Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 109 S2 Rencana Pernikahan


__ADS_3

Melani melihat kearah pintu dimana pria bertubuh pendek dan dua wanita yang berjalan di belakangnya baru saja keluar dari ruang meeting.


Melani tak menduga, Jendra bisa menahan emosinya. Singa gil* itu bisa bermain santai tanpa mengeluarkan otot lehernya.


"Apa tidak masalah, kalau kita tidak menerima tawaran kerja sama dengan perusahaannya, Pak?" tanya Melani pada Jendra.


"Tidak. Kita tidak perlu berteman dengan pria licik sepertinya," balas Jendra yang bersandar di kursi.


"Maksud saya, apa penolakan ini tidak menimbulkan masalah baru?" Jujur saja, Melani merasa khawatir karena pria itu terlihat licik. Mereka bahkan meeting tanpa staff yang lain. Bukan tanpa alasan, Jendra tidak ingin ada yang tahu soal masalah ini.


"Kamu mau kalau aku terjerat kasus hanya karena bisnisnya, Sayang?"


Melani menggeleng. "Tapi, sepertinya dia tidak akan berhenti, Pak!"


"Mas. Panggil aku Mas kalau tidak ada siapapun sayang!"


"Ehm, iya." Melani menipiskan bibir.


"Dia tidak akan berani karena aku akan menghancurkan semua bisnisnya sampai ke akar!"


Sepanjang meeting, bukan kerja sama biasa yang mereka bahas. Pria itu meinta Jendra membantu melancarkan bisnis ilegalnya.


Jendra jelas menolak, tapi pria itu mengancam akan menyebarkan berita mengenai kelakuannya yang sudah meninggalkan banyak wanita.


Pria itu juga mengancam akan memunculkan wanita-wanita itu ke media.


Jendra balas mengancam dengan menunjukkan bukti yang dia punya. Jendra juga berjanji akan mengeluarkan bukti lain sampai pria itu tidak berkutik lagi.


***


"Kita akan menikah dalam waktu dekat!" Jendra duduk di sofa di dalam apartemen Melani. "Jadi, sepertinya kamu harus menikmati detik-detik terakhir tinggal di kotak mi instan ini, Mel."


Sementara Melani tengah mengambil minum di dapur. Jarak mereka tidak terlalu jauh sehingga suara Jendra terdengar begitu jelas.


Melani tertawa. "Enak saja menyamakan apartemen ini dengan kotak mi instan. Aku membelinya pakai uang hasil kerja kerasku, Mas. Itupun belum lunas. Hahaha!"


Ya, dia masih punya hutang pada perusahan yang ia cicil setiap bulan. Bukannya sakit hati, Melani malah terbahak. Sepertinya ia mulai terbiasa dengan mulut pedas yang suka sekali bercanda itu.


"Aku hanya bercanda sayang!"


"Aku rasa, dua minggu lagi adalah waktu yang tepat!"


"Tidak mendadak juga, Mas. Semua butuh persiapan."


"Aku bisa melakukannya dalam seminggu!"


"Kamu tidak ingin bertemu orang tuaku dulu, Mas?" tanya Melani yang saat ini sudah duduk di sampingnya.


"Kamu punya orang tua, Mel?" tanyanya yang merasa terkejut. Jendra bahkan mengubah posisi duduknya hingga ia bisa menatap wajah Melani.


"Dimana?"


"Tentu aku ingin bertemu dengan mereka."

__ADS_1


Melani tertawa pelan. "Bukan ayah dan ibuku, Mas. Hanya ibu panti dan suaminya yang sudah ku anggap sebagai orang tuaku sendiri."


"Kita kesana ya, kapan-kapan?" ajak Melani.


Jendra segera mengangguk. "Boleh."


Jendra memang belum sempat datang ke panti asuhan yang Melani maksud. Bukan karena tidak ingin, tapi memang saatnya yang belum tepat.


Jendra mengusap rambut Melani. Ia merasa sedih melihat ekspresi Melani yang menyimpan kesedihan. Gadis itu pasti sering mengalami kesulitan semasa hidupnya.


Jendra meletakan tangannya di pipi Melani dan mengusapnya pelan. "Mulai sekarang, kamu tidak akan sendiri lagi, Mel."


"Aku juga akan memberikanmu sosok mama dan papa. Mereka pasti senang saat tahu hubungan kita."


Melani terkejut dan membulatkan mata. "Mereka belum tahu, Mas?"


Jendra menggeleng. "Aku akan membuat mereka terkejut, nanti."


"Kita akan menikah disini, dan resepsi di dua tempat, yaitu di kota ini dan di kota tempat tinggal orang tuaku."


Melani mengerutkan kening. "Apa tidak terlalu berlebihan, Mas?"


Ia tidak pernah memimpikan pernikahan super mewah bahkan hingga dilakukan di beberapa tempat.


Jendra menggeleng. "Tidak."


