Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 64 Rutinitas


__ADS_3

Kayla tampak semangat pagi ini, meskipun seluruh tubuhnya terasa pegal dan lelah efek liburan dan berada terlalu lama di dalam pesawat.


"Kalau masih merasa lelah, lebih baik kamu cuti saja, Kay!" pinta Kalandra saat melihat Kayla tampak meregangkan tubuhnya beberapa kali padahal istrinya itu sudah memakai pakaian kerja.


"Tidak, Mas. Aku sudah baik-baik saja. Tapi, harusnya aku olahraga tadi pagi agar seluruh ototku tidak tegang."


"Bukankah aku sudah mengajak kamu berolahraga, Kay!" Kalandra melingkarkan tangannya di pinggang Kayla saat istrinya itu membantu memasangkan dasi untuknya.


"Seharusnya, olahraga bisa membuatku rileks, bukan malah membuat nafasku memburu."


"Tapi kan kamu juga menikmatinya," jawab Kalandra mengerlingkan mata.


Uhuk... Uhuk... Kalandra terbatuk saat dengan sengaja Kayla memasang dasi hingga mencekik lehernya. Lalu dengan cepat Kayla kembali mengendurkan dasinya sambil tertawa.


"Ooops, maaf!" Kayla kembali tertawa.


"Sengaja kan?" tanya Kalandra.


Kayla tertawa. "Saat aku menjepit leher kamu, ku kira kamu juga menikmatinya seperti tadi pagi, Mas."


"Yang terjepit pagi tadi, berbeda Kayla."


"Hahaha... Aku anggap sama saja, Mas!" Kayla menyambar tasnya dan sebuah paperbag berisi tas branded untuk Melani sebagai oleh-oleh darinya.


***


Kayla tiba di kantor. Ia melihat Melani sudah sibuk dengan komputernya. Ia berdiri bersandar di meja Melani.


"Wow, yang baru saja menikmati liburan extra ordinary, terlihat sibuk sekali!" ucap Kayla pada Melani yang justru terdengar seperti sindiran.


Melani meliriknya sekilas lalu kembali bekerja. "Kamu tidak tahu, aku berada di gedung ini sejak jam 6 pagi, Kayla!"


Mata Kayla membulat. "Serius?" ia terkejut. Pasalnya mereka belum pernah lembur pagi. Biasanya akan lembur sampai malam hari saja.


"Ya..." jawabnya tanpa mengalihkan pasangan dari layar komputer.


"Aku kerja lembur bagai kuda. Ternyata liburan extra ordinary itu harus ku bayar dengan begitu mahal dan menyebalkan!" Melani menekan tombol enter dengan begitu keras. Ia sudah selesai mengerjakan pekerjaannya.


Ia melipat tangannya di dada dan bersandar di kursi kerja. Ia menatap Kayla lalu matanya berkaca-kaca.


"Are you okey, mbak?" tanya Kayla khawatir. Ia sampai menunduk melihat wajah Melani.


"Kaylaaaaaa...." Melani menangis keras. "Singa gil* itu mencuri cium*an pertamaku yang telah ku jaga sampai hampir 30 tahun...." Melani mengges*ek-kan kakinya di lantai berulang kali. Ia merasa sangat kesal pada bos gil*nya itu.


"A-apa? Bagaimana bisa, mbak?" tanya Kayla.


"Entahlah! Dia tiba-tiba saja melakukannya padaku. Dan aku tidak sempat mengelak, apa lagi sampai menghajarnya." Melani menangis terus-terusan.

__ADS_1


"Sudahlah, mbak. Dia hanya menciummu, kan?"


Melani menatapnya tajam. Membuat Kayla bergidik ngeri melihat tatapan matanya itu.


"Kamu bilang hanya?"


"Kayla, aku sudah mati-matian menjaga agar bibirku ini tak disentuh pria manapun selain suamiku!" ucap Melani dengan nada tinggi.


"Dan aku gagal hanya karena aku lengah!"


"Lagi pula, aku tidak menyangka kalau pak Jendra akan melakukannya padaku."


"Mba-"


"Aku masih ingin bicara Kayla. Biarkan aku menumpahkan seluruh uneg-uneg dalam hatiku!" potong Melani terus berbicara.


"Jam 11 malam aku baru sampai di rumah, dan dia langsung memintaku merevisi berkas yang akan dia bawa meeting pagi ini."


"Kamu tahu, otakku rasanya hampir jungkir balik, Kay!"


"Iy-"


Belum sempat berkata, ucapan Kayla kembali dipotong oleh Melani. "Aku tidak tidur hampir semalaman. Jam 5 pagi, aku bangun dan segera ke kantor."


"Aku bahkan belum sarapan, Kay!" Melani melipat tangannya di meja, lalu meletakkan kepalanya dan menyembunyikan wajah.


"Tidak usah! Aku sudah kenyang melihat angka nol dalam berkas itu!" Melani menatap Kayla lalu menunjuk tumpukan berkas di sampingnya.


