
Setelah malam panjang penuh drama di dalam kamar milik Jendra, Melani duduk dan menangis di atas closet. Sementara Jendra berlutut di depan istrinya yang memakai piyama kimono berwarna hitam dan setinggi lutut.
"Sudah dong, Mel! Jangan menangis lagi." Jendra mengusap lutut Melani.
"Aku minta maaf, ya," bujuk Jendra karena Melani masih terisak. "Aku tidak tahu kalau akan seperti ini jadinya!"
"Katanya kamu berpengalaman, Mas. Masa masalah seperti ini kamu tidak tahu!"
Jendra menggaruk keningnya yang tidaj gatal. Mana aku tahu. Selama ini aku melakukan dengan gadis yang sudah tidak gadis lagi. Bukan gadis sungguhan.
Istrinya itu menangis karena merasakan sakit dan tidak nyaman akibat perbuatannya.
Padahal, aktivitas itu sudah selesai sebelum jam 3 pagi. Dan jam 6 pagi ini, Melani baru menangis akibat kesulitan saat berjalan.
"Aku akan menggendong kamu kemanapun!" bujuknya lagi. "Ke lantai satu, ke lantai tiga, bahkan saat ke supermarket sekalipun."
Melani menatap mata Jendra. Matanya masih memerah dan masih menyisakan air mata.
"Mudah sekali kamu bicara, Mas? Kamu fikir aku tidak malu saat semua orang di rumah ini melihatnya?"
"Kelihatan sekali kalau kita terlalu berlebihan!"
"Berlebihan bagaimana?" tanya Jendra terkejut. "Aku bahkan tidak minta untuk mengulang, Mel!"
"Jadi, biasanya kamu selalu mengulang saat bersama pacar kamu dulu, Mas?"
Astaga! Jendra salah bicara. Jika saja bisa terlihat, mungkin akan tampak asap keluar dari teling Melani dan di atas kepala wanita itu akan muncul tanduk.
"Bu- bukan begitu, Sayang!" jawab Jendra gugup. Ia mengusap tengkuknya.
"Bagaimana menjelaskan padamu, Mel?" gumam Jendra.
"Tidak perlu menjelaskan apapun! Keluarlah! Aku mau mandi!"
"Ku mandikan, ya?" Jendra berdiri berusaha menolong Melani.
"Aku bukan anak kucing!" jawab Melani ketus.
Jendra bingung sendiri. Antara ingin tertawa dan kasihan. Aku tidak mengatakan kalau kamu anak kucing, Mel.
"Kamu keluar saja, Mas! Aku bisa sendiri!" usir Melani saat Jendra masih berdiri di depannya.
Melani kesal. Ia tidak tahu kalau aktivitas malam tadi akan berdampak seperti ini. Bukan hanya sulit di awal, tapi ternyata bisa menyebabkan dirinya sulit berjalan.
Melani bergerak dengan hati-hati. Ia tidak marah pada Jendra. Ia hanya tidak ingin pria itu mendekat dan mereka mengulanginya lagi.
Jendra turun dan mengambil sarapan untuk Melani. Kedua orang tuanya memicing curiga saat melihat wajah Jendra ditekuk.
"Melani sakit?" tanya Jenar menahan tangan Jendra yang sedang membawa nampan.
Jendra terpaksa berhenti. Ia menggeleng pelan.
"Lalu mengapa wajah kamu seperti orang yang tidak makan dan tidur 2 hari. Tampak kusut dan jelek sekali!"
Jendra menghela nafas dan cemberut. "Mama ingin bertanya atau menghina?"
Jenar dan suaminya tertawa. "Uluh-uluh, pengantin baru sensitif sekali. Benar dugaan mama. Melani pasti sedang sakit hingga malam pertamamu terlewati begitu saja."
__ADS_1
"Ck!" Decak Jendra berjalan menjauh. "Sok tahu!"
"Saranku, pasang saja cctv di kamar agar mama bisa melihat apa yang sebenarnya telah terjadi!"
Jenar dan suaminya tertawa. "Putra papa, tuh! Buru-buru nikah, eh pas sudah nikah malah seperti orang kalah taruhan!"
Surendra tertawa. "Dia tidak sedih karena malamnya terlewati begitu saja, Ma. Dia sedih karena telah menyakiti istrinya."
Jendra tersenyum. "Papa benar. Mengapa mama tidak berfikir demikian!"
"Yang tidak halal saja, ia hajar. Apalagi Melani yang sudah halal, pasti dia tidak menundanya lagi."
"Terus saja bicarakan aku sampai kalian puas!"
Jenar dan Surendra terbahak saat mendengar suara Jendra dari lantai dua.
Jendra membuka pintu kamarnya dan ia melihat Melani sedang memakai krim siang di wajahnya. Wanita cantik itu duduk menghadap cermin rias dengan rambut basah yang masih dililit dengan handuk.
"Makan, yuk?" ajak Jendra.
"Sebentar, Mas. Rambutku masih basah."
Melani mengambil hair dryer di laci lemari. Jendra merebutnya dari tangan Melani.
