
"Masuklah! Ini sudah malam," perintah Jendra saat mobilnya sudah tiba di kawasan apartemen Melani.
Melani enggan turun karena setelah obrolan mereka tadi, Jendra terus tampak murung. Dan yang paling membingungkan, pria itu mengumpat kesal saat ada kendaraan lain mendahului mobilnya. Entah kenapa, Melani sendiri tidak tahu sebabnya.
"Anda tidak ingin saya temani minum kopi, Pak? Anda tampak sedang tidak baik-baik saja."
Melani merasa bersalah karena ketidak tahuannya mengenai Richard malah memancing emosi atasannya.
"Saya tidak ingin kopi!" balas Jendra dingin.
Melani mengerutkan kening. "Yakin?" tanya Melani lagi.
"Yakin!"
Melani menghela nafas. "Bapak bisa tunggu sebentar?" tanya Melani. "Saya keluar dulu dan akan kembali dalam 5 menit." Melani menggunakan lima jarinya untuk memperjelas kata 5 menit.
Jendra mengangguk lemah.
Melani keluar dari dalam mobil. Ia berjalan menuju minimarket dan membeli beberapa jenis es krim.
Melani masuk kembali ke mobil bosnya. Ia meletakkan kantung plastik ke atas dashboard mobil.
"Kata orang, makan es krim bisa memperbaiki mood."
"Mau yang ini atau ini?" tanya Melani memegang es krim cone ditangan kanan nya dan es krim stik berbalut coklat tebal di tangan kirinya.
Jendra mengambil es krim cone dan mengupas sedikit kertas yang membungkus es krim itu.
"Saya selalu melakukan ini tiap kali mood berantakan." Melani mulai membuka bungkus ea krimnya.
"Membeli es krim dan kadang cake coklat."
"Memangnya mood jomblo sepertimu bisa berantakan juga?" tanya Jendra.
Melani tertawa padahal ia baru saja memasukkan es krim ke mulutnya. Sehingga ia kembali mengeluarkan es krim yang belum sempat ia gigit.
Melihatnya seperti itu, mengapa otakku malah travelling membayangkan hal yang tak pernah ku rasakan lagi sejak beberapa bulan terakhir. Batin Jendra.
"Memangnya hanya orang yang punya relationship saja yang moodnya bisa0 berantakan?"
"Urusan pekerjaan, PMS, kesepian, teringat masa-masa sulit. Banyak yang bisa mempengaruhi mood seorang wanita."
"Sebenarnya bapak kenapa?" tanya Melani membuat Jendra terkesiap.
"Saya memang bukan Bu Mona yang tahu rahasia bapak dari a sampai z. Bukan juga teman curhat yang menyenangkan seperti dia."
"But, i'm a good listener!"
*tapi, saya pendengar yang baik.
__ADS_1
Jendra tertawa. Es krimnya hampir habis. "Hanya pendengar, bukan penasehat?"
Melani tertawa. "Bukan. Masih terlalu sedikit ilmu dan pengalaman saya, Pak!"
"Aku baru putus, Mel!"
Ya, sudah ku duga. Pasti ada sesuatu. Mendengar kata kopi dia seperti kesetanan. Ternyata kopi mengingatkannya pada mantan.
"Hem.." balas Melani sambil terus melahap es krimnya.
"Mau nambah?" ia menawari Jendra karena es krim pria itu sudah habis.
Jendra membuang sampahnya ke dalam kantong plastik yang masih berisi beberapa es krim.
"Tidak." Ia menarik tissu dan menyeka bibirnya.
"Aku masih sakit hati, tapi tidak masalah. Dia tidak berarti apa-apa bagiku."
Melani mengangguk. "Baguslah!" Ia juga menyeka bibirnya dengan tissu.
"Hidup harus tetap berlanjut meski hubungan itu sudah kandas. Dia juga bukan gadis yang menemani anda dari nol."
"Mungkin kalian memang tidak berjodoh."
Jendra tertawa kala menyadari ia telah diduakan pada gadis yang telah ia harapkan menjadi pendampingnya.
"Ya, anggap saja dia cuma singgah lalu pergi lagi."
Jendra mengangguk. "Aku hanya merasa kalah. Dan tidak ada pilihan lain. Aku harus mundur."
Jendra mulai terbiasa menggunakan kata Aku seperti saat ia sedang cerita dengan mamanya ataupun bu Mona,- sekretaris senior sejak jaman papanya masih menjabat.