"Sudah, tidak usah terlalu difikirkan. Anggap saja, Pak Jendra tidak pernah melakukannya," ucap Kayla.


"Nah, aku bawakan oleh-oleh untuk mbak Melani, sebagai ucapan terima kasih karena sudah bekerja keras selama aku tidak ada." Kayla meletakkan paperbag itu di hadapan Melani.


"Apa ini, Kay?" tanya Melani.


"Buka saja, mbak!" perintah Kayla.


Melani membukanya, dan sebuah box dengan nama brand yang Melani tahu membuatnya tersenyum lebar.


Ia buru-buru membuka box. Dan sebuah tas kulit berwarna putih, membuat Melani membulatkan mata.


"Ini Ori kan, Kay?" tanyanya menatap takjub pada benda sedikit petak dan terbuat dari kulit itu.


"Asli lah! Masa iya aku membelinya yang KW untuk mbak Melani."


Melani berterima kasih pada Kayla. "Aku hampir lupa kalau sahabatku ini istri seorang CEO."


Kayla tertawa. "Ku doakan semoga mbak Melani mendapat jodoh seorang CEO juga. Jadi, Kalau sedang honeymoon aku kecipratan oleh-oleh juga."

__ADS_1


Melani tertawa. "Astaga! Aku ingin meng-aminkan, tapi belum apa-apa aku sudah sadar diri. Betapa jauh kasta diantara kami nanti."


"Nothing imposible. Tidak ada yang tidak mungkin, mbak Mel. Lihat saja diriku. Rakyat jelata, si yatim piatu yang menjadi istri seorang penerus Rajaswa Group."


Tanpa keduanya sadari, Jendra sudah mendengarkan pembicaraan mereka sejak pertama kali Kayla menyapa Melani.


Kayla dan Jendra datang hampir bersamaan. Mereka tidak bertemu karena menggunakan lift yang berbeda. Jendra menggunakan lift khusus petinggi perusahaan dan Kayla memakai lift khusus karyawan.


Jendra tersenyum sepanjang tangis Melani. Entah merasa sebagai pencuri, atau malah merasa sebagai pria yang beruntung. Yang pasti, dia tidak pernah menyesal telah mencium sekretarisnya itu.


Dia yang suka celup sana sini malah mendapat jeckpot sebuah ciuma*n pertama yang sangat manis itu.


Semalaman ia tak bisa tidur karena bibir rasa stroberi itu membuatnya tak bisa move on. Entah lipstick apa yang Melani pakai sore itu, tapi yang pasti ia menjadi candu.


Jendra berjalan mendekati meja kedua sekretarisnya. Ia meletakkan paper bag berisi makanan untuk sarapan Melani.


Ia memang meminta Melani merevisi berkas yang akan ia bawa untuk meeting pagi ini. Melani sempat menolak karena kelelahan, tapi Jendra memberi solusi agar Melani mengerjakan di kantor saja dan gadis itu bisa datang lebih pagi.


"Sarapan untuk kalian!" ucap Jendra sebelum keduanya bertanya.


"Kayla, siapkan ruang meeting karena akan ada meeting dengan Cemara Land setengah jam lagi!" perintah Jendra yang langsung masuk ke dalam ruangannya.


"Lihat!" Melani menatap pintu yang baru saja tertutup itu.


"Dia bahkan bersikap seolah tidak terjadi apapun, Kay!" Geram Melani.


Ia meninju udara meluapkan kekesalannya pada pria yang baru saja masuk itu. "Aku akan mengutuknya menjadi pria paling bucin pada istrinya nanti! Supaya bibir liarnya tidak sembarangan melahap bibir wanita lain!"


Kayla terbahak. "Hahaha..."


"Kalau begitu aku akan mengutuk suamiku juga, mbak!"


"Akan ku kutuk mas Kalandra menjadi pria yang cinta mati padaku!"


Kayla masih tertawa. Ia duduk di balik meja kerjanya. "Seandainya bisa semudah itu dikabulkan, aku akan meminta banyak hal pada Tuhan."


Melani membuka paperbag yang berisi menu sarapan untuk mereka. "Sebaiknya kamu makan duluan, Kay!" ucap Melani kembali meletakkan paperbag diatas meja.


"Kenapa harus aku, Mbak?"


"Supaya jika ada pelet dalam makanan ini, kamu yang akan jatuh cinta padanya lebih dulu."


Kayla mengerutkan kening.


"Karena kalau kamu yang kena peletnya, setidaknya Pak Kalandra bisa menghajarnya."


"Kalau aku yang kena, siapa yang akan menghajarnya? Bahkan tidak ada yang peduli padaku jika aku bertekuk lutut dihadapannya," ucap Melani sedih.

__ADS_1


Sebagai gadis mandiri yang hidup sebatang kara, Melani sering merasa kesepian. Ia juga merindukan bagaimana hangatnya sebuah keluarga. Tapi apa daya, Tuhan tidak memberinya keberuntungan itu karena dulu dia adalah gadis yang hidup disebuah panti asuhan.


__ADS_2