Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 129 S3 Anak


__ADS_3

Kayla dan Kalandra masuk ke dalam rumah. Dibelakang mereka ada wanita dan anaknya yang ikut berjalan dengan mata yang tak henti menatap takjub pada rumah besar milik Kalandra ini.


"Duduk dulu, Bu," ucap Kayla dingin.


Ia sebenarnya tidak ingin membawa ibunya ke rumah ini. Tapi, ujung dari pembicaraan mereka adalah mengenai anak. Apakah Kayla sudah memiliki anak.


Kayla terpaksa membawa mereka ke sini karena ibunya memaksa ingin melihat cucunya.


Kalandra meyakinkan Kayla bahwa wanita itu juga berhak melihat cucunya. Dan pula, semoga tidak ada penyesalan di masa yang akan datang.


Dengan sigap, tanpa diberi perintah, asisten di rumah itu memberikan minum dan cemilan.


Sementara, Kayla dan Kalandra masuk ke dalam kamar. Mereka mengganti baju sebelum akhirnya membawa Ara turun untuk bertemu dengan ibunya.


"Di bawah, ada ibunya Kayla, Ma, Oma."


"Aku sepertinya kurang suka dengan sikap wanita itu," ucap Kalandra yang masih menunggu Kayla keluar dari kamar mandi.


"Tidak boleh begitu, Andra. Biar bagaimana pun, dia adalah mertua kamu." Riana tidak ingin Kalandra bersikap tidak sopan pada mertuanya.


"Tapi, yang Andra dengar hanya hinaan, Ma. Andra sampai tidak tega melihat Kayla yang sepertinya merasa kecewa pada ibunya sendiri."


"Padahal, tampak jelas kalau dia merindukan ibunya."


"Rasanya hatiku sakit melihat dia menangis tadi. Bukan tangis bahagia, tapi tangis kesedihan."


Kayla keluar dari kamar mandi dan ia segera masuk untuk berganti pakaian.


"Kay, susui Ara dulu."


Kayla mengangguk. Iya mengambil Ara dari gendongan Riana. Bayi itu tidak tidur, tapi tidak menangis juga.


"Ibu kamu pasti senang bisa melihat cucunya." Riana duduk di depan Kayla dan mengusap kepala Ara.


Sedangkan Oma duduk di sofa dan tidak ingin ikut campur. Ia baru akan turun tangan jika situasinya semakin memanas.


Kayla menatap Riana sekilas lalu tersenyum. Dan setelahnya ia kembali menatap Ara.


"Seperti itukah, Ma?" tanyanya tak percaya.


Ia merasa Riana lebih menyayanginya walaupun hal itu terjadi baru setahun terakhir.


Riana mengangguk. "Siapa yang tidak senang melihat cucu cantik yang sehat pula, seperti Ara ini."


"Dia tetap ibu kamu, Kay. Jangan pernah membencinya hanya karena dia berubah."


Kayla mengerti apa yang Riana maksud. Mungkin wanita di depannya itu ingin Kayla menjadikan hubungan Kalandra dan Riana sebagai contoh. Bahwa terkadang orang tua melakukan sesuatu pasti dengan alasan kuat.


"Mama dan Oma akan menemui ibu kamu lebih dulu. Kamu susui Ara sampai kenyang. Tidak enak juga membiarkannya menunggu terlalu lama."


Sementara itu, di ruang tamu rumah Kalandra. Ibu dan anak itu saling berbincang.

__ADS_1


"Mama, ternyata rumah kakak besar sekali. Mereka tinggal di rumah, bukan di apartemen seperti kita."


"Ya, rumah mereka memang sangat besar. Tapi, bukankah rumah kita juga sangat nyaman?"


"Tapi, kita tidak punya halaman seluas itu." Kamila melihat ke arah depan rumah."


"Kamila, setidaknya kita tinggal di rumah kita sendiri. Kita tidak berhutang dan maupun cicilan."


"Orang kaya seperti ini, biasanya mereka punya banyak cicilan yang harus dibayarkan."


Mereka terkesiap saat Riana dan Oma turun di tangga dan berjalan mendekat.


"Saya Riana, mamanya Andra."


"Saya Rosma, ibunya Kayla."


"Saya Omanya Andra."


"Saya Rosma, Bu." Ibunya Kayla mengangguk sungkan. Matanya tak berhenti memandang berlian kecil di cincin Riana.


"Maaf, ya. Kayla sedang menyusui bayinya. Ditinggal hampir 2 jam, membuat bayinya kelaparan."


Rosma mengangguk sungkan. Aku salah menilai suami Kayla. Aku tidak tahu kalau ternyata Kayla benar-benar menikah dengan pengusaha kaya.


Cincin berlian itu, harganya pasti mahal sekali. Nenek-nenek di depanku saja bisa tampil stylist maski rambutnya sudah memutih.


"Iya, Bu. Saya masih bisa menunggu."


"Wah, anak kamu cantik sekali, Kay," seru Rosma yang membuat Kalandra hampir muntah.


Terlalu bersandiwara menurut Kalandra. Sikap mertuanya ini berbeda jauh dari yang ia lihat saat di rumah Bu Susi tadi.


