Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 96 S2 Pulang


__ADS_3

Jendra hanya mengaduk-aduk segelas jus di depannya dengan sedotan. Pria itu tampak menopang dagu dan memperhatikan cairan jus yang berputar seiring gerakan sedotan ditangannya.


Perdebatan di rumah sakit tadi menjadi pemicu perubahan sikap Jendra. Ia ingin membawa orang tuanya kembali tinggal bersamanya, namun sepasang suami istri itu kompak menolak.


Melihat mamanya yang belum siap membahas hal itu membuatnya semakin khawatir dengan kondisi wanita yang telah melahirkannya itu.


"Kepala mama bahkan terasa sakit hanya karena kami membahas masalah tempat tinggal mereka, Mel," ucap Jendra pada sekeretaris yang selalu menemaninya.


"Apa salah, jika aku meminta mereka tinggal bersamaku? Minimal dekat dengan tempat tinggalku."


"Mereka tidak memikirkan bagaimana repotnya aku harus sering-sering datang padaha aku sangat sibuk."


Mereka tengah makan siang di salah satu restoran yang letaknya tak jauh dari rumah sakit. Surendra meminta Melani mengajak Jendra untuk keluar sebentar agar Jenar bisa istirahat sejenak.


Melani tersenyum tipis. Tangannya terlipat di atas meja dan ia terus menatap pria di depannya.


"Bu Jenar tidak meminta anda untuk datang, Pak!"


"Tapi, pak Surendra yang minta, kan?"


Jendra menatap malas ke arah Melani. "Sama saja, Mel."


"Aku hanya ingin mama mengerti kalau aku tidak ingin jauh dari mereka disaat kondisi kesehatan mereka semakin menurun karena faktor usia."


Oke, aku-kamu lagi?


"Saya tau, maksud bapak."


"Anda mungkin belum merasakan benar-benar jatuh cinta dan belum menjadi orang tua."


"Percayalah, Bu Jenar sebenarnya tidak ingin merepotkan anda."


"Dan Pak Surendra ...."


"Anda harusnya faham bagaimana takutnya beliau kehilangan bu Jenar, wanita yang paling ia cintai."


"Wajar jika Pak Surendra meminta anda untuk datang. Meski sedikit terlambat, setidaknya ia tahu ada orang lain yang akan menguatkannya."


"Pak Surendra butuh anda, Pak. Entah itu hanya sebagai teman untuk mendiskusikan mengenai tindakan lanjut untuk perawatan Bu Jenar, atau mungkin malah untuk menyemangati Bu Jenar agar segera sembuh."


"Jangan salahkan atau marah pada salah satu dari mereka berdua. Mereka tidak bersalah."


"Jadi, saya harus bagaimana, Mel?"


"Biarkan bu Jenar sembuh dulu. Lalu setelah itu, kalian bisa bicara bertiga dengan hati tenang dan kepala dingin."


Jendra mengangguk pelan. "Terima kasih, Mel. Sudah selalu berada di samping saya."


Melani mengangguk. Tubuhnya terasa membeku saat tangan Jendra mengusap tangannya.


"Selama ini, hanya kamu yang bisa saya andalkan."

__ADS_1


Melani merasakan jantungnya berdetak kencang. Ia tak kuasa menahan sentuhan tangan Jendra yang membuat tubuhnya seolah teraliri arus listrik.


"Dan selalu bisa anda repotkan," sambung Melani lalu tertawa agar tak merasa canggung.


Jendra juga ikut tertawa.


Sore harinya, Melani duduk disamping Jenar. Ia dengan telaten menyuapkan makanan yang ada ditangannya.


"Satu suap lagi, Bu!" Bujuk Melani saat Jenar menggeleng pelan, menolak suapan terakhirnya.


Melani menghela nafas dan meletakkan piring itu di atas meja.


"Ibu harus makan yang banyak," ucap melani seraya memberikan segelas air putih pada Jenar.


"Ibu harus segera sembuh. Saya melihat, wajah pak Jendra tampak panik saat kami menuju bandara tadi."


"Pak Jendra juga tampak melamun, tapi sering memeriksa ponselnya."


"Saya sebenarnya tidak kenapa-kenapa Mel. Saya pun tidak ingin Jendra datang hanya karena saya pingsan."


Melani tersenyum. "Jika saya ada di posisi pak Jendra, saya akan melakukan hal yang sama, Bu."


"Jika saya bisa meminjam pintu kemana saja milik doraemon, saya akan meminjamnya."


Melani dan Jenar tertawa bersama.


"Jika saya tahu anda sakit, saya pasti juga akan meminta pak Jendra untuk segera menemui Ibu."


Jenar mengusap lengan Melani. "Anggap saya sebagai ibu kamu, Mel. Saya tahu rasanya karena saya juga sudah tidak punya orang tua lagi."


Melani mengangguk dan mengusap air matanya. "Ah, Ibu harus minum obat."


Melani memberikan obat yang sudah diberikan oleh suster. Ia juga membantu memberikan segelas air putih.


"Ibu istirahat, ya. Saya akan tetap menjaga ibu disini."


Jenar tersenyum dan mengangguk saat Melani merapihkan selimut yang menutup setengah tubuhnya.


"Mel ...."


"Ya, Bu."


"Apa Jendra tidak bisa membuat kamu jatuh cinta padanya?"


Melani terkesiap mendengar pertanyaan itu. Jendra membuatnya jatuh cinta? Apakah mungkin?


Selama ini, Jendra hanya membuatnya repot, lembur terus dan sesekali merasa kesal. Bagian mana yang bisa membuatnya jatuh cinta pada pria itu?


"Ehm ... maksud saya, apa tidak ada hal yang menarik bagi kamu dari Jendra? Kalian kan sudah lama bersama."


Melani menggeleng pelan. "Maaf, Bu."

__ADS_1


"Saya tidak pernah melibatkan perasaan saya saat sedang bekerja. Beliau atasan saya dan saya hanya sekretarisnya."


Melani melihat wajah Jenar tampak kecewa. Ia tidak ingin membohongi wanita itu dan juga hatinya.


"Mungkin kami akan tinggal kembali bersamanya setelah ia menikah. Dan saya berharap gadis itu adalah kamu."


"Lebih baik, Ibu istirahat dulu. Jangan fikirkan hal yang tidak-tidak, Bu."


"Fokuslah pada kesembuhan anda karena ada suami dan anak yang mengharapkan hal itu."


Tanpa mereka sadari, Jendra sudah berada di depan ruangan rawat itu. Ia baru saja menemani papanya pulang ke rumah untuk mengambil beberapa pasang pakaian ganti.


Ia kembali lebih dulu, karena papanya masih harus menemui dokter.


Jendra duduk di kursi tunggu di depan ruangan itu. Ia mengusap wajahnya yang kian kusut.


*Mengapa harus Melani, Ma? Apa tidak ada gadis lain yang bisa mama tunjuk untuk menjadi istriku?


Melani adalah gadis baik-baik, aku tahu itu. Dan rasanya tidak adil jika aku menikahinya karena aku bukan pria baik-baik. Aku sudah terlalu banyak berbuat kotor dengan mantan-mantanku*.


"Kenapa masih di sini, Jend?" tanya Surendra saat melihat putranya sedang duduk di kursi tunggu dengan koper yang belum ia masukkan ke ruang rawat itu.


"Kamu memikirkan apa? Papa lihat dari kejauhan, kamu mengusap wajahmu berkali-kali."


Jendra menggeleng pelan. "Aku mendengar mama sedang tertawa dengan Melani, jadi aku tidak ingin mengganggu."


Surendra masuk ke ruang rawat itu. Tampak Melani sedang duduk di sofa dan istrinya mulai memejamkan mata.


"Ma, sudah makan?" tanya Surendra saat melihat piring diatas meja sudah kosong.


Jenar mengangguk. "Sudah, Pa. Melani yang menyuapiku."


Jendra duduk disamping Melani. Ia melihat gadis itu sedang memeriksa pesan di ponselnya.


"Ajak Melani pulang ke rumah, Jend! Biar papa yang menjaga mama disini!"


Jendra dan Melani sama-sama terkejut mendengar permintaan pria yang berusia lima puluhan tahun lebih itu.


"Kalian istirahat di rumah, dan besok pagi datang ke sini lagi."


"Sa-saya akan menginap di hotel di sekitar sini, Pak," ucap Melani yang tidak ingin merepotkan siapapun.


"Mel, pulanglah! Tante tahu, kamu pasti kelelahan!"


Melani kembali tertegun saat mendengar Jenar mengucapkan kata tante setelah mereka mengobrol panjang lebar dengan panggilan Ibu.


Jenar tidak ingin Melani menganggapnya sebagai atasan atau orang yang harus di hormati karena ia ibunya Jendra. Ia ingin Melani akrab dengannya.


"Ayo, pulang!" ajak Jendra.


Melani tidak bisa berkata-kata lagi saat Jendra meraih tangannya.

__ADS_1


"Kami pulang dulu, Ma, Pa," pamit Jendra sebelum keluar dari ruangan itu.


__ADS_2