
Jendra punya satu ide yang ia yakini akan membuat Melani senang bukan kepalang. Ia yakin, apa yang ia berikan pada istrinya nanti adalah hal yang paling Melani inginkan. Tapi, untuk melakukannya, butuh usaha yang luar biasa besar.
Jendra duduk di meja kerjanya. Ia melakukan panggilan video pada Marshella - ibu mertuanya dan juga Jenar-mamanya.
"Kenapa, Jend?" tanya Jenar. "Loh, Marshella juga ada?" Jenar terkejut saat melihat Marshella juga ada dalam panggilan itu.
"Mama, bunda, bisakah aku meminta bantuan kalian?"
"Katakan saja, Jend. Apa sedang terjadi sesuatu pada Mishel?" tanya Marshella yang lebih suka memberikan nama itu untuk Melani.
"Dia baik-baik saja, bunda. Tapi, belakangan ini dia sepertinya sedang merasa serba salah terhadapku."
"Aku juga tidak tahu alasannya," ucap Jendra dengan nada lemah.
"Wanita hamil memang seperti itu, Jend. Emosinya naik turun, banyak inginnya dan ada beberapa yang membenci suaminya sendiri."
Jendra berdecak. "Makanya itu, aku hanya tidak ingin perubahan sikapnya itu berpengaruh pada janin dalam kandungannya, Ma."
"Jadi, bisakah ku minta kalian untuk datang? Sepertinya dia sering merasa bosan sendirian di rumah, dan kondisinya yang tidak memungkinkan untuk bekerja."
Marshella membulatkan matanya. Ia masih belum ingin menginjakkan kaki di rumah itu.
"Bunda, please!" Jendra memohon.
"Kota ini sudah banyak berubah sejak 30 tahun terakhir, Bun. Bunda bahkan tidak tahu kan kalau mereka masih ada atau tidak."
"Ku mohon, Bun. Datanglah demi istriku. Demi putri bunda."
"Aku berjanji akan memberikan pengawalan terhadap bunda."
Dengan segala bujuk rayu dan Jenar yang juga turut meyakinkan Marshella, akhirnya wanita itu bersedia untuk ikut.
Jendra memesankan tiket untuk empat orang, yaitu papa dan mamanya, Marshella dan juga Gayatri.
Setelah berkemas, Jenar dan suaminya menjemput Marshella dan Gayatri karena mereka akan langsung berangkat jam 6 sore waktu setempat.
Jendra masuk ke dalam kamar. Ia melihat Melani yang meringkuk diatas ranjang.
Ia berusaha melihat wajah istrinya yang tersembunyi di balik guling. Ia mengangkat guling itu dan tampaklah Melani yang sedang menangis.
"Hei, kamu kenapa, sayang?" tanya Jendra panik.
Melani makin terisak membuat Jendra semakin bingung saja. Ia merubah posisi Melani menjadi duduk menghadapnya.
"Kamu kenapa? Katakan padaku, Mel? Perut kamu sakit? Atau kamu ingin makan sesuatu?"
Melani menggeleng. Ia membiarkan Jendra menyeka air matanya. Ia sedang merasa sangat sedih. Belum selesai dengan fikiran negatifnya karena mimpi Jendra berselingkuh, kali ini ia malah merasa semakin sedih.
Ketakutannya semakin menjadi-jadi. "Aku menonton film ..."
"Terus?" Tanya Jendra yang sudah tak penasaran lagi.
Jangan katakan kalau tangisnya ini karena terharu saat menonton film, atau merasa sedih karena pemeran utamanya meninggal.
"Suaminya kaya raya, terus malah selingkuh saat istrinya sedang hamiiiiilllll .... huaaa... huaaa...." Melani menangis semakin keras.
__ADS_1
Jendra menghela nafas lalu berusaha menenangkan istrinya. Ia mengusap punggung Melani.
"Sssst! Tenanglah. Itu hanya film, sayang!"
"Tapi, bisa saja terjadi padaku, Mas! Aku sedang hamil. Aku malas berdandan, dan kamu pasti berniat untuk selingkuh dengan wanita lain."
"Astaga, Melani!"
"Tidak begitu, sayang. Tidak semua pria akan selingkuh saat istrinya sedang hamil. Lihat Kalandra! Lihat papa! Mereka setia, Sayang!"
"Kalau pun ada yang berselingkuh, dasar pria itu saja yang buaya!"
"Tapi, kamu kan dulu seperti itu, mas ..."
Jendra sepertinya salah bicara. Ia menarik nafas dalam-dalam dan memegang bahu Melani.
"Malam ini, kita makan malam di luar ya. Aku punya kejutan untuk kamu."
"Apa, Mas?" tanya Melani.
"Kalau ku beri tahu, bukan kejutan namanya, sayang!"
"Kamu bersiap saja. Kamu pasti akan suka dengan apa yang akan ku berikan untuk kamu."
