
Jendra tiba di rumah saat waktu sudah menunjukkan jam 11 malam. Ia peluang dengan meminta dua supirnya membawa dua mobil. Satu mobil untuk mengantar Melani pulang. Dan satu mobil lagi untuk mengantarnya pulang.
Tindakan ceroboh yang ia lakukan pada sekretarisnya itu membuat dirinya merasa bersalah sekaligus malu pada gadis yang menghabiskan waktu selama dua hari terakhir bersamanya.
Jendra tak tahu mengapa ia nekat mencium Melani di tempat umum seperti tadi.
Ia merasa doa Melani begitu dalam. Gadis itu berdoa hanya untuk bisa kembali ke tempat itu bersama pria yang akan menjadi suaminya kelak. Terlalu sederhana menurutnya.
Dia ingin marah, karena Melani malah seolah mengharapkan kehadiran pria lain saat disamping gadis itu ada dirinya.
Jendra yang selalu berhasil memenangkan hati setiap gadis merasa tak ada artinya di mata Melani.
Tapi, kecantikan alami yang ia lihat di wajah gadis itu malah membuat kalorinya sebagai lelaki normal tak bisa ia kendalikan.
Jendra menenggelamkan wajahnya di bantal. Ia masih bisa membayangkan rasa manis dibubir gadis itu meski hanya sekejap ia menyesapnya.
Ia ingat betul, saat ia perlahan mundur meninggalkan Melani di pinggir pantai tadi. Ia segera berlari menuju cottagenya. Ia seperti pencuri yang takut tertangkap. Ah, dia memang pencuri.
"Aaargh!" Teriak Jendra yang seketika merubah posisinya menjadi duduk.
"Bug!"
"Bug!"
"Bug!"
Berulang kali Jendra meninju bantal karena kesal dengan perasaannya sendiri. Ia sepertinya tak akan berani menatap Melani besok.
"Baru kali ini aku menyesal karena telah mencium seorang gadis."
"Apa karena Melani gadis baik-baik?"
"Atau karena kami tidak punya hubungan apapun?"
"Aarrg! Aku bisa gil* jika terus memikirkan hal ini. Menyesal, tapi bibirnya manis sekali."
Jendra beringsut dari tempat tidur. Ia menendang bantalnya yang jatuh dari atas ranjang demi meluapkan kekesalannya.
"Oke Jendra. Lebih baik fokus bekerja saja!" Jendra duduk di meja kerjanya yang terletak di ruangan lain di dalam kamarnya.
Jendra membuka laptop dan membuka file yang akan ia sampaikan saat meeting besok pagi.
Matanya fokus pada layar laptop tapi fikirannya malah tertuju pada gadis yang tinggal di apartemen yang hanya sepetak itu.
"Melani marah tidak, ya?"
"Apa Melani akan memaafkanku?"
"Atau Melani akan menghajarku?"
"Ck!" decaknya. "Tentu dia marah. Tentu dia tidak akan memaafkanku. Lihat saja tadi. Sepanjang perjalanan, dia tidak mengatakan satu katapun padaku."
"Menatapku saja dia tidak ingin!"
__ADS_1
Jendra meletakkan kedua telapak tangannya di kepala. "Oh Tuhan! Aku hanya menciumnya. Bukan memperk*sanya."
"Mengapa aku bisa setakut dan segil* ini sih!"
Jendra mengetukkan jemarinya diatas meja. Otaknya yang cerdas harus ia gunakan dengan baik kali ini.
Jendra mengambil ponselnya. Ia mencoba menghubungi Melani.
"Jika dia tidak menjawab panggilanku, artinya dia marah padaku."
Tak butuh waktu lama, panggilannya dijawab oleh Melani. Jendra tersenyum lebar.
"Hallo!"
Deg!
Sejak kapan aku berdebar saat menghubungi Melani? batin Jendra.
"Hallo, Pak!"
Mati aku! Aku mau bicara apa?
"Hallo, Pak? Anda masih disana? Jika tidak ingin bicara saya akan tutup panggilannya."
"Periksa file yang akan saya bawa meeting besok. Saya minta di revisi ulang."
"Berantakan sekali. Saya tidak suka!"
"Tapi saya lelah, Pak!"
Jendra mengakhiri panggilan dengan jantung berdegup kencang.
Jendra tertawa. "Astaga, kenapa rasanya seperti sedang bermain petak umpet bagini."
Jendra ingat, rasanya seperti saat kecil dulu saat ia tengah bersembunyi dengan perasaan was-was agar tidak ketahuan.
"Baru kali ini jantungku berpacu cepat selain saat olah raga di atas ranjang!"
Jendra masuk ke kamar mandi. "Sepertinya aku harus mengguyur kepalaku."
