
Kayla berjalan mengikuti arahan Kalandra yang tengah menuntunnya. Kedua matanya ditutup dengan kain berwarna hitam sehingga ia tidak bisa melihat kemana suaminya membawanya.
"Mas, percuma saja aku pakai maskara, eyeliner, dan bulu mata super kalau kamu akhirnya menutup mataku seperti ini," ucap Kayla memprotes apa yang telah Kalandra lakukan padanya.
Kalandra tertawa saat Kayla menyebutkan beberapa produk kecantikan yang memang gunanya untuk mempercantik matanya.
"Sebentar saja, Kay. Kalau tidak ku tutup, bukan memberi kejutan namanya."
"Tapi, kamu mau bawa aku kemana, Mas? Kita tidak naik mobil dan sepertinya kita malah menuju halaman belakang."
"Kenapa kamu menyimpulkan demikian, Kay?"
"Kita berbelok ke kanan, Mas."
Kalandra tersenyum. Bibirnya mengatup rapat, namun melengkung sempurna. "Semenjak menjadi new mom, sepertinya insting kamu semakin kuat."
Kayla berdecak kesal. "Bukan begitu, Mas. Aku hanya sedang waspada. Karena kamu memberiku kejutan dengan cara yang aneh seperti ini."
"Di film-film juga banyak yang seperti ini, Kay."
"Jadi, kamu terinspirasi dari film, Mas?"
"Tidak."
"Sekarang, duduklah!" Perintah Kalandra.
Kayla duduk di sebuah kursi yang lumayan empuk. Ia merasa seperti ada sebuah meja di depannya.
"Kita masih di rumah, Mas."
"Tentu."
"Katanya kamu mau mengajakku ke suatu tempat, Mas. Kalau hanya di rumah mengapa aku harus menutup mataku?"
"Aku sudah melihat seluruh sudut rumah ini, Mas."
"Kamu bawel sekali, Kay!" Kalandra malah mengecup singkat bibir istrinya.
Kayla seketika mengusap bibirnya. "Mas, kamu menempelkan apa ....?"
Belum selesai Kayla bicara, kain penutup matanya terbuka dan matanya merasa silau dengan cahaya di depannya.
Kayla menerjab beberapa kali. Dihadapannya tampak sebuah meja dengan dua lilin yang menyala. Suasana disekitar halaman belakang rumah ini gelap. Hanya ada cahaya dari lilin dan dari lampu di dalam rumah yang cahaya menembus tirai dan kaca jendela.
"Mas ..." Kayla masih bingung.
Kalandra menjentikkan jemarinya dan seketika suara biola terdengar.
Kalandra membungkuk dan mengulurkan tangannya. "Maukah kamu berdansa denganku?"
Kayla tersenyum geli. Ia meletakkan telapak tangannya diatas telapak tangan Kalandra sebagai jawaban kalau ia mau berdansa dengan suaminya.
Kalandra membantu Kayla berdiri. Kalandra meletakkan tangan kiri Kayla dipundaknya sementara tangannya kananya berada dipunggung Kayla. Keduanya bergerak ke kanan dan kiri.
"Aku tidak bisa berdansa, Mas," bisik Kayla pelan karena takut ada yang mendengar.
"Ikuti saja kemana aku membawa kamu bergerak, sayang!"
__ADS_1
"Sejak kapan kamu bisa berdansa, Mas?" tanya Kayla. Ia hanya penasaran karena ini kali pertama mereka berdansa romantis diiringi musik biola setelah lebih dari setahun mereka menikah.
"Baru beberapa jam lalu, aku melihatnya di beberapa video," jawab Kalandra polos.
Kayla menahan tawanya. "Apa kamu tidak bisa berbohong sedikit saja, Mas?"
"Kamu terlalu jujur. Awalnya aku terpukau, tapi sekarang aku malah merasa geli sendiri."
"Itu artinya kamu bahagia, Kayla."
Kayla mengerutkan keningnya. "Bahagia?"
"Ya, karena kamu tertawa saat melakukan ini bersamaku."
Kalya tersenyum kecil. "Dalam rangka apa kamu memberiku kejutan seperti ini, Mas?"
"Kamu mendadak jadi sok romantis begini."
Kalandra melepaskan tangan Kayla. Keduanya berdiri berhadapan dan sesaat kemudian, Kalandra berlutut lalu memberikan sesuatu benda yang ia ambil dari saku jasnya.
"Kayla, jadilah istriku selamanya." Kalandra memberikan sekuntum bunga mawar kepada Kayla.
Kayla tersipu malu. "Kamu melamarku, Mas?"
