Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 76 S2 Cinta Terbalas


__ADS_3

Jendra duduk di depan meja kerja Melani dengan tatapan kosong. Ia yang malas berada di ruangannya sendirian memilih untuk duduk disini.


Ia melihat sekretarisnya itu sedang sibuk sekali karena Kayla tidak masuk kantor hari ini. Gadis yang kini menyandang status sebagai istri sahabatnya itu sedang menikmati cuti pernikahan.


Harusnya Jendra tak memberikan cuti pada Kayla karena pernikahan itu hanya sebuah kesepakatan meskipun sah secara hukum dan agama.


Tapi demi menyembunyikan rahasia sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri itu, ia harus sedikit memainkan drama.


Jendra menghela nafas, karena Melani sama sekali tidak terusik dengan kehadirannya. Melani bahkan tidak menyapanya. Mungkin karena gadis itu tahu, kalau ia hanya sedang bosan seperti biasanya dan sedang tidak ada perlu apapun.


"Mel, apa tandanya kalau cinta kita terbalas dan tidak bertepuk sebelah tangan?" tanyanya dengan tangan menopang dagu.


Ia merasa hubungannya dengan sang pacar sedikit janggal. Gadis itu sudah ia kenal selama kurang lebih 6 bulan. Dan baru dua bulan terakhir mereka resmi berpacaran.


Melihat gadis itu adalah orang yang pekerja keras dan mandiri, Jendra berniat untuk serius. Ia merasa gadis itu cocok untuk menjadi istri seorang pewaris seperti dirinya.


Namun, sepertinya hubungan mereka tidak seperti orang yang sedang berpacaran. Sama-sama sibuk menjadi alasannya.


Jendra dan gadis itu juga jarang memberikan perhatian satu sama lain. Hanya sesekali saling mengucap good nigth sebelum tidur.


Melani menatap Jendra sekilas lalu tertawa. "Saya Belum pernah merasakannya. Jadi, saya tidak tahu, Pak!"


"Ck!" Decak Jendra. "Dasar payah," umpatnya.


"Ayolah Mel, kamu pasti pernah merasakannya. Atau mungkin kamu pernah mendengar curhatan teman-teman kamu saat sekolah atau kuliah dulu."


Melani masih fokus pada layar komputernya. Ia tak peduli dengan bosnya itu. Yang terpenting saat ini, semua pekerjaannya selesai tepat waktu atau kalau tidak pria tampan di depannya ini akan mengamuk.


"Sayangnya saya tidak punya teman. Dan kalaupun ada, saya tidak pernah tertarik dengan kisah mereka, Pak," jawab Melani lugas.


"Tidak mungkin kamu tidak punya teman, Mel."


Melani tertawa. "Ada. Tapi, anggap saja tidak ada. Karena saya pernah hanya sekedar dimanfaatkan oleh orang yang mengaku sebagai teman."


Sebuah pengalaman pahit yang selalu menjadi pelajaran berharga baginya.


"Jadi, saya tidak akan mengakui siapapun sebagai teman saya kecuali... " fikirnya sejenak. "Kecuali bu Mona dan Kayla-mungkin."


Jendra mengerutkan kening. "Lalu teman-teman kamu saat masih di posisi bawah, sebelum jadi sekretaris?"

__ADS_1


Melani menyeringai. "Mereka hanya rekan kerja. Dan yang saya tangkap dari sikap mereka, semuanya menganggap pekerjaan ini sebagai persaingan untuk merangkak naik."


"Tak jarang saling menjatuhkan. Bermuka manis saat di depan dan menusuk saat di belakang."


Jendra diam saja. "Begitu kah?" tanyanya pada Melani.


"Ya, itu dulu sih. Sekarang kan sebagian dari mereka sudah dibasmi oleh pak Surendra," jawab Melani menyebut nama papanya Jendra.


Ya, Jendra tahu, sebelum dirinya menjabat sebagai CEO, papanya pernah memecat beberapa karyawan dan ada juga yang dipindah tugaskan. Ada juga yang diturunkan jabatannya.


Ternyata alasannya itu, sehingga mereka tidak kompak dalam pekerjaan karena yang mereka fikirkan hanyalah bersaing untuk mendapatkan jabatan lebih tinggi meskipun dengan cara tidak sehat.


"Kira-kira menurut kamu, tanda cinta kita berbalas apa Mel?" Jendra kembali menanyakan pertanyaan pertamanya.


Ia mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya diatas meja dengan otak yang sibuk memikirkan jawaban atas pertanyaan sendiri.


