Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 65 Singa Curhat


__ADS_3

Jendra melangkahkan kaki ke sebuah halaman gedung perkantoran. Ia baru saja memarkirkan mobilnya di parkir area di bangunan dengan logo huruf R yang sangat besar di bagian puncak bangunan.


"Selamat datang di Rajaswa Group, Pak!" Sapa security yang selalu menerima selipan selembar uang berwarna merah di sakunya. Bukan karena persekongkolan, tapi Jendra hanya senang melakukannya. Hitung-hitung membantu teman SMA yang sedang kesusahan. Ya, security di Rajaswa Group adalah salah satu teman SMA nya.


"Bos diatas, Den?" tanya Jendra pada pria ber-name tag Deni itu.


"Ada, Pak!"


"Oke. Aku ke atas dulu!" Begitulah Jendra. Ia memang lebih ramah daripada Kalandra. Ia lebih mudah bergaul tapi emosinya kerap naik turun. Dia memang lebih ekspresif dari Kalandra yang lebih cool dan santai.


Dia tiba di ruang CEO dan masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.


"Wow! Amazing!" Jendra bertepuk tangan saat melihat Kalandra sedang bersama Dea-sekretaris Kalandra.


"Seorang Kalandra sedang bermesraan dengan sekretarisnya sendiri!" Ucap Jendra saat melihat Kalandra tengah duduk berdua dengan Dea di sofa.


Kalandra dan Dea hanya bisa menipiskan bibir tidak ingin menanggapi ocehan Jendra.


"Tutup mulutmu, Jend!" ucap Kalandra dingin. "Aku sedang pusing!"


"Ada masalah?" tanya Jendra.


"Kita bicarakan lagi nanti. Kamu urus setiap perkembangannya dan beritahu saya sekecil apapun informasi yang jamu dapat!" perintah Kalandra pada Dea. Gadis itu segera keluar dari ruangan Kalandra.


"Ada masalah apa?" tanya Jendra.


Kalandra menghela nafas. "Ada beberapa warga yang belum mau melepas tanah mereka. Padahal pembangunan villa sudah harus dimulai," jawab Kalandra.


"Kamu mau membuat villa lagi?" tanya Jendra.


Kalandra mengangguk. "Ya, daerah itu punya potensi. Ada beberapa tempat wisata yang sedang digarap pemerintah setempat."


"Tempatnya bagus, viewnya keren, dan yang pasti dalam satu tahun, tempat itu akan jadi tujuan para wisatawan yang ingin meninggalkan kepadatan kota untuk sementara waktu."


Jendra mengangguk. "Pakai jasa perusahaanku, kan?"


"Kapan akan kita mulai proyeknya?"


"Desain aman? Atau mau pakai jasa arsitek dari perusahaanku?"


Jendra mencecar Kalandra dengan banyak pertanyaan. Kalandra memang sudah biasa menyerahkan pembangunan setiap gedung dengan jasa kontruksi Dewandaru Group.


Kalandra menatapnya sinis. "Kalau urusan cuan, kamu pasti selalu cepat!"


"Hahaha..." Jendra terbahak. "Uang bisa mengatur segalanya, Kal!" balas Jendra.


"Tentu! Uang bisa mengantarkanmu ke Bali dengan jet pribadi dan memberikanmu tempat yang nyaman untuk menginap." balas Kalandra sinis.

__ADS_1


Jendra kembali terbahak. "Oh God, ada yang tidak ikhlas ternyata!"


"By the way, thanks untuk fasilitas kerennya. Akan ku rekomendasikan pada teman-temanku," lanjut Jendra.


Kalandra mengangguk. "Ada perlu apa kamu datang ke kantorku?" tanya Kalandra karena tak biasanya Jendra datang ke perusahaannya tanpa ada janji temu lebih dulu.


"Tidak ada. Aku hanya sedang tidak ingin berada di kantorku!" balas Jendra.


Kalandra memicing curiga. Tidak mungkin seorang Jendra tidak betah di kantor. Ada apa gerangan hingga Jendra lebih memilih untuk datang ke perusahaannya?


"Sedang ada masalah?" tanya Kalandra.


Jendra menggeleng lalu tersenyum miris. Ia sedang tidak memiliki masalah dengan pekerjaan. Tapi masalahnya ada pada Melani yang bersikap dingin padanya selama hampir seharian ini.


"Patah hati sebelum cinta berkembang?" tebak Kalandra.


Jendra langsung menatap Kalandra. Entah mengapa tebakan Kalandra hampir benar. Ia merasa kesal, gundah, dan serba salah hanya karena Melani bersikap acuh dan mendiamkannya.


Padahal, sudah menjadi hal biasa Melani jutek padanya. Tapi kali ini rasanya berbeda. Apa karena ia menyadari kesalahannya?


