Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 50 Kabur


__ADS_3

Waktu terus berlalu, tanpa terasa pernikahan mereka sudah lebih dari tiga bulan. Banyak kejadian yang membuat hidup keduanya berubah.


Setelah, penyerangan yang dilakukan oleh suami Clara beberapa minggu lalu, tidak ada kejadian besar yang terjadi lagi.


Hanya saja, Clara menghilang entah kemana. Tidak pernah muncul menghadiri persidangan dan tidak pernah muncul di kantor Kalandra maupun Jendra. Clara juga tidak pernah mengunjungi rumahnya yang tengah dibangun.


Karena satu dan lain hal, dengan terpaksa pembangunan rumah itu dihentikan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan sampai Clara ditemukan.


Hubungan Kalandra dan Kayla masih belum berubah. Meski mereka sudah saling mengetahui perasaan masing-masing, keduanya tetap bersikap biasa. Hanya saling memberi perhatian satu sama lain.


Keduanya sama-sama masih memegang teguh isi perjanjian itu sehingga tidak pernah ada sentuhan fisik yang berlebihan apalagi sampai making love.


"Hoek! Hoek!" Kayla merasa mual saat ia tengah menuruni anak tangga. Ia sudah berpegangan kuat, karena takut terjatuh. Ia merasa pusing saat melihat kearah bawah.


Kayla segera berlari menuju kamar mandi yang ada di dapur. Ia memuntahkan isi perutnya. Tidak ada apapun yang keluar karena ia belum makan apapun pagi ini.


Oma dan Riana saling tatap. Dua orang berbeda usia itu sepertinya punya pemikiran yang sama.


Kayla merasakan kepalanya sangat berat dan berputar. Pandangannya sedikit buram dan yang pasti perutnya terasa begah serta seperti diaduk-aduk.


Riana dan Oma menghampiri Kayla yang sedang membasuh mulutnya. Keduanya membantu memijat tengkuk dan bahunya namun belum mengurangi rasa mual yang Kayla rasakan.


"Marni, tolong buatkan teh jahe!" perintah Riana. Sebagai wanita yang pernah mengandung, teh jahe ia percaya bisa mengurangi rasa mual.


"Ayo duduk, Kayla!" ajak kedua wanita diatas 50 tahunan itu.


Kayla duduk di meja makan dan menopang keningnya dengan tangan. Jemarinya juga memijat kening yang terasa pusing itu.


"Kamu sedang kurang sehat, Kayla. Sebaiknya jangan bekerja!" larang Oma yang sudah senang bukan kepalang.


Aku tidak menduga, ini terlalu cepat untuk sebuah pernikahan kontrak. Tapi tidak masalah, mereka juga terlihat saling mencintai. Batin Oma yang sudah mengetahui mengenai pernikahan kontrak Kalandra dan Kayla.


"Oma benar. Kamu di rumah saja." Riana juga setuju dengan Oma. Ia takut terjadi sesuatu pada Kayla.


"Tapi, ada berkas yang harus ku bawa ke kantor."


"Aku tidak bisa libur, Ma," jawab Kayla.


"Mama yang akan menelpon Jendra langsung. Dan berkas itu akan diantar pak Darmo dengan selamat!" jawab Riana tak mau kalah.


Akhirnya dengan penuh pemaksaan Kayla mengalah juga. Ia terpaksa izin tidak masuk hari ini.


Kayla beristirahat di kamarnya. Ia sudah sarapan, tapi hanya sedikit karena rasa mual yang terus saja ia rasakan.


Riana mengetuk pintu kamar Kayla dan dipersilahkan masuk. Wanita itu membawa biskuit dan segelas susu untuk Kayla. Ia memang belum 100 persen menyayangi menantunya ini. Tapi, bukankah Kayla adalah pilihan Kalandra?

__ADS_1


Dan demi hubungan dengan putranya yang terus berusaha ia perbaiki, ia harus menyayangi Kayla terlebih dalam perut wanita itu ada cucunya.


Riana segera keluar ke minimarket untuk membeli susu ibu hamil dan memberikannya pada Kayla pada jam tanggung seperti ini. Riana yakin, Kayla pasti merasa lapar karena hanya sarapan sedikit saja.


"Apa ini, Ma?" tanya Kayla.


"Cemilan untuk kamu," jawab Riana. "Kamu harus makan, meski sedikit-sedikit. Karena kamu sedang membutuhkan banyak gizi."


Kayla mengangguk. Ia tidak curiga sedikitpun dengan perlakuan mertua dan omanya. Ia mengira hal itu wajar mereka berikan pada dirinya yang memang sedang sakit.


Kayla meminum susu yang Riana berikan dan ia merasa semakin mual. Kayla sampai mengerutkan hidungnya. Aroma susu yang asing baginya.


"Mengapa baunya sedikit tidak enak, Ma?" tanyanya. "Rasanya juga sedikit aneh."


Riana tersenyum. "Itu karena kamu masih merasa mual. Indera penciuman dan perasamu pasti menjadi sangat sensitif."


Kayla mengangguk. Ia hanya memakan beberapa keping biskuit untuk mengganjal perut yang mulai terasa lapar.


"Kamu harus banyak makan, agar segera sehat!" Oma datang dengan membawa semangkuk berisi potongan buah.


