Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 68 Nyonya Dewandaru


__ADS_3

"Mel, bersiap karena mamaku sudah berada di loby kantor," suara Jendra terdengar dari intercom di meja kerjanya.


Melani mendelik seketika. Padahal ia sedang menikmati se-cup kopi yang baru saja diantar oleh kurir.


"Ka-Kayla!" panggil Melani gugup. "Gawat Kay, Induk singa sudah berada di gedung ini!" Melani segera berdiri dan membuang kopinya yang masih setengah ke dalam tong sampah. Padahal ia masih sangat mengantuk karena malam tadi ia terlalu sibuk menonton film horor dari ponselnya.


Kayla mendelik. "Bagaimana bisa ada induk singa di gedung perkantoran, Mbak?"


"Apa induk singa itu kabur dari kebun binatang?" tanya Kayla yang belum faham maksud rekannya.


Kayla baru saja kembali dari kamar mandi. Sejak kemarin, frekuensi buang air kecilnya menjadi lebih sering. Entah apa penyebabnya, tapi yang