
Oma yang sedang duduk di teras sambil berbincang dengan Riana yang tengah menyiram tanaman tiba-tiba menatap tajam ke arah gerbang rumah.
Wanita tua itu masih bisa melihat dengan jelas, Rosma masuk dengan digiring oleh security.
"Mau apa lagi besan kamu, Ri?" tanya Oma membuat Riana mengikuti arah mata mertuanya itu.
"Ku fikir dia sudah pulang ke negaranya, Ma."
Selama beberapa hari setelah kedatangan Rosma tempo hari, wanita itu tidak pernah lagi tampak hadir di rumah ini.
Riana dan Oma sudah menasehati Kayla dan berusaha agar wanita itu memaafkan ibunya.
Kayla ternyata memang sudah memaafkan wanita yang pernah meninggalkannya itu. Tapi, untuk kembali tinggal bersama, Kayla tidak mau lagi sebab ia merasa kehidupan mereka sudah tidak seperti dulu lagi.
Rosma menyapa keduanya dengan ramah. Wanita itu dipersilahkan duduk di dekat Oma. Riana juga menghentikan aktivitasnya menyiram tanaman.
"Saya datang ke sini untuk bertemu dengan anak saya, Bu." Rosma mengutarakan maksud kedatangannya.
"Saya ingin membicarakan banyak hal. Setelah saya fikir-fikir, ada banyak hal yang harus kami selesaikan sebelum saya kembali karena Kayla tidak ingin ikut dengan saya."
"Kayla masih di kamarnya. Silakan masuk dan bicara di dalam saja." Riana masih bersikap ramah meski ia tidak suka dengan kehadiran orang tua Kayla ini.
Bukan karena benci, tapi karena terakhir kali wanita ini datang membawa masalah. Dan Riana yakin, kedatangan Rosma kali ini juga sama, yaitu membuat masalah baru.
Entah apa yang Rosma cari, tapi yang pasti Riana menduga wanita itu punya maksud tidak baik setelah mengetahui bahwa Kayla menikah dengan pria kaya.
Kecurigaan Riana bukan tanpa alasan. Sebab, sejak awal Rosma menduga Kalandra hanya tukang ojek, lalu setelah tahu Kalandra memiliki rumah sebesar ini, wanita itu sengaja berlama-lama di kota ini dengan alasan masih ingin melihat cucunya.
Riana pernah menjadi jahat. Ia pernah menjadi wanita licik yang selalu menyusun rencana demi rencana meski tujuannya untuk bisa melindungi Kalandra dari Leo meski caranya salah. Dan dia tahu betul, Rosma tidak mungkin tidak punya rencana apapun.
Kayla turun tanpa membawa Ara. Bayi itu sedang tidur. Dan Oma dengan senang hati masuk ke kamarnya untuk menemani bayi itu sementara Riana harus menemani Kayla.
"Ibu datang ke sini karena ibu ingin menjual rumah kita."
Deg!
Rasanya, jantung Kayla seperti berhenti berdetak. Ia mengira, ibunya itu sudah mengurungkan niatnya untuk menjual rumah mereka setelah tahu Kayla tidak akan ikut dengannya.
"Ibu ingin hak ibu atas rumah itu, Kay!"
Kayla menatap dingin. Ia yang baru saja duduk mendadak merasakan kepalanya mendidih karena permintaan yang tidak tahu malu itu.
"Ibu tidak punya hak karena ibu sudah menikah lagi sebelum ayah meninggal."
"Jadi, kamu ingin mengusai rumah itu sendirian, Kay?" Rosma memadang remeh putrinya.
Kayla menyeringai. "Menguasai?"
"Mengapa kata-kata itu terdengar begitu kejam, Bu? Menguasai? Astaga! Itu hanya rumah petak, Bu. Bukan istana!" Kayla tak habis fikir dengan keserakahan dan ketamakan ibunya.
__ADS_1
"Sebenarnya, sesulit apa kehidupan Ibu dengan suami baru ibu? Sampai-sampai tanpa punya rasa malu, ibu meminta pembagian harta peninggalan ayah?" tanya Kayla dengan nada dingin.
"Bukankah ibu bilang, kehidupan ibu jauh lebih baik? Bukankah tempat tinggal ibu jauh lebih nyaman dan lebih besar?"
"Mengapa ibu masih mengharapkan bagian dari rumah itu?"
"Asal ibu tahu, sampai kapanpun aku tidak akan menjualnya. Di rumah itu penuh dengan kenanganku bersama ayah." Kayla tak mampu menahan air matanya.
"Saat kami hanya bisa makan garam dan nasi karena ayah tidak punya uang. Dan saat kami bisa makan sate saat ayah punya uang lebih. Semua itu bisa ku ingat dan ku kenang saat aku masuk ke rumah itu, Bu?" Kayla menyeka air matanya.
"Apa ibu tega menjual rumah yang dulu pernah menjadi tempat ternyaman untuk kita bertiga, Bu?"
"Ibu tega membuatku kehilangan satu-satunya amanah ayah?"
"Ibu tahu? Aku bahkan bekerja setengah mati demi mempertahankan rumah itu, Bu."
"Aku bekerja. Aku berhutang hanya untuk menebus rumah itu dari tangan renternir!"
Rosma memandang putrinya yang sangat berbeda sejak ia tinggalkan dulu. Dulu, Kayla sangat pendiam, penurut dan sopan terhadap orang tuanya. Sangat berbeda dengan yang ia lihat saat ini.