"Kamila, lihatlah! Kamu pasti gemas."


"Boleh ibu gendong, Kay?"


Nah, ini adalah hal yang paling Kayla takutkan. Ia tidak ingin anaknya sembarangan digendong, apa lagi ibunya itu entah dari mana saja.


Kayla menatap Kalandra, Riana dan Oma bergantian. Ia minta bantuan agar mereka bisa membantunya mencari alasan.


"Bu, maaf sebelumnya. Bukan tidak memberi izin, tapi kami harus memastikan bahwa Ara harus digendong oleh orang yang sedang dalam keadaan bersih."


Rosma menatap Kalandra. Ia merasa tersinggung. "Ibu sudah mandi di hotel, Kalandra! Ibu sudah mandi dan ibu juga bersih. Ibu tidak sedang sakit dan ibu juga tidak punya penyakit yang menular."


Kalandra bersiap menjawab, tapi Riana mencegah dengan meletakkannya telapak tangannya di lutut Kalandra yang duduk tak jauh darinya.


"Begini, Bu Rosma." Riana menarik nafas.


"Kami memang membiasakan hal itu agar Ara yang masih lemah daya tahan tubuhnya tidak muda terinfeksi virus dan bakteri."


"Kami hanya menjalankan apa yang dokter sarankan. Termasuk tidak menciumnya apalagi dibagian mulut."

__ADS_1


Rosma semakin tersinggung. Ia menahan amarah. "Lalu, apa saya harus mandi dulu untuk bisa menggendong bayi ini?"


"Tidak perlu, mari saya antar untuk cuci tangan."


Dengan terpaksa Rosma dan putrinya ikut dengan Riana menuju dapur.


"Berlebihan sekali. Aku tidak pernah melihat orang seheboh ini. Bahkan di luar negeri saja tidak seberlebihan ini," gumam Rosma yang berjalan dibelakang Riana.


Riana hanya bisa menipiskan bibir. Ia maklum saja, mungkin wanita itu memang tidak tahu pentingnya menjaga kebersiahan sebelum mendekati atau menggendong bayi yang baru lahir.


Kayla dengan terpaksa membiarkan Rosma menggendong putrinya. Ia melapisi baju Rosma dengan kain bedong dengan alasan kalau putrinya itu masih sering gumoh.


"Dia cantik sekali, ya Kamila."


Kamila mengangguk. Anak itu sepertinya memang menyukai anak kecil.


"Selama ini, saya tidak pernah pulang karena terikat kontrak dengan majikan saya, Bu."


Tanpa diminta, Rosma berbicara seperti itu. Ia seolah menjelaskan mengapa ia tidak pernah pulang. Padahal saat Kayla bertanya, ia tak menjawabnya.


"Lalu, demi menghindari dosa, saya dan papanya Kamila memutuskan untuk menikah," ucap Rosma tanpa rasa bersalah. Padahal kalimat itu jelas menyinggung perasaan Kayla.


Menghindari dosa zina, lalu bagiamana dengan dosanya yang telah meninggalkan suami dan anak?


"Dan saya baru bisa pulang sekarang. Saya juga ingin memastikan kalau Kayla hidup bahagia."


"Setelah menikah?" tanya Riana.


Rosma mengangguk. "Saya tidak ingin ia bernasib sama seperti saya. Karena kondisi ekonomi yang tidak pernah meningkat. Saya memutuskan untuk bekerja di luar negeri."


"Ternyata dia hidup bahagia dan berkecukupan disini."


"Berkecukupan bukan berati dia bahagia, Bu," ucap Riana. "Karena harta benda bukan menjadi tolak ukur kebahagianan."


Rosma tak ingin berdebat. Ia malah sibuk menatap wajah Ara.


"Sepertinya, kita akan lebih lama disini, sayang. Mama ingin lebih sering melihat bayi ini," ucap Rosma pada Kamila.


"Kay, tidak adakah kamar kosong di rumah ini? Apa tidak bisa ibu menumpang disini karena biaya sewa kamar hotel lumayan mahal."


Kalandra merasa kesal mendengar permintaan Rosma. Kayla juga merasakan hal yang sama. Mengapa ibunya menjadi wanita yang tidak tahu malu begini?


"Saya yang akan membayar sewa kamar hotel ibu," jawab Kalandra.


"Tinggal di rumah ini sepertinya bukan pilihan tepat karena di rumah ini bukan hanya ada saya dan Kayla."


"Ada mama saya, Oma dan terkadang adik saya dan keluarganya menginap di rumah ini."


Kalandra membuat keputusan yang tepat. Kayla dan Riana juga setuju dengan keputusan itu. Memang lebih baik kalau Rosma tidak menginap di rumah ini demi kenyamanan mereka semua.


Kayla tidak ingin terkesan memanfaatkan keadaan Kalandra meski kenyataannya memang demikian.

__ADS_1


Kayla takut jika ibunya benar-benar ingin berniat jahat pada mereka. Ia tidak ingin durhaka dengan berburuk sangka pada ibunya sendiri, tapi ia melihat perubahan sikap ibunya yang terlalu mencolok.


__ADS_2