Melani menelisik wajah playboy yang sepertinya baru kali ini berhubungan dengan seorang gadis dengan memakai hatinya. Sedangkan selama ini, pria itu hanya menggunakan fisiknya saja.


*Inilah akibatnya kalau selama ini hanya memperlakukan perempuan sebagai mainannya tanpa memikirkan perasaan perempuan tersebut. Ya, anggap saja ini karma untuk anda, Pak.


Banyak gadis yang mengejar, tapi anda enggan. Dan sekarang, selamat mengejar gadis yang belum tentu menjadi istri anda itu*.


Jendra melengos saat Melani menyebut nama Kalandra dan Kayla. Pengantin dadakan yang menikah atas saran darinya. Ia bahkan tahu keduanya tidak saling mencintai.


Ternyata pernikahan bukan menjadi tanda bahwa perasaan cinta itu terbalas. Batin Jendra.


"Kalau seorang wanita dan pria dewasa sudah berani memutuskan untuk menikah, maka sudah dipastikan keduanya saling mencintai. Dan mereka percaya hidup mereka akan jauh lebih baik saat mengikat cinta dalam hubungan yang sah."


Jendra tersenyum miring. Dasar sok tau! Seandainya kamu tahu pernikahan antara Kalandra dan Kayla hanya sebuah kesepakatan, maka ku jamin pandanganmu terhadap cinta yang terbalas akan berubah seratus persen. Batin Jendra.


"Begitu, ya?"


Melani mengangkat bahunya. "Mungkin. Saya hanya mengira-ngira."


"Sejauh ini saya hanya mencintai diri saya, pekerjaan dan uang hasil jerih payah saya sendiri," lanjut Melani.


Jendra tertawa. "Sepertinya kamu tidak normal, Mel."


"Untuk apa mencintai uang? Kamu mau menikah dengan uang?"

__ADS_1


Melani tersenyum miring. "Bapak bisa tertawa karena belum pernah merasakan bagaimana rasanya kelaparan sebab tidak punya uang."


"Bapak belum pernah merasakan jalan kaki dari sekolah menuju rumah karena tidak punya uang untuk sekedar naik angkutan umum."


Jendra merasa tertohok. Sebagai anak tunggal yang digadang-gadang menjadi pewaris sejak usianya masih belia membuat Jendra tak pernah merasakan kesusahan sedikit pun.


But, wait!! Jendra pernah merasa kesusahan, yaitu saat harus lari dan menghindar dari pengawal pribadi yang selalu mengantar dan menjemputnya ketika sekolah dulu.


Untuk sekedar melipir dan makan bakso di warung depan sekolah saja ia kesulitan sangking ketatnya penjagaan.


***


Jendra merasa kesal karena tiba-tiba saja Kalandra meminta tambahan cuti untuk Kayla hingga satu minggu.


Ia bahkan belum menyetujui permintaan itu, tapi Kalandra sudah menutup panggilan secara sepihak.


"Dasar Kalandra! Selalu bersikap semaunya. Untung saja kamu sahabatku!" geram Jendra.


Ia ingin marah, tapi malas. Kalandra terlalu menjengkelkan jika diajak berdebat.


"Astaga! Jadi saya harus bekerja sendiri sampai weekend, Pak?" tanya Melani saat Jendra memberi tahu bahwa Kayla akan cuti selama satu minggu.


"Ya..." jawab Jendra singkat.


Jendra mengambil dompetnya dan meletakkan 10 lembar yang seratus ribu di atas meja Melani.


"Weekend nanti, pergilah ke salon!" perintah Jendra.


Melani mengerutkan kening. Apa aku sedang disuap agar tidak terus menggerutu?


"Saya lihat, kepala kamu mulai berasap," ucap Jendra dengan suara datar sebelum kembali masuk ke ruangannya.


"Oh Tuhan!" geram Melani mengepalkan kepalanya. "Dia fikir kepalaku ini radiator mobil yang kekurangan air?" gumamnya.


Tapi Melani melebarkan senyum mengambil uang diatas meja dan memasukkannya ke saku blazer.


"Lumayan, setengah untuk perawatan ke salon. Dan setengah lagi, untuk perbaikan gizi," ucap Melani sambil tertawa kecil.


"Makan malam selama beberapa hari ini pasti akan terasa nikmat." Melani senyum senyum sendiri membayangkan makan malamnya akan istimewa seminggu ini.

__ADS_1


__ADS_2