
Sebagai istri Kalandra, Kayla ikut turun ke dapur untuk membantu Aunty Hana memasak. Dan seseorang lagi yang membuatnya cukup terkejut adalah keberadaan Gia di depan kompor.
"Maaf aunty, aku baru datang untuk membantu,"
Aunty Hana tersenyum, "Tidak masalah, Kayla... Kalian pasti kelelahan. Beristirahatlah lagi."
Kayla tertawa, ia membantu mengupas wortel dan kentang. "Tidak apa-apa, aunty. Aku hanya tidak terbiasa dengan suhu udara yang terlalu dingin!"
Aunty Hana tertawa. "Lalu bagimana denganmu, Gia? Apakah kamu merasa nyaman tinggal disini?"
Gia mengangguk. "Rumah ini sangat nyaman, aunty. Aku juga tidak merasa kesulitan untuk beradaptasi." Ya, karena Gia sudah terbiasa dengan ruangan ber-AC.
"Daddy pulang!" Suara bariton terdengar dari arah depan.
"Uncle kalian sudah pulang!" Hana langsung berjalan meninggalkan dapur. "Tolong handle sebentar ya!"
Tapi ternyata Bagus sudah muncul di dekat dapur. Pria itu memeluk istrinya dan memberikan kecup*an singkat di bibir Hana.
Kayla dan Gia melihat keromantisan suami istri kepala 5 itu. Keduanya saling menatap karena merasa canggung. Lalu sama sama membuang muka. Keduanya masih terasa aneh melihat hal seint*m itu dilakukan di depan orang lain.
"Tidak malu pada menantumu, sayang?" tanya Hana yang melihat keduanya merasa kurang nyaman.
"Hahaha. Sorry istrinya Andra dan Reyga!" ucap Bagus.
"Kalian membantu Aunty di dapur?" Keduanya kompak mengangguk.
"Kamu pasti sangat senang, ya?" tanyanya pada istrinya. "Sangat berbeda dengan dua orang putrimu!"
"Yang satu hanya suka memegang stetoskop dan yang satunya hanya suka memegang pena dan tabnya!"
"Ayolah, Sayang! ini sudah menjadi keputusan anak-anak!" Hana meyakinkan Bagus bahwa ia akan baik-baik saja selama anak-anak bahagia dengan profesi pilihan mereka.
Bagus sebenarnya tidak ingin Arshila, anak pertama mereka menjadi seorang dokter. Karena ia tahu, suka duka seorang dokter yang harus berada di rumah sakit jika memang sudah shiftnya untuk bekerja. Bagus khawatir, kelak jika Arshila sudah berumah tangga, putrinya itu tidak memiliki waktu yang cukup untuk bersama keluarga.
Sementara Almyra, Bagus tidak melarangnya menjadi desainer, tapi semenjak kuliah, gadis itu malah lebih suka menyendiri mencari inspirasi.
Bagus tersenyum. "Iya... iya... tapi aku juga ingin merasakan masakan kedua putriku, sayang!"
"Mandilah!" perintah Hana. "Akan ku siapkan pakaian untuk kamu." Hana menggandeng tangan Bagus dan menuntun suaminya itu menuju kamar.
"Aku akan mendaftarkan anak-anak ke sebuah cooking class jika mereka punya waktu luang!" Ucap Hana yang masih bisa di dengar Kayla dan Gia.
"Itu apa, Gia?" tanya Kayla menunjuk panci di atas kompor.
"Iga sapi, Kay." Jawab Gia. Mereka memang sudah sering bertemu, tapi masih merasa canggung untuk mengakrabkan diri. Bukan Kayla yang canggung, tapi Gia, mengingat semua perlakuan Gia pada Kayla dulu.
__ADS_1
"Sudah berapa lama, Gi?" tanya Kayla.
"Entahlah, saat aku masuk ke dapur, iga sapi ini sudah di rebus oleh aunty Hana."
Kayla melihat dan memastikan dagingnya sudah terasa empuk. "Tolong ambilkan wortel dan kentang itu, Gi!"
Gia memberikannya pada Kayla agar dimasukan ke dalam panci.
"Bagaimana dengan pernikahan kalian?" tanya Kayla pada Gia.
"Baik-baik saja, Kay!" jawab Gia.
Kayla tersenyum. "Semakin banyak kemajuan sepertinya!"
Gus mengangguk. "Lumayan, semenjak aku izin pada Mas Reyga untuk menjalankan program kehamilan, sikap nya perlahan mulai menghangat. Tidak lagi acuh padaku."
Kayla membulatkan mata. "Kalian program hamil?" Ternyata mereka selangkah lebih maju dari kami.
Gia mengangguk. "Hanya aku, Kay! Periode menstruasiku tidak lancar, terkadang 2 sampai 3 bulan sekali."
"Kata dokter, semua itu karena pengaruh hormon. Bisa juga karena gaya hidup. Seperti sering makan makanan cepat saji dan jarang berolah raga."
