
Kedua pria itu melihat Jendra dengan seksama lalu kembali menatap Melani. Wajah keduanya seperti orang bod*h yang tengah kesulitan memahami apa yang ada di depan mata mereka. Mungkin karena pengaruh alkohol yang mereka minum.
"Wah, dia kan satu-satunya pria yang berhasil masuk ke apartemen mbak Melani!" seru salah satu pria itu saat menyadari wajah Jendra pernah ia lihat.
"Wah, hebat sekali dia! Bisa masuk ke dala unit misterius!" Yang dimaksud unit misterius adalah apartemen Melani yang memang tidak pernah menerima tamu sama sekali.
Mata Melani membulat sempurna. Bagaimana pria itu tahu kalau Jendra pernah masuk ke apartemennya?
"Hei ...! Kalian selama ini memata-matai saya?" tanya Melani geram. Ia menatap tajam kearah dua pria yang malah semakin terpesona dengan kecantikan wajah Melani saat sedang marah.
"Hahaha... mbak Melani makin cantik kalau jutek begini!" Gombalan khas anak bau kencur yang membuat asam lambungnya naik. Ia ingin muntah rasanya.
Melani melengos. Ia kesal dengan dua pria yang masih berstatus sebagai mahasiswa itu. Sebagai tetangga, tentu Melani sering bertemu mereka. Bahkan mereka kerap kali menggoda Melani. Entah dengan cara memuji atau bercanda untuk sekedar ingin membuat Melani kesal.
Jendra maju beberapa langkah hingga berdiri di samping Melani. "Kalian jangan pernah mengganggu dia!"
"Dia calon istri saya!" lanjut Jendra percaya diri.
Seketika Melani menatap pria yang mengaku-ngaku sebagai calon suaminya.
Kedua pria itu tertawa. "Selama janur kuning belum melengkung, siapapun bebas mendekatinya, om!"
"Saya bukan om kalian!" Jendra mendelik kesal saat ia dipanggil Om. Sementara Melani menutup mulutnya dengan jemari tangannya agar tidak terlihat kalau ia sedang menahan tawa.
Ya, dia memang pantas dipanggil Om. Om jelek kebelet kaw*in! Batin Melani puas mentertawakan Jendra.
"Dan dia-"
Melani menahan dada Jendra yang sepertinya juga mulai merasa geram. Pria itu tampak mengepalkan jemari tangannya.
"Biarkan saja!" ucap Melani pada Jendra.
"Kalau kalian bertindak melewati batas. Saya tidak akan segan untuk menjebloskan kalian ke penjara! Camkan itu!" Melani memberi ancaman dengan menuding keduanya.
"Ahhh! Aku ingin sekali masuk dalam penjara cinta mbak Melani!" salah satu pria itu malah semakin senang.
"Hei, aku juga ingin! Pasti sangat hangat dan penuh cinta ...."
Melani berdecak kesal karena keduanya mulai bicara ngelantur. Ia menarik kopernya dan meninggalkan dua pria, salah, tapi tiga pria itu. Dua pemabuk dan satu singa gil*.
"Dasar anak bau kencur! Mau dibawa kemana masa depan bangsa ini kalau penerusnya saja suka mabuk-mabukan?" ucap Jendra menatap tidak suka ke arah dua pemuda itu.
Padahal dirinya sendiri jauh lebih parah, suka berganti pacar. Tapi, ia malah mengomentari kelakuan orang lain.
Jendra berjalan cepat untuk menyusul Melani. "Mel, tunggu!" panggilnya.
__ADS_1
Jendra memegang tangan putih nan mulus itu, namun terasa dingin karena berada di luar ruangan ketika malam mulai beranjak naik ini.
Pegangan tangannya langsung ditepis oleh Melani."
"Ada apa lagi, Pak?" tanyanya dengan dagu terangkat seolah menantang Jendra yang tidak ada puasnya mengejar dirinya.
"Saya cuma mau bilang, kalau kamu tidak betah punya tetangga seperti mereka. Saya bisa mencarikan tempat tinggal yang nyaman untuk kamu."
Melani menatap mata pria yang sejak kemarin memintanya menjadi istri. "Selama ini saya bisa mengatasi semuanya sendiri, Pak. Anda tidak perlu repot-repot."
"Sebaiknya anda pulang, karena saya ingin segera masuk dan istirahat."
Jendra mengangguk. "Good night!" Jendra mengusap pucuk kepala Melani.
