Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 83 S2 Kita Juga Liburan


__ADS_3

Jendra memanggil Melani ke ruangannya. Ia merasa perlu memberi tahu Melani tentang liburan yang akan dibiayai oleh Kalandra itu.


"Anda memanggil saya, Pak?" tanya Melani yang sudah berdiri tak jauh dari meja kerjanya.


"Duduk dulu, Mel!" Perintah Jendra menunjuk kursi di depannya.


Melani dengan sedikit ragu, perlahan duduk dan melipat tangannya di atas meja.


"Liburan Kayla akan dipercepat jadi minggu depan."


Melani membulatkan mata. "Mengapa mendadak, Pak?" tanya Melani.


Jendra mengangkat bahu. "Maklumi saja, Kalandra biasa melakukannya. Sesukanya saja mengatur orang lain."


Jendra merespon seolah itu bukan masalah besar. Padahal bagi Melani, itu artinya dia harus bekerja keras dua kali lipat.


"Sekarang, kamu atur sebisa kamu agar tidak keteteran saat Kayla tidak ada."


Enak sekali dia memberi perintah. Batin Melani.


"Lagi pula, masalah Clara sudah selesai."


Melani mengangguk. "Saya akan atur sebisa saya, Pak!" Melani pasrah.


"Ah, ya. Di akhir cuti Kayla, tepatnya saat akhir pekan." Jendra menunjuk angka di kalender yang ada di meja kerjanya.


"Kita akan ke Bali."


"Kita?" tanya Melani terkejut. "Ke Bali, Pak?" tanyanya lagi dengan perasaan was-was.


"Ya, kamu belum pernah kesana kan?" tanya Jendra.


Melani menggeleng. "Belum, Pak."


"Makanya saya ajak kamu. Persiapkan saja diri kamu, semua sudah ada yang mengatur!"


Melani merasa ragu, ia takut Jendra punya rencana buruk padanya. Untuk apa pria itu mengajaknya liburan di Bali?


"Jangan mikir macam-macam, Mel!" Jendra seolah tahu apa yang Melani fikirkan.


"Saya mengajak kamu, karena Kalandra memberikan voucher menginap di cottage sebagai imbalan cuti yang saya berikan untuk Kayla.


"Apa ini sejenis suap, Pak?" tanya Melani.


Jendra tertawa. "Kamu menganggapnya seperti itu?"


"Anggap saja sebagai apresiasi terhadap kerja keras kamu saat Kayla tidak ada."


"Untuk kepastian penerbangannya, akan saya beritahu lagi nanti."

__ADS_1


"Kemungkinan Jum'at malam dan kita akan pulang Minggu malam."


Melani mengangguk.


"Jangan beritahu pada Kayla! Dia tidak tahu apapun soal ini. So..."


"Sreeet!" Jendra menggerakkan jarinya seperti menarik resleting tepat didepan mulutnya yang tertutup.


"Tutup mulut!"


Melani keluar dari ruangan itu dengan perasaan aneh, ia menebak-nebak apakah yang Jendra katakan memang benar atau hanya akal-akalannya saja.


Kalau memang ini mutlak rencana Jendra, untuk apa pria itu mengajaknya? Ingin menjebaknya? Rasanya tidak mungkin.


Melani mengangkat bahunya acuh. "Terserahlah. Jika saatnya sudah tiba aku akan lihat sendiri apa yang akan terjadi."


***


Dua minggu berlalu.


"Malam ini, ku jemput di apartemen, Mel!" ucap Jendra saat hendak pulang setelah jam kerjanya berakhir.


Melani yang sudah bersiap pulang pun mengangguk. "Ya pak. Tapi apa tidak sebaiknya kita bertemu saja di bandara?"


Jendra menggeleng pelan. "Tidak perlu. Kita satu mobil saja. Saya juga diantar supir. Lagi pula agar kita tidak repot mencari satu sama lain."


"Tapi Pak," tolak Melani.


"Kamu akan menunggu sampai kapan, Mel. Ikut saja denganku!"


Melani menuruti perintah Jendra. Sudah biasa baginya berjalan dibelakang atau disamping tubuh pria yang selalu wangi itu.


Entah parfum apa yang Jendra pakai. Yang pasti aromanya sudah membuat indera penciumannya terbiasa.


Beberapa karyawan kerap kali memperhatikan keduanya. Bahkan Melani pernah mendengar beberapa karyawan yang mengatakan kalau mereka tampak serasi. Tak jarang para klien menyebut mereka seperti pasangan kekasih.