"Kamu tidak takut mantan-mantan kamu bekerja sama untuk menghancurkan pernikahan kita?"


Jendra tertawa. "Akibat terlalu banyak menonton sinetron!" Jendra menarik hidung mancung gadis itu.


Melani tertawa. "Aku hanya khawatir, Mas. Pernikahan sekali seumur hidup yang harusnya berlangsung khidmat malah hancur berantakan akibat serangan para mantan."


"Pintar sekali kamu bicara, Mel!" Jendra geram. Ia menangkup pipi Melani dan mencubitnya pelan.


"Lepaskan, Mas!" rengek Melani memegang tangan Jendra.


Ia melepaskannya. "Makanya, jangan menyusun kata-kata segitu rapihnya hanya untuk mengatakan kalau aku punya banyak mantan yang masih menyimpan dendam, Sayang!"


Melani menutup mulutnya agar tawanya tidak pecah. "Jika aku tidak pintar, mana mungkin kamu menjadikanku sebagai sekretaris, Mas."


"Dan, kamu tidak mungkin mempercayakan aku untuk menghandel mantan kamu yang silih berganti datang ke kantor."


Jendra memajukan bibir bawahnya. "Aku bukan pria baik-baik ya, Mel?"


"Pasti hal itu yang sempat membuat kamu ragu padaku."


Melani tersenyum kecil dan menggeleng. "Kita sudah bersama sekarang. Masa lalu kamu tetap menjadi milik kamu. Begitu juga denganku, Mas."


"Tapi, Masa depan adalah milik kita berdua!"


"Ahhhh!" Jendra mendesah dan menjatuhkan kepalanya di bahu Melani.


"Jangan membuatku meleleh, Sayang!"

__ADS_1


Melani tertawa sampai bahunya terguncang. "Masa iya, penggombal bisa tersipu saat sedang digombalin?"


Jendra menatap Melani. "Casingku memang buaya Mel, tapi hatiku tetap hellokitty."


Melani kembali menutup mulutnya. Tidak disangka, pria yang biasanya bersikap jutek, judes dan galak di depannya ini bisa tertawa juga. Bahkan bisa bercanda pula.


"Ini aslinya kamu, Mas?" tanya Melani yang seketika membuat Jendra mematung.


"Ini aslinya kamu? Ceria, suka bercanda dan mudah tertawa?"


"Mengapa selama ini, aku lebih sering melihat kamu menekuk wajah, murung, dan suka marah-marah?"


"Sangat berbeda dengan yang ku lihat sekarang?" Melani meletakkan telapak tangannya di kepala Jendra, tepatnya di dekat telinga. Melani mengusap pelipis Jendra yang masih di plaster dengan ibu jarinya


Jendra menunduk dan tersenyum kecil. "Apa begitu kentara, Sayang?"


Melani mengangguk.


"Entahlah, aku kadang merasa lelah dengan hidupku."


"Jadi, nakalnya aku, mungkin hanya bentuk pelarian dari kepenatanku."


"Kamu tahu, Mel. Aku pewaris Dewandaru Grup. Satu-satunya pewaris."


Melani mengangguk. Ia membiarkan Jendra bercerita. Mungkin pria itu memang butuh seseorang untuk sekedar mendengar ceritanya.


"Sejak kecil, hidupku sudah diatur. Mungkin lebih terlihat seperti tabel. Semua sudah diatur sedemikian rupa. Aku hanya punya waktu sedikit dan hanya punya sedikit kesempatan untuk menikmati hidupku."


"Hingga aku dewasa, papa memang mengarahkan aku untuk memegang perusahaan."


"Makanya diusia 25 tahun, Papa menjadikanku sebagai CEO."


"Papa mundur dari dunia kerja. Papa hanya mengatur dari jauh!"


"Aku hidup sendiri setelah mereka tinggal di Bali."


"Aku tidak marah dan menyalahkan mereka. Justru aku senang bisa membuat orang tuaku bahagia di hari tua mereka."


"Aku senang melihat mereka saling mencintai hingga tua. Aku senang mereka punya quality time yang lebih banyak."


"Tapi, aku malah salah arah saat merasa lelah dengan keseharianku."


"Aku salah mencari pelarian. Jika Kalandra yang lebih memilih masuk ke gym aku malah masuk ke club." Jendra dan Melani tertawa bersama.


"Setelah menikah, ku harap kebiasaan itu tidak terbawa-bawa lagi, Mas."


Jendra mengangguk. "Sudah beberapa bulan aku tidak ke sana lagi, Mel!"


"Sudah benar-benar tobat, Mas?"


Jendra mengangguk. Ia meraih tangan Melani dan menciumnya satu persatu. "Pegang tanganku terus sayang, agar aku tidak khilaf dan nyasar ke sana lagi!"


"Atau penjarakan saja aku dalam penjara cinta kamu!"

__ADS_1


Jendra teringat kata-kata dua pria yang merupakan tetangga Melani.


__ADS_2