
"Acara akan di mulai jam 8 malam. Dan biasanya tamu akan mulai berdatangan satu jam sebelum acara dimulai."
Tiba-tiba ponsel Reyga berdering saat ia sedang memberikan pengarahan pada karyawannya. Ruang VIP di restoran itu telah dipesan oleh salah satu EO untuk sebuah acara pertunangan yang diperkirakan hanya akan mengundang 50 orang tamu.
Reyga melihat nama Kaladra muncul di layar. Ia mengabaikannya karena ia masih berbicara di depan karyawannya.
Beberapa saat kemudian, ponselnya kembali berdering. Ia menghela nafas karena sepertinya kakaknya itu ingin membicarakan hal penting.
"Maaf, saya jawab telpon dulu," ucapnya di depan karyawan.
Ia berjalan sedikit ke belakang untuk menjawab panggilan telpon itu.
"Hallo, kak. Sebentar, aku sedang nanggung. Nanti ku hubungi lagi."
Reyga langsung mengakhiri panggilan itu tanpa memberi kesempatan untuk Kalandra berbicara.
Ia kembali melanjutkan memberikan pengarahan pada karyawannya karena setelah ini ia berniat akan pulang ke rumah. Entah mengapa ia ingin menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya sebelum nanti malam ia akan kembali lagi ke restoran ini.
"Pak, tadi saya lihat, Bu Gia datang bersama putri anda. Tapi, entah kenapa beliau pergi lagi," ucap manager restoran saat mereka baru saja selesai meeting dan karyawan lain sudah kembali bekerja.
Reyga menyatukan alisnya. Keningnya berkerut sebab ia merasa heran. Mana mungkin Gia dan Raisa datang?
"Kamu menyapanya?"
Pria berusia 30 tahun itu menggeleng. "Tidak, Pak. Saya sedang bicara dengan anak-anak, tadi." Yang dimaksud anak-anak adalah bawahannya.
Reyga mengangguk. Meski dalam benaknya, ia bertanya-tanya untuk apa Gia datang dan mengapa pergi begitu cepat tanpa menemuinya lebih dulu?
"Kamu urus restoran hari ini. Awasi terus persiapan demi persiapannya. Karena bu Kirana, sepertinya semakin sering merekomendasikan restoran kita sebagai tempat untuk kliennya mengadakan acara tertentu."
"Beri kesan yang baik untuk beliau."
"Baik, Pak."
Reyga segera melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah. Tapi, sebelum itu, ia akan mampir ke restorannya yang lain. Tidak akan lama, karena biasanya tidak ada masalah apapun yang harus ia selesaikan disana.
Sepuluh menit setelah Reyga keluar dari parkiran, mobil yang Kalandra kemudikan tiba di restoran.
Kalandra yang tidak melihat mobil Reyga merasa tidak yakin kalau adiknya sedang berada di dalam.
Kalandra masuk dan membuat beberapa karyawan menunduk hormat. Mereka mengenal siapa pria yang selalu berekspresi datar itu.
"Selamat siang, pak. Ada yang bisa saya bantu," tanya pelayan restoran saat melihat Kalandra mengedarkan pandangannya.
"Selamat siang. Dimana Reyga?"
"Pak Reyga baru saja pulang, Pak. Sekitar 10 menit yang lalu."
"Pulang?"
"Ya, Pak."
"Apakah sedari tadi Reyga berada di ruangannya?"
Manager datang menemui Kalandra yang sedang berbicara pada pelayan. "Pak, ada yang bisa saya bantu."
Kalandra mengangguk. "Apa sedari tadi, Reyga berada di ruangannya?"
__ADS_1
Pria itu menggeleng. "Pak Reyga masuk ke ruang kerjanya hanya sebentar, Pak."
"Saat ada klien kami yang datang, Pak Reyga bicara di dalam dan setelahnya keluar untuk mengawasi persiapan dekorasi ruang VIP, pak."
"Laki-laki atau perempuan?" tanyanya cepat.
"Ehm, maksud saya, klien kalian itu."
"Perempuan, Pak."
Apa perempuan itu yang Gia lihat tadi?
Setelah berterima kasih, Kalandra kembali masuk ke dalam mobilnya dan bersiap akan menemui Reyga di rumahnya saja.
Ia kembali menghubungi Reyga, tapi tidak di jawab. Sepertinya pria itu sedang sibuk atau mungkin ponselnya dalam mode silent.
Kalandra tiba di rumah Reyga, dan kembali tidak menemukan keberadaan adiknya itu.
"Jadi, Reyga belum pulang, Bi?" tanyanya pada asisten rumah tangga.
