Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 90 S2 Terbongkar


__ADS_3

Setelah malam itu, dimana Melani melampiaskan kemarahannya pada Jendra, hubungan keduanya mulai membaik. Bukan hubungan spesial, hanya hubungan kerja antara atasan dan bawahan.


Melani berusaha memaafkan kesalahan Jendra. Biar bagaimanapun, ia masih butuh pekerjaan dan ia sudah sangat mencintai pekerjaannya saat ini.


Hampir tiga bulan, Melani menjalani hari-harinya dengan perasaan tak menentu. Terkadang ia merasa seperti bukan dirinya lagi.


Entah sejak kapan ia mulai memperhatikan penampilan Jendra yang tampak semakin hari semakin tampan.


Entah sejak kapan ia mulai peduli pada pria yang selalu mengajaknya meeting di luar ruangan dengan meninggalkan Kayla di perusahaan itu.


Kadang Melani tak sanggup menatap Jendra terlalu lama karena ia takut jatuh cinta. Menolak karisma seorang Jendra bukan hal yang mudah. Melani sampai meyakinkan hatinya bahwa pria itu adalah bosnya.


Melani kadang berfikir, apa yang terjadi padanya ini yang menyebabkan banyak terjalinnya hubungan spesial antara atasan dan bawahan?


Pagi ini, Melani terlambat bangun karena tidur terlalu larut malam tadi. Ia diminta untuk menemani Jendra makan malam bersama klien. Lalu setelahnya ia malah menonton film horor dari ponselnya.


Begitulah nasib jika memiliki atasan jomblo dan belum berkeluarga pula. Jendra malah mengajaknya yang notabene menang mengenal klien yang mengajak makan malam bersama itu.


Melani meneguk kopi yang masih hangat itu. Ia berharap akan mengurangi rasa kantuk dan membuatnya kembali bersemangat pagi ini.


"Mel, bersiap karena mamaku sudah berada di loby kantor," suara Jendra terdengar dari intercom di meja kerjanya.


Ia mendelik seketika. Ia sangat terkejut mendengar berita dadakan itu. Biasanya Jendra akan memberi tahu dirinya sejak beberapa hari sebelum mamanya datang ke perusahaan ini.


"Ka-Kayla!" panggil Melani gugup.


"Gawat Kay, Induk singa sudah berada di gedung ini!"


Melani segera berdiri dan membuang kopinya yang masih setengah ke dalam tong sampah. Ia tak ingin terlihat kerja dengan terlalu santai dimata Nyonya Dewandaru itu.


Kayla mendelik. "Bagaimana bisa ada induk singa di gedung perkantoran, Mbak?" Wanita itu malah tampak panik.


"Apa induk singa itu kabur dari kebun binatang?" tanya Kayla yang belum faham maksudnya. Kayla memang baru saja kembali dari kamar mandi.


"Maksudku, Nyonya Dewandaru," balas Melani. Ini bukan kali pertama Nyonya Dewandaru datang, tapi Melani tidak ingin ada cela sedikitpun untuk wanita itu menegur mereka.


Hampir tiga bulan terakhir, wanita yang pernah memintanya mengawasi Jendra itu tidak pernah datang ke perusahaan. Entah kesibukan apa yang wanita itu lakoni di kediamannya sekarang.


Kayla terkesiap. Ia merapihkan meja kerjanya yang sedikit berantakan. "Aku harus bagaimana, Mbak Mel."

__ADS_1


"Sapa dengan senyum. Dan kamu harus jadi orang yang percaya diri dihadapnya. Dia sangat perfeksionis." Melani tak kalah sibuk merapihkan berkas diatas mejanya.


Kayla memang belum pernah bertemu Nyonya Dewandaru secara langsung dengan sedekat ini. Biasanya ia hanya melihat wanita itu melintas di ruang kerja mereka saja.


Dalam hitungan menit, Melani dan Kayla bisa melihat wanita anggun, berjalan bak model dengan langkah satu garis lurus mulai mendekat.


Terlihat jelas, Kayla tampak terpesona dengan kecantikan dan keanggunan wanita itu.


"Selamat pagi, Bu!" Sapa Melani yang sudah berdiri keluar dari meja kerjanya demi menyambut wanita paling berwibawa yang pernah ia lihat.


"Selamat pagi, Bu!" sapa Kayla juga.


