
New York adalah kota terpadat di Amerika serikat. Kota yang menjadi tempat tinggal Bagus dan keluarganya selama ini.
"Selamat datang di New York, sayang!" Kalandra merangkul bahu Kayla yang dibalut jaket sangat tebal itu saat mereka turun dari dalam pesawat.
"Terima kasih, Mas. Semua ini seperti mimpi." Kayla memeluk pinggang Kalandra. Selain karena bentuk rasa terima kasih, ternyata pelukan itu sebagai isyarat bahwa Kayla merasa kedinginan.
"Kakiku menapak sangat jauh dari daratan Indonesia."
Reyga juga tampak menggenggam tangan Gia meski keduanya sama-sama memakai sarung tangan. Keduanya masih tampak malu-malu menunjukkan perhatian pada satu sama lain. Ini juga merupakan kali pertama Gia pergi ke New York untuk berlibur ke rumah uncle Bagus.
Berbeda dengan Riana yang sudah beberapa kali datang. Meski hubungan antara dirinya dan almarhum suaminya kurang baik, tapi Riana tetap ikut jika Bagas mengunjungi adik dan mamanya.
"Suhunya berapa derajat Rey?" tanya Kalandra pada adiknya karena ia juga merasa wajahnya hampir beku.
"Sekitar -2° C, Kak!" jawab Reyga.
"Oh God, pantas saja sama dinginnya seperti kulkas bi Marni," keluh Kayla membuat Kalandra tertawa.
"Itu kulkas kita, Sayang!"
"Tidak! Itu milik bi Marni, kerena berada dalam wilayah kekuasaannya." Maksud Kayla adalah dapur.
"But, it's our home!" balas Kalandra.
"Coba kamu jawab. Siapa yang paling banyak menghabiskan waktu di dapur? Kita atau bi Marni?"
Kalandra tertawa. "Okey. Aku kalah!"
Riana dan Oma tertawa mendengar perdebatan mereka.
"Mas, mulut kamu mengeluarkan asap," ucap Kayla sambil tertawa.
Kalandra juga ikut tertawa. "Kamu ada-ada saja! Ternyata, kamu yang smart bisa norak juga."
Kalandra meraih tangan Riana dan mengenggamnya sementara Reyga menggenggam tangan Oma.
Riana melihat tangannya yang digenggam Kalandra, lalu wanita itu tersenyum melihat putranya juga tengah tersenyum menatapnya.
Riana merapatkan diri, semakin menempel pada Kalandra. "Terima kasih untuk kebesaran hatimu yang mau memaafkan mama, Andra!"
Kalandra tersenyum. "Maaf, terlambat untuk melakukan ini. Dan Andra janji, semua waktu yang Andra habiskan untuk membenci mama akan Andra tebus, Ma."
Mereka masuk ke dalam mobil. Ada dua mobil yang menjemput mereka. Kayla tak henti menatap jendela mobil untuk melihat setiap jalan dipenuhi salju meski tidak terlalu tebal.
"Seperti di film-film, Mas!" Kayla menunjuk pohon yang seluruh daunnya sudah diselimuti salju.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka, salju yang memenuhi kota akan seindah ini." Ia sungguh terpesona melihat apa yang ada di depan matanya sekarang.
"Nanti kita akan jalan-jalan ke beberapa tempat yang diselimuti salju, Kay! Kamu harus puas-puaskan bermain salju karena waktu kamu untuk izin hanya satu minggu."
Kayla mengangguk. "Mungkin akan sangat keren jika aku melahirkan di kota ini, Mas!" ucap Kayla berhasil membuat jantung Kalandra berdebar dan hatinya terasa menghangat.
"Ma-maksud kamu?" ia tak menyangka Kayla sudah membayangkan sampai sejauh itu.
Khayalannya baru sampai di- membuat bayi di hotel mewah sedangkan Kayla malah sudah sampai melahirkan di kota ini.
"Ya, akan sangat keren jika anak kita lahir disini!" Kayla berpaling dari jendela mobil dan melihat Kalandra.
"Di akta lahirnya akan tertulis, tempat lahirnya di New York." Kayla tertawa tanpa suara. "Keren kan, Mas."
"Dia akan sekolah di SMA favorit di Jakarta. Jika dia perempuan, dia akan menjadi pusat perhatian para siswa laki- laki."
"Tapi, jika dia laki-laki, dia akan menjadi dambaan hati setiap perempuan."
"Astaga! sangat jauh dari hidupku di masa muda dulu!" gelak Kayla.
Kalandra tertawa. "Kamu ada-ada saja, Kay!" Ternyata istrinya malah memikirkan hal se-absurd itu.