Melani tak pernah menggubris omongan semacam itu. Ia hanya berusaha untuk profesional. Ia hanya melakukan semuanya demi pekerjaan.


Ia melayani Jendra dengan baik, dalam artian menuruti semua perintah pria itu. Tak jarang Melani juga merasa lelah, tapi dia bisa apa? Karena ia digaji oleh perusahaan.


"Kamu pulang dengan saya saja, Mel. Sekalian temani saya membeli sesuatu."


Melani tak bisa menolak karena ini perintah. "Jangan terlalu lama, Pak. Saya belum packing soalnya."


Jendra mengangguk. "Jangan bawa terlalu banyak barang. Kita hanya dua hari disana dan full untuk liburan. No kerja-kerja."


Melani mengangguk. Ia menunggu Jendra mengambil mobil dan kemudian keduanya melesat pergi ke sebuah pusat perbelanjaan.


Melani mengikuti kemana kaki Jendra melangkah. Mereka pergi ke sebuah toko yang menjual berbagai macam tas, mulai dari sling bag khusus pria hingga ransel dan koper.

__ADS_1


Jendra membeli sebuah ransel berukuran besar. Melani tak banyak bertanya.


"Kamu sudah punya ransel, Mel?" tanya Jendra.


Melani mengangguk. "Saya bawa koper kecil."


Jendra juga memberi beberapa potong celana pendek. Karena Bali identik dengan pantainya maka Jendra jelas tak ingin salah kostum.


"Kamu ingin beli sesuatu? Ambillah jika ingin."


Melani menggeleng. Ia merasa semua kebutuhannya untuk liburan sudah terpenuhi. Ia pun tak perlu membeli pakaian baru seperti bosnya ini.


"Mumpung disini, lebih baik kita makan dulu!" Jendra melangkahkan kaki ke sebuah restoran ternama di dalam mall tersebut.


Melani menghela nafas karena yang katanya hanya sebentar malah lebih dari satu jam lamanya ia menemani Jendra.


"Pak, saya belum packing!" Melani coba mengingatkan karena ia tak kan bisa bersiap dalam waktu yang sangat sempit ini.


"Bawa pakaian sedikit saja. Disana kamu bisa membeli apa yang kamu butuhkan."


Apa aku tidak boleh berhemat sedikit saja? Aku tidak sekaya anda yang bisa membeli apapun tanpa melihat pricetag. Batin Melani menatap punggung tegap itu.


"Makan sekenyang mungkin, Mel. Karena saya yakin kamu tidak akan sempat makan malam di apartemen."


"Sedang saya coba, Pak! Jangankan untuk makan, untuk mandi saja saya tidak yakin masih ada waktu," gumam Melani.


Jendra tertawa. "Tidak perlu mandi kalau begitu. Mandinya nanti saja, saat sudah sampai dipenginapan."


Melani enggan menanggapi bosnya itu. Ia sudah merancang sedemikian rupa apa yang akan ia lakukan di apartemen dengan waktu yang hanya tersisa sedikit itu.


"Saya jemput jam 7 malam, Mel. Jangan terlambat!"


Melani berjalan secepat mungkin. Ia membuka pintu apartemennya dan melemparkan asal tasnya.


"Dasar Bos gil***aaaaa!" teriak Melani kesal. Ia segera masuk ke dalam kamar dan mencari ikat rambutnya. Ia mengikat asal rambutnya.


Ia menarik koper yang tersimpan di samping lemarinya. Untung saja ia sudah menyetrika dan memilih pakaian mana yang akan ia bawa.


"Dasar orang kaya. Berbuat sesukanya saja. Apa dia tidak memikirkanku yang bersiap sendiri," omel Melani sembari memasukkan pakaiannya ke dalam koper.


"Berbeda dengannya yang bisa meminta bantuan semua asisten rumah tangga. Ia hanya perlu mandi dan pergi lagi."


"Bahkan mungkin sepatunya saja sudah ada yang bertugas memakaikannya."


Melani meraih pouch make up dan memasukkannya ke dalam koper. Tak lupa pula sepasang sandal dan sepatu untuk ia pakai disana.


"Lima belas menit lagi?"


Melani buru-buru lari ke dalam kamar mandi karena sebentar lagi jam menunjukan angka 7. Ia tak mau melihat Jendra mengamuk lagi hanya karena dirinya terlambat turun. Apa lagi kalau sampai mereka ketinggalan pesawat. Bisa-bisa ia kena omel habis-habisan.

__ADS_1


__ADS_2