
Hampir dua jam Jendra dan Melani melewati rute perjalanan dengan mobil ATV yang Jendra kendarai. Tak ada kata lelah sedikitpun meski kaki, tangan bahkan hingga wajah mereka terkena percikan lumpur.
Jendra beberapa kali membuat Melani mencengkeram pinggangnya karena takut terjatuh.
Melani tak henti tertawa bahkan menjerit karena merasa deg-degan saat melewati rute yang lumayan sulit untuk Jendra lalui.
Melani membuka helmnya setelah turun dari kendaraan itu. Jendra juga ikut turun karena mereka harus segera membilas tubuh dan berganti pakaian.
"Anda memang CEO paling gil* yang pernah saya temui," kata Melani sambil tertawa. Ia meminta Jendra membukakan pelindung di siku Melani.
"Huussh!" tegur Jendra. "Tidak ada yang tahu siapa saya, Mel." Jendra berkata dengan suara pelan.
Melani tertawa. "Kalau ada yang tahu, mungkin mereka akan geleng-geleng kepala. Kok ada C- emmmp!" Mulut Melani tiba-tiba dibungkam oleh Jendra.
"Jangan sebut saya CEO lagi, Mel!" bisik Jendra pelan di telinga Melani.
Jendra melihat sekitar, banyak orang yang memperhatikan mereka. Jendra hanya tak mau ada yang tahu bahwa dirinya adalah seorang CEO di Dewandaru Group.
Melani menggigit pelan tangan Jendra yang menutup mulutnya sehingga pria itu dalam sekejap melepaskan tangannya.
"Aw!"
Melani menatap Jendra sinis. "Tangan bapak rasa lumpur!"
Jendra tertawa lalu mengejar Melani yang berjalan menuju loker untuk mengambil barang-barang mereka.
***
"Bersiap malam nanti, jika ingin ikut, Mel!" Jendra berjalan di belakang Melani yang sedang membuka pintu cottagenya.
"Kemana lagi, Pak?"
"Ikut saja, kamu akan suka." Jendra terus berjalan menuju cottagenya.
"Apa akan lebih seru dibanding menghabiskan malam di pinggir pantai?"
"Tentu!" Jendra membuka pintu cottagenya. "Saya yakin kamu akan suka." Jendra masuk ke dalam.
Jendra menghempaskan diri diatas ranjang. "Lelah sekali," gumamnya.
Jendra memejamkan mata. Masih jam 4 sore. Setelah makan siang, ia dan Melani memutuskan untuk langsung kembali ke cottage.
**
Jendra bersiap untuk keluar malam ini. Bukan tanpa tujuan, ia akan pergi ke salah satu club di Bali dengan voucher dari Kalandra. Hasil dari permintaannya yang melewati batas.
"Semoga ini berkesan untuk kamu!"
Melani mengangguk. "Sangat berkesan." Melani menatap tenang nya air laut yang memancarkan cahaya bulan dari rooftop beach club ini.
__ADS_1
Ia tak tahu, jika Jendra tak membawanya ke tempat-tempat yang sangat tidak ada dalam rencananya sama sekali.
Melani dan Jendra tak pernah membicarakan liburan ini sebelumnya. Mereka akan kemana dan akan melakukan apa.
Melani sendiri hanya ingin berjemur di pantai hingga melihat sunset. Tapi, Jendra memberikan sesuatu yang lebih.
"Besok, kita akan lihat sunset sebelum malamnya kita kembali ke Jakarta."
Melani mengangguk. "Terima kasih sudah mengajak saya, Pak."
Jendra tertawa. "Sudah saya katakan, ini adalah reward untuk kerja keras kita selama tidak ada Kayla."
"Saya akan membeli oleh-oleh besok pagi, Pak."
Jendra mengangguk. "Untuk siapa? Bukankah kamu tidak punya siapapun selain Kayla sebagai teman kamu?"
Melani menarik satu sudut bibirnya. "Itu yang anda tahu."
"Apa yang tidak saya ketahui, Mel?"
"Anda tahu, tapi anda belum pernah melihatnya secara langsung," jawab Melani.
Banyaknya pengunjung dan bisingnya suara musik, tak membuat Jendra melewatkan satu katapun yang terucap dari bibir Melani.
"Apa?"
"Panti asuhan Kasih Bunda."
