
"Baj*ingan!" Jendra memukul stir mobilnya berkali kali sambil mulutnya terus mengumpat.
Ia meluapkan kekesalannya. Salah, yang ia rasa bukan hanya kesal, tapi marah, kecewa, sedih, sakit hati semua bercampur jadi satu menimbulkan rasa sesak di dada.
Luapan amarah itu membuat seluruh otonya terasa kram hingga ia menjadikan stirnya sebagai sasaran.
Ia mengingat apa yang dikatakan pria itu padanya sebelum ia benar-benar pergi dari rumah itu.
"Pria itu mengatakan kalau mereka saling mencintai. Lalu dimana posisiku selama ini?" gumamnya geram. Rahangnya mengeras dan jemarinya mengepal kuat.
"Aaargggh!" jeritnya kuat dan tangannya kembali memukul stir.
Rintik hujan yang membasahi kaca mobilnya tak membuatnya mengurangi kecepatan. Jendra menggi*la di jalan raya malam ini. Menginjak gas sesukanya dan menekan klakson semaunya agar kendaraan di depannya menyingkir sejenak dan memberi jalan untuknya.
"Dan dia memintaku untuk tidak mengganggu hubungan mereka," ucap Jendra lagi.
Ia tertawa keras. "Aku tidak akan sudi lagi muncul dihadapan mereka."
"Aku mu*ak! Aku muaa****k!" Jendra berteriak seperti orang gil*.
"Aku sudah menjaganya diriku sendiri agar tidak menyentuhnya sebelum aku menikahinya. Tapi, gadis itu malah hamil dengan pria lain."
"Selama ini dia berbohong. Dia sudah berselingkuh di belakangku."
"Pantas saja, dia selalu menolak dengan bermacam alasan jika aku mengatakan akan menemuinya."
"Pantas saja, dia selalu sibuk dan jarang mengangkat telfon dariku."
"Ck!" decaknya kesal. "Ternyata wajah lugu dan polos seorang gadis tidak bisa menjamin dia takkan menyakiti seorang pria."
"Entah mengapa, gadis yang selama ini mengejar ku terasa jauh lebih baik." Sejenak ia mengingat mantan-mantan yang selalu menunggu kata balikan darinya.
"Setidaknya mereka tidak munafik," ucap Jendra lagi.
Dia terus berbicara sendiri. Ia harus mengeluarkan semua kekesalannya meski dengan cara mengomel tidak jelas seperti ini.
Perjalanan yang masih satu jam lagi itu membuat Jendra terpaksa menyalakan musik. Memilih mendengarkan lagu agar ia tidak terus memikirkan kejadian tadi.
"Siapa dia yang bisa menyakiti hatiku sampai sedalam ini?" ucap Jendra dengan senyuman sinis seolah gadis itu ada di depannya.
"Dan siapa pria itu?" tanyanya pada rintik hujan di kaca mobilnya yang seketika menghilang tersapu wipper.
"Dia tidak cocok bersaing denganku."
"Dia menghamili gadis itu karena merasa tidak mampu bersaing secara sehat denganku, eh?" tanyanya pada diri sendiri sambil tertawa.
"Astaga! Ternyata kami memang beda kelas!" Jendra tertawa sendiri. Entah apa yang ia tertawakan tapi yang pasti hatinya masih terluka.
__ADS_1
Ia masih belum terima dirinya dicurangi seperti ini.
****
Pagi yang cerah. Jendra bahkan belum bangkit dari atas ranjangnya. Ia menggeliat dan tidur tengkurap dengan wajah mengarah ke samping.
Rambutnya acak-acakan. Ia bahkan tak memakai baju. Hanya selimut tebal yang menghalau dinginnya kamar itu.
Jendra melihat kearah jam dinding besar di kamarnya. "Sudah jam 10?" tanyanya sendiri.
Tangannya mengucek mata beberapa kali dan ternyata ia tak salah lihat. Jarum pendek di jam itu memang sudah menunjukkan angka 10.
"Pantas saja perutku sudah sangat lapar."
Ia bahkan belum makan sejak kemarin malam. Sepulangnya dari rumah Yaya, Jendra langsung masuk ke dalam kamar dan mengguyur tubuhnya. Kepalanya seperti berasap karena terbakar emosi. Ia juga langsung tidur setelahnya hingga melewatkan makan malam.
Jendra mengambil ponsel yang terletak di atas nakas. Ia menghubungi seseorang.
"Bi, tolong antarkan sarapanku ke kamar. Dan bawakan air putih yang banyak!" pintanya pada asisten rumah tangga.