"Biar ku bantu!" Jendra membantu Melani dengan senang hati.
"Jangan tersenyum!" ucap Melani ketus saat ia melihat dari cermin, bibir Jendra terus melengkung.
Jendra tertawa tanpa suara. "Terserah padaku. Bibir ini milikku!"
Sebenarnya ia senang melihat Jendra yang tampak bahagia, tapi ia merasa malu karena pria itu pasti sedang mentertawakan kebodohannya tadi malam.
"Tutup saja matamu!"
"Terserah padaku, mata ini milikku!" balas Melani meniru apa yang Jendra katakan tadi.
Jendra tertawa. "Hei, itu kata-kataku!"
"Bukan, itu kata-kata suamiku!" balas Melani.
"Dan aku adalah suami kamu, Mel!"
"Bukan! Kamu asisten pribadiku hari ini, Mas!"
Jendra tertawa lagi. "Oke lah! Siang jadi asisten, malam jadi suami. Bukan begitu, Bu Melani?"
Melani tertawa.Ternyata begini rasanya punya teman berantem. Lucu sekali. Batin Melani.
Satu minggu kemudian ....
Melani dan Jendra sedang berada di salah satu cottage milik Kalandra. Malam ini, akan diadakan resepsi pernikahan mereka berdua.
Persiapan memang dilakukan dalam waktu singkat, namun semua berhasil diselesaikan oleh pihak EO.
Kemeriahan pesta tak membuat senyum Melani luntur meski hanya sedetik. Sungguh luar biasa dan diluar ekspektasinya. Mertuanya benar-benar memberikan resepsi terbaik untuk mereka.
Selain riuh sorak tamu undangan, suara deburan ombak juga menjadi backsound saat mereka berdua berjalan ke lokasi pesta.
__ADS_1
"Percaya atau tidak, hampir 60 persen tamu yang datang, aku sama sekali tidak mengenal mereka, Mel!" bisik Jendra saat ia melihat tamu yang hadir.
Melani mengangguk setuju. "Kita seperti pengantin di acara reunian, Mas!"
Jendra tertawa. Ia pun setuju dengan apa yang Melani katakan. Tamu undangan yang hadir sebagian besar memang teman kedua orang tuanya.
Yang Jendra kenal hanya beberapa orang karyawan yang mereka undang serta beberapa orang klien.
Jendra dan Melani mendekati Kalandra dan istrinya. Mereka sengaja berkeliling untuk menyapa tamu yang datang.
"Pesta yang luar biasa!" puji Kalandra saat Jendra berdiri di dekat pria itu.
"Benar, sungguh mewah dan ramai. Seperti pesta malam pergantian tahun," sambung Kayla yang juga tampak menikmati hidangan di pesta ini.
Masa kehamilan yang sudah masuk trimester ke dua membuat selera makannya semakin meningkat. Bahkan rasa mual tak lagi ia rasakan.
"Kalau mamaku sudah beraksi, seperti inilah hasilnya!" Jendra tertawa.
"Benar!" Kalandra setuju dengan ucapan Jendra. "Tante Jenar memang terbaik. Kamu beruntung, Mel!"
Melani mengangguk. "Anda benar, Pak! Saya sangat setuju. Saya sangat beruntung bisa menjadi menantu di keluarga ini." Melani bisa merasakan Jendra semakin erat menggenggam tangannya.
"Selamat menempuh hidup baru, Kak Jend!"
Jendra melihat Reyga yang mengulurkan tangan ke arahnya. Adik dari Kalandra itu memang ia undang. Bahkan mamanya Kalandra juga.
"Terima kasih, Rey!"
"Wah, sebentar lagi lonching nih!" Jendra tertawa menunjuk perut Gia dengan dagunya.
Reyga mengangguk. "Sekitar tiga bulan lagi, Kak! Doakan semoga lancar saat persalinan nanti!"
Jendra mengangguk. "Pastilah! Pasti!" Ia menepuk lengan Reyga.
"Kakak-adik seperti sedang berlomba! Dan sepertinya kamu akan menang, Rey!"
Berlomba memiliki anak, maksudnya. Dan sepertinya Gia akan lebih dulu melahirkan dibanding Kayla.
Reyga tertawa. "Hanya berbeda beberapa minggu saja, Kak. Tidak akan lama."
"Mereka mungkin akan terlihat seperti anak kembar, nanti."
Kayla dan Gia tertawa. "Benar juga yang Rey katakan, Mas!" Kayla menatap suaminya.
"Ku yakin yang kerepotan pasti mama dan oma!"
Mereka tertawa bersama.
"Ah, ya! Aku belum melihatnya. Tante Riana ikut kan?" tanya Jendra.
"Mama ikut." Kalandra dan Reyga kompak melihat kesegala arah untuk melihat keberadaan Riana.
Dan mereka menemukan Riana yang sedang berbincang dengan teman-teman lamanya tak jauh dari posisi mereka duduk.
"Nah, itu mama!" tunjuk Reyga.
"Kalau begitu, kami kesana dulu. Mau menyapa tamu yang lain." Jendra pamit pada mereka semua.
__ADS_1