Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 54 Sakit


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, sepasang suami istri yang baru saja merasa bahagia atas pengakuan satu sama lain itu masih enggan keluar dari balik selimut.


Tubuh polos keduanya menjadi saksi betapa dua insan itu tak sanggup lagi melawan hasrat masing-masing yang selama ini mereka tahan.


Kayla yang sedikit malu-malu kucing, dan Kalandra yang lebih cool akhirnya melakukan penyatuan demi bisa melahirkan cucu untuk Oma.


Mereka meluapkan cinta dengan saling beradu desa*han. Saling sahut menyahut. Tak ada lagi ada rasa ragu memikirkan perjanjian yang sudah dibatalkan secara langsung oleh Kalandra sendiri.


"Bangun, yuk!" Ajak Kalandra pada Kayla yang masih memeluk guling dan menempelkan wajahnya di guling itu.


"Ehm... Sebentar lagi, Mas!" sahutnya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Kamu tidak mau menyiapkan sarapan untukku?"


Kayla menggeleng. "Tidak!"


"Tidak?" Kalandra mengerutkan kening mengulang jawaban Kayla. Biasanya Kayla akan sangat bersemangat untuk menyiapkan sarapan.


"Ya.." jawabnya lagi meski matanya masih terpejam.


"Seluruh tulang-tulangku seperti patah."


"Tubuhku lelah seperti habis berkelahi melawan 10 orang preman."


Kalandra tertawa. Ia memeluk Kayla yang tidur miring menghadap ke arahnya. "Separah itu, Kay?"


Kayla tertawa. "Coba ingat apa yang kamu lakukan padaku tadi malam."


"Tidak mau!" balas Kalandra.


"Coba ingat dulu, Mas!" rengek Kayla.


"Kalau ku ingat lagi, aku jadi ingin mengulangnya. Apa kamu mau aku kembali melakukannya padamu?"


"Lakukan saja, maka aku akan membanting kamu ke lantai, dan aku akan mematahkan milikmu itu, Mas!" ancam Kayla.


Kalandra tertawa. "Aku tidak akan melakukannya sekarang."


"Tapi mungkin nanti malam." Kalandra tertawa. "Sepertinya aku akan kecanduan kamu, Kay?"


Kayla tak bergerak sedikitpun dalam dekapan Kalandra. "Lebih baik begitu. Dari pada kamu kecanduan wanita di luar sana!"


"Sepertinya kamu mulai posesif," balas Kalandra.


Kayla tertawa. "Karena aku tidak punya keinginan sedikitpun untuk berbagi suami."


"Aku sulit jatuh cinta, Mas. Tapi, sekali aku jatuh cinta, aku akan jatuh se jatuh-jatuhnya."


"Kalau begitu, jatuhlah terus dalam cinta itu Kay, sampai kamu tidak ingin bangkit lagi. Karena aku akan terus mencintai kamu sampai kapan pun!"


Kayla menatap wajah Kalandra. "Kamu tidak percaya?" tanya Kalandra saat melihat ekspresi datar di wajah istrinya.

__ADS_1


"Percaya," jawab Kayla.


"Lalu mengapa kamu menatapku begitu?" tanya Kalandra. "Apa kamu mulai menyadari bahwa suamimu ini sangat tampan?"


Kayla tersenyum. "Soal tampan, aku sudah tahu sejak pertama kali kita bertemu."


"Aku hanya mencoba mengingat, sejak kapan si kulkas ini mulai banyak bicara. Dan dari mana kamu belajar merangkai setiap kata cinta itu!" Kayla mencubit pelan hidung suaminya.


Kalandra terkekeh. "Kamu memberiku julukan kulkas? Romantis sekali."


"Kamu benar, kulkas adalah sebuah peralatan elektronik yang bisa membuat apapun lebih awet. Semoga rasa cinta yang kamu berikan untuk si kulkas ini bisa awet sampai kapanpun."


Kayla tertawa tanpa suara. Ternyata Kalandra tidak tahu, jika kulkas adalah julukan untuk pria cool dan tidak banyak bicara sepertinya.


"Dan soal kata cinta. Kamu harusnya bisa menebak, aku belajar darimana."


"Singa gil*?" tanya Kayla membuat pria di hadapannya mengerutkan alis.


"Hem, maksudku pak Jendra?" ulang Kayla gugup karena menyebut nama Jendra dengan kata yang salah.


Kalandra kembali terkekeh. "Siapa yang memberikan nama itu padanya?"


"Jangan katakan padanya, Mas. Mbak Mel yang memberikan julukan itu padanya." jawab Kayla takut-takut.


Kalandra mengusap kepala Kayla. "Untuk apa aku mengatakan padanya. Lagi pula, singa gil* juga terlalu keren untuknya."


