Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 97 S2 Memasak


__ADS_3

Melani dan Jendra tiba di sebuah rumah sederhana namun memiliki halaman yang lumayan luas. Seorang pria membukakan pintu gerbang sehingga mobil yang ditumpangi mereka bisa masuk ke halaman yang lumayan luas itu.


Melani dibuat takjub dengan rumah yang didominasi material kayu itu. Dan sekeliling rumah tampak asri karena banyaknya tanaman yang terawat dengan baik.


"Ayo turun, Mel."


Jendra membawa tas ranselnya yang berukuran kecil dan membantu membawakan koper Melani. Pria itu memang tak membawa meski hanya sepasang pakaian ganti, karena pakaiannya sudah tersedia lengkap di rumah ini.


Melani melihat Jendra yang mengambil kunci rumah di sebuah pot tanaman yang digantung di teras rumah.


"Papa dan mama tidak pernah membawa kunci rumah ini. Tempat ini menjadi penyimpanan paling aman bagi mereka," ucap Jendra disertai tawa saat melihat Melani terheran-heran.


Jendra membuka pintu dan mempersilahkannya masuk. "Kamu saya antar langsung ke kamar saja, ya Mel."


Jendra berhenti di depan sebuah pintu kamar yang masih tertutup. "Ini kamar kamu." Jendra membuka pintu kamar dan tampak sebuah ranjang dengan sprey berwarna putih bermotif dedaunan.


"Tidak ada kamar mandi di kamar ini, Mel. Kamu bisa pakai kamar mandi di sebelah." Jendra menunjuk kamar mandi yang letakknya sejajar dengan dapur.


"Hanya di kamar mama dan papa yang ada kamar mandinya."


"Ini kamar saya!" Tunjuk Jendra pada kamar di sebelah kamar Melani.


"Jika butuh apapun, silahkan bilang saja."


Jendra masuk ke dalam kamarnya. Ia mengambil pakaian ganti dan menyampirkan handuk di bahunya.


Ia segera mandi karena Melani pasti juga akan menggunakan kamar mandi.


Benar saja, saat ia baru keluar dari kamar mandi, tampak Melani yang sedang duduk menunggunya di dekat dapur, tepatnya di meja makan dengan memangku pakaian ganti yang akan gadis itu pakai nanti.


"Kenapa tidak menggedor pintunya, Mel?" tanya Jendra.


Melani terkesiap dan menatap Jendra yang tampak fresh dengan rambut basahnya.


"Sa-saya belum lama menunggu kok, Pak!"


Melani segera masuk ke dalam kamar mandi karena merasa canggung melihat Jendra.


Entahlah, ia belum terbiasa melihat Jendra dengan pakaian rumahan padahal sudah beberapa kali ia bertemu Jendra tanpa mengenakan pakaian formal.


Melani mengguyur kepalanya dan mandi dengan perasaan tak menentu. Ia heran, selama ini ia mengira orang tua Jendra hidup disebuah rumah mewah dengan fasilitas yang tak kalah mewah pula. Tapi nyatanya, rumah dengan halaman luas ini malah terlihat sederhana. Hanya sebuah rumah kayu dengan banyak jendela besar yang terbuat dari kaca.


Tidak ada asisten rumah tangga yang tinggal di rumah ini. Itu juga yang membuat Melani semakin heran. Melani memang tak banyak mengetahui mengenai kehidupan orang tua Jendra.


Setelah mandi, ia menyisir rambutnya dan memakai bedak tipis di wajahnya. Melani berbaring sebentar, lalu keluar dari kamar saat mendengar ada seseorang yang memasak di dapur.


Ia melihat punggung tegap dan kekar dengan balutan kaos putih polos sedang sibuk di depan kompor.


"Anda sedang apa, Pak?"

__ADS_1


Suara Melani membuat Jendra terkejut. Ia berbalik melihat kebelakang lalu tersenyum kecil.


"Saya sedang memasak, Mel!"


Jendra kembali melanjutkan aktivitasnya. Melani berjalan menuju tempat dimana Jendra berdiri. Gadis yang memakai celana jeans selutut dengan kaos oblong itu melihat apa yang sedang Jendra masak.


"Ayam goreng?" tanya Melani saat melihat Jendra tengah membolak balik ayam berselimut tepung yang lumayan tebal.


"Ya, ayam goreng tepung," jawab Jendra yang meminta Melani sedikit bergeser karena pria itu akan membuat sambalnya.


Jendra mengupas bawang dan meletakkannya di mangkuk bersama cabai dan tomat yang sudah disiapkan lebih dulu.


Terlihat juga potongan buah timun di dalam mangkuk kecil.


