
Hujan rintik-rintik malam ini nyatanya tak membuat Melani bisa memejamkan mata. Ia memikirkan hal yang terjadi siang tadi di ruang kerja Jendra. Bahkan ia tidak bisa menceritakan apa yang terjadi pada Kayla sangking bingungnya.
Bagaimana bisa Nyonya Dewandaru malah berfikir kalau ada hubungan istimewa antara dirinya dan si Bos?
Padahal selama ini bukan rasa cinta yang ia rasa. Dirinya justru selalu merasa kesal pada pria tampan itu.
Tapi, ia tetap betah bekerja disana. Mungkin karena Jendra bukan tipe atasan yang suka mem*aki dengan kata-kata kasar. Pria itu hanya selalu merepotkannya karena selalu ingin tampil sempurna tiap kali mengadakan meeting.
Kesalahan sekecil apapun, kalau bisa jangan terjadi. Itulah yang kadang membuat Melani bekerja lebih keras.
Melani menatap rintik hujan dari jendela kamarnya. Ia merasa harus segera meluruskan masalah ini pada wanita anggun itu. Tapi, mengapa sampai detik ini si Bos bahkan belum melakukan tindakan apapun? Minimal meminta saran atau bertanya mereka harus bagaimana.
Melani mencoba menghubungi Jendra, namun tidak dijawab.
"Pak Jendra kemana, sih?" keluh Melani. "Mengapa tidak menjawab panggilanku?"
Ia mencoba menghubungi pria itu berkali-kali tapi tetap saja tidak dijawab.
"Ah!" Melani melempar ponselnya diatas ranjang. "Apa dia sedang bersenang senang sementara diriku disini sedang memikirkan kesalah fahaman ini?"
"Bu Jenar juga ada-ada saja! Liburannya kapan, muncul masalahnya juga kapan?"
"Tiga bulan loh!" Melani menegakkan tiga jemarinya. "Dan malah diungkit sekarang?"
"Bu Jenar, anda berhasil membuat saya tidak bisa tidur malam ini!" Melani menghempaskan diri ke atas ranjangnya.
***
Ponsel yang terletak di atas meja berdering saat pria itu sedang duduk bertiga dengan kedua orang tuanya. Nama Melani yang muncul di layar.
Jendra enggan menjawab karena belum saatnya ia bicara dengan Melani. Saat ini, ia harus meluruskan kesalah fahaman ini dihadapan kedua orang tuanya.
"Mengapa tidak dijawab? Bukankah pacar kamu yang menelfon?" tanya Jenar.
Jendra menggeleng. "Dia bukan pacarku."
Papanya menyeringai. "Akui saja? Tidak usah malu kalau dirimu terjebak cinta lokasi dengan gadis itu!"
"Hem, aku bukan papa yang menikah dengan sekretarisnya sendiri," balas Jendra menyindir kedua orang tuanya yang dulu bekerja sebagai atasan dan sekretaris.
"Setidaknya papa menikahi seorang wanita yang mau menemani papa merintis dari bawah!"
Jenar tersenyum. "Ada istilah like father like son!"
"Ikuti jejak papa kamu, maka mama yakin kamu tidak akan menyesal."
Jendra tertawa tanpa suara. "Mama salah faham. Aku dan Melani tidak ada hubungan apapun."
"Akui saja! Kami merestui kalian. Dan segera nikahi dia!" ucap Surendra. Pria yang sedang melipat tangan di dada itu menatap putranya yang juga sedang memberikan tatapan tajam.
"Tidak!" Jendra berdiri.
__ADS_1
Ponselnya yang kembali berdering membuat mamanya tersenyum miring. "Pacar kamu menelfon lagi, Jend!"
"Dia bukan pacarku, Ma! Sudah ku katakan berkali-kali!"
Jendra meraih ponselnya dan mengaktifkan mode sillent. Lalu kembali duduk di sofa.
"Mengapa kamu sangat marah?" tanya papanya. "Kamu mengajaknya liburan bersama. Tidak mungkin kamu tidak punya perasaan apapun padanya."
"Astaga!" Jendra memalingkan wajah sekilas. Ia mengatur nafasnya yang mulai memburu karena merasa kesal menghadapi dua orang yang paling ia sayangi itu.
"Aku hanya kasihan padanya, Pa. Dia bekerja terlalu keras saat istri Kalandra tidak bekerja. Jadi, ku rasa wajar jika memberikan liburan mewah untuknya."
"Ya, mengapa harus satu tujuan? Apa tidak bisa kamu mengirimnya ke pulau lain? Ke luar negeri jika perlu!"
Jendra tak bisa mendebat mamanya lagi. Sepertinya ia salah strategi. Ia malah terpojok sekarang.