Bu Jenar membalas sapaan mereka dengan senyum merekah. Barisan gigi putih terawat diantara dua bibir yang dibalut lipstik warna merah menyala membuat siapapun pasti terpukau.


"Jendranya, ada Mel?" tanya Bu Jenar padanya.


"Ada Bu, mari saya antar!" Ucap Melani sembari berjalan didepan Bu Jenar, lalu ia membuka pintu kaca itu.


"Selamat siang, Pak! Ibu ingin bertemu dengan anda," ucap Melani pada Jendra.


Jendra belum menjawab, tapi wanita paling cantik sedunia versinya itu sudah masuk ke dalam ruangan.


Melani keluar dari ruangan Jendra dengan jantung yang masih berdebar hebat.


"Sepertinya, Bu Jenar orangnya ramah dan lemah lembut, Mbak!" tanya Kayla pelan.


"Bu Jenar memang seperti yang kamu katakan tadi, Kay! Tapi dibalik sikapnya yang seperti itu, dia bisa tiba-tiba memberi teguran pada kamu hanya karena sebuah kesalahan kecil."


"Dia keibuan, ku akui itu. Dan dia paket lengkap, komplit, no minus," puji Melani tulus karena ia juga mengakui wanita yang ia sebut induk singa itu sangat keibuan.


Baginya, sikap Jendra yang ingin tampil sempurna disetiap meeting, atau dalam hal apapun, merupakan turunan dari Bu Jenar.


Berkas salah sedikit, harus di revisi ulang. Dan yang Melani baru tahu adalah saat liburan ke Bali beberapa bulan lalu. Jendra selalu tampil sempurna, meski hanya dengan jeans setinggi lutut.


Jika saja Jendra bukan bos nya, mungkin ia akan jatuh cinta. Namun, Jendra malah membuatnya illfeel karena mencium dirinya secara tiba-tiba.


Setelah 30 menit kedatangan Bu Jenar, Melani malah dikejutkan dengan kedatangan suami Kayla, yaitu Kalandra.


"Mau apa pak Kalandra kesini, Kay?" tanya Melani yang sudah mencium bau-bau masalah baru. Kayla juga tampak terkejut dengan kehadiran suaminya itu.

__ADS_1


"Tidak ada meeting kan, hari ini?" tanya Melani lagi.


Kayla menggeleng. "Tidak ada, Mbak."


"Tante Jenar ada di dalam, Mel?" tanya Kalandra yang memasukkan satu tangannya di saku celana.


Melani dan Kayla saling tatap seolah bertanya dari mana Kalandra tahu kalau wanita bernama Jenar sedang berada di dalam ruangan CEO.


Melani mengangguk. "Ada, Pak."


"Ck! Bos kamu cari masalah saja!" gumam Kalandra membuat Melani mengerutkan kening karena merasa bingung.


Belum selesai dengan kebingungannya, ia malah disuguhkan dengan pemandangan manis yang dilakukan seorang Kalandra pada istrinya.


Pria itu tampak memberikan perhatian kecil namun tampak manis. Apa lagi saat Kalandra mengecup pucuk kepala Kayla berkali-kali.


Suami sempurna.


Ia melipat tangan di meja. Bukannya kembali bekerja, ia dan Kayla malah sibuk bercerita. Padahal di dalam ada induk singa berserta anak singa.


"Mel, ke ruangan saya sekarang!" suara Jendra terdengar dari intercom.


Melani mendelik. Ia menatap Kayla yang seketika merasa sama khawatirnya dengan dia.


"Kay, doakan semoga aku bisa keluar dengan selamat!" ucap Melani sebelum masuk ke dalam ruangan itu.


Melani melihat ketiga orang itu duduk di sofa, bukan di meja Jendra.


"Ada apa, Pak? Anda memanggil saya?" tanya Melani.


"Duduklah!" Perintah Jendra dengan nada dingin.


Susana seketika terasa mencekam saat ia menyadari ekspresi Jendra dan Kalandra tampak tegang.


Ada masalah apa ini? Mengapa Pak Jendra dan Pak Kalandra tampak khawatir berlebihan.


Sementara itu, Bu Jenahara tetap tampak biasa saja. Apa pak Jendra dan Pak Kalandra melakukan kesalahan sehingga memanggilku sebagai saksi.


Ya Tuhan, semoga aku tidak salah bicara. Karena kalau sampai itu terjadi, bisa habis aku diamuk sing* gila!

__ADS_1


__ADS_2