
Kayla menutup kasar pintu kamar mandi setelah ia melempar asal tas miliknya ke atas ranjang. Ia memutuskan untuk mendinginkan kepalanya dimana ada kata cinta terus melintas disana.
Ia ingin menyangkal, tapi mengapa cemburu yang ia rasakan. Ia ingin melupakan perasaannya, tapi semakin ia tersiksa dengan sendirinya.
"Jangan lama-lama, Kay! Aku juga ingin mandi," ucap Kalandra yang tengah membuka dasinya.
"Aku mau berendam!" teriak Kayla dari dalam kamar mandi.
"Ya, tapi jangan terlalu lama!"
Ia mengisi bathtub dengan air sampai hampir penuh. Lalu memasukkan sabun dengan aroma kesukaannya.
"Jangan terlalu lama? Terserahku, apa pedulinya," gumam Kayla.
Kayla menanggalkan semua pakaiannya dan masuk ke dalam bathtub. Ia sedang berusaha menenangkan fikiran dan hatinya.
Ia memejamkan mata menghirup wangi sabun yang menenangkan. Minimnya suara dan kamar mandi yang nyaman ini membuatnya senang berendalam lebih lama. Baru kali ini Ia berendam di kamar mandi ini dan ternyata rasanya sangat enak.
Bayangan kejadian tadi, dan rasa sesak di dadanya masih terus saja ia ingat. Apalagi Kalandra yang menjelaskan bahwa tidak ada hubungan apapun antara pria itu dengan Clara.
Ini sudah benar-benar kelewatan. Bisa-bisanya aku merasa cemburu melihat Clara dan Kalandra berpelukan.
Mengapa aku malah jatuh cinta padanya sih? Aku tidak mungkin bersikap acuh padanya sementara dalam perjanjian itu aku harus berperan sebagai istrinya.
Tapi, jika aku terus-terusan bersamanya, bukan tidak mungkin perasaanku akan semakin dalam.
"Kay!" panggil Kalandra karena gadis itu belum keluar juga setelah hampir satu jam berada di dalam kamar mandi.
Ia merasa khawatir, takut kalau gadis itu pingsan atau mungkin terkena serangan jantung. Kalandra semakin panik. Ia berdiri di depan pintu kamar mandi dan mulai menempelkan telinganya.
"Sunyi?" gumamnya. Tidak ada suara apapun yang terdengar.
"Jangan-jangan dia tertidur seperti aku tempo hari?"
"Kayla!" Kalandra sambil menggedor pintu kamar mandi. Namun belum juga ada sahutan.
"Kalau kamu berendam terus, kamu bisa sakit, Kay!"
"Jangan sok kuat Kayla!" teriak Kalandra semakin panik. Ia semakin menebak kalau Kayla tengah pingsan di dalam.
"Kamu sebenarnya kenapa, Kay? Kamu marah padaku?"
"Kamu sedang banyak fikiran atau banyak pekerjaan?"
"Bicara Kay!"
"Kalau iya, katakan padaku. Aku akan meminta Jendra untuk mengurangi pekerjaanmu!"
"Jangan karena dia sahabat kamu, kamu bisa sesukanya meminta hal itu dari dia, Mas!" balas Kayla setelah beberapa kalimat keluar dari mulut Kalandra.
"Lalu aku harus bagaimana, Kayla?"
__ADS_1
"Keluar dari sana! Kita bicarakan baik-baik!" bujuk Kalandra.
"Tidak. Aku tidak ingin keluar."
Nah, dia memang sedang marah, tapi karena apa? Masa iya dia cemburu?
"Kamu cemburu melihat Clara memelukku tadi?" tanya Kalandra.
"Tidak! Jangan mimpi!" balas Kayla.
Dasar wanita! Tidak berarti iya. Batin Kalandra yang terlalu banyak menyerap ilmu dari Jendra.
Kalandra berfikir sejenak. Jadi dia benar-benar cemburu? Oh Tuhan, caranya melampiaskan rasa cemburunya begitu ekstream.
"Keluar atau ku dobrak, Kayla!"
"Tidak mau!" teriak Kayla. "Aku masih ingin berendam."
"Nanti kulitmu akan keriput, Kay!" bujuk Kalandra.
"Biarkan saja!"
"Dasar keras kepala!" gumam Kalandra.
"Aku akan mendobrak pintunya!" Kalandra mundur beberapa langkah.
"Brak!" Kalandra menendang pintu kamar mandi.
"Jangan gila, Mas! Nanti pintunya rusak!"
"Aku tidak peduli." bentak Kalandra.
"Iya, aku keluar!" teriak Kayla kesal.
Hanya butuh beberapa menit untuk membilas tubuhnya, Kayla yang sudah memakai bathrobe keluar dari kamar mandi.
