
Besok adalah hari paling bersejarah dalam perjalanan hidup Jendra dan Melani. Sebuah pernikahan sakral namun sederhana akan mereka lakukan di sebuah masjid di kota itu.
Malam ini, Melani sengaja tidak tidur di apartemennya. Ia memilih untuk menginap di panti asuhan. Ia juga tak lupa membawa semua pakaian yang akan ia pakai besok.
Melani sedang duduk berdua bersama ibu panti yang merawatnya sejak bayi, saat ia belum tahu betapa kejamnya dunia ini.
"Bu, mulai besok, akan ada seorang pria yang akan bertanggung jawab atas hidupku." Melani menatap wanita yang dulu membuainya sebelum tidur.
"Selama belasan tahun, Ibu merawatku penuh keikhlasan. Dan belasan tahun juga aku berusaha hidup mandiri."
"Dan mulai besok, sisa umurku akan ku habiskan untuk hidup bersama pria pilihanku."
Wanita itu tersenyum. Tubuhnya memang tengah duduk di kursi roda, tapi setiap selesai sholat, ia tak pernah lupa menyebut nama Melani dalam doanya.
"Kamu benar. Dulu, kamu masih sangat kecil, Mel. Bagaimana ibu menemukan kamu menangis di depan gerbang panti." Wajah yang mulai tampak keriput itu kini sedang tersenyum tipis.
"Malam itu, hujan gerimis. Ibu dan ayah yang baru saja pulang dari sebuah acara amal melihat seorang bayi cantik tengah menangis."
"Bayi yang baru berusia satu minggu berbalut selimut tebal itu seketika membuat ayah dan ibu jatuh cinta."
"Dia cantik dan pemberani. Dia kuat dan tangguh."
Melani menangis setiap kali ia mendengar cerita itu. Cerita yang ia benci, tapi selalu ia ingat. Bahkan ia ingin selalu mendengarnya setiap kali ia merasa dirinya tidak berarti.
Mendengar cerita itu, dia yang sepertinya sengaja dibuang masih diberi kesempatan untuk hidup. Ia percaya Tuhan pasti punya rencana untuknya.
Wanita itu memberikan sesuatu benda yang terbungkus plastik. Wanita itu membukanya dan Melani terkejut saat melihat selimut tebal berbahan lembut yang tampak terawat.
Melani menatap wanita yang menyerahkan selimut itu padanya. "I-ini..."
"Ini kenang-kenangan dari orang tua kamu, Nak!"
Melani menggeleng. "Aku tidak punya orang tua. Aku hanya punya ibu dan ayah di dunia ini."
"Tapi, kamu tetap terlahir dari rahim seorang wanita, Nak. Dan orang itu bukan Ibu."
Melani menangis. "Aku bahkan tidak tahu siapa dan dimana mereka, Bu."
"Aku meyakinkan diriku bahwa aku hanyalah anak yang tidak diinginkan."
"Selama ini aku melupakan semua itu, dan hanya mengingat dalam otakku bahwa hanya kalianlah orang tuaku."
"Melani ..."
"Lihat selimut ini. Ada bordiran dengan inisial M.A. Entah siapa nama kamu sebenarnya, tapi Ayah memberimu nama Melani Agnia."
"Nama itu terucap begitu saja dari bibir ayah."
__ADS_1
"Dan ini ..."
Melani menerima sebuah kalung dengan liontin berbentuk kupu-kupu. Kalung yang sudah ada bersamanya sejak ia bayi namun tidak pernah dipakaikan karena takut hilang.
"Ini seperti petunjuk untuk menemukan orang tua kamu, Mel."
"Kamu bisa mencari mereka. Sekarang ini, teknologi semakin maju, siapa tahu kamu bisa bertemu orang tuamu."
Melani tersenyum. Miris rasanya. Ia bahkan hampir dua puluh tahun tinggal di panti, namun orang tuanya tidak pernah datang mencarinya.
"Aku tidak akan mencari mereka, Bu. Karena mereka saja tidak pernah mencariku."
Wanita itu tersenyum. "Terserah padamu, Mel. Ibu hanya memberikan barang-barang yang memang merupakan milikmu."
"Kalung itu, berharga mahal."
"Maaf, diam-diam ibu pernah menanyakan harga kalung itu di toko perhiasan."
"Dulu, saat panti mengalami kesulitan keuangan, ibu berniat menjual atau menggadaikan kalung ini. Tapi, kami sepakat untuk tidak melakukannya dengan alasan kalung ini hanya milik kamu dan hanya kamu yang berhak menjual atau menggadaikannya."
Melani tertegun. "Kalung ini juga terlalu pendek untukku, Bu. Jadi, jual saja," ucap Melani yang merasa tidak membutuhkan perhiasan itu.
"Pakai saja di tanganmu. Jadikan sebagi gelang."
