
"Aku suamimu, Kay. Meski ada atau tidaknya perjanjian itu."
Detak jantung Kayla tak terkendali lagi saat kaya kata singkat yang syarat akan makna menggema lembut di telinganya. Dekapan hangat Kalandra tidak ingin ia lepaskan.
Begini kah rasanya dekapan orang yang menyayangi kita? Mengapa sama hangatnya dengan dekapan ayah? Dia yang tulus mendekapku atau aku yang tulus menyayanginya?
Tuhan, jika memang kehendak-Mu menyatukan kami melalaui kontrak pernikahan itu, maka bantu kami untuk menyelesaikannya dengan baik tanpa harus saling menyakiti.
"Jangan bersedih, Kay!" bisik Kalandra lagi. "Aku sangat merasa bersalah setiap kali melihatmu murung. Meski bukan karena kesalahanku. Tapi aku tidak suka melihat matamu berkaca-kaca," ucap Kalandra lagi.
Kayla mengangguk pelan. "Terkadang aku hanya merindukan ayahku."
Kalandra melepas pelukannya. "Aku tidak tahu seberapa berartinya dia bagimu. Aku tidak tau seberapa dalam rasa cintamu padanya. Aku tidak tahu seberapa berat kehilangannya."
Kalandra menggenggam tangan Kayla. "Jika dulu dia sebagai tempatmu bersandar, maka saat ini aku siap menggantikannya dengan bahuku."
"Aku tidak keberatan jika kamu bergantung padaku. Tersenyumlah meski harus merepotkan aku."
"Karena itu lebih baik dari pada melihatmu menangis."
"Hatiku baru mulai sembuh dari sakit yang mama ciptakan."
"Dan saat ini, aku tidak ingin terbiasa sakit lagi dengan melihatmu bersedih."
Kayla meneteskan air matanya. Apa ini artinya dia punya perasaan yang sama denganku. Apa ini artinya perasaanku terbalas?
Kalandra menghapus air mata di pipi Kayla. "Jangan pernah menangis lagi, Kay!"
"Aku benci melihat tangis seorang wanita," ucap Kalandra lagi. Salah satu tangis yang ia benci adalah tangis mamanya saat memohon untuk kembali bersama papanya dulu. Kedua adalah tangis oma saat papanya meninggal.
Mungkin semua orang di rumah ini sudah tahu bahwa Kalandra benci melihat seorang wanita menangis. Hingga Riana lebih banyak menangis dalam diam dan kesendirian. Termasuk saat suaminya meninggal dunia.
Kayla mengangguk. "Entahlah, kerasnya hidup selalu membuatku merindukannya. Satu-satunya penopang hidupku, satu-satunya pelindungku, penghiburku, dan penyemangatku."
"Aku sudah ikhlas, tapi setiap hal kecil selalu mengingatkanku padanya."
"Dan sekarang aku mulai faham, ternyata berpura-pura baik-baik saja sangatlah menyiksa."
Bertahun-tahun ayahnya menahan sakit, tapi tetap berusaha tetap kuat di depannya. Meski berbeda rasa sakit, tapi saat ini, itulah yang ia rasakan. Ia sakit melihat Kalandra bersama wanita lain. Namun, ia berusaha untuk menutupinya.
***
"Mas! Suara bising apa itu?" tanya Kayla saat Kalandra masih di dalam kamar mandi.
Pagi ini, ia mendengar seorang pria berteriak di depan pagar rumah mereka.
"Mana majikan kalian?" suara itu terdengar keras hingga ke dalam kamarnya.
Kayla melihat kearah balkon kamar dan tampak seorang pria berparas seperti orang barat datang bersama beberapa orang bodyguardnya.
Satpam rumah itu sampai terpental, karena mencoba menghalangi mereka. Para asisten rumah tangga mulai menjerit saat supir pribadi di rumah itu juga ikut menghalangi mereka masuk.
"Dimana laki-laki yang bernama Kalandra?"
"Mau apa kalian datang kesini?"
"Jangan membuat kerusuhan atau kami akan menghubungi polisi."
