
Ini adalah kisah Melani (calon) istri bar-bar sang pewaris bernama Jendra Dewandaru.
Melani Agnia adalah seorang gadis yatim piatu yang besar di sebuah panti asuhan. Ia berjuang sendiri untuk mendapatkan gelar sarjana hingga akhirnya ia bisa bekerja di perusahaan Dewandaru.
Melani tidak pernah berpacaran dengan pria manapun bahkan hingga usianya hampir 30 tahun. Bukan karena ia tidak normal, tapi karena ia terlalu fokus mengejar impiannya, yaitu keluar dari garis kemiskinan.
Tak tok tak tok...
Hentakan heels 12 cm yang dipakai seorang wanita berambut pirang dengan pakaian super ketat membuat Melani melihat kearah wanita itu.
Melani menghela nafas saat melihat siapa yang datang. Salah satu wanita dari daftar mantan kekasih si Bos yang kerap kali muncul setelah diputuskan.
Melani tak heran lagi dengan hal semacam ini. Ini sudah jadi makanan sehari-harinya, namun wanita itu muncul disaat yang tidak tepat
Pekerjaannya sangat banyak karena sejak beberapa hari terakhir ia bekerja sendiri. Ia yang sudah 3 tahun menjadi junior sekretaris harus terbiasa bekerja tanpa seniornya yang sudah resign karena lebih memprioritaskan keluarga ketimbang pekerjaan.
Melani menghela nafas lagi saat menyadari wanita yang selalu datang ke kantor ini, mencari pak Bos yang hanya bersembunyi di balik ruang CEO itu semakin mendekat.
"Jendranya ada?" tanyanya pada Melani.
"Maaf, Bu. Bapak sedang tidak ada di tempat," jawab Melani sopan. Ulat bulu seperti ini sudah biasa ia hadapi sebagai resiko punya atasan yang tukang celup sana sini.
Ia sudah hafal betul harus berbuat apa. Bahkan dialognya sudah ia ingat diluar kepala.
"Jangan bohong!" marah Wanita itu.
"Silahkan periksa jika anda ingin," ujar Melani yang ingin urusan ini cepat selesai. Ia harus mengejar dateline.
"Cctv akan membuat pak Jendra lebih mudah untuk menyeret anda ke kantor polisi atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan. Seorang mantan yang masuk ke ruangannya tanpa izin."
Wanita itu kesal, dan menatap Melani tajam. "Kamu dibayar berapa untuk melindunginya?" tanya wanita itu menaikkan dagu.
Melani tertawa tanpa suara. Ia menggeleng pelan. Aku bahkan tidak dibayar untuk berbohong seperti ini. Wanita ini benar juga. Harusnya aku minta bayaran karena entah sudah berapa banyak dosaku yang selalu berbohong demi melindungi pak Jendra.
"Saya hanya makan gaji. Dan saya tidak dibayar lebih," balas Melani.
"Aku akan kembali lagi, nanti. Kapan dia akan kembali?"
Melani menggeleng. "Belum tahu, Bu." Bohong Melani lagi. Padahal tersangkanya sedang duduk dibalik meja kerja sambil menonton rekaman cctv.
"Ck!" Decak wanita itu. "Kalau dia kembali, katakan padanya aku datang! Dan minta dia untuk menghubungiku!" ucap wanita itu angkuh.
"Sebaiknya ada jangan kembali lagi, Bu. Karena sepertinya pak Jendra sudah memantapkan hati pada satu gadis."
Wanita berpakaian se*xy itu memicingkan mata. "Kamu tahu dari mana?"
Melani tersenyum lebar. "Anda lupa? Saya sekretarisnya, bahkan ukuran pakaian dalamnya saya juga tahu!" balas Melani dengan menahan gatal di tenggorokanya.
__ADS_1
Jangankan ukuran pakaian dalam, ukuran sepatunya saja Melani tidak ingin tahu sama sekali.
Melani mengangguk. Ia bernafas lega karena bisa mengatasi wanita yang berstatus mantan dari bosnya itu. Entah bagaimana wanita itu diizinkan masuk.
"Jangan-jangan kamu pernah tidur dengannya juga?" tanya wanita itu membulatkan mata.
See! Benarkan? Dia pasti sudah di-. Dasar pak Jendra. Entah kapan ia akan bertobat. batin Melani.
"Saya tidak pernah membuatnya tidur karena ia selalu meminta kopi tiap kali dia mengantuk!" jawab Melani jujur namun malah memicu salah pengertian.
Wanita itu melengos dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Melani masuk ke ruangan bosnya karena dipanggil melalui intercom setelah kepergian wanita itu.
Melani masuk dan tampaklah playboy tampan yang mood-mood'an sedang duduk di meja kerjanya.
"Aku harap dia tidak kembali lagi, Mel!" ucap Jendra.
Melani menipiskan bibir. Ku harap juga begitu.
"Kapan anda akan memberikan saya rekan pak? Saya cukup kewalahan menangani pekerjaan ini sendiri. Jadwal anda sangat padat dan saya tidak bisa mengatur semuanya sendiri," pinta Melani.