Melani masih mematung meski Jendra sudah menjauh. Sentuhan lembut di kepalanya membuat dirinya seketika terlena dengan perlakuan sederhana itu.
Melani menggeleng pelan, menepis fikiran aneh di kepalanya. "Bisa-bisanya aku hampir luluh hanya karena ucapan selamat malam dan sentuhan itu!" gumamnya.
Sementara itu, Jendra kembali menemui dua pria yang sempat mengganggu Melani.
"Kalian, jangan coba-coba mengganggunya lagi. Atau ... heeekk!" Jendra menggerakkan jemari tangannya melintang di leher, seperti sedang memotong.
Bukannya takut, keduanya malah tertawa meninggalkan Jendra di tempat itu.
"Sebenarnya yang tidak waras aku, atau mereka?"
"Pak, Mbak Melani tidak masuk hari ini!" Kayla melaporkan hal itu pada Jendra yang baru saja datang.
Melani mengirimkan pesan padanya beberapa menit yang lalu.
Jendra menghentikan langkah dan melihat ke arah meja Melani yang masih kosong padahal jam kerja sudah dimulai.
"Dia tidak mengabari saya."
"Mbak Melani sudah mengirimkan pesan, tapi sepertinya anda belum membacanya."
Jendra hendak masuk ke dalam ruangannya. Tapi, ia berhanti di pintu dan bertanya, "Jadwal saya kosong kan, Kay?"
Kayla mengangguk. "Kosong, Pak."
"Baik. Jika ada yang datang, tolong katakan kalau saya sedang tidak ingin diganggu."
"Kalau ada yang minta tanda tangan anda, bagaimana pak?"
"Simpan saja di meja kamu, saya akan periksa nanti."
__ADS_1
Jendra duduk di kursi kerjanya. Ia melihat ponselnya. Memang benar, Melani sudah mengirimkan beberapa pesan singkat sejak jam 6 pagi tadi.
Jendra mencoba menghubungi Melani dengan panggilan video untuk melihat wajah wanita yang mengaku sedang sakit itu.
Sementara itu, Melani yang tengah berusaha bangun dari tempat tidur dikagetkan dengan suara ponselnya yang bergetar.
"Pak Jendra? Mau apa dia?" gumam Melani saya melihat nama Jendra yang muncul di layar.
Melani berbaring dan merapikan rambutnya.
"Hei, kamu belum bangun?" Suara yang pertama kali ia dengar saat melihat wajah tampan itu muncul di layar ponselnya.
Melani menggeleng. "Ada apa, Pak?"
"Saya sudah izin."
"Tapi, saya belum memberi izin," balas Jendra cepat.
Melani menghela nafas. Ia menjauhkan ponselnya. "Saya sedang sakit, Pak. Saya bahkan belum turun dari tempat tidur!"
Melani sengaja menjauhkan ponselnya agar Jendra bisa melihat dirinya yang masih memakai piyama tidur.
"Jangan menggoda saya, Mel!"
Melani melengos. "Saya hanya ingin anda melihat kalau saya masih berbaring di atas ranjang."
"Tapi da*da kamu terlihat!"
Melani membulatkan mata, lalu ia memeriksa kancing piyamanya. Melani bernafas lega karena tidak ada kancing baju yang terbuka.
"Hahaha ...." Terdengar suara Jendra yang tengah terbahak mentertawakannya.
"Jika saya melihatnya, saya justru akan diam saja, Mel!" ucap Jendra di sela tawanya.
Melani merasa geram. "Saya mau istirahat, Pak!". Ia mengakhiri panggilan itu.
Melani tidak sedang berpura-pura sakit untuk menghindar dari Jendra. Tapi, ia memang benar-benar sedang sakit.
Dengan sedikit sempoyongan, Melani akhirnya sampai di dalam kamar mandi. Ia hanya membasuh wajahnya dan tidak ingin mandi.
Melani sedang memasak di dapur. Hanya memanggang roti dan meletakkan telur ceplok diantara dua lembar roti. Sarapan sederhana yang sudah biasa ia nikmati.
Melani mendengar seseorang mengetuk pintu apartemennya setelah ia selesai sarapan.
Melani membuka pintu itu dan matanya membulat sempurna saat melihat Jendra dan security sedang berada di depan matanya.
__ADS_1
Bagaimana bisa Jendra datang ke apartemen ini tanpa access card? Tentu dengan bantuan security. Lalu alasan apa yang membuat Jendra bisa meminta security untuk mengantarkannya?