Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 57 Mama Mertua


__ADS_3

"Oke. Done!" Kayla meregangkan tubuhnya dan bersandar di kursi kerja. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaan terakhirnya hari ini.


"Hari ini kamu bekerja keras sekali, Kay?" tanya Melani. "Sengaja ya? Karena tidak ingin lembur?"


Kayla mengangguk. "Hari ini, aku sudah berjanji dengan mama mertuaku untuk berbelanja bersama."


"Bukannya weekend masih ada, Kay? Liburan kalian juga masih lama." tanya Melani yang sudah mendengar kabar dari Jendra bahwa Kayla akan libur selama satu minggu bulan depan.


Kayla mengangguk. "Weekend-ku seratus persen untuk suamiku," Kayla tersenyum centil dan mengedip-ngedipkan mata beberapa kali, sengaja menggoda Melani.


"Isss!" gadis itu menatap jijik kearah Kayla yang sudah terbahak. "Dasar budak cinta!"


"Hahaha... belum tahu sih rasanya jatuh cinta!" ejek Kayla. "Kalau mbak Mel jatuh cinta, pasti setiap hari di dada tuh rasanya ada bunga-bunga bermekaran, kembang api meledak bersamaan dengan debaran jantung yang berselebrasi mengapresiasi betapa indahnya cinta."


"Seluruh nafas mbak Mel akan selalu berhembus menyerukan nama pria itu, dan seluruh kinerja otak akan selalu membuat mbak Mel memikirkannya."


Kayla entah belajar dari mana merangkai kata-kata paling menjijikkan yang pernah Melani dengar. Melani sampai bergidik ngeri karena melihat Kayla yang berubah 180 derajat dari minggu lalu.


"Apa terlalu sering making love, membuat otakmu menjadi terganggu, Kay?" tanya Melani.


"Jika memang karena hal itu, lebih baik kurangi saja. Jangan terlalu sering. Aku takut kamu menjadi semakin tidak waras Kay!" Ucap Melani khawatir.


"Hahaha... Mbak Mel perlu tahu..." Kayla menatap Melani dalam. "Rasanya itu, nikmat sekali..."


"Keringat bercucuran, hormon-hormon yang dihasilkan membuat perasaan menjadi bahagia..."


"Dan Bagaimana mungkin kami tidak ingin mengulangnya setiap hari,"ucap Kayla dengan gaya yang berlebihan.


Tidak seluar biasa itu, karena ia dan Kalandra juga tidak terlalu sering melakukannya. Ia hanya suka melihat perubahan ekspresi wajah Melani yang sama bar-barnya dengan dirinya.


Melani mencebikkan bibir, dan Kayla kembali terbahak.


"Ehem..." Deheman seorang pria yang berdiri di depan pintu dan sedari tadi mendengar obrolan absurd itu membuat Kayla membulatkan mata.


Sedangkan Melani menutup mulutnya menahan tawa melihat Kayla yang terkejut atas kemunculan Jendra.


"Sudah selesai, Kay?" tanya Jendra.


"Hehehe... sudah, Pak!" jawabnya kembali membereskan meja kerja.


"Mel, bersiaplah!" perintah Jendra. "Kita tidak perlu lembur, kamu temani saya ke rumah sakit!"


Melani mengangguk sopan. Sebagai seorang sekretaris ia harus menuruti perintah atasan.


Sebenarnya Jendra sudah meminta Melani menjadi asisten pribadinya. Tapi, Melani belum bisa melepas tanggung jawab sepenuhnya pada Kayla.


"Dan kamu!" Jendra menunjuk Kayla. "Jangan mengatakan hal yang tidak bisa para jomblo lakukan!" Jendra masuk ke dalam ruangannya lagi.


Melani terbahak. "Oh God, Kaylaaaa! Kamu membuat singa itu iri padamu!"


"Dia yang biasanya bisa melakukan itu, kini tidak bisa lagi karena ia tidak punya pasangan." Melani menutup mulutnya, takut tawanya terdengar oleh Jendra.


Kayla menghela nafas. "Dia dengar semuanya, Mbak?" tanya Kayla.


Melani mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Tapi sepertinya iya."

__ADS_1


Kayla menjatuhkan kepalanya di atas meja. "Malu sekali, Mbak!" rengeknya.


"Bagaimana jika pak Jendra menceritakan semuanya pada mas Kalandra?" gumamnya pelan.


"Habislah aku!" Keluh Kayla yang takut akan menjadi bahan tertawaan suaminya.


***


"Ma... Sudah lama menunggu?" tanya Kayla basa-basi.


"Belum." Jawab Riana agak canggung. Ia ikut dengan pak Darmo menjemput Kayla ke kantor dan setelahnya mereka akan ke sebuah pusat perbelanjaan.


"Oma tidak ikut, Ma?" tanya Kayla lagi pada wanita yang duduk disampingnya.


"Tidak. Oma tidak perlu berbelanja apapun. Oma mengatakkan kalau pakaiannya sudah sangat banyak di rumah uncle Bagus, Kay."


Mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka masuk ke sebuah butik dan mulai memilih beberapa pakaian hangat.


"Jangan beli terlalu banyak Kay. Karena disana nanti, Oma akan memberikan pada kita beberapa stel pakaian untuk kita pakai," ucap Riana yang menyampaikan pesan dari Oma.


"Ini sepertinya cocok untuk mama," Kayla menunjukkan sebuah coats tebal yang panjangnya melewati lutut Riana.