"Kenapa diam?"
"Tidak tahu harus menjawab apa?"
Surendra berpindah posisi. Pria tua itu duduk disamping putranya.
"Kandang perasaan cinta bisa tumbuh tanpa kita sadari, Jend!" Pria itu menepuk bahu Jendra.
Jendra seketika menatap papanya. "Tapi, aku tidak mencintai Melani, Pa."
Pria bernama Surendra itu tersenyum. "Lalu, bagaimana dengan perasaanmu pada Cahaya?"
"Coba cari jawabannya di dalam lubuk hatimu!"
"Aku membenci wanita yang sudah berbuat curang padaku!"
"Itu jawabannya." Jawaban itu membuatJendra membuka mata dan kembali menatap papanya.
"Kamu tidak pernah mencintai Cahaya, Jend! Kamu malah merasa tidak dihargai karena dia curang dalam hubungan kalian."
"Papa yakin, cinta itu tidak ada. Kamu hanya terobsesi untuk menikahi gadis baik-baik, versi kamu." Surendra menggunakan kedua jarinya untuk mengisyaratkan tanda kutip pada kata versi kamu.
"Padahal, hatimu belum menemukannya."
"Papa tahu, kamu ingin berubah. Papa tahu, kamu sudah lelah dengan wanita-wanita yang kamu sentuh hanya karena nafs*."
"Tapi, disaat kamu ingin berubah, malah terjadi hal besar dalam hubungan kamu dan Cahaya."
"Lalu saat ini kamu takut menjalani satu hubungan baru lagi. Kamu takut sesuatu yang sama terjadi lagi? Atau kamu memang merasa belum menemukan gadis yang tepat?"
"Sekarang, jika dihadapan kamu ada Melani dan Cahaya, siapa yang kamu pilih."
"Tidak ada." Jendra menjawab dengan cepat.
"Yakin?" Tanya papanya dengan menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
Jendra mengangguk. "Sangat yakin."
Papanya berdiri dan menggandeng tangan mamanya. "Ayo sayang! Lebih baik kita tidur dari pada harus menunggu sampai anak ini sadar dengan perasaannya."
Jendra mendengus kesal setelah kepergian orang tuanya. "Perasaan apa yang harus ku sadari?"
"Mengapa mereka memaksaku untuk mengakui apa yang tidak ku rasakan."
Jendra menyadarkan punggungnya di sofa. "Melani atau Cahaya?"
Ia diam sejenak seperti menimbang dua benda, dan melihat mana yang paling berat.
"Ck! Jelas Melani." Ia kesal sendiri saat membandingkan dua wanita itu.
"Dari segi apapun, sudah pasti Melani."
Jendra tertegun dengan ucapannya yang secara spontan keluar dari mulutnya.
Mengapa saat papanya bertanya, ia tak bisa menjawab demikian?
Jendra memilih masuk ke dalam kamarnya. Kepalanya terasa berputar saat harus menilai antara Melani dan Cahaya.
Jendra melompat ke atas ranjang dan berbaring di sana. Ia melihat 5 panggilan tak terjawab dari Melani.
Ia mencoba menghubungi Melani untuk menanyakan keperluan gadis itu. Mengapa menghubunginya berulang kali?
"Ada apa, Mel?"
"Ada apa? Bapak tanya ada apa?" Suara Melani terdengar kesal.
"Bapak bagaimana sih? Saya ingin membicarakan masalah siang tadi. Apa bapak sudah membicarakan kesalah fahaman itu pada Bu Jenahara?"
"Sudah." Jendra menjawab cepat.
"Lalu, mereka mengerti kalau semua hanya salah faham?"
"Tidak," jawab Jendra dengan nada datar. "Papa saya malah ikut-ikutan mendukung mama saya."
"Ya Tuhan!" Pekik Melani sehingga Jendra menjauhkan ponsel ditelinganya.
"Jadi harus bagaimana, Pak?"
"Sudah, biarkan saja!" jawabnya lagi. Ia sendiri juga tidak tahu harus bagaimana meyakinkan kedua orang tuanya.
"Tapi, saya tidak bisa membiarkan bu Jenar terus-terusan salah faham, Pak."
"Bagaimana jika orang tua anda meminta kita untuk menikah?"
"Ya menikah saja!" balas Jendra asal.
"Saya tidak ingin itu terjadi!"
__ADS_1
Jendra merasa kesal karena perkataan Melani. Ia ditolak seorang gadis?
"Kenapa tidak ingin? Saya juga tidak jelek, Mel! Tidak miskin juga!" Jendra mengakhiri panggilan itu secara sepihak.