
Malam hari, Jendra sudah tampak rapi dengan setelan kemeja dan celana jeans. Ia menyisir rambutnya rapi. Sebagai seorang pria yang baru saja putus, ia harus kembali menata hatinya.
Seharian hanya tiduran di dalam kamar, sudah saatnya Jendra move on. Ia bersiap untuk keluar malam ini.
Dengan mobil sport berwarna biru metalic, Jendra berkeliling kota membelah jalan raya yang lumayan padat.
Ia berhenti di sebuah cafe dan mesan sepotong cake dan secangkir kopi.
Belum sempat menyentuh makanan dan minuman itu, ia segera pergi setelah membayar.
Ternyata hatinya masih belum sembuh. Melihat secangkir kopi dihadapannya, ia kembali mengingat cintanya yang kandas secara tragis pada gadis pemilik kedai kopi itu.
Jendra memutuskan untuk ke club saja. Jika kopi mengingatkannya pada gadis bernama Cahaya itu, maka ia yakin segelas minuman beralkohol bisa membuatnya lupa walau sejenak.
Jendra mengerem mendadak saat melihat gadis yang ia kenal sedang berdiri dipinggir jalan.
"Melani?" ucapnya kaget.
"Sedang apa dia di sini?" Ia melihat sekretarisnya yang mengaku jomblo itu sedang berada di pinggir jalan, di depan sebuah bangunan hotel.
Jendra menautkan alisnya. Hotel ini bukan hotel mewah, tapi menjadi langganan bagi pasangan yang belum sah untuk berci*nta. Jangan tanya dari mana Jendra tahu hal itu. Tentu dari banyaknya pengalaman mengencani para gadis.
Jendra segera turun saat beberapa lama ia menunggu, tapi Melani tak kunjung pergi. Gadis itu malah berkali-kali memeriksa ponselnya dengan gerak-gerik seperti orang yang sedang gelisah. Jendra merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Semantara itu, Melani yang sedang menunggu seseorang dikejutkan dengan munculnya Jendra yang baru saja keluar dari dalam mobil.
Melani mengerutkan kening. "Kapan dia pulang? Katanya dia sedang di Bali?" gumam Melani.
"Pak!" sapanya.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Jendra dingin.
"Sa-say sedang menunggu pak Richard dari Perusahaan Mega Mas," jawab Melani yang masih kebingungan karena pria bernama Richard itu mengatakan bahwa Jendra sedang berada di Bali.
"Beliau meminta saya menunggu disini, karena ada sesuatu yang ingin beliau titipkan untuk Bapak," lanjut Melani.
Jendra tampak mengerutkan alisnya. "Kamu tidak berbohong?" tanya pria itu menelisik wajahnya.
Jendra juga tampak melihat dirinya dari ujung kepala hingga kaki membuat ia merasa risih.
Ia hanya memakai celana jeans panjang dan kaos putih yang ia lapisi lagi dengan denim jaket untuk menghalau udara dingin.
"Kamu tahu siapa Pak Richard, Mel?" tanya Jendra lagi.
Ia mengangguk. "Salah satu manager di perusahaan-,"
"Ck!" Decak Jendra. Ia segera menarik tangan gadis itu dan membawa Melani masuk ke dalam mobilnya.
"Pak...!" Melani berusaha menahan agar dirinya tidak menuruti keinginan Jendra karena pria bernama Richard itu belum datang.
"Pak, tunggu! Saya harus menunggu pak Richard!" Melani berontak.
__ADS_1
Jendra masuk ke dalam mobil dan mengunci pintunya. Ia menyalakan mesin mobilnya tapi Melani menahan tangan Jendra.
"Pak Richard pasti akan marah kalau saya tidak menunggunya, Pak!"
"Ada dokumen yang,- "
"Diamlah!" bentak Jendra hingga membuat Melani tersentak.
Melani sampai menunduk karena ketakutan. Ia merasa jari telunjuk Jendra mendorong pelan kepalanya.
"Ini!" Jendra menunjuk kepala Melani pelan.
"Apa ota*k di dalamnya masih ada atau sudah kamu jadikan makanan kucing, hah!" bentak Jendra.
"Kamu harusnya gunakan isi kepala kamu ini untuk berfikir, Mel!" Omel Jendra dengan nada marah dan agak kasar.
"Untuk apa dia menyerahkan dokumen padamu di hari libur seperti ini?"
"Dia bisa menyerahkannya hari Senin nanti. Jika dia tidak bisa mengantarkannya, saya bisa minta supir kantor untuk mengambil dokumen itu di perusahaanya."
Melani menegakkan kepalanya. Ia menatap Jendra yang seperti seekor singa hendak mengamuk, tapi ia tak takut sama sekali. Ia hanya merasa heran mengapa Jendra semarah itu.