"Oma, seharusnya tidak perlu repot begini," ucap Kayla tak enak hati karena Oma membawakan makanan untuknya ke dalam kamar.


"Tidak repot, kok!" jawab Oma.


"Kayla bisa mengambilnya sendiri, Oma."


***


Siang hari, mereka mengajak Kayla untuk ke dokter. Karena besok bertepatan dengan libur nasional, maka sudah dipastikan tidak ada praktek dokter yang buka.


Kayla sempat menolak, tapi lagi-lagi ia kalah dari dua wanita tua itu. Kayla sudah bersiap. Padahal ia sudah merasa baikan.


Yang membuat Kayla menuruti mereka adalah bagaimana jika sakitnya semakin parah besok? Ia harus menunggu sampai lusa. Dan Ia tidak ingin itu terjadi.


"Kamu sudah terlambat datang bulan, Kay?"


Kayla mengingat kapan terakhir ia datang bulan. "Sudah lebih tiga hari, Oma."


"Tapi, biasanya memang selalu lebih seminggu, karena jadwal bulananku tidak pas satu bulan," jawab Kayla yang tidak menaruh kecurigaan sama sekali.


Ia justru malah berfikir ini adalah tanda bahwa tamu bulanannya akan segera datang. Ia sering menandai dengan perutnya yang kembung.


Meski baru lebih tiga hari, pasti sudah terlihat. Batin Oma.


Mereka berhenti di sebuah rumah sakit yang lumayan besar. "Apa harus ke rumah sakit, Ma. Tidak ke dokter saja?" tanya Kayla pada Riana.

__ADS_1


"Tidak, rumah sakit ini menjadi langganan keluarga kita," jawab Riana. "Dari hamil Kalandra dulu, mama sudah berlangganan di rumah sakit ini."


Kayla mengikuti Riana dan Oma. "Kita tunggu disini saja dulu," ucap Riana menyuruhnya duduk di kursi yang berasa di ruang tunggu.


"Mama sudah reservasi lebih dulu. Jadi, kita tidak perlu terlalu lama menunggu."


Kayla melihat sekelilingnya. Mengapa banyak sekali pasien yang sedang hamil. Batin Kayla karena banyaknya ibu hamil yang menunggu di kursi lainnya.


Kayla membulatkan mata saat melihat nama klinik yang ada di depan matanya. Dok-dokter kandungan? batinnya ketar-ketir.


Apa mama dan Oma mengira aku tengah hamil? Astaga. Habislah riwayatku jika oma dan mama tahu aku sedang tidak hamil. Batin Kayla semakin khawatir.


"Ma, kita ke dokter kandungan?" bisik Kayla takut-takut.


Riana mengangguk dan tersenyum lebar. "Jangan gugup. Semua wanita pasti akan masuk ke sana cepat atau lambat."


"Tapi Kayla belum hamil, Ma." bisiknya yakin.


"Pernikahan kamu sudah tiga bulan. Jika memang belum hamil, setidaknya dokter akan tahu dimana masalahnya," jawab Oma.


Tangan dan kaki Kayla mulai dingin. Ia harus segera menghubungi Kalandra. Karena jika terlambat sedikit saja maka semuanya akan menjadi kacau.


Kalandra yang tengah berada di luar kota tidak mungkin bisa langsung muncul disini. Tapi, setidaknya pria itu bisa membatalkan pemeriksaannya. Tidak peduli bagaimanapun caranya.


"Nyonya Kayla Ayana." Terlambat, ia belum sempat menghubungi Kalandra, tapi namanya sudah dipanggil. Ia berusaha untuk tidak tegang dan menenangkan dirinya.


"Jangan tegang. Ini hanya pemeriksaan biasa," bisik Riana.


Ia ditemani Riana dan Oma masuk ke ruangan dokter. Ia diminta untuk mengukur tinggi tubuhnya dan menimbang berat badannya.


"Kapan terakhir datang bulan?"


"Tanggal 27 bulan lalu, sus," jawabnya gugup.


"Kita periksa ya..."


"Ma... Kayla takut!" bisiknya. Tapi lagi-lagi keduanya meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Kayla naik keatas brangkar. Dokter menyiapkan alat untuk USG transvaginal yang disebut transduser sepanjang 2-3 inci yang dimasukkan langsung ke dalam mi*ss V.


Kayla mendelik melihat alat yang disiapkan dokter. Ia tidak tahu pasti alat apa itu, tapi yang ia tahu yang akan ia jalani bukanlah USG melalui permukaan perut.


Kayla melompat dari brangkar saat suster memintanya untuk melepas pakaian dalam karena kebetulan ia tengah memakai dress selutut.


"Kayla!" Pekik Riana yang terkejut dengan apa yang Kayla lakukan.

__ADS_1


"Maaf Ma, maaf Oma. Kayla tidak bisa meneruskan pemeriksaan ini." Kayla seketika keluar dari ruangan itu. Ia berjalan cepat untuk keluar dari gedung rumah sakit dan mencari taxi sebelum mertuanya dan Oma berhasil mengejarnya.


Jantungnya berdebar hebat. Seketika sakitnya sembuh. Bagaimana mungkin aku melakukan pemeriksaan dengan alat itu? Jika aku terlambat berfikir semenit saja, maka mereka akan tahu kalau aku masih perawan.


__ADS_2