Melani memutuskan untuk menyimpannya saja. Biar bagaimanapun ia harus menghargai apa yang wanita itu jaga untuknya.
Sementara itu, Jendra dan kedua orang tuanya tengah berkumpul di kamarnya. Jenar dan Surendra masuk ke kamar putranya hanya untuk memeriksa apakah sudah tidur atau belum.
Jendra menggeleng. "Belum mengantuk, Ma."
"Besok kamu harus bersiap pagi-pagi sekali, Jend."
Jendra mengangguk. "Aku tidak akan terlambat, Ma."
"Melani sedang di apartemen atau di panti?"
"Dia sedang di panti, Pa. Dia tidak ingin sendiri malam ini. Saat ku tawari untuk tinggal di sini, dia malah menolak."
"Biarkan dia mengenang masa-masa saat ia masih sendiri. Karena sebentar lagi, dia akan menjadi istri kamu."
Kedua orang tua Jendra sudah tahu mengenai hubungan keduanya dari cerita Jendra dan Melani. Mulai dari sering bertengkar hingga akhirnya memutuskan untuk bersama.
"Mama akan tinggal disini, kan?" tanya Jendra.
Jenar diam dan tidak menjawab.
"Ma ... sesuai dengan janji mama. Mama akan kembali ke rumah jika aku sudah menikah, kan?"
__ADS_1
Jenar mengangguk. "Tapi tidak dalam waktu dekat. Karena ada banyak hal yang masih harus kami urus disana."
"Ingat, Ma. Resepsi di Bali hanya mengundang sedikit tamu." Jendra dan Melani menyerahkan urusan resepsi pada Jenar sebagai ganti karena tidak ikut mengatur acara akad nikah mereka.
"Iya! Mama ingat, Jend!"
"Bagaimana? Kalian jadi untuk bulan madu ke luar negeri?"
Jendra mengangguk. "Jadi, Pa."
"Papa yang akan menanggung semua biayanya, kan?" tanya Jendra bercanda.
Surendra tertawa. "Kamu yang ingin mencetak bayi, mengapa papa yang menanggung biayanya?"
Jendra tertawa. Ia tak patah semangat. "Karena yang dicetak, kan cucu papa."
"Sudah, Pa. Doa kan saja semoga mereka berdua berhasil. Soal biaya, bukankah sejak awal memang papa yang merencakan perjalanan bulan madu untuk mereka."
"Nah, mama benar, Pa. Aku dan Melani sangat mengharapkan agar bisa segera memberi kalian cucu yang lucu."
"Dengan begitu, mama dan papa akan tinggal di rumah ini lagi."
"Jendra, sebenarnya, yang kami harapkan jauh lebih sederhana. Yaitu, kalian bahagia menjalankan pernikahan ini." Surendra membuatnya menatap pria itu.
"Kami pasti akan bahagia, Pa," balas Jendra yakin. Ia merasa pasti akan bahagia selama tidak ada orang ke tiga.
Surendra tersenyum tipis. "Ada beberapa nasehat yang ingin papa berikan untuk kamu. Dan hal inilah yang kami terapkan hingga pernikahan kami semakin langgeng di usia 31 tahun pernikahan."
"Yang pertama. Tetaplah mencintainya. Jatuh cinta itu sangat indah. Maka jatuh cintalah padanya setiap hari, Jend!"
Pantas saja, papa selalu memandang mama seperti pria yang sedang kasmaran.
"Kedua. Dia adalah pasanganmu. Itu artinya dia adalah rezeki yang Tuhan beri untukmu. Jangan sesekali membandingkan milikmu dengan milik orang lain. Karena itu akan membuat perasaannya hancur."
Jendra mengangguk. "Iya, pa."
"Yang ke tiga. Jadikan dia ratu, bukan babu. Jangan memintanya melakukan pekerjaan yang tidak biasa ia lakukan. Hiduplah dengan saling melengkapi. Dia mencuci, kamu menjemur. Atau dia yang menyapu, kamu yang mengepel. Dia yang masak, kamu yang makan."
Jenar tertawa. Ia menepuk bahu suaminya. "Nasehat papa semakin kesini semakin kemana-mana, Pa!"
"Mereka punya asisten rumah tangga yang akan menyelesaikan semua pekerjaan rumah, Pa."
"Hahaha. Tapi benar kan? Itu yang kita lakukan saat ini, sayang?"
Jenar mengangguk. Mereka memang saling tolong menolong saat di rumah. Membersihkan dan merapihkan rumah memang dikerjakan oleh asisten rumat tangga. Tapi, urusan memasak dan lainnya mereka selesaikan bersama.
"Dan yang paling penting adalah jangan membawa masalah kalian hingga ke tempat tidur."
__ADS_1
"Jika ada masalah, selesaikan secepat mungkin. Jangan sampai masalah kecil membuat tidur kalian terganggu."
"Iya, Ma, Pa. Aku akan mengingat semua nasehat kalian."