"Untuk itu, kamu saya panggil ke sini. Saya punya beberapa kandidat. Mereka punya prestasi baik dan rajin bekerja."
Jendra menunjukan data beberapa orang yang akan ia tunjuk menjadi calon sekretarisnya.
"Kalau bisa yang pakaiannya sopan dan bukan pemain, " lanjut Melani.
Pemain yang ia maksud adalah wanita yang memiliki hubungan khusus namun terlarang dengan rekan kerja atau atasannya sendiri. Sebagai gadis baik-baik ia tak ingin punya rekan dengan track record yang buruk.
Jendra tertawa sinis. "Telinga kamu sepertinya terganggu dengan rumor tentang pemain -pemain di kantor ini."
"Lumayan, Pak. Sangat tidak cocok dengan prinsip saya. Jadi, saya yakin tidak akan bisa beradaptasi dengan mereka."
Jendra mengangguk. "Saya juga sangat terganggu. Tapi, selama tidak mereka lakukan di kantor, maka bukan menjadi urusan saya, Mel."
Lihatlah! Jendra terkadang menggunakan kata aku dan kadang juga saya. Sesuai dengan moodnya saja.
"Ah, ya Mel. Mulai sekarang, jangan biarkan siapapun masuk tanpa izin saya, Mel."
"Karena saya sedang menjalin hubungan yang serius dengan seorang gadis. Jadi, saya tidak ingin bermain api lagi dengan gadis manapun."
Note it! Melani harus catat informasi penting itu.
"Anda sudah pernah mengatakannya, pak!"
"Saya hanya mengingatkan!"
__ADS_1
Oh, terserahlah!
***
Beberapa hari berlalu, akhirnya hari ini Melani mendapat rekan baru. Seorang gadis yang usianya dua tahun lebih muda darinya. Salah satu staff keuangan di kantor ini.
Melani sudah tertarik pada gadis ini sejak awal. Ia tidak mengenal baik, hanya sesekali saling sapa dengan senyum. Tidak pernah terlibat dalam pembicaraan yang akrab. Tapi Melani suka dengan cara berpakaian gadis itu.
Melani melihat jam tangannya. Gadis itu terlambat di hari pertamanya bekerja sebagai sekretaris CEO.
Tapi pemandangan yang membuat Melani mengerutkan kening adalah, gadis itu datang bersama dengan seorang CEO, yang merupakan sahabat Jendra.
"Jendra ada di dalam, Mel?" Tanya Kalandra, sahabat Jendra yang lumayan sering datang ke kantor ini. Melani mengenal pria itu dengan baik.
"Ada, Pak! Beliau juga sedang tidak ada tamu," jawab Melani.
Bosnya itu memang sedang berada di ruangannya. Entah sedang bekerja atau bermain game, atau mungkin sedang video call dengan gadisnya, Melani tidak tahu.
Pria bernama Kalandra itu segera masuk ke ruangan CEO. Meninggalkan semerbak aroma parfum mahal yang masih tertinggal di depan meja Melani.
Sementara itu, Melani menyambut kedatangan Kayla, sekretaris baru yang akan membantunya mengurus pekerjaan.
"Perkenalkan nama saya, Kayla." Gadis itu mengulurkan tangannya dan Melani menjabat tangan yang terasa dingin itu. Sepertinya gadis bernama Kayla itu sedang gugup.
"Saya Melani. Semoga kita bisa bekerja dengan baik." Kayla mengangguk sopan.
"Kemarilah!" Melani berdiri dari kursinya dan membimbing Kayla untuk berjalan menuju sebuah meja kerja yang tak jauh dari mejanya.
"Ini adalah meja kerja kamu. Ku harap kamu betah bekerja di ruangan ini."
"Terima kasih, Bu Melani."
"Panggil saja, Mbak Melani. Aku ingin kita membangun hubungan baik demi kerja sama yang baik pula," ucap Melani dengan senyum ramah.
"Ah, ya. Pak Jendra sudah menunggu kamu!" ucap Melani lagi. "Tapi saya akan tanyakan dulu apakah kamu bisa masuk sekarang atau tidak. Karena beliau sedang ada tamu."
Melani menghubungi Jendra dengan menggunakan intercom. "Pak, Kayla sudah ada di depan ruangan anda."
Pria itu tak langsung menjawab. Mungkin urusan mereka belum selesai.
"Suruh dia masuk, Mel!" Perintah Jendra tak berapa lama.
"Silahkan masuk ke dalam, Kay!" Perintah Melani dan gadis bernama Kayla itu masuk ke dalam ruangan Jendra.
"Semoga saja gadis itu bisa menjadi rekan kerja yang menyenangkan," gumam Melani setelah kepergian Kayla.
"Tidak bisa ku bayangkan jika gadis itu tidak bisa diajak kerja sama. Aku harus menghadapi Pak Jendra yang orangnya tidak bisa ditebak itu."
__ADS_1