Ia memang harus mundur karena ia tak mungkin menikahi gadis yang hamil dengan pria lain.
"Mundur bukan berarti kalah. Berpisah bukan berarti gagal," ucap Melani lagi.
"Berpisah itu tanda kita telah gagal, Mel!" bantah Jendra tak setuju.
"Kamu sok tahu. Kamu saja tidak pernah berpacaran."
Melani tertawa. "Bapak benar. Saya memang tidak pernah punya hubungan spesial."
"Tapi saya yakin, saya orang spesial yang Tuhan pilih untuk menjalani kehidupan seperti ini."
"Tapi percayalah, berpisah bukan berarti anda gagal. Justru mungkin perpisahan itu akan membuat anda berhasil."
"Berhasil mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik."
"Dan mungkin gadis itu juga berhasil menggapai hal lain dalam hidupnya."
__ADS_1
Kamu benar. Gadis itu bahagia bersama selingkuhannya. Bahkan mereka akan punya anak sebentar lagi.
***
Selama berhari-hari, Jendra masih sangat sensitif. Ia belum bisa menerima rasa sakit karena dikhianati, dicurangi dan diduakan. Ia merasa selama ini ia tak dianggap.
Jendra kadang melampiaskan kemarahannya pada Melani yang secara tidak langsung menjadi teman curhatnya.
Untung saja Kayla sudah masuk kantor karena cutinya sudah berakhir. Jadi, Melani tak perlu menghadapai singa gil* itu sendirian.
Melani harus merevisi data yang akan mereka bawa dalam meeting, ikut Jendra meeting di luar kantor hingga pontang panting mengatasi meeting yang tiba-tiba dipercepat jadwalnya.
Seperti hari ini, Melani bisa beristirahat sejenak karena Kayla yang ikut meeting bersama Rajaswa Group dan klien mereka yang bernama Bu Clara.
Ia yang baru saja selesai meeting di luar kantor sudah pasti merasa lelah. Apa lagi ia harus menyeimbangkan langkah kaki Jendra yang hampir satu meter panjangnya.
Melani merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Ia merasa sangat lelah. Ia memejamkan matanya sejenak.
Namun, dering ponselnya membuatnya kembali terbangun. Nama yang muncul membuatnya seketika duduk diatas ranjang.
"Hallo, selamat malam Bu!" sapa Melani pada orang yang menghubunginya.
"Selamat malam, Mel. Kamu sedang sibuk?" tanya wanita bernama Jenahara itu.
"Tidak, Bu. Ada apa, Bu. Apa ada masalah?" tanya Melani sopan.
"Tepat sekali, Mel," ucap Bu Jenahara. "Masalahnya ada pada putraku."
Huuuh! Putra anda memang sedang bermasalah, Bu.
"Saya bisa minta bantuan kamu, Mel?"
"Ya, bantuan apa, Bu?" tanya Melani sopan pada istri pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
"Bantu awasi Jendra. Dia sedang patah hati. Saya takut dia pergi ke tempat tidak jelas bersama mantannya. Dan saya tidak suka hal itu."
"Jadi saya mau minta tolong. Awasi dia. Jangan sampai ia bertemu mantannya lagi."
"Saya bisa kalau hanya disekitar kantor, Bu. Tapi, kalau di tempat lain, saya tidak bisa," balas Melani.
Melindungi Jendra saat di kantor, dari kejaran para mantan memang sudah menjadi hal biasa baginya. Akan tetapi, ia tidak bisa mengawasi Jendra di luar jam kerja dan di luar gedung kantor.
"Tidak masalah, Mel. Dan saya minta tolong. Jika dia ingin bercerita, tolong dengarkan. Mona sudah tidak bekerja lagi dan dia sedang tidak ingin cerita dengan saya beberapa hari ini."
"Baik, Bu."
Melani menghela nafas. Tugasnya bertambah lagi. Ia tak mungkin bisa menolak permintaan Bu Jenahara karena wanita itulah yang membuatnya berhasil menerima pinjaman dari Perusahaan untuk melunasi pembayaran apartemen yang ia tinggali sekarang.
Anggap saja, ia sedang membalas kebaikan Bu Jenahara. Toh, Melani tidak perlu mengawasi Jendra hingga keluar dari lingkungan perusahaan.
__ADS_1