"Kamu ingin makan ini atau saya pesankan makanan, Mel?" tanyanya.


Melani membantu menggoreng ayam yang sudah mulai matang itu.


"Saya makan ini saja, Pak. Tidak apa-apa, kan?"


Jendra mengangguk. "Saya juga sudah memasak nasi."


"Semoga saja segera matang dan kita bisa langsung makan."


"Disini benar-benar tidak ada asisten rumah tangga, Pak?" Melani bersandar di pantry sambil menunggu ayam yang digorengnya matang.


"Urusan masak-memasak, mama melakukannya sendiri."


"Itu kebun sayuran, Pak?" tanya Melani saat melihat beberapa baris tanaman hijau di halaman belakang.


"Ya, disana ada beberapa jenis sayuran, ada juga pohon tomat, cabai, beberapa tanaman rimpang lainnya."


Melani menggeleng lemah dan tertawa pelan. "Orang tua anda benar-benar menikmati hari tua dengan cara sederhana, Pak. Tapi, sangat mengesankan bagi saya."


"Begitulah, Mel. Ini semua pilihan mereka. Sampai perusahaan saya yang mengendalikan sendiri."


"Papa ingin hari tuanya dihabiskan bersama mama."


Melani mengangguk. "Terlihat jelas sekali kalau orang tua bapak saling mencintai."


Melani tersenyum kecil menatap Jendra. "Anda sangat beruntung."


Jendra melihat raut kesedihan di wajah Melani. Ia merasa kasihan karena gadis itu tumbuh tanpa orang tua.


"Kamu benar, Mel. Saya sangat beruntung."


Melani meniriskan ayam goreng diatas tissu agar tidak terlalu berminyak. Ia juga menggoreng bahan yang akan dijadikan sambal.


Melani mengambil alih, ia mengulek sambal dengan cobek yang terbuat dari batu dengan cekatan.

__ADS_1


"Mengapa kamu tidak segera menikah, Mel?"


Pertanyaan itu membuat Melani menatap Jendra yang tengah bersandar di pantry dan juga tengah menatap dirinya.


Melani tertawa. "Mengapa tiba-tiba bertanya begitu?" Melani kembali menghaluskan sambal.


"Karena saya lihat, kamu bisa memasak."


Melani tertawa. "Bisa memasak bukan menjadi satu alasan untuk seorang wanita pantas untuk menikah, pak."


Jendra ikut tertawa. "Ah, iya. Tapi, biasanya wanita akan belajar memasak, jika ia akan berencana menikah dalam waktu dekat, Mel."


Entah mendapat informasi dari mana sehingga Jendra bisa mengambil kesimpulan seperti itu.


Melani lagi-lagi tertawa dibuatnya. "Mungkin itu berlaku untuk pacar-pacar bapak. Mereka kan kaum sosialita, yang saat ingin makan sesuatu hanya perlu memesan atau mungkin minta dibuatkan oleh asisten rumah tangga mereka."


"Jadi, saat akan menikah, mereka baru belajar untuk memasak."


"Kalau orang-orang seperti saya, tidak bisa seperti itu, Pak. Jika ingin makan, ya masak sendiri. Jika tidak ingin repot, ya tinggal beli."


"Tapi kamu sudah cocok jadi seorang istri."


Melani menatap Jendra yang sepertinya merasa telah salah bicara.


Melani mengangkat bahunya. "Saya belum menemukan pria yang ingin menjadikan saya sebagai istri."


"Tapi, kamu sudah menemukan seorang ibu yang ingin menjadikanmu sebagai menantunya, Mel."


Melani jadi salah tingkah karena ia yakin, ibu yang dimaksud Jendra adalah Jenar.


"Apa nasinya sudah matang, Pak?" tanya Melani mengalihkan pembicaraan.


Jendra pun seketika melihat ricecooker. "Sudah Mel. Kita makan sekarang?" tanyanya.


Melani mengangguk.


Jendra mengambil piring di laci dan segera mengisinya dengan nasi yang masih panas.


"Kamu tidak sedang diet kan, Mel?"


Melani menggeleng. "Saya makan banyak saja tidak kunjung gemuk, untuk apa saya diet, Pak?"


Jendra tertawa. "Kadang ada tipe orang yang minum air putih saja bisa berubah menjadi lemak, begitu masuk ke dalam tubuhnya."


Melani tertawa. "Siapa yang mengatakan seperti itu, pak?"


"Mona."


Melani tertawa. Wanita beranak dua itu memang memiliki tubuh yang lumayan berisi. Tapi, apa yang dikatakannya juga tidak benar.

__ADS_1


__ADS_2