"Hahaha..." Kalandra terbahak. Melihat Jendra yang tidak bisa membalasnya sepertinya tebakannya memang benar. Tapi, apakah gadis itu adalah Melani?


"Patah hati yang kemarin saja belum sembuh," ejek Kalandra pada pria yang kini tengah melamun dan berwajah lesu.


"Sekarang malah broken heart lagi!" tambahnya.


Jendra mendelik kesal. "Sembarangan saja kalau bicara!"


"Hahahahaha..." Kalandra semakin terbahak. Ia ingat saat dengan mudahnya Jendra menyuruhnya menikah dengan Kayla beberapa bulan lalu. Sekarang dirinya malah seperti sedang balas dendam pada pria itu.


"Malah tertawa!" lirih Jendra sambil melirik sinis.


"Hahaha... Rasanya seperti sedang balas dendam. Dulu kamu seenaknya menyuruhku menikah, dan sekarang aku membalasnya, Jend."


Jendra mendengkus kesal. "Waktu itu aku kan hanya memberi saran. Aku memberikan solusi terbaik untuk dua masalah sekaligus."


"But, wait! Bukan dua, tapi banyak!" ralat Jendra.


"Masalah kamu bahkan selesai semua. Mulai dari berita miring tentangmu, masalah perusahaan, masalah warisan dan masalah senjata tempurmu yang sudah sangat lama tidak digunakan."


Kalandra kembali tertawa. "Tapi percayalah, menikah menjadi pilihan terbaik, Jend."


"Nikahi saja gadis yang membuatmu gelisah padahal kalian belum terikat status apapun."


"Kamu tahu, kehidupan pernikahan ternyata lebih menarik dan menyenangkan."


"Jika istrimu marah, cium saja keningnya maka semua rasa marahnya akan luntur begitu saja."

__ADS_1


Jendra memicingkan mata. Apa semudah itu seorang istri memaafkan pria yang telah menjadi suaminya?


Dulu, saat sedang berpacaran saja dia kesulitan membujuk wanita yang sedang marah. Membawa gadis itu jalan-jalan dan menghabiskan beberapa digit uangnya baru bisa membuatnya memperoleh kata maaf.


"Itu yang kamu lakukan pada Kayla saat dia marah padamu?"


Kalandra menganguk. "Bahkan aku bisa melakukan lebih tanpa perlawanan sama sekali." Kalandra membuat pria jomblo itu mencebikkan bibir.


"Lalu dia melupakan kesalahanmu?" tanya Jendra lagi. Pria itu semakin penasaran dengan kehidupan pernikahan.


Selama ini, ia tidak pernah mendengar cerita Kalandra mengenai pernikahan pria itu. Dan kali ini Ia malah merasa semakin penasaran pada kehidupan pernikahan sahabatnya yang hanya diawali dari pernikahan kontrak.


Kalandra menggeleng. "Tidak!" jawabnya tanpa ekspresi.


"Lalu untuk apa kam-"


"Dengar dulu!" potong Kalandra. "Sebagai playboy papan atas harusnya kamu tahu kalau ingatan seorang wanita mengenai kesalahan pria itu akan terus melekat. Bahkan hingga tujuh turunan dan tujuh tanjakan!"


Jendra menghela nafas. "Kalau aku minta maaf, apa dia akan memaafkanku?" tanya Jendra.


Ia merasa harus menyelesaikan masalahnya dengan Melani. Jika tidak, maka pekerjaan mereka akan terbengkalai. Ia takut, Melani melibatkan kekesalannya dalam bekerja dan berdampak pada pekerjaan.


"Tergantung seberapa fatal kesalahanmu." jawab Kalandra masuk akal.


"Memangnya apa yang kamu perbuat?"


"I have stolen her first kiss," ucap Jendra dengan nada lemah.


*Aku telah mencuri ciuma*n pertamanya.


"Hoaaaa!" Teriak Kalandra. Ia tanpa sadar sampai memukul pahanya sendiri saking terkejutnya mendengar jawaban Jendra.


"Aduh!" keluhnya karena pahanya terasa sakit.


"Wah, itu sih kesalahan fatal. But it's a big win, right?" Kalandra malah menggoda Jendra dengan senyumannya.


*tapi itu merupakan kemenangan besar, kan?


Jendra menghela nafas.


"Melani, bukan?"


Jendra mengangguk lemah.


Kalandra terbahak. "Sudah ku tebak. Dia memang berbakat menjadi pawang bagi singa gil*."


Kalandra keceplosan sementara Jendra yang tidak menyadarinya. Pria itu tidak mengerti siapa yang dimaksud dengan singa gil*.

__ADS_1


__ADS_2