
"Byur!"
"Uhuk... uhuk."
Melani menyeburkan air putih dalam mulutnya yang baru saja ia teguk dan akhirnya ia terbatuk.
Ia tengah membaca pasan dari Jendra yang baru saja ia terima beberapa detik yang lalu.
[Saya ingin bicara. Jemput saya di bawah. Saya ingin naik!]
"Untuk apa Pak Jendra minta naik ke sini?"
Melani ingin membalas pesan itu, tapi ia urungkan niatnya. Ia memilih untuk turun ke bawah, menjemput pria yang membuat moodnya naik turun dengan cepat sejak kemarin malam.
Pria yang seharian ini tidak mengajaknya bicara sama sekali. Kini malah mau bicara dan mengapa di dalam apartemennya pula.
Melani menghela nafas saat melihat pria dengan hoodie dan jeans selutut itu tengah memasukkan kedua tangannya di kantung depan hoodie yang pria itu pakai.
"Ada apa, Pak?"
Jendra berbalik dan melihat Melani. Ia melihat gadis itu dari atas ke bawah.
"Kamu belum mandi?" tanya Jendra saat melihat Melani masih memakai rok pensil selutut dan blazer gadis itu sudah berganti dengan sweater yang ukurannya sangat besar. Tubuh ideal Melani seperti tenggelam.
"Belum," balasnya. Setelah pulang dari kantor, ia malah sibuk membereskan koper yang belum sempat ia bereskan kemarin malam.
Ia juga membereskan rumah yang ia tinggalkan selama dua hari itu. Ia juga memilah barang-barang yang akan ia bawa ke panti.
"Saya sibuk membersihkan rumah. Ada apa, Pak?"
"Kamu sudah selesai membereskan rumah?" tanya Jendra.
Melani mengangguk. "Ya, baru saja, Pak."
"Saya mau bicara." Jendra melihat ke kanan dan kiri. "Di unit kamu saja!"
Melani mengerutkan kening. "Tidak bisa disini saja?"
Jendra melihat sekitar yang lumayan ramai. Ia tidak ingin ada yang mendengar percakapan mereka.
"Saya ingin hanya berdua. Atau saya pesan ruang VVIP di restoran terdekat?" Jendra mengeluarkan ponsel dari kantong jaketnya.
"Tidak perlu!" sahut Melani cepat.
"Sebentar saja, jangan lama-lama. Saya tidak pernah menerima tamu apalagi seorang pria," ucap Melani seraya berjalan ke petugas keamanan untuk melapor bahwa ia menerima tamu.
Jendra segera menyusul Melani. Ia tak mengatakan apapun. Dan tak butuh waktu lama, mereka tiba di unit apartemen milik Melani.
"Silahkan masuk, Pak! Dan silahkan duduk." Melani langsung berjalan menuju dapur. Ia membuka lemari es dan membawa dua kaleng minuman dingin.
"Kamu ingin mandi dulu?" tanya Jendra.
Melani menggeleng. "Katakan anda mau apa? Karena saya ingin segera beristirahat." Melani menggerakkan lehernya, seolah merasa pegal.
Melani dan Jendra duduk berhadapan. Jaraknya tak terlalu jauh, hanya ada meja diantara keduanya.
Jendra menatap Melani yang malah terlihat canggung. Gadis itu tampak menatap tak tentu arah dan berkali-kali mengusap tengkuknya.
Apa baginya kehadiranku di apartemen ini seperti makhluk halus yang akan mengganggu? Batin Jendra.
__ADS_1
"Ehm, Mel!"
"Sebenarnya kedatangan saya ke sini untuk meminta maaf atas kesalahan saya kemarin malam."
Melani seketika menatapnya dengan mulut sedikit terbuka.
Se-xy sekali! Itulah yang ada dalam fikiran Jendra. Tapi, ia harus tetap waras demi meminta maaf pada sekretarisnya itu.
"Saya tahu, saya salah!" ucapnya sungguh-sungguh.
"Semua terjadi begitu saja, Mel."
"Saya sendiri tidak tahu kenapa bisa."
"Dan satu hal yang perlu kamu tahu, saya sangat menyesal."
Melani menghela nafas. Ia menatap tajam kearah Jendra. Mudah sekali ia meminta maaf sementara hatiku masih belum terima. Singa gil* suka mencuri. Julukan apa lagi yang pas untuknya? Batin Melani masih kesal.
"Please, maafkan saya, Mel!"
"Saya pastikan itu yang pertama dan terakhir!"
Melani masih berat untuk memaafkan Bosnya itu. Entahlah, ia mungkin berlebihan. Marah hanya karena sebuah cium*an.
"Mel, tolong jangan seperti ini!"
"Saya tidak ingin kamu marah pada saya dan berdampak pada pekerjaan!"
Melani semakin kesal. Dari ucapan Jendra, dia mengartikan bahwa Jendra menganggapnya tidak profesional dengan mencampur adukkan perasaannya dengan pekerjaan.
