Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 47 Cemburu


__ADS_3

Kayla masih berada dari gedung Dewandaru Group meskipun jam kerjanya susah berakhir sekitar 20 menit yang lalu. Ada pekerjaan yang tanggung untuk ditinggalkan. Jadi, ia selesaikan lebih dulu sebelum pulang. Lagi pula Melani dan Jendra juga belum pulang.


Kayla meregangkan tubuhnya. "Huh! Akhirnya selesai juga setelah kian lama saling tatap dengan mas laptop!" ucapnya mengundang tawa Melani.


"Mas laptop lebih ganteng dari mas Kalandra sepertinya, ya Kay?"


"Hahaha.. Iya Mbak! Dia lebih anteng kalau ditatap dan tidak menimbulkan debar-debar cinta," jawab Kayla jujur tapi sambil bercanda.


Melani terbahak. "Dan setidaknya mas laptop tidak minta dibelai, ya kan Kay?" tanya Melani membuat Kayla menelan ludah tapi tak urung ia juga tertawa.


Ia segera membereskan meja kerjanya dan bergegas untuk turun. Ia belum melihat ponselnya, apakah Kalandra atau supir yang akan menjemputnya.


"Mbak Mel, aku duluan ya! See you on Monday, mbak Mel!" pamitnya.


Melani mengangguk tanpa melihat kearah Kayla. "Selamat weekend, Kay! See you too!" balas Melani.


"Selamat weekend juga, Mbak Mel!" ucap Kayla dan ia segera berjalan menuju lift.


Kayla berdiri di depan pintu lift. Tak butuh waktu lama, pintu lift terbuka dan ia melihat Clara sedang memeluk tubuh Kalandra.


Dua orang yang berada di dalam lift itu sama sama terkejut. Apa lagi dirinya yang melihat suami dan mantan pacar suaminya tengah berduaan di dalam lift sambil berpelukan.


Ada rasa sesak di dadanya. Aku yang berstatus sebagai istrinya saja tidak pernah memeluknya seperti itu. Batin Kayla kesal.


Kalandra langsung mendorong tubuh Clara agar menjauh darinya. Melihat wajah Kayla yang sedang tak ramah membuat pria itu bertanya-tanya.


Dia kenapa? Wajahnya datar begitu? Pasti dia sedang banyak kerjaan.


"Aduh, Kal," keluh Clara. "Kamu tidak bisa berlaku lembut sedikit saja?"


"Tidak bisa!" jawab Kalandra acuh.


Ia segera keluar dari lift lalu menarik tangan Kayla untuk masuk ke dalam lift.


"Kamu lama sekali. Aku sudah menunggu dari tadi. Jadi, aku memutuskan untuk menyusulmu ke atas," ucap Kalandra menjelaskan pada Kayla.


Entah mengapa ada perasaan tak suka melihat Kalandra sedekat itu dengan Clara sehingga ia malas menanggapi penjelasan Kalandra.


"Kamu ingin bertemu Jendra, kan?" tanya Kalandra pada Clara saat Kayla tak menanggapi ucapannya.


"Dia masih di ruangannya kan, sayang!" Kalandra merangkul bahu Kayla.


Kayla tertegun mendengar kata sayang lalu mengangguk kecil.


"Tidak jadi, aku akan kembali saja. Aku hampir lupa kalau sudah membuat janji dengan seseorang," jawab Clara hanya sekedar alasan.


Tanpa menunggu lama, Kayla langsung menekan tombol angka 1 untuk membawa mereka ke lantai dasar.


"Jangan salah faham, Kay!" ucap Clara dengan senyum tipis. "Yang terjadi tadi adalah ketidak kesengajaan." Ia melirik Kalandra yang memasang wajah dingin.

__ADS_1


Kayla menatap Clara lalu mengangguk. Ia tersenyum kecil. "Tidak masalah, lain kali kalau ingin bermesraan jangan di depan mataku."


Clara menutup mulutnya menyembunyikan tawa. "Kamu pasti cemburu, yaaa?"


"Tenang saja, aku dan Kalandra sudah berteman baik sejak lama."


Kayla menatap Clara dan tersenyum kecil. "Aku tidak peduli sedekat apa hubungan kalian berdua di masa lalu."


"Tapi, satu hal yang pasti, seorang wanita yang sudah bersuami, tidak akan mungkin mendekati pria lain jika bukan karena memiliki satu tujuan." sindir Kayla yang tahu bahwa status Clara adalah sebagai istri orang.


"Dan tidak ada yang namanya teman baik diantara dua pria dan wanita dewasa. Kalau bukan si pria yang suka, berarti si wanita yang suka."


Kayla keluar dari lift setelah sampai di lantai bawah.


"Sepertinya istri kamu cemburu, Kal!" Kayla membelai dada Kalandra dan pria itu bergerak mundur untuk menghindar.