Kalandra tertawa. "Ya, anggap saja begitu, Kay."
Kayla menatap pria yang sudah bersamanya semenjak setahun terakhir.
"Kamu mau atau tidak, Kay?"
"Jawab segera, Kay. Kakiku mulai kram."
"Ya, aku mau." Kayla mengangguk dan mengambil sekuntum bunga mawar yang ia yakin diambil di taman depan rumah yang biasa dirawat oleh mertuanya itu.
Kalandra segera berdiri, dan ia membentangkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk huruf K.
Kayla terkejut saat benda berbentuk huruf K menggantung di sebuah kalung bergerak perlahan.
"Ini apa, Mas?"
"Biar ku pakaikan."
Kayla mendekat agar Kalandra bisa memasangkan kalung itu.
"Ini indah sekali, Mas. Terima kasih."
Kalandra memeluk Kayla. "Aku yang harusnya berterima kasih, Kay."
"Kamu sudah begitu banyak memberikan perubahan dalam hidupku."
"Dan semenjak beberapa minggu ini, kamu mengubah statusku menjadi seorang ayah."
"Aku bangga padamu yang mengabdikan diri untuk menjadi istriku dengan merawat darah dagingku tanpa pamrih."
"Kamu tidak sedikitpun mengeluh selama mengurusnya."
"Selama kamu mengandungnya, kamu mengalami banyak kesulitan. Tapi, kamu tetap bahagia menjalani kehamilanmu."
__ADS_1
"Kamu bertaruh nyawa melahirkannya, tapi tidak ada air mata kepedihan yang menetes dari mata kamu."
"Aku justru melihatmu menangis saat tangis Ara terdengar nyaring di ruang bersalin itu."
"Dan saat itu, aku tersadar begitu besar pengorbanan seorang ibu."
"Aku semakin menyayangi mama dan kamu, Kay."
"Aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu membuat kalian bahagia."
Kayla mengusap punggung suaminya. Perlahan, pelukan itu terlepas. Keduanya saling menatap dengan mata yang basah karena menangis haru.
"Kamu juga membawa banyak perubahan dalam hidupku, Mas."
"Aku bahagia menjadi istri kamu. Aku bahagia menjadi ibu dari anak-anak kamu."
"Aku sudah bertekad untuk menjadi mama yang baik untuk anakku, Mas."
"Ara harus menjadi anak yang beruntung karena kita memberikan kasih sayang yang utuh untuknya."
"Meski kelak, dia akan punya adik. Dia harus tetap merasa kalau dia disayangi."
"Aku ingin kita tetap adil pada anak-anak kita nanti, Mas."
"Kamu adalah sosok papa yang hebat. Kamu selalu siap siaga saat aku sedang mengandung. Kamu selalu menemaniku saat aku berjuang melahirkan dan kamu juga selalu ikut terjaga saat aku menyusui Ara saat tengah malam."
"Kamu adalah lelaki sempuna yang membuatku menjadi wanita yang beruntung, Mas."
Kalandra menangkup pipi Kayla. Kalandra menyatukan bibir mereka cukup lama.
"Sekarang, ayo kita nikmati makanan yang dimasak spesial untuk kamu."
Kalandra membantu Kayla kembali duduk di kursi. Kalandra kembali menjentikka. jemarinya dan seorang asisten rumah tangga datang dengan membawa beberapa hidangan.
"Terima kasih, bibi." Kalandra dan Kayla kompak mengucapkan terima kasih.
"Kamu merepotkan mereka, Mas."
"Tidak sayang. Mereka justru merasa senang karena bisa membantuku."
Padahal, Kalandra sudah memberikan beberapa lembar uang yang besok bisa mereka belanjakan di mall.
"Masakan barat, Mas?" tanya Kayla saat melihat hidangan yang porsinya hanya sedikit.
Kalandra mengangguk. "Ya, supaya romatis seperti dinner di restoran, Kay."
"Aku yang memasaknya."
Kayla terkejut. "Ka-kamu?"
Kalandra mengangguk. "Ya. Dengan bantuan beberapa asisten chef."
Kayla tertawa. "Walaupun aku tidak yakin, mari kita santap saja makanan ini, Mas."
"Enak." Kayla tak menyangka Kalandra bisa memasak.
Kalandra tersenyum senang. "Terima kasih."
__ADS_1
"Tapi sepertinya tidak membuatku kenyang, Mas."
Kalandra tertawa. Kayla memang lebih sering merasa lapar, mungkin karena ia menyusui. "Harusnya aku sajikan saja 2 bungkus nasi padang untuk kamu, Kay."