"Saya masih bisa bersikap profesional, Pak. Jika bapak datang hanya untuk mengkhawatirkan kinerja saya, lebih baik bapak kembali saja ke rumah!"
"Bu-bukan begitu, Mel!" Jendra mulai kelabakan. Melani malah salah faham.
"Saya bukan memikirkan pekerjaan, tapi saya memikirkan perasaan kamu!"
"Saya hanya khawatir kamu bekerja dengan perasaan tidak nyaman. Saya takut, jika kamu tidak bekerja dengan baik, maka petinggi perusahaan yang lain malah meminta saya memberikan kamu peringatan atau mungkin menggantikanmu dengan orang lain."
Melani mengangguk. "Saya tidak akan sebodoh itu, Pak!"
Jendra menghela nafas, "Jadi, tolong maafkan saya."
Melihat Melani yang membuang muka dan masih belum menjawab, Jendra yakin ia belum dimaafkan.
"Kamu boleh minta apapun yang kamu mau?"
Melani seketika menatap Jendra lagi.
"Apapun itu, saya akan berikan asal masih masuk akal."
"Kamu ingin apa? Saya antar jemput selama sebulan? Ingin bonus akhir bulan? Ingin cuti? Ingin liburan? Katakan saja!"
"Saya ingin memukul seluruh tubuh bapak, sampai tangan saya terasa pegal. Sampai hati saya terasa puas dan sampai sesak di dada saya karena ulah bapak bisa terlampiaskan."
Jendra membulatkan matanya. Apa aku bisa keluar dari apartemen ini dengan keadaan utuh jika permintaannya seaneh itu?
"Bagaimana? Simple kan?"
"Kamu yakin dengan permintaan kamu, Mel?"
__ADS_1
"Apa tidak lebih baik kamu meminta cuti dan liburan kemanapun kamu mau?"
"Memuk*uli saya malah hanya akan membuat tangan kamu sakit!"
Melani menggeleng. "Saya yakin."
"Baiklah!" Jendra mengalah. Ia berdiri dan berpindah duduk di samping Melani.
Jendra duduk menghadap ke depan. Ia sudah bersiap jika Melani hendak memukul bahu, punggung, atau mungkin perutnya.
Melani mengubah posisi duduknya. Ia melihat bagian samping tubuh Jendra.
"Cepat pukul, Mel!" perintah Jendra tanpa memalingkan wajah.
"Kalau saya menyerah, tolong segera panggil ambulance. Sebab jika terjadi sesuatu yang buruk, akan jadi berita paling menggelikan. Seorang pria yang merupakan CEO grup perusahaan ternama meregang nyawa dalam keadaan babak belur di rumah sekretarisnya." Jendra terkekeh pelan.
Melani malah sibuk terpesona dengan bibir merah muda sedikit coklat itu. Bibir yang tidak pernah tersentuh sebatang ro-kok pun.
"Mel!" Panggil Jendra. "Jangan terlalu lama memasang kuda-kuda!" Jendra tertawa pelan.
Melani menarik nafas dalam saat tawa Jendra menyadarkannya yang terlalu lama menatap bibir itu.
Plak!
Melani memukul bahu Jendra sekeras ia bisa. Bukan pria itu yang kesakitan, tapi malah tangannya yang terasa seperti kesemutan.
Bahunya keras sekali! Itu bahu atau batu?
"Kenapa berhenti, Mel?" tanya Jendra saat Melani hanya memukulnya satu kali.
Jendra mengubah posisi hingga ia menghadap ke arah Melani. "Atau kamu ingin memukul perut saya?"
Bukannya memohon ampun, Jendra malah menawarkan anggota tubuh mana yang ingin gadis itu pukul.
Melani mengepalkan kedua tangannya dan memukul dada Jendra secara bertubi-tubi.
Melani berhenti saat ia mulai merasa lelah dan tangannya terasa pegal.
"Ini yang terakhir."
Plak!
Melani dengan keras menampar pipi Jendra.
Jendra memegang pipinya yang terasa panas dan kebas. Tapi ini belum apa-apa baginya. Sakitnya akan hilang dalam beberapa detik.
"Lain kali, berfikirlah sebelum bertindak. Karena hal sepele menurut anda merupakan perkara besar bagi saya!" ucap Melani geram.
Melani berdiri, ia berjalan menuju dapur dan duduk kursi dengan memijat keningnya. Sikunya bertumpu diatas meja makan minimalis itu.
Ia tahu, jika apa yang ia lakukan tadi salah. Ia sudah kurang ajar pada atasannya sendiri.
Jendra berdiri dan menghampiri Melani. "Sudah puas belum, Mel?" tanya Jendra
"Sudah!" jawab Melani kesal. "Saya harap, masalah ini cukup sampai disini. Jangan pernah lagi membahas mengenai kejadian kemarin malam lagi."
"Saya boleh pulang?" tanya Jendra.
Melani mengangguk. "Pulanglah!"
__ADS_1
Ia mengantar Jendra hingga ke lobi. Selama berada di dalam lift, tidak ada yang mereka bicarakan lagi.