"Maaas!" Kayla kembali berlari masuk dan ia malah menabrak tubuh Kalandra yang sudah keluar dari kamar mandi.
"Pelan-pelan, Kay!" Kalandra berhasil menangkap tubuh gadis itu.
__ADS_1
"Mas! Di depan ada orang yang mencari kamu dan mereka sudah menghajar satpam dan supir-supir kita."
Kalandra mulai panik. "Aku akan lihat dulu!" Kalandra segera turun ke lantai bawah dan Kayla ikut menyusulnya.
"Mas aku ikut!"
"Jangan berlari, Kay!" Teriak Kalandra tapi ia sendiri malah berlari untuk segera sampai ke lantai bawah.
Pria yang mencarinya sudah sampai di depan pintu rumah. Kalandra meminta asisten rumah tangga untuk masuk ke dalam dan mengurus satpam serta supir mereka yang kesakitan.
"Siapa kamu yang tiba-tiba datang membuat keributan di rumahku!" ucap Kalandra menatap tajam pria yang merupakan bos dari komplotan yang berjumlah lima orang itu.
"Kamu yang bernama Kalandra?" tanya salah satu bodyguard.
Kayla dan Riana sudah berdiri di belakang Kalandra dengan mengapit oma diantara mereka.
Oma tak menujukkan wajah takut sedikitpun. Justru Riana yang tampak memucat. Ia takut keributan ini ada hubungannya dengan masalah hukum yang menimpa Leo.
Kayla sebenarnya ingin berada di samping Kalandra, tapi ia harus memikirkan Oma dan mertuanya. Jika ada yang menyerang mereka setidaknya ia bisa berjaga-jaga.
"Ya, aku yang bernama Kalandra! Kalian siapa?" tanya Kalandra tegas. Pria yang hanya memakai celana jeans pendek serta kaos berkerah itu tidak takut sedikitpun melihat pria-pria bertubuh besar di depannya.
"Habisi dia!" perintah pria barat itu dengan bahasa indonesia namun dengan aksen kebarat-baratan.
"Bug!"
"Bug!"
"Bug!"
Kalandra berhasil menangkis pukulan demi pukulan. Namun saat melihat Kalandra mampu bertahan bahkan membalas pukulan dua orang sekaligus, pria itu memerintahkan dua orang lainnya untuk maju.
Kayla tidak mungkin membiarkan Kalandra menghadapi mereka sendirian. "Oma, Mama..." Kayla menatap keduanya. "Sebaiknya kalian pergi dan bersembunyi di dalam kamar dan kunci dari dalam"
"Tapi-,"
"Ma, please! Tidak ada waktu lagi!" Riana segera membawa oma masuk ke dalam kamar.
"Bug!" Kayla berhasil menendang pria yang akan menyerang Kalandra dari belakang.
"Kayla! Jangan ikut campur!" Pinta Kalandra meski ia sendiri tengah menangkis serangan lawan.
"Jangan pedulikan aku." Kayla sudah memasang kuda-kuda untuk menyerang musuhnya.
Perkelahian terus terjadi. Kayla dan Kalandra memancing mereka untuk keluar. Karena perkelahian itu sudah membuat vas dan pot bunga di teras rumah pecah berantakan.
"Ah!" Keluh Kayla saat pukulan salah satu bodyguard berhasil mengenai perutnya. Kayla sampai jatuh terduduk di tanah.
"Kay, kamu tidak apa-apa?" tanya Kalandra yang berusaha membantu Kayla bangun.
Keempat bodyguard itu sudah mulai lemah. Dan bantuan paling tidak mereka sangka datang dari arah samping rumah.
Bi Marni dan Pak Darmo serta pekerja lainnya datang dengan membawa persenjataan mereka.
Bi Marni membawa panci dan sutil stainless. Pak Darmo membawa stik golf dan tukang kebun membawa cangkul, serta beberapa orang lain membawa sapu lidi dan sapu lantai.
Mereka menyerang para bodyguard yang sudah lemah itu. Pria-pria bertubuh kekar itu meringkuk kala sebuah panci mengenai kepalanya.
Kalandra melihat pria berwajah kebarat-baratan itu mulai panik dan bersiap kabur.