"Belum, Pak. Bapak pergi sejak pagi dan Ibu juga pergi sekitar dua jam yang lalu, Pak."
Kalandra mengangguk. "Saya tunggu di sini saja, Bi." Ia duduk di kursi teras.
"Anu, Pak. Maaf. Apa tidak sebaiknya menunggu di dalam saja?"
"Tidak, Bi."
Kalandra hendak menghubungi Reyga, tapi ponselnya lebih dulu berdering.
"Hallo, kamu dimana Rey?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Aku di jalan kak."
"Ya, aku tahu. Di jalan mana?" Ia memang bisa mendengar suara bising dan klakson dari kendaraan lain.
"Perjalanan pulang, kak."
"Cepatlah! Ku tunggu."
Sekitar 15 menit, Reyga tiba di rumah. Ia meminta Reyga duduk seolah dialah tuan rumahnya.
"Ada apa, kak?" tanyanya.
"Saat kakak menghubungiku terakhir kali tadi, aku lupa membawa handphoneku. Aku meninggalkannya di mobil tadi."
"Pantas saja!" gumamnya.
"Siapa yang bersama kamu tadi, di ruang VIP, Rey?" tanya Kalandra.
Reyga berfikir sejenak. "Beberapa karyawanku dan karyawan salah satu Event Organizer, kak."
Dari mana kak Andra tahu kalau aku sedang di ruang VIP tadi?
"Lalu siapa wanita yang kamu ajak bicara hanya berdua saja?"
Reyga mengerutkan keningnya. "Wanita?"
__ADS_1
"Apa yang kakak maksud adalah Bu Kirana?"
Kalandra mengangkat bahunya. "Mana ku tahu, Kirana atau bukan?"
"Intinya, wanita itu mengusap dada dan bahu kamu?"
"Bagaimana kakak bisa tahu mengenai hal itu?" Mata Reyga terbuka lebar sebab merasa heran mengapa Kalandra tahu akan hal yang tidak menyenangkan itu.
"Istrimu yang melihatnya!" ucap Kalandra dingin.
Gia melihatnya? Apa itu alasanya sehingga dia pergi sebelum menemuiku?
Ia menatap adiknya yang semakin terkejut itu. "Kenapa? Belum siap ketahuan selingkuh?"
"Aku tidak selingkuh, Kak!" balas Reyga penuh penekanan. Pria itu membele diri.
"Dia hanya klien. Dia pemilik Event Organizer yang menyewa restoran untuk acara penting kliennya, kak."
"Jelaskan pada istrimu! Dia terus saja menangis."
"Dimana dia sekarang?" tanya Reyga tak sabaran.
"Ada di rumahku!"
Reyga berdiri tapi, Kalandra menarik bahunya sehingga merek berdiri saling berhadapan.
"Dia benar bukan selingkuhan kamu kan, Rey?" tanya Kalandra yang masih belum yakin.
"Ayolah, Kak. Kakak tahu aku!"
"Semua orang bisa berubah, Rey!"
Reyga berdecak. "Kakak masih tidak percaya?"
"Seorang Rajaswa tidak pernah mengkhianati sebuah pernikahan, kak!"
Kalandra mengangguk. "Pergilah! Temui istrimu dan jelaskan padanya kalau apa yang ia lihat itu tidak seperti yang ia bayangkan."
Reyga lebih dulu meninggalkan rumah itu. Kalandra masuk ke dalam mobilnya dengan perasaan lega.
"Seorang Rajaswa tidak pernah mengkhianati pernikahan."
Kalandra tertawa saat ia mengulang ucapan Reyga yang menurutnya terlalu sederhana namun penuh makna.
"Tapi, istri seorang Rajaswa pernah berkhianat, Rey!" Kalandra bicara sendiri. Yang ia maksud adalah mamanya yang pernah selingkuh saat ia masih kecil dulu.
"Dan aku, sudah menodai arti pernikahan di awal pernikahanku dengan Kayla."
"Reyga ... Reyga ...."
"Benar-benar duplikatnya papa." Kalandra kembali tertawa tanpa suara. Ia mengingat bagaimana Reyga bertahan di setahun pertama pernikahannya dengan Gia.
Menikah karena dijebak. Saat itu Reyga sama sekali tidak pernah mengeluh. Tidak menolak, padahal pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan untuknya.
Dan adiknya itu membuatnya salut. Reyga malah memaafkan Gia atas segala perbuatan Gia yang terkadang memang diluar batas.
Sekarang, mereka malah sudah dikaruniai anak. Dan pernikahan mereka tampak baik-baik saja. Reyga bahagia, begitupun juga istrinya.
__ADS_1