"Sudah?" tanya Kayla dengan wajah cemberut.
"Sudah?" tanya Kalandra dengan mengerutkan kening.
"Sudah marah--marahnya?" tanya Kayla yang semakin merapatkan bathrobe di bagian dadanya. Ia mulai kedinginan karena suhu AC lumayan dingin.
"Belum!"
"Ya sudah lanjutkan saja!" Kayla melewati tubuh Kalandra begitu saja untuk mengambil pakaiannya di dalam lemari.
Kalandra bengong di tempat karena Kayla begitu santai menghadapinya yang sudah mengeluarkan tanduk.
"Aku belum mendapat jawabannya Kayla!" Kalandra menarik lengan Kayla hingga gadis itu mendekat ke arahnya.
Kayla menatapnya. Tatapan mata itu begitu menantang. "Jawaban atas pertanyaan apa, Mas?"
__ADS_1
"Sebenarnya kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba diam lalu marah padaku?" tanya Kalandra menatap manik mata gadis dihadapannya.
"Apa salahku, Kayla?" tanya Kalandra.
Kayla menunduk. "Kamu tidak salah. Semua ini salahku!" gumam Kayla tapi masih bisa Kalandra dengar.
Sejujurnya, Kalandra tidak mengerti maksud dari ucapan Kayla. Ia tidak tahu kesalahan apa yang Kayla maksud.
Kalandra melepaskan tangan Kayla yang ia pegang. Ia tak tahan melihat bibir tipis itu mulai memucat.
"Ganti pakaian kamu dulu," ucapnya kemudian. Kalandra tidak mungkin membiarkan Kayla kedinginan seperti ini.
Kalandra segera masuk ke dalam kamar mandi agar Kayla bisa mengganti pakaian di dalam kamar.
Malam semakin larut, setelah makan malam keduanya kembali ke kamar.
Kayla duduk di sofa yang terletak di balkon kamar itu. Ia duduk dengan menekuk lutut. Ia sungguh tersiksa dengan perasaan dan surat perjanjian itu.
Secara tidak langsung, surat perjanjian itu melarangnya untuk mencintai Kalandra karena mereka harus berpisah. Dan yang paling menyakiti hatinya adalah Kalandra bukan tipe pria yang akan mengubah keputusannya.
Jadi, walaupun ia menyatakan cinta, semuanya akan percuma. Kalandra tidak akan menghilangkan perjanjian diantara mereka.
Kalandra melipat tangan di dada. Ia bersandar di pintu yang terbuka itu. Ia melihat Kayla sedang melamun.
Kalandra menghela nafas berat, ia berjalan beberapa langkah dan jongkok dihadapan Kayla.
Gadis berpiyama tidur itu merasa terkejut saat melihat Kalandra berjongkok di depannya.
"Mas!" Kayla terkesiap. Ia menurunkan kakinya. "Kamu mau apa?"
Kalandra tersenyum kecil. "Satu hal yang harus kamu tahu, Kay!"
"Pernikahan ini ku lakukan untuk mengatasi masalahku dan masalah kamu."
"Ya, pada awalnya memang itu kan tujuan kita."
"Tapi, sepertinya pernikahan ini membuat hidupmu jungkir balik 360 derajat."
"Kamu menghadapi masalah dalam keluargaku. Dan kini kamu tampak sedih, dan bisa ku tebak pasti karena pernikahan kita."
"Jika kamu menyangkal saat ku katakan kamu cemburu, lalu mengapa sikap kamu berubah drastis, Kay?"
"Jika kamu tidak bahagia dalam menjalankan setahun yang sudah berkurang beberapa minggu ini, aku akan membebaskan kamu dari pernikahan dan dari perjanjian itu."
Kalandra menahan sakit di dadanya saat mengatakan hal itu. Mengapa lidah dan hatiku bertolak belakang? Lidahku mengatakan akan membebaskannya, tapi mengapa hatiku tidak ingin?
Kayla menatap Kalandra lekat-lekat. Ia ingin perjanjian itu tidak ada lagi, tapi bukan dengan berpisah detik ini juga sebagai konsekuensinya.
"Aku tidak tahu. Cemburu atau tidak, aku tidak tahu. Yang pasti aku tidak suka melihatnya ada di dekat kamu, Mas!" Kayla mengakui apa yang ia rasakan.
"Aku bukan tipe wanita yang akan diam saja jika disakiti. Tapi mengingat aku dan kamu bukan siapa-siapa, aku merasa malu."
__ADS_1
"Kamu bukan milikku, dan tidak ada hakku untuk,-"
Kalandra memeluk Kayla. "Aku suamimu, Kay! Meski ada atau tidaknya perjanjian diantara kita."