"Katanya kamu tidak punya siapapun." Selama ini Jendra tidak tahu kalau Melani masih berhubungan dengan pengurus panti dan tempat gadis itu dibesarkan.
"Mereka memang bukan siapa-siapa, Pak. Tapi mereka adalah bagian dari diri saya."
"Saya akan datang jika saya rindu. Melihat senyum mereka terkadang membuat saya lupa, kalau saya punya pekerjaan yang menumpuk dengan bos yang nyaris membuat saya pusing setiap saat."
Jendra tertawa. "Dari hati sekali, Mel."
"He'em. Karena saat ini anda bukan bos saya."
"Tapi saya jadi tahu isi hati kamu, Mel."
Melani menatap Jendra yang wajahnya terlihat samar karena penerangan yang temaram.
"Anggap saja saya sedang curhat."
Jendra tertawa. "Kamu curhat pada orangnya langsung, Mel."
Jendra memeriksa gelas Melani lalu meminum isinya dengan sedotan.
"Bapak minum minuman saya?" tanyanya dengan nada terkejut.
__ADS_1
"Saya hanya memastikan kalau yang kamu minum ini bukan alkohol."
"Bicara kamu ngelantur soalnya."
Melani tertawa. "Saya sadar seratus persen, Pak. Anggap saja saya sedang membuang sampah-sampah di otak saya. Dan saya sedang me-refresh otak saya ini agar Senin nanti siap dipakai untuk bekerja lagi."
"Memori penuh Mel?"
Melani mengangguk. "Anggap saja begitu." Keduanya tertawa bersama.
***
Sesuai rencana Melani, ia pergi memberi oleh-oleh. Lumayan banyak karena ia tahu ada banyak anak panti yang harus ia beri dengan jumlah dan jenis yang sama.
Melani membeli beberapa baju barong dengan berbagai ukuran. Ia juga membeli beberapa Pie susu, Pia kukus dan beberapa makanan khas dari kota ini.
Jendra setia berjalan di belakang Melani. Kali ini ia malah terlihat seperti asisten pribadinya Melani.
"Anda tidak membeli sesuatu, Pak?"
Jendra menggeleng. "Orang tua saya selalu membawa oleg-oleh yang sama. Semua asisten rumah tangga di rumah saya pasti sudah bosan, Mel."
"Tapi, anda malah membayar semua belanjaan saya, Pak."
"Bukan untuk kamu, Mel. Tapi untuk anak-anak panti. Titip salam dari saya, kalau ada waktu saya akan mampir."
Sore hari, mereka kembali menghabiskan waktu dipinggir pantai. Bersama pengunjung lainnya, mereka akan menyaksikan matahari tenggelam.
"Ya Tuhan, semoga aku bisa kembali ke tempat yang indah ini."
Jendra seketika melihat kearah samping. Tampak Melani sedang berdoa dengan memejamkan mata.
Mereka duduk bersebelahan di sofa angin. Jarak mereka begitu dekat hingga Jendra bisa melihat mata itu terpejam dengan anak rambut yang bergerak disekitar wajah gadis itu.
Dia sangat cantik. Si*al! Mengapa kata-kata itu yang ada dalam otakku!
"Bersama orang yang akan menghabiskan sisa hidupnya bersamaku."
Jendra semakin mendekatkan dirinya pada Melani. Ia melihat bibir indah itu bergerak.
"Atau kalau boleh, juga bersama anak-anak kami."
Jendra menciu*m bibir Melani sekilas. Lalu ia tersadar dalam sekejap saat merasakan sesuatu yang manis dibibirnya.
Melani terkejut dan seketika membuka matanya. Ia tak percaya saat melihat Jendra telah memundurkan wajah.
Jendra seketika berdiri dari tempat duduknya. Ia perlahan mundur dan meninggalkan Melani yang masih tak percaya atas apa yang pria itu lakukan padanya.
Melani marah pada pria yang mencuri cium*an di bibirnya dan pergi begitu saja. Melani menyentuh bibirnya yang masih terasa bekas bibir Jendra.
__ADS_1
Melani kembali setelah hampir jam delapan malam. Mereka harus segera ke bandara karena pesawat mereka sudah menunggu.
Tidak ada obrolan sama sekali diantara keduanya. Bahkan di dalam pesawat mereka sama sama memejamkan mata terhanyut dalam pikiran masing-masing.