"Kamu akan terus sedih jika masih datang ke rumah itu, Kay. Lebih baik dijual saja agar kamu tidak terus-terusan teringat ayah kamu."
Kayla menggeleng pelan. "Ibu yang meninggalkanku selama belasan tahun saja, masih ku ingat kenangan kita di rumah itu, Bu."
"Apa lagi ayah yang suka dukanya ada di rumah itu. Saat sakit ayah semakin parah, saat aku harus berteriak untuk minta tolong ketika kondisi ayah memburuk, jeritan, tangisan, masih bisa ku rasakan di rumah itu, Bu."
"Ibu tidak akan kembali lagi, Kay. Kapan lagi ibu bisa mengambil hak ibu."
"Hak. Hak. Hak!" Teriak Kayla kencang sampai membuat Riana dan Rosma sama-sama terkejut.
"Hak terus yang ibu bicarakan! Hak terus yang ibu bahas!" ucap Kayla masih dengan nada tinggi.
"Ibu lupa kewajiban ibu, Bu!" Ucap Kayla lirih. "Ibu melupakan tanggung jawab ibu sebagai istri dan orang tua."
Riana mengusap bahu Kayla. "Mama lihat, Ma! Wanita yang mama minta untuk ku hargai, ternyata tidak punya belas kasihan sedikitpun terhadapku."
"Sebenarnya aku anak ibu atau bukan?" tanya Kayla membuat Rosma terkesiap.
"Kamu anak ibu, Kayla! Ibu yang melahirkan kamu!" Rosma mulai terbawa emosi.
"Tapi, kenapa ibu malah tega meninggalkanku?"
"Kalau ayah yang tidak punya pekerjaan tetap menjadi alasannya, mengapa aku juga menjadi korbannya, Bu?"
"Mengapa ibu tidak membawaku pergi bersama ibu dan membiarkanku kesulitan dalam segala hal karena mengurus ayah yang sering sakit-sakitan?"
Rosma tidak mampu berkata-kata lagi. Ia merasa menyesal telah meninggalkan Kayla hanya karena lelah hidup susah bersama suaminya.
Rosma malah memutuskan untuk bekerja ke luar negeri dan akhirnya ia menikah setelah dua tahun tidak pernah kembali ke rumah.
__ADS_1
Rosma tidak tahu kalau Kayla mengalami kesulitan selama ia tinggalkan. Dan karena keegoisannya, ia harus bisa menerima kebencian putrinya sendiri.
"Berapa harga rumah itu?" Suara Kalandra terdengar dari arah pintu depan.
Semua orang menatap kedatangan Kalandra yang entah sejak kapan mendengar percakapan Kayla dan Rosma.
Riana memang tidak ingin ikut campur dengan masalah keluarga menantunya itu sehingga ia hanya bisa mengusap bahu Kayla agar menantunya itu bisa lebih bersabar lagi.
Kalandra berjalan masuk dan mendekati mereka. "Aku mendengar semuanya, Bu." Kalandra menatap mama mertuanya.
"Ibu sudah melewati batas. Ibu sudah melukai hati istriku. Maaf kalau aku tidak bisa lagi memberi toleransi atas perlakuan ibu terhadapnya."
"Ibu ingin uang, kan?"
"Sebutkan saja berapa!"
"Mas .... Apa yang kamu lakukan?" Kayla tidak setuju dengan ucapan Kalandra yang seolah akan memberikan uang secara cuma-cuma pada ibunya.
Kalandra hanya mengangkat telapak tangannya tanda melarang Kayla untuk bicara.
"Berapa bagian yang ibu minta? Setengah? Seperempat? Sepertiga? Atau seluruhnya? Katakan saja, Bu!"
Rosma tidak menjawab. Ia tergiur dengan tawaran Kalandra. Tapi, ia sudah terlanjur melukai hati Kayla.
Riana membuka cincin berlian di jari tangannya. "Terimalah!"
Rosma membulatkan matanya saat Riana meletakkan cincin berlian itu diatas meja.
"Harganya lebih dari setengah rumah petak milik Kayla."
"Bawalah, dan jangan pernah kembali hanya untuk menyakitinya dan membuat ketenangan di rumah ini menjadi terganggu."
"Ma..." Kayla menggeleng.
"Tidak apa-apa, Kay. Tidak ada yang lebih berharga dibanding dengan ketentraman di rumah ini."
"Jika Bu Rosma datang hanya untuk mengunjungi Kayla dan Ara, rumah ini terbuka lebar untuk anda."
"Tapi, jika anda datang untuk menyakitinya lagi. Ada saya, mertua saya, Andra dan seluruh keluarga yang akan menjadi tameng."
"Kemarahan Andra akan membawa Bu Rosma ke dalam mimpi buruk yang tidak pernah anda bayangkan."
Akhirnya, Rosma pergi dengan membawa cincin berlian milik Riana. Riana juga memberikan sertifikat keaslian berlian tersebut.
Awalnya Kayla marah pada Riana yang telah melepaskan berlian mahal itu begitu saja. Tapi, Riana meyakinkan Kayla bahwa Kalandra akan menggelontorkan lebih banyak uang untuk memutus masalah ini.
Kalandra juga meyakinkan Kayla bahwa berlian itu tidak lebih berharga dibanding tawa di rumah ini.
Mereka sudah kaya sejak lama. Tapi, kebahagiaan di rumah itu baru kembali setahun terakhir sehingga Kalandra rela membayar mahal agar masalah itu cepat berakhir.
__ADS_1