"Dan hal itu bisa saja menyebabkan aku sulit hamil. Walaupun, banyak wanita yang bisa cepat hamil meski haid mereka tidak lancar."
"Jadi, aku hanya mengikuti saran dari dokter."
Gia mengangguk. "Terkadang aku merasa kesepian, Kay! Mas Reyga terkadang pulang malam, dan aku hanya sendirian di rumah."
"Aktivitasku hanya itu-itu saja setiap hari. Bagun pagi, memasak sebisaku, mencuci pakaian, bersiap ke restoran, dan pulang jam 4 sore."
iiiì
Huh! Gia menghembuskan nafas berat. "Jika aku punya bayi, setidaknya aku punya teman, aku punya kesibukan yang lebih menyenangkan."ì
"Kalian masih memakai jasa ART, kan Gi?"
Gia mengangguk. "Ya. Hanya akan datang pagi hari. Dan pulang saat aku akan berangkat ke restoran. Karena tugasnya hanya menyapu dan mengepel lantai yang menurutku tidak terlalu kotor."
"Jangan terlalu lelah, dan hindari stres, Gi!"
Gia mengangguk. "Ya, Dokter juga menyarankan demikian."
"Lalu bagaimana denganmu, Kay? Kalian berencana menunda, ya?"
Kayla mencebikkan bibir. Bukan menunda untuk punya anak, tapi karena kami masih baru melakukannya.
__ADS_1
"Tidak, Gi. Mungkin memang belum saatnya."
***
"Mumpung disini, kalian bisa memeriksakan diri. Mau ku rekomendasikan dokter terbaik disini?" tanya Arshila pada Gia dan Kayla yang sedang berbincang dengannya. Mereka sedang duduk di ruang keluarga, berkumpul bersama setelah makan malam.
Gia dan Kayla kompak menggeleng membuat Arshila memicingkan mata lalu tertawa. "Hahaha... Kalian ipar yang kompak!"
"Pasti hubungan antara kalian sangat seru. Kalian bisa berbelanja bersama, memasak bersama seperti tadi atau mungkin kalian saling curhat menceritakan suami kalian yang kakak beradik itu," ucap Arshila menunjuk Kalandra dan Reyga bergantian.
"Pasti sangat seru. Kalian pasti membandingkan kekurangan dan kelebihan mereka," Arshila makin tergelak.
Kayla dan Gia mengusap tengkuk mereka yang tidak gatal karena mendengar ucapan Arshila yang cukup tidak sesuai kenyataannya.
Reyga dan Kalandra terdiam kehabisan kata-kata. Riana menghela nafas sementara Oma menipiskan bibir, menahan tawa.
Dan pasangan Bagus-Hana setuju dengan ucapan putri mereka. Yang tidak tahu mengenai kehidupan mereka bisa mengatakan demikian. Tapi yang lainnya? Sungguh ingin tertawa dan membalas ucapan Arshila dengan mengatakan semua yang gadis itu katakan adalah salah.
"Ah, jika aku punya ipar seperti kalian, aku akan mengajak kalian spa dan perawatan tubuh serta berbelanja menghabiskan uang suami kita." Arshila membayangkan hal yang masih sangat jauh baginya. Karena ia masih belum memiliki pacar hingga sekarang.
"Hem, untung saja istriku bukan tipe wanita seperti itu, Shil!" Kalandra berusaha mencairkan ketegangan.
"Dia lebih suka menabung daripada berbelanja!" lanjut Kalandra.
"Astaga!" Arshila menggeleng pelan. "Itu pasti karena kakak pelit pada kakak ipar!"
"CEO tapi kok pelit!" gadis itu mencibir Kalandra. "Kalau memberi uang jajan pada istri itu jangan pas-pasan, Kak CEO!"
"Aku tidak pelit, Shilaaaa! Tanya saja pada kakak iparmu!" Kalandra menunjuk Kayla dengan bibirnya yang dimajukan.
"Jika aku memberikannya uang, dia pilih cash atau via transfer! Tanyakan saja!"
"Benar begitu kakak ipar?" tanya Arshila pada Kayla. Gadis itu tak percaya, ada wanita yang tidak ingin menghabiskan uang pemberian suaminya.
Kayla mengangguk lemah. "Aku lebih suka via transfer, karena kalau cash aku malas menyetor ke bank!"
"Aku tetap berbelanja, membeli barang-barang yang benar-benar ku butuhkan. Tapi tidak pernah ku habiskan semua."
Kalandra tersenyum. "See!" Ia mengangkat bahu dan membuka kedua telapak tangannya. "She's mine!" ucap Kalandra bangga.
"Love you!" ucap Kayla tanpa suara. Ia juga memberikan lambang hati dengan ibu jari dan telunjuknya.
Kalandra yang bersandar di sofa, seketika tubuhnya merosot. "Please help me uncle!"
"Aku meleleh!"
__ADS_1
Kelakuan Kalandra memancing gelak tawa mereka semua.