Malam harinya. Melani terus bertanya-tanya saat Jendra hanya membawanya sekeliling kota. Mereka sudah lebih dari satu jam hanya berkeliling saja tanpa berhenti di manapun.
"Sebenarnya kita mau kemana, Mas? Mengapa kita hanya berputar-putar saja?"
"Apa ini kejutannya?"
Melani mengerutkan kening. "Apa kejutan kamu belum selesai atau mungkin belum sampai, Mas?"
Jendra mengangguk. "Hanya kesalahan teknis sedikit, Mel."
"Beri aku clue sedikit saja."
Jendra menggeleng. "Rahasia."
"Oke. Coba ku tebak."
"Tebaklah. Siapa tahu kamu bisa menebaknya."
"Apakah mereka sedang mendekor suatu tempat?" tanya Melani setelah berfikir beberapa saat.
Jendra menggeleng. "Tidak."
"Apa ada hubungannya dengan cake? Ah, tapi aku kan tidak sedang ulang tahun."
Jendra tertawa karena merasa lucu. Melani yang bertanya, tapi dia juga yang menjawab.
"Apa tentang meniup balon?"
"Ya, bisa jadi," jawabnya asal. Ia hanya mengikuti sebuah kuis yang cara menembaknya seperti itu.
"Apa tentang pesawat?"
__ADS_1
"Ya, ya, sedikit lagi!" jawab Jendra semakin membuat istrinya berfikir keras.
"Apa kamu menunggu pesawat lewat dengan membawa banyak balon di sayap belakangnya?"
"Seperti di film kartun, Mas. Dan ada kain yang bertuliskan, i love you Melani. Begitu kah?"
Jendra merapatkan bibirnya agar tawanya tidak pecah. Ia hanya merasa hal itu begitu konyol. Memangnya siapa dirinya yang bisa mengatur ide segila itu. Pesawat milik siapa yang ia minta membawa balon dan spanduk di belakangnya.
"Kamu akan melihatnya, sebentar lagi, sayang."
Mereka tiba di suatu restoran. Sedari tadi, Jendra berusaha mengulur waktu agar keempat orang itu tiba lebih dulu di restoran yang sudah ia pesan sebelumnya.
Ia membawa Melani masuk ke sebuah ruang VIP. Ruangan itu sangat gelap sehingga Melani mencengkeram lengan Jendra.
"Mas, mengapa gelap sekali? Kamu tidak sedang mengerjaiku kan?"
"Tentu tidak, sayang!" Suara yang Melani kenal terdengar seiring menyalanya lampu di ruangan itu.
Tubuh Melani bergetar, ia menutup mulutnya tak percaya saat melihat empat orang yang tidak ia sangka kehadirannya.
Melani menatap Jendra penuh tanya. "Ini kejutannya, sayang?" tanyanya dan Jendra mengangguk.
"Ba-bagaimana kamu bisa membuat bunda datang?"
"Dengan sedikit trik," ucap Jendra sambil mengerling. "Mengatas namakan cintanya terhadap kamu."
Melani mendekat dan memeluk Marshella. "Aku tahu, bunda pasti bisa. Bunda pasti bisa melawan ketakutan ini."
"Bunda pasti bisa..."
"Demi bisa bersama kamu, sayang! Demi bisa memeluk kamu seperti ini. Demi bisa menebus waktu kita yang hilang begitu saja."
"Bunda akan selalu ada bersama kamu, sayang."
"Aku sangat bahagia, Mas."
"Mulai besok, bekerjalah dan jangan terlalu sering muncul di hadapanku karena aku akan sibuk menghabiskan banyak waktu bersama mama dan bunda serta bibi Gayatri."
"Lihat! Dia bahkan akan melupakan aku, Ma." Semua orang tertawa melihat tingkah sepasang suami istri itu.
"Bagaimana dengan papa, Mel?"
Melani berfikir sejenak lalu ia mendapatkan ide bagus. "Papa lebih baik ke kantor saja, Pa."
"Melani minta tolong, awasi Mas Jendra karena beberapa hari ini, akan ada dua sekretaris baru."
"Jangan sampai, Mas Jendra memilih hanya karena belahan rok wanita itu yang terlalu tinggi."
Surendra tertawa. "Baik-baik. Tenang saja. Demi calon cucu papa, papa akan mengawasinya."
"Kalau perlu, papa akan carikan aspri seorang pria."
Melani merasa sangat senang. Selama ini keempat orang tersebut memang selalu mendukung dan memaklumi perubahan sikapnya. Tapi, kali ini semua terasa lebih nyata karena pelukan dan sentuhan lembut dari mama dan bundanya mampu menenangkannya.
Sementara Jendra, ia akhirnya bisa melihat tawa dan senyum ceria di wajah istrinya. Ia akan melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan Melani.
__ADS_1