
Kayla masuk ke kamarnya dengan membawa dua cangkir coklat panas berserta setoples kue nastar buatannya.
Semenjak ia tahu kalau Kalandra sangat suka dengan kue tersebut, ia menjadi sering membuatnya. Bukan perkara sulit bagi Kayla. Memiliki basic bisa memasak, membuatnya tak kesulitan sedikitpun meski hanya melihat cara membuatnya dari sebuah video tutorial.
Kayla meletakkan nampan diatas meja kerja Kalandra. Sudah jam 11 malam, tapi pria itu masih menatap layar laptopnya.
Sudah beberapa hari ini, Kalandra selalu bekerja hingga larut malam. Sebuah masalah yang sedang dihadapi pria itu sepertinya tidak ingin ia bagi dengan Kayla.
"Aku tidak tahu kamu sedang menghadapi masalah apa, Mas." Ucap Kayla yang berdiri di belakang Kalandra sambil tangannya mememijat bahu kekar itu.
"Aku memperhatikan kamu tampak murung dan selalu saja bekerja meski tengah berada di rumah."
"Dan sekarang, aku ingin menanyakan hal itu." Kayla memeluk leher Kalandra dan dengan sedikit membungkuk ia menempelkan dagunya di bahu suaminya.
"Kamu tidak ingin membaginya denganku?"
Kalandra tersenyum tipis. Wajahnya melihat ke samping, dan ia bisa mencium singkat pipi istrinya itu.
"Kamu ada disini saja sudah sangat cukup, sayang. Aku tidak ingin menambah beban fikiran kamu. Kamu sudah lelah bekerja, dan aku tidak ingin kamu malah memikirkan masalahku."
Kalandra melepas tangan Kayla dan menuntun istrinya untuk duduk dalam pangkuannya. Ia memeluk perut rata itu dan menyandarkan kepalanya di dada Kayla. Ia menyembunyikan wajahnya dalam ceruk leher putih itu.
"Memeluk kamu seperti ini sudah sangat membantu. Membuatku seketika lupa dengan masalahku."
Kayla mengusap rambut Kalandra. "Sebenarnya aku bisa mencari tahu jika ini menyangkut perusahaan. Dea dan Jeslyn akan dengan senang hati memberi tahu."
Kalandra tertawa. "Sudah punya teman baru ya... atau jangan-jangan kamu jadikan Dea sebagai mata-mata kamu untuk mengawasiku?" canda Kalandra.
Kayla juga tertawa. "Uangku tidak cukup untuk menggajinya, Mas," balas Kayla.
"Lagi pula, aku percaya. Jika seseorang pria benar-benar mencintai istrinya, ia akan tetap mengingat siapa dirinya, statusnya dan siapa wanita yang selalu menemani tidurnya."
"Jadi, semenarik apapun wanita lain yang ada disekitarnya, pria itu tidak akan tergoda."
Kalandra tertawa lagi. "Aku terharu."
"Aku tidak sedang memuji kamu, Mas!" balas Kayla.
"Tapi aku seperti itu. Berarti aku benar-benar mencintai kamu!"
"Kalau begitu, maka ceritakan apa masalah kamu, Mas. Bukankah orang yang saling mencintai tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari pasangannya?"
__ADS_1
Kalandra kembali tertawa. Ia menatap mata Kayla yang mulai mengantuk. "Kamu sengaja menjebakku, yaaa?"
Kayla tertawa.
"Baiklah." Kalandra menghela nafas. "Aku sedang ingin membangun villa di daerah X."
"Tapi, sebagian warga belum ingin melepas tanah mereka sehingga aku belum bisa memulai pembangunannya."
"Hanya itu?" tanya Kayla lega, karena setidaknya masalah Kalandra bukan mengenai hati dan wanita lain.
Kalandra mengangguk mantap. "Ya, itu masalahnya. Luas tanah yang sudah terbeli, masih kurang sedikit lagi. Tapi warga disana tidak ada lagi yang ingin menjual tanah mereka."
Kayla menangkup pipi Kalandra. "Mengapa suamiku jadi orang yang ambisius begini? Sangat berbeda dengan Kalandra yang ku kenal kemarin-kemarin."
"Kalandra yang menjalankan perusahaan dengan santai."
"Jika tanah tidak seluas target, bangun saja villa yang lebih kecil, Mas."
"Aku yakin, banyak arsitek yang akan dengan senang hati membantu kamu."
"Tapi aku sudah punya desainnya," balas Kalandra.
Kayla tertawa. "Bagaimana bisa kamu punya desainnya, tapi belum tahu seluas apa tanah yang kamu miliki?"
"Kamu yakin, kalau semua warga disana akan menjual tanah mereka pada perusahaan kamu, Mas?" tanya Kayla.
"Dengar sayang!" Kayla mengusap pipi Kalandra.
"Tidak semua orang akan tergiur dengan rupiah."
"Sama seperti warga disana yang tidak ingin menjual tanah mereka. Mungkin tanah itu peninggalan orang tua mereka. Atau bahkan mungkin ada bangunan rumah masa kecil mereka. Banyak kenangan yang tidak ingin mereka tukar dengan uang."
"Aku sudah menawarkan sebidang tanah dengan luas yang sama di tempat lain, Kay. Tapi mereka tetap tidak ingin."
Kayla mengangguk. "Siapa yang akan menjual tanah pada orang asing sementara mereka tidak sedang butuh uang, Mas?"
"Dan kemungkinan memang benar, tanah itu adalah warisan orang tua mereka."
"Aku harap, kamu tidak memaksakan kehendak, Mas. Memilik banyak uang, bukan berarti membuat kamu menjadi seorang penguasa."
"Ubah desainnya, dan sesuaikan dengan luas tanah yang kamu miliki."
__ADS_1
"Akan ku fikirkan nanti," jawab Kalandra yang memang harus kembali melakukan meeting dengan tim terkait.
"Oh, ya Mas. Bukankah daerah itu lumayan terpencil ya?"
Kalandra mengangguk. "Tapi mudah diakses. Pemerintah setempat sedang memperbaiki sarana dan prasarana menuju tempat wisata di desa itu yang sedang mereka kembangkan juga."
"Aku boleh memberi saran?" tanya Kayla dan Kalandra mengangguk.
"Kamu tidak ingin membuat satu yayasan disana, Mas?" tanya Kayla. "Anggap saja sebagai bentuk perhatian kamu terhadap daerah yang akan berdiri aset kamu disana."
Kalandra menatap Kayla menunggu penjelasan istrinya itu. "Yayasan apa, Kay?"
Kayla tersenyum. "Beri hadiah pada mereka. Buka sekolah gratis, untuk anak-anak PAUD dan TK, Mas."
"Terlebih untuk mereka yang kurang mampu."
"Biaya pendidikan yang tidak murah, pasti hadirnya yayasan kamu akan sangat membantu mereka, Mas."
"Salurkan dana setiap bulannya. Aku yakin, biaya nya tidak akan sebanyak uang bulanan yang kamu berikan untukku."
Kalandra mengangguk. Menurutnya, apa yang Kayla katakan ada benarnya. Untuk apa ia terlalu memaksakan kehendak. Dan soal sekolah gratis, sepertinya bukan saran yang buruk.
Mungkin sudah saatnya ia berbagi pada orang-orang yang membutuhkan. Jika selama ini ia hanya menyalurkan sedikit uang untuk sebuah panti asuhan, kini ia ingin terjun sendiri dengan memberi bantuan pada masyarakat di desa itu.
"Aku akan membeli sebidang tanah dan membangun sekolah disana."
"Lengkapi dengan sebuah perpustakaan atau rumah baca untuk anak SD sampai SMA, Mas."
"Karena selain anak PAUD dan TK. Anak-anak lain dari tingkat SD sampai SMA juga bisa merasakan manfaatnya, Mas."
Kalandra kembali mengangguk. Ia merasa beruntung telah menikah dengan Kayla. Selama menikah, ia sama sekali tidak pernah menyesali pernikahannya.
Dulu, kembali akrab dengan mamanya adalah mimpi baginya. Tapi, sekarang mimpi itu menjadi kenyataan.
Dulu, ia hanya punya papa yang sesekali menjadi temannya berbagi keluh kesah tentang pekerjaannya. Tapi sekarang, ia punya Kayla.
Sekarang Kalandra tahu, mengapa akhirnya Tuhan menakdirkannya menikah dengan Kayla. Karena Tuhan tahu, Kayla akan membuat semuanya berubah termasuk hubungan dalam keluarganya.
"Terima kasih sayang! Aku sangat beruntung telah menikahi kamu!"
"Aku juga sangat beruntung, Mas!"
__ADS_1
"Tetaplah berbuat baik, Mas. Karena kita tidak tahu kapan saatnya kita kesusahan. Dan jika saat itu tiba, aku yakin Tuhan menolong kita dengan cara-Nya, dan melalui orang-orang pilihan-Nya."