalandra. Usia kandungan yang sudah memasuki usia 8 bulan, tidak memungkinkan untuknya bekerja lagi.
"Kayla saja yang istri CEO bisa bekerja hingga hamil 8 bulan, Mas."
"Padahal, aku bekerja juga selalu bersama kamu."
__ADS_1
Jendra menggeleng. "Aku tetap tidak setuju. Keputusanku sudah bulat."
Melani membuang muka. Ia enggan menatap suaminya. Ia merasa dirinya kuat seperti Kayla, tapi malah tidak diizinkan bekerja.