"Tapi, Pak Richard mengatakan kalau,-"
"Stop mengatakan hal itu! Richard mengatakan ini, mengatakan itu!" Tangannya bergerak cepat menanxakan emosinya meledak-ledak.
"Kamu tidak tahu dia orangnya seperti apa!"
Perusahaannya memang baru saja bekerja sama dengan perusahaan tempat Richard bekerja. Mungkin karena hal itu Melani belum tahu sifat asli pria yang memintanya bertemu di tempat itu.
Richard adalah salah satu pelanggan setia di sebuah club malam yang sering Jendra datangi. Richard adalah pria yang tingkahnya lebih buruk dari Jendra. Jika ia hanya butuh satu gadis, maka Richard akan membawa dua sampai tiga gadis ke dalam kamarnya.
Melani melihat wajah Jendra yang tampak kaku. Tidak ada senyum sedikitpun. Pria itu bahkan tak lagi mengajaknya bicara.
Melani menarik nafas dalam-dalam. "Pak Richard mengatakan kalau bapak sedang berada di Bali."
"Kamu percaya?" Jendra tersenyum sinis.
"Nomor bapak tidak aktif, saya sudah mencoba mengkonfirmasi sore tadi."
"Jadi, saya fikir kalau bapak sedang di dalam pesawat!"
Jendra memejamkan matanya sejenak. Ia menghela nafas. Ia memang tidak mengaktifkan ponselnya karena tidak ingin ada yang menganggu acara meratapi patah hati yang ia lakukan seharian ini.
"Pak Richard juga mengatakan dia akan berangkat ke luar kota malam ini. Jadi, beliau meminta saya menunggu di sana karena beliau akan melintasi daerah ini."
Jendra menarik satu sudut bibirnya. "Perlu kamu tahu, Mel."
"Dia tidak menghubungiku sama sekali."
"Hem, mungkin dia menghubungiku tapi ponselku mati," ralat Jendra cepat.
__ADS_1
"Aku tidak pernah mengatakan pada siapapun kalau aku akan ke Bali."
Melani sangat terkejut. Itu artinya pria bernama Richard itu telah membohonginya. Tapi untuk apa?
"Kamu terkejut?" tanya Jendra yang tengah tertawa.
"Kamu tahu, bangunan apa yang pagarnya kamu sandari tadi?"
Melani mengangguk pelan. "Hotel?"
Jendra mengangguk. "Itu hotel yang biasa dipakai pria hidung belang untuk mengeksekusi mangsanya."
Melani cukup pintar untuk sekedar memahami apa yang Jendra maksud. Namun, ia masih belum faham mengapa pria bernama Richard itu memintanya menunggu di tempat itu.
"Berterima kasihlah pada Tuhan, karena kamu masih selamat malam ini!" ucap Jendra semakin membuat Melani bingung.
"Kenapa diam saja?" tanya Jendra kesal karena ia seperti sedang membacakan dongeng untuk si kecil.
Melani menggeleng pelan.
"Kamu belum faham maksudnya Mel?"
Melani kembali menggeleng membuat Jendra menepuk jidatnya.
"Astaga! Ku rasa isi kepalamu memang sudah tidak ada, Mel!"
"Dia berniat menjebak kamu, Mel!"
"Dia berniat menyeretmu ke dalam hotel itu dan meng-"
"Ku rasa kamu faham sampai sini!" Jendra enggan melanjutkan ucapannya tadi.
Melani membulatkan mata.
"Kenapa matamu seperti itu!"
Melani melengos. "Saya hanya terkejut, Pak."
"Saya fikir beliau benar-benar meminta saya menemuinya karena urusan pekerjaan," ujar Melani.
"Saya sama sekali kalau hotel itu sering digunakan untuk..." Melani sama sekali tak berniat melanjutkan ucapannya.
"Maka dari itu! Jadikan ini pelajaran berharga!"
"Jangan terlalu jadi workaholic! Tidak perlu bekerja di waktu libur kecuali atas perintahku!" ucap Jendra mulai kesal.
"Jika ada klien yang menghubungimu dan mengatas namakan pekerjaan, minta bertemu di perusahaan. Kecuali kalau kalian sedang pacaran! Jauh-jauh dari kantor, apa lagi dari hadapanku!" Jendra semakin emosi.
Jendra tak bisa menerima kenyataaan bahwa gadis bar-bar, suka mengomel, dan selalu jutek seperti Melani saja bisa hampir terjerat tipu daya seorang pria hidung belang, lalu mengapa Cahaya yang begitu lugu berani membohongi dirinya?
Pria ini kenapa? Mengapa dia meledak-ledak untuk masalah yang sudah selesai. Aku sudah bersamanya dan dia masih terus mengomel. Batin Melani yang merasa Jendra tak seperti biasanya.
__ADS_1