"Dan besok aku harus bersiap menghadapi kenyataan, sekretaris bar-bar itu akan menamp*ar pipiku." Jendra tertawa seperti orang gila.
***
Pagi hari...
"Huuu! Syukurlah Kayla masuk hari ini. Semoga saja Melani melupakan semua kesalahanku semalam," gumam Jendra saat ia baru saja keluar dari lift dan melihat Kayla juga baru keluar dari lift khusus karyawan.
Jendra menyaksikan bagaimana Kayla dengan ramah menyapa Melani. Ia masih menguping di balik tembok. Tak lupa ia melihat ke kanan dan ke kiri, berjaga jaga takut di lihat karyawan lain.
Masa iya, seorang CEO menguping pembicaraan kedua sekretarisnya. Bisa jatuh harga dirinya. Ya, walaupun padahal ia sering sekali memperhatikan kinerja Melani dan Kayla melalui CCTV. Tak hanya mereka, semua karyawan sering ia pantau melalui CCTV. Anggap saja ia adalah CEO yang merangkap menjadi kepala keamanan di perusahaan itu.
"Kamu tidak tahu, aku berada di gedung ini sejak jam 6 pagi, Kayla!"
__ADS_1
Jendra menahan tawa saat Melani mengeluh kepada Kayla bahwa gadis itu datang sejak petang.
"Aku kerja lembur bagai kuda. Ternyata liburan extra ordinary itu harus ku bayar dengan begitu mahal dan menyebalkan!"
Jendra kembali menahan tawanya. Entah mengapa ekspresi Melani sangat lucu menurutnya.
"Kaylaaaaaa...." Melani menangis keras. Membuat Jendra terkesiap. Ia mulai was-was karena suara Melani terdengar begitu melengkung.
"Singa gil* itu mencuri cium*an pertamaku yang telah ku jaga sampai hampir 30 tahun...."
Deg!
Jendra memegangi dadanya. Jantungnya seketika berpacu cepat saat mendengar Melani mengatakan Singa gil* telah mencuri ciuman pertama gadis itu.
Apa singa gil* yang Melani maksud adalah diriku? Batin Jendra.
Ia merasa beruntung telah mendapatkan jackpot yang menurutnya luar biasa itu. Gadis seusia Melani belum pernah berciu*man sementara dirinya sudah mencelupkan diri ke berbagai macam rawa-rawa. Ia tersenyum menyadari keberuntungan yang ia dapat dengan cara mencuri itu.
Jendra kembali menajamkan pendengarannya.
"Entahlah! Dia tiba-tiba saja melakukannya padaku. Dan aku tidak sempat mengelak, apa lagi sampai menghajarnya." Melani menangis terus-terusan.
"Sudahlah, mbak. Dia hanya menciummu, kan?"
"Kamu bilang hanya?"
"Kayla, aku sudah mati-matian menjaga agar bibirku ini tak disentuh pria manapun selain suamiku!" ucap Melani dengan nada tinggi.
"Dan aku gagal hanya karena aku lengah!"
"Lagi pula, aku tidak menyangka kalau pak Jendra akan melakukannya padaku."
"Mba-"
"Aku masih ingin bicara Kayla. Biarkan aku menumpahkan seluruh uneg-uneg dalam hatiku!" potong Melani terus berbicara.
"Jam 11 malam aku baru sampai di rumah, dan dia langsung memintaku merevisi berkas yang akan dia bawa meeting pagi ini."
"Kamu tahu, otakku rasanya hampir jungkir balik, Kay!"
"Iy-"
"Aku tidak tidur hampir semalaman. Jam 5 pagi, aku bangun dan segera ke kantor."
Jendra kembali menahan tawa saat mendengar Melani berbicara tanpa jeda. Bahkan Kayla tak diberi kesempatan untuk bicara.
Melani juga mengatakan bahwa gadis itu tidak sempat sarapan. Jendra melihat paperbag ditangannya.
Ia sempatkan diri untuk membelikan sarapan untuk Melani. Ia bisa nembak kalau gadis itu pasti akan melewatkan sarapannya.
Jendra ingin muncul namun masih urung karena Kayla memberikan oleh-oleh berupa tas branded yang ia harap bisa menghibur Melani.
Jendra berjalan mendekat setelah dirasa obrolan keduanya sudah selesai. "Sarapan untuk kalian!" ucap Jendra sebelum keduanya bertanya. Ia meletakkan paperbag yang ia bawa ke atas meja.
__ADS_1
"Kayla, siapkan ruang meeting karena akan ada meeting dengan Cemara Land setengah jam lagi!" perintah Jendra yang langsung masuk ke dalam ruangannya.