Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 43 Rumah Reyga


__ADS_3

Malam ini, Kayla akan tetap ikut ke rumah Reyga dan Gia karena rasa sakit di perutnya sudah mulai membaik.


Oma dan Riana juga ikut ke sana atas perintah Kalandra. Ia tak ingin Reyga merasa terbuang karena tidak tinggal serumah lagi dengan mereka.


Kalandra juga ingin memperbaiki hubungan antara dirinya dan Reyga, juga antara Reyga dan mama Riana.


Kalandra tahu bahwa sebenarnya Reyga tidak membenci Riana, hanya saja adiknya lebih banyak diam dan memendam perasaannya. Menerima saja saat diharuskan menikahi Gia yang malam itu sama sekali tidak ia sentuh.


"Sini, biar ku bantu!" ucap Kayla saat Kalandra kesulitan memasang kancing di lengan kemejanya.


Pria itu tampak beberapa kali mencoba dan terus gagal. Jarinya yang besar dan kancing yang terlalu kecil membuatnya sedikit kesulitan.


Kalandra menyodorkan kedua tangannya kearah Kayla. Keduanya berdiri di depan cermin rias karena Kayla memang baru saja selesai.


"Lubang kancingnya terlalu sempit, makanya sedikit lebih sulit!" ucap Kayla.


"Ya, mungkin karena ini masih baru," balas Kalandra yang sedang melihat Kayla mengancingkan lengan kemejanya.


"Ehm... Sudah selesai!" ucap Kayla. Ia melihat penampilan Kalandra dan tersenyum kecil.


"Sekalian, ku rapikan." Kayla mengulurkan tangannya dan merapikan kerah kemeja Kalandra.


Kalandra diam mematung karena wajah gadis itu sangat dekat dengannya.


Mengapa aku deg-degan begini? Dan mengapa gadis ini terlihat cantik malam ini? Batin Kalandra.


Kayla menata rambutnya dengan rapi. Bagian samping rambutnya ia tarik ke belakang dan ia jepit dengan bobbypin. Bagian bawah rambutnya ia buat sedikit curly.


"Sudah!" Kayla tersenyum memandang wajah Kalandra dan semua penampilannya.


"Ganteng!" puji Kayla tanpa sadar.


Dan saat melihat Kalandra mengerutkan kening, Kayla terkesiap.


"Ayo pergi!" ajaknya gugup. Kayla berusaha mengalihkan perhatian Kalandra yang sepertinya sangat terkejut denga dirinya yang seolah sedang terpesona saat melontarkan pujian.


Kalandra tertawa tanpa suara. Ia berjalan mengikuti Kayla yang memanjangkan langkah meninggalkannya.


"Kalian ingin ke rumah Reyga atau ingin dinner romantis?" tanya Oma dengan senyum jahil.


Kayla yang sudah berada di lantai bawah sementara Kalandra masih ditengah-tengah anak tangga terkejut dengan pertanyaan Oma.


"Ke rumah Reyga, Oma," jawab Kayla.


"Tentu ke rumah Reyga!" jawab Kalandra bersamaan dengan Kayla.


Oma tersenyum. "Ternyata kalian sangat kompak. Menjawab dengan kompak, dan memakai pakaian dengan warna yang sama."

__ADS_1


"Kalian sungguh sweet sekali." Oma tertawa dan berjalan lebih dulu keluar rumah.


"Hati-hati, Ma." Riana membantu Oma saat melewati beberapa anak tangga di teras rumah.


Oma tak menolak saat Riana menuntun dengan memegangi tangannya. Oma menganggap itu sebagai bentuk rasa khawatir yang Riana rasakan untuknya.


Sebenarnya Oma masih belum bisa menerima kenyataan yang terjadi karena Riana bermain api dengan Leo, pria yang sedang memasuki tahap sidang di pengadilan itu.


Tapi, Oma juga tidak bisa menyalahkan Riana sepenuhnya karena seorang ibu pasti rela melakukan apapun demi anak-anaknya meskipun harus dibenci anak sendiri.


Riana terlambat menyesali semuanya. Hingga ia harus menerima resiko diacuhkan anak sendiri selama bertahun-tahun.


Dan sekarang, sudah saatnya Riana, Kalandra, Reyga dan Oma memulai semuanya dari awal. Memulai hubungan baru lagi dan melupakan benang kusut yang perlahan mulai terurai.


Kalandra merangkul bahu Kayla. "Ayo! Malah melamun." Kalandra membawa Kayla untuk keluar dari rumah.


"Anggap saja ini hanya kebetulan!" ucap Kalandra karena Kayla sepertinya masih speachless mendengar ucapan Oma.


Kayla mengangguk sambil tersenyum canggung saat menyadari wajah mereka sangat dekat. Wangi parfum Kalandra menusuk indera penciumannya.