"Loh, kan pasti anak kita bangga, Mas. Dilahirkan diluar negeri."
"Dia akan bangga menjadi anak dari seorang Kalandra."
"Menurut mama, kalau Kayla kelak ingin melahirkan disini, itu bukan ide buruk."
"Mama siap menemani dia dari hamil tua hingga bayinya lahir dan aman untuk kembali terbang ke Indonesia."
Kayla tersenyum lebar, saat Riana yang duduk di kursi depan itu mendukung khayalannya
Kayla sadar, di negaranya sendiri, dunia medis sudah sangat berkembang. Pelayanan kesehatan di beberapa rumah sakit besar juga sangat baik.
***
Mereka tiba di sebuah rumah mewah. Seorang pria membukakan gerbang untuk mobil mereka.
"Selamat datang di rumah kami!" Seorang wanita cantik menyambut kedatangan mereka.
Wanita itu memeluk Oma dan menyapa sopan pada Riana yang tampak sedikit canggung. Namanya aunty Hana, istrinya uncle Bagus.
Kayla belum pernah bertemu dengan wanita itu, tapi Gia sudah pernah, yaitu saat meninggalnya Bagas.
Bagus dan Hana memiliki dua orang anak. Keduanya sama-sama perempuan. Anak pertama mereka bernama Arshila, seorang dokter yang kini baru berusia 25 tahun. Dan anak kedua mereka bernama, Almyra, sedang kuliah semester satu jurusan fashion desain.
__ADS_1
"Anak-anak dimana, Han?" tanya Oma.
"Seperti biasa, Ma. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing."
"Mas Bagus juga masih berada di rumah sakit, Ma."
Wanita itu mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam kamar yang sudah disediakan.
"Kalian istirahat dulu, nanti pelayan akan membawakan makanan dan minuman untuk kalian." ucapnya dengan senyum tipis.
Kayla masuk ke dalam kamar yang lumayan luas itu. Ia segera mencuci tangannya dengan air hangat.
"Udaranya sangat dingin, Mas!" Keluh Kayla yang tak tahan dingin.
Kalandra tertawa. "Ya sudah, setelah bersih-bersih aku akan memelukmu. Sentuhan skin to skin akan membantu menghangatkan tubuhmu!"
Kayla yang sedang berada di kamar mandi mulai berfikir. Apakah skin to skin yang di maksud adalah dengan menempel satu sama lain tanpa mengenakan pakaian?
"Tidak, Mas! Aku hanya butuh selimut lebih tebal."
"Hahaha..." Kalandra tertawa saat menyadari Kayla mengerti maksud ucapannya.
"Aku akan memberikanmu libur kali ini. Tapi, besok atau lusa, Tidak ada libur untuk kamu, Kay!"
Kayla keluar dari kamar mandi. Ia menatap pria yang sedang membahas aktivitas favorit mereka. Kayla melipat kedua tangan di dada. Bukan karena marah, Tapi karena ia tengah memeluk dirinya sendiri yang tengah kedinginan.
"Jadi, kita hanya akan membuat baby disini, Mas?" tanya Kayla.
"Tentu tidak. Aku ingin kamu menikmati liburan ini. Bermain salju seperti anak kecil. Bersantai seperti ibu rumah tangga kebanyakan, dan berbelanja menghabiskan uangku."
Kalandra menarik Kayla dalam pelukannya. Ia mendudukkan istrinya dalam pangkuan dan mendekap erat tubuh Kayla.
"Tapi, aku ingin membuatnya di sini, dan di sebuah tempat yang akan membuatmu mengenangnya seumur hidup."
Kayla memeluk leher Kalandra. "Kamu ingin anak dariku, Mas?"
Kalandra tersenyum. "Tentu. Jika tidak ingin, mana mungkin aku sangat rajin membuatnya!"
Kayla tertawa. "Bagaimana jika belum juga jadi."
"Tidak masalah. Itu artinya aku harus lebih rajin dan usahaku harus lebih keras lagi," jawab Kalandra.
"Untuk apa memikirkan anak. Jika sudah saatnya, Tuhan pasti akan berikan."
"Yang terpenting adalah dirimu." Kalandra menempelkan telunjuknya di hidung Kayla. "Yang penting, kamu merasa bahagia."
__ADS_1
"Yang terpenting, kamu merasa hidupmu sangat berharga dan kamu merasa telah menjadi wanita paling beruntung."
"Berbahagialah dulu, Kay! Anak akan tumbuh di sini jika hati dan pikiran kamu tenang!" Kalandra mengusap perut Kayla dari luar jaket tebalnya.