"Warnanya nude, dan tidak norak!" Kayla tertawa pelan.


Riana memakainya. "Sepertinya ini sangat mahal, Kay!" Ucap Riana saat merasa coats yang ia pakai terasa nyaman.


Kayla melihat bandrol harga. Matanya membulat sempurna. "Sembilan juta, Ma..." bisiknya lemas.


Sembilan juta, uang sebanyak itu bisa ia gunakan untuk membantu banyak anak-anak tidak mampu.


"Cocok untuk mama, kan?" tanya Riana lagi. Ia terus melihat detail coats secara keseluruhan.


Berbanding terbalik dengan Riana. Harga segitu masih terbilang wajar baginya. Riana sudah memantapkan hati untuk memilih coats itu.


"Ini sepertinya cocok untukmu, Kay!" Riana menunjukkan sebuah coats yang hampir mirip dengan yang Riana pilih.


"Tidak, Ma. Aku mungkin akan memakai sweater dengan hoodie saja, Ma." Tolaknya karena ia masih berfikir ulang untuk membeli pakaian mahal itu.


Menurut Kayla, coats atau jaket dengan harga ratusan ribu saja sudah cukup bagus untuk ia pakai saat liburan nanti.


"Tidak bisa, Kayla!" bantah Riana. "Kamu harus tetap memilih. Apa lagi kamu belum pernah ke luar negeri kan?" tanya Riana tanpa bermaksud merendahkannya.


Kayla mengangguk.


"Nah, kamu belum tahu kalau suhu disana sangat dingin. Bahkan bisa sampai nol derajat." jelas Riana.


"Kamu butuh jaket tebal, syal, topi rajut, sarung tangan, sepatu, dan masih banyak lagi, Kayla."


"Tapi ma?"


Riana tidak mendengarkan menantunya itu. Ia memilih beberapa jaket tebal untuk Kayla."


"Kita akan kesana!" tunjuk Riana pada sebuah toko yang menjual pakaian pria.


"Kita beli juga untuk Andra," ucap Riana semangat.

__ADS_1


Kayla tersenyum. Bibirnya melengkung melihat Riana seperti seseorang yang kalap dan baru pertama kali datang ke pusat perbelanjaan.


Kayla tahu, Riana merasa kembali hidup dengan membaiknya hubungan antara wanita itu dan Kalandra.


"Sepertinya turtle neck lebih cocok untuk mas Kalandra, Ma," ucap Kayla saat mereka sedang memilih pakaian untuk Kalandra.


"Kamu benar, dia memang cocok menggunakan pakaian seperti itu."


"Mama juga mau membelikan untuk Reyga," ucap Riana lagi.


Kayla menuruti saja semua kemauan Riana karena seluruh barang yang mereka beli menggunakan kredit card milik Kalandra yang sengaja diberikan padanya.


Kayla membantu Riana membawa beberapa paperbag. Kayla berhenti disebuah foodcourt.


"Ma, capek atau tidak?" tanya Kayla.


"Lumayan, Kay." Jawab Riana dengan nafas ngos-ngosan karena mereka berjalan cukup lama.


"Kita duduk dulu, Yuk!" Kayla membawa Riana ke salah satu meja yang ada di foodcourt.


"Mama mau makan sesuatu?" tanya Kayla.


"Apa saja, Kay. Sama kan saja sama kamu!"


Kayla meninggalkan Riana sebentar. Ia memesan beberapa cemilan dan es krim.


Kayla memberikannya pada Riana. "Coklat stroberi."


"Terima kasih, Kay!"


Kayla tertegun. Ibu mertua yang dulu begitu merendahkannya, kini malah terlihat seperti mertua yang paling baik sedunia.


"Sudah lama mama tidak sebahagia ini." ucap Riana menatap es krim yang ia letakkan di mejanya.


Riana tersenyum. "Mama tidak pernah merasa hal sesederhana ini, tapi sangat menyenangkan Kay!"


"Selama ini, mama hanya berpura-pura bahagia. Menghabiskan uang belanja dari papanya Andra untuk memberi semua yang mama sukai, tapi mama tidak mendapatkan kepuasan, ketenangan dan kebahagiaan."


Kayla mendengarkan dengan baik. Sesekali ia menyuapkan es krim ke mulutnya.


"Akhirnya, mama putuskan untuk membeli berlian dan perhiasan lainnya, sebagai tabungan mama di masa tua nanti."


"Mama akan menjual semua perhiasan mama dan mengikhlaskan diri untuk berada di panti jompo."


"Mama terlalu takut menerima kenyataan kalau Andra dan Reyga tidak mau merawat mama di usia senja mama."


"Ma..." Kayla menggenggam salah satu tangan Riana. "Semua itu tidak akan terjadi, Ma. Aku tahu, Mas Kalandra tidak akan tega membiarkan mama hidup di panti jompo."


"Ma, harapanku hanya satu. Semoga mama dan mas Kalandra sama-sama bisa menebus kesalahan kalian dengan memanfaatkan waktu yang kalian punya sekarang."


Riana menyeka air matanya. "Terima kasih, Kay! Pasti!"


"Mama pasti akan menebus semua waktu yang sudah hilang darinya."


"Mama akan berusaha untuk terus memperbaiki hubungan kami."

__ADS_1


"Ma, lain kali kita belanja lagi ya? Dan aku akan ajak mas Kalandra juga."


Riana mengangguk. Wanita itu tersenyum lebar sambil meneteskan air mata.


__ADS_2