Kayla dan Kalandra kompak mengepung pria itu. Kayla mencegah dengan merentangkan tangannya sementara Kalandra berhasil menarik kerah bajunya.
__ADS_1
"Mau kemana, Masbul!" Sapa Kayla dengan senyum jahilnya.
"Kamu kenal dia Kay?" tanya Kalandra.
"Tidak."
"Tapi kamu memanggilnya Masbul?"
"Hahaha. Itu hanya singkatan, Mas Bule!" Kayla tertawa.
"Jangan harap bisa keluar dengan selamat!" Kayla melipat tangannya di dada.
Sebuah kerjasama dan inisiatif yang luar biasa. Satpam sudah menarik kursi besi dan membawa tali untuk mengikat pria itu.
Kalandra mendudukkan pria itu dan mulai menginterogasinya. Soal bodyguard, jangan pikirkan lagi. Nasib mereka sudah berakhir ditangan pasukan dadakan itu. Ada yang pingsan, ada yang lemah memohon ampun dan ada yang berpura-pura pingsan agar tidak dipukul lagi.
"Siapa sebenarnya kamu?" tanya Kalandra yang saat ini sedang duduk berhadapan dengan pria bule itu.
"Aku suaminya Clara."
Kalandra dan Kayla saling tatap karena sama-sama terkejut. Keduanya punya pemikiran yang sama. Untuk apa pria ini menyerang Kalandra?
"Apa tujuan kamu datang kesini dengan membuat keributan?"
"Karena Clara pergi dengan membawa banyak uang milikku dan memberikannya padamu!" tuduh pria itu.
Kalandra menaikkan sebelah alisnya dan mengulum senyum. Ia tidak menerima uang apapun dari Clara. Dan lagi pula, ia tidak butuh uang itu. Uang yang ia punya saja tidak tahu harus ia habiskan dengan cara seperti apa.
"Dia yang membawa lari uang kamu, lalu mengapa aku yang kamu serang?"
"Dan satu hal lagi! Aku tidak pernah menerima uang dari istri kamu!" tegas Kalandra.
"Aku menemukan bukti transfer dengan nominal yang cukup banyak ke perusahaan Rajaswa," jawab pria itu.
Kayla menarik satu sudut bibirnya mentertawakan pria yang sepertinya telah ditipu oleh Clara ini.
"Itu untuk pembayaran desain rumah yang Clara beli dari perusahaan," jelas Kalandra.
"Jadi, bukan untukku."
"Desain rumah?" tanya pria itu.
"Ya, Clara sedang membangun rumah mewah," jawab Kalandra.
"Bisa ku tebak. Kamu tidak tahu akan hal itu?" tanya Kayla pada pria itu dan pria itu pun menggeleng.
"Dan kamu juga tidak tahu keberadaan Clara saat ini." Pria itu kembali menggeleng.
"Harusnya kamu mencarinya terlebih dahulu. Bukan asal serang begini! Aku bisa saja melaporkan kamu ke polisi karena sudah melakukan penyerangan di rumahku," ucap Kalandra.
Akhirnya setelah memohon, Kalandra melepaskan mereka. Ia juga tidak ingin perusahaannya terseret karena kasus Clara yang menggelapkan uang suaminya sendiri untuk bekerja sama dengannya.
Ia membiarkan pria itu mencari Clara dan menyelesaikan urusan mereka. Kalandra sengaja memberi tahu dimana alamat apartemen wanita itu.
"Syukurlah, mama sempat mengira ini ada hubungannya dengan Leo." ucap Riana saat situasi sudah mulai aman.
Kayla membersihkan luka di sudut bibir Kalandra karena pria itu sempat terkena pukulan beberapa kali.
"Mama tenang saja, jika hal itu terjadi, aku akan-aduh!" keluhnya karena Kayla terus membersihkan sisa darah disudut bibirnya.
"Aku akan menyewa bodyguard untuk kalian!"
__ADS_1
"Aduh! Pelan-pelan, Kay!" pintanya.
Bukannya prihatin, mereka malah mentertawakan Kalandra.