Tak perlu menunggu lama. Pintu kamarnya di ketuk. Ia turun dari atas ranjangnya dan mengambil nampan berisi sarapan dan air putih yang ia minta.
Jendra meletakkan makanannya diatas meja. Ia sempatkan untuk mencuci muka dan menggosok giginya. Baginya, patah hati boleh, tapi kebersihan tetap nomor satu.
Setelah membuka tirai jendela agar cahaya matahari masuk ke dalam, ia duduk di sofa untuk menikmati sarapannya.
Jendra kembali merebahkan tubuhnya di sofa sambil menonton tv. Ia masih ingin bermalas-malasan pagi ini.
Ponselnya berdering. Ia mengabaikannya. "Aku sedang tidak ingin diganggu!" ucapnya pada ponsel yang ia letakkan di atas meja.
Ponselnya kembali berdering untuk yang ke dua kalinya. "Sudah ku katakan aku tidak ingin diganggu!" bentaknya agak keras.
Dering ketiga, sungguh membuat telinganya sakit. Ia melihat nama yang muncul di layar.
"Ibu negara," gumamnya malas.
Ia meletakkan ponsel itu di telinganya setelah menggeser icon berwarna hijau.
"Ya, Ma!" jawabnya malas.
"Mama lihat, kamu tidak keluar kamar sejak pagi, Jend? Kamu sakit?" tanya wanita bersuara lembut itu.
"Mama masih mengawasiku, heem?" tanya Jendra malas. Ia mendengar tawa dari speaker ponselnya.
"Ayolah, Ma. Aku bukan anak bayi lagi, Ma."
"Jendra sudah besar, Ma. Jangan berlebihan begitu..."
__ADS_1
Mamanya selalu mengawasi dirinya melalui CCTV. Meski tidak dipasang di dalam kamarnya, tapi di ruangan lain ada.
Wanita bernama Jenahara itu tertawa. "Kamu memang bayi mama, Sayang!"
"Ck!" Jendra berdecak. "Tapi itu 30 tahun lalu, Ma. Sekarang aku bahkan bisa memberikan mama bayi."
Mamanya tertawa. Panggilan dari pulau Dewata itu tak membuat keduanya saling merindukan. Malah perdebatan kecil seperti ini yang selalu mewarnai keseharian Jendra meski wanita itu tak ada di dekatnya.
Jenahara memilih tinggal di pulau yang masih asri itu bersama suaminya,- Surendara Dewandaru. Menghabiskan masa tua dengan menikmati semua kekayaan yang sudah suaminya kumpulkan sejak lama.
Dan sekarang mereka menyerahkan semua bisnis pada putra tunggal mereka yang tidak pernah memberikan sinyal akan segera menikah itu.
"Ayo buktikan!" tantang Jenahara. "Ayo! Berikan mama cucu yang lucu maka mama akan mengurusnya dengan sepenuh hati seperti anak sendiri."
Jendra berdecak lagi. "Anakku bukan sejenis kedelai hitam pilihan, Ma!"
"Hahaha..." mamanya tertawa. "Bukan begitu, Jend. Mama hanya ingin kamu tahu bahwa mama sudah tidak sabar menimbang bayi lagi."
"Siapa pacar kamu yang sekarang? Masih dengan gadis pemilik kedai kopi itu, Sayang?" tanya mamanya.
"Ajak dia ke sini, Sayang! Mama dan papa ingin bertemu dengannya."
"Atau mama saja yang pulang ke Jakarta?"
Jendra memang selalu menceritakan kepada mamanya, dengan siapa ia sedang menjalin hubungan. Dan ia bahkan sudah mengatakan pada orang tuanya kalau kali ini hubungannya sangat serius.
"Baru saja putus!" ucap Jendra malas.
"Apa? Kenapa bisa?" wanita itu berteriak. Jendra sampai menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Ya bisa saja. Aku sedang tidak ingin membahasnya, Ma."
"Jadi, karena patah hati yang membuat kamu tidak keluar dari kamar, Sayang?" tanya mamanya.
"Heem!" balas Jendra lagi.
"Berliburlah kesini. Mama pesankan tiket, ya?"
"Tidak perlu, ma. Aku hanya ingin tidur hari ini."
"Mama pinta Melani untuk datang dan mengajak kamu jalan-jalan ya?"
"Tidak perlu, ma. Meminta gadis itu untuk menemuiku malah membuat ku semakin pusing dengan ocehannya."
"Ya sudah, pesan mama hanya satu. Jangan sampai memikirkan hal buruk apalagi sampai ingin mengakhiri hidup."
Jendra berdecak kesal. "Aku tidak sefrustasi itu, Ma."
__ADS_1