Kayla tersadar saat pintu mobil sudah dibuka dan ia dipersilahkan masuk.


Mereka segera pergi menuju rumah Reyga. Mobil itu tidak akan singgah kemana pun karena Riana sudah membawa banyak makanan yang diletakkan di kursi belakang di dalam mobil itu.


Sepanjang perjalanan, Kayla melirik Kalandra selama beberapa kali. Tapi, semakin dilirik, maka semakin berdebar pula jantungnya.


Kenyamanan itu pernah ia rasakan dulu. Dan setahun terakhir kenyamanan itu hilang seiring dengan kepergian sang ayah.


Ayah...


Mengapa rangkulan itu sama seperti saat ayah mengajakku makan nasi goreng di warung pinggir jalan untuk merayakan keberhasilanku masuk dalam perusahaan Dewandaru.


Kayla masih mengingat momen itu dengan jelas. Tiga tahun lalu, saat ia mulai bekerja di perusahaan Dewandaru dan menjadi suatu kebanggaan tersendiri untuk ayahnya.


Ayah...


Ayah pernah bilang, kelak aku harus mencari suami yang bisa membuatku nyaman seperti saat aku sedang bersama ayah.


Ayah pernah bilang, kalau aku terlalu berharga untuk disakiti pria manapun. Hingga ayah melarangku untuk berpacaran disaat aku belum siap.


Ayah...


Kelak, jika aku tersakiti karena seorang pria, apa aku bisa mengadukannya pada Ayah?


Ayah...


Saat ini, aku sedang bermain api dengan pernikahan kontrak ini, yah. Sepertinya aku mulai nyaman saat bersama pria yang akan menceraikan aku kelak.

__ADS_1


Ayah...


Jika kelak aku tersakiti karena pilihanku ini, maka maafkan aku ayah. Aku tidak bisa menjaga diri dan hatiku sendiri.


Kayla mengusap pipinya yang basah. Ia menatap ke samping agar Kalandra tak melihatnya. Tapi terlambat, pria itu sudah melihatnya.


Mereka tiba di rumah Reyga. Dengan ramah Gia menyambut kedatangan mereka.


"Masuk, ma!" ajak Gia ramah. Ia sedang belajar untuk menjadi istri Reyga. Belajar menerima kenyataan bahwa Kalandra tak bisa ia raih.


Semua orang masuk ke dalam rumah, mereka makan malam bersama dan Reyga berbincang setelahnya.


"Gia mulai bekerja di restoran," ucap Reyga pada keluarganya.


Riana terkejut karena biasanya Gia hanya memikirkan kuku-kuku cantiknya. "Gia bekerja?"


Gia mengangguk saat Riana melihat ke arahnya. "Ya, aku mulai bekerja."


"Sebagai apa?" tanya Riana.


"Dia hanya membantu memeriksa laporan dari sekretarisku," jawab Reyga.


Kalandra dan Kayla tersenyum senang karena sepertinya sudah banyak kemajuan yang terjadi pada hubungan suami istri itu. Mereka tampak berinteraksi dengan baik. Bicara kayaknya suami istri meski masih tampak kaku.


"Aku sedang mempersiapkan cabang baru restoranku," lanjut Reyga.


Semua orang mendadak mematung. Selama ini semua orang tahu, Reyga tidak ingin membangun cabang baru. Pria itu tidak ingin menjadi kaya seperti Papa dan Kalandra.


Kayla tak kalah kaget karena pria itu pernah mengatakan padanya tidak akan membuat cabang baru.


"Ada yang mengatakan padaku, kalau aku terlalu takut untuk bermimpi," ucap Reyga disertai tawa kecil.


Ia ingat, malam itu, Kayla mengatakan padanya bahwa ia takut bermimpi. Memang benar, baginya semakin tingi pohon, maka semakin kencang angin yang menerpa.


"Siapa?" tanya Kalandra. "Apa kah Oma?"


Reyga menggeleng.


"Apakah Gia?" tanya Kalandra lagi. Tapi, Reyga belum menjawab dan Kalandra malah melanjutkan ucapannya.


"Jangan katakan kalau yang mengatakan itu adalah dia." Kalandra menunjuk Kayla yang seketika membulatkan matanya.


Reyga tertawa dan menggaruk tengkuknya. "Rahasia, Kak!"


Sementara itu, Kayla hanya tersenyum kecil. Mengapa tebakannya benar, sih?


"Kalau butuh apapun jangan sungkan, Rey. Katakan apapun yang kamu butuhkan. Aku akan support."

__ADS_1


"Iya Kak," jawab Reyga. "Sejauh ini aku masih bisa meng-handle semuanya sendiri."


__ADS_2