"Aku tidak peduli lagi dengan persahabatan kita, Kal. Karena kamu telah tega memenjarakan Daddyku!"


Kalandra menyeringai. "Karena hanya di sanalah seseorang menebus kesalahannya, Cla. Dan bersyukurlah karena aku tidak langsung mengirim pria itu ke neraka!" Kalandra memanjangkan langkah mengejar Kayla.


"Kamu kenapa diam saja, Kay?" tanya Kalandra saat mereka sudah berada di dalam mobil selama 10 menit.


"Tidak kenapa-kenapa, " jawab Kayla cepat.


"Kamu kelelahan?" tanya Kalandra dan ia hanya mengangguk.


Kalandra melirik Kayla sekilas lalu mencoba untuk memancing gadis itu bicara.


"Tadi, Clara tidak sengaja memelukku karena tubuhnya limbung. Katanya dia merasa pusing," bohong Kalandra.


Kayla melirik satu kali. "Bukan urusanku!" balasnya dengan wajah kesal.


"Dia terjungkal di lift juga aku tidak peduli. Asal jangan dia pingsan di depan meja kerjaku," balas Kayla acuh. "Karena itu sangat merepotkan."


"Kamu perlu tahu, Kay! Tidak ada hubungan apapun antara aku dan dia," ucap Kalandra.


"Kamu menutupi apa, Mas?" tanya Kayla. "Jelas-jelas Dea dan Jeslyn mengatakan kalau dia mantan kamu."


Kalandra menatap Kayla. "Kapan mereka memberitahu kamu?"


"Sudah lama, saat pertama kali kalian meeting di Dewandaru Group," jawab Kayla tegas.


"Dan kamu percaya?" tanya Kalandra.


Kayla mengangkat bahunya. "Percaya atau tidak, tidak akan berpengaruh apapun!"


"Bahkan jika ada sepuluh orang gadis yang mengaku aku tetap tidak peduli." Bibirnya saja yang mengatakan tidak peduli, tapi dadanya terasa sesak dan matanya mulai berkaca-kaca.


Kalandra mengusap wajahnya. "Sekali lagi ku katakan, tidak ada hubungan apapun antara aku dan dia."

__ADS_1


"Clara adalah anak biologis dari Leo!"


Satu kalimat yang berhasil membuat Kayla membulatkan mata.


"Ya, dia anak biologis dari Leo. Orang yang selama ini membayang-bayangi mama Riana."


"Dan pintarnya Leo, ia tidak melibatkan Clara dalam semua rencana jahatnya." jelas Kalandra.


"Tapi, sekarang Clara justru mengibarkan bendera perang denganku!"


Kalandra mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.


Flashback On


Kalandra memutuskan untuk masuk ke kantor Jendra karena ia sudah menunggu cukup lama sekitar 15 menit sejak sebelum jam kerja Kayla selesai.


Kalandra masuk ke dalam lift dan ia tak menduga kalau Clara ikut masuk bersamanya.


Kalandra diam saja. Tidak menyapa dan tidak juga berwajah ramah. Ia tidak tahu harus bersikap apa pada gadis yang dulu meninggalkan dirinya yang butuh banyak penjelasan.


Kalandra memang pernah jatuh cinta, namun cinta itu sudah kandas dan tidak ada lagi dalam hatinya.


"Mengapa kamu tega memenjarakan Daddyku, Kal?" tanya Clara saat mereka sedang berdiri sejajar di dalam lift.


"Aku tidak tahu kalau dia ayahmu karena kamu tidak pernah menjelaskan apapun sejak tiga belas tahun lalu."


"Aku sedih Kal." lirih Clara.


Kalandra tidak menatap wajah Clara. Ia takut merasa iba dan membuatnya ragu untuk meneruskan kasus Leo


"Tapi pria itu sudah membuatku sedih selama bertahun-tahun. Membuatku meragukan identitasku sendiri."


"Membuatku kehilangan banyak hal, Cla. Dia merenggut senyum papa, dia merenggut kepercayaan papa pada mama, dia merenggut kasih sayang ku pada mama."


"Dia mengambil semuanya dari keluarga kami. Dia penyebabnya, Cla!"


"Tidak juga, mama kamu juga bersalah, Kal!" bentak Clara. Ia memutuskan tatapan mata Kalandra.


Kalandra menatap Clara yang sudah melihat ke arah depan. "kamu benar. Mamaku juga bersalah."


"Lalu mengapa kamu hanya menghukum Daddyku?"


"Karena selama bertahun-tahun aku sudah menghukum mamaku," balas Kalandra dingin.


Pintu lift terbuka sedikit dan Clara bisa melihat wajah Kayla. Seketika ia menghadap Kalandra dan menubruk tubuh pria itu.


Pintu lift terbuka sempurna, "lihat siapa yang datang Kal!" bisik Clara sengaja memancing kesalah fahaman antara Kayla dan Kalandra.


Flashback Off

__ADS_1


__ADS_2