"Harusnya kalian beri dia nama...." Kalandra berfikir sebentar. "Kutu gil*." Kayla tertawa.


Tok... Tok... Tok...


"Bi Marni, Mas."


"Oma menunggu untuk sarapan," lanjut Bi Marni.


"Bagaimana ini, Mas?" bisik Kayla karena merasa sungkan sebab Oma sudah menunggu mereka.


"Katakan pada Oma, agar jangan menunggu kami, Bi!" Jawab Kalandra membuat Kayla marah.


"Oma menunggu kita, Mas!" bisik Kayla.


Dan ucapan Kalandra selanjutnya membuat Kayla tak lagi mampu berkata-kata. "Katakan pada Oma, kami sedang membuatkan cucu untuknya."


Kalandra tertawa karena Kayla mencubit perutnya. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Kay!"


"Tapi kan kita sudah selesai, Mas!"


"Ssssst!" Kalandra menempelkan jari telunjuknya di bibir. "Pelankan suaramu, karena bi Marni masih di depan pintu."


"Aku tidak peduli. Suara kamu tadi bahkan bisa terdengar sampai ke tetangga sebelah!" kesal Kayla.


Kalandra tertawa. "Biar saja, justru aku senang tetanggaku mendengarnya."

__ADS_1


"Dasar gil*a!!!" gumam Kayla.


Bukannya marah, Kalandra malah mencuri satu kecup*an singkat di bibirnya dan segera beringsut turun dari ranjang.


"Hahaha... semua itu karena kamu!" seru Kalandra senang.


"Mau mandi sendiri atau ku mandikan?" tawar Kalandra yang sedang berdiri dengan tubuh polosnya.


"Aku mau mandi sendiri," jawab Kayla yang masih belum bergerak dari atas ranjang. Ia sengaja membiarkan suaminya untuk mandi lebih dulu.


"Silahkan saja jika memang bisa." Kalandra masuk ke dalam kamar mandi.


Tapi, tak lama kepalanya kembali muncul di depan pintu yang terbuka sedikit itu. "Jika butuh bantuanku, aku ada di dalam."


Kayla memutar bola matanya. "Aku wanita kuat, Mas!"


"Sudah, kamu mandi sana!" Kayla mengibaskan tangannya menyuruh Kalandra masuk ke kamar mandi.


Kayla kembali memejamkan mata untuk beberapa menit. Setelah tidak lagi mendengar gemericik air di kamar mandi yang artinya Kalandra sudah selesai dan akan keluar beberapa saat lagi, Kayla perlahan mencoba untuk bangun.


"Ssst!" Desisnya dengan meringis menahan rasa perih dan tidak nyaman di area sensitifnya.


"Kenapa seperti ini rasanya," keluhnya bertanya-tanya.


Kayla perlahan turun dari ranjang dengan merapatkan kakinya. Ia berjalan dengan sangat hati-hati. Selain itu, ia juga melilitkan selimut di tubuhnya sehingga ia harus memperhatikan langkah kakinya.


Kalandra yang masih memakai bathrobe keluar dari kamar mandi. Ia melihat Kayla dengan ekspresi menahan nyeri berjalan sangat lambat.


Bukannya membantu, Kalandra malah melipat tangan di dada dan bersandar di pintu kamar mandi.


Ia melihat apa yang dilakukan Kayla adalah bukti betapa beruntungnya dirinya mendapatkan gadis yang masih suci seperti Kayla. Ia yang tak pernah menyentuh gadis manapun, malah Tuhan takdirkan bersama dengan gadis yang belum tersentuh pula.


"Kamu tidak berniat membatuku, Mas?" tanya Kayla yang cukup terkejut saat melihat suaminya malah menjadi penonton dirinya yang kesulitan.


Kalandra tersenyum. "Aku sudah menawarkannya tadi!" ucap Kalandra.


"Tapi, karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak membiarkan air matamu menetes..." Kalandra berjalan mendekat.


"Aku akan membantu kamu..." Kalandra menggendong tubuh Kayla


Kayla menjerit karena terkejut sebab merasakan tubuhnya tiba-tiba melayang.


"Mas..."


"Jangan bergerak, Kay. Nanti kita terjatuh bersama."


Kalandra mendudukkan Kayla di kloset. "Mau ku bantu untuk berendam, Sayang?"


Ternyata Kalandra telah mengisi bathtub dengan air hangat untuk Kayla berendam.


Kayla menggeleng malu. "Tidak perlu, Mas. Kamu keluar saja dulu."

__ADS_1


Kalandra mengangguk. "Jika butuh apapun, panggil aku saja."


Kayla mengangguk senang. Ia merasa beruntung memiliki suami perhatian seperti Kalandra. Semoga waktu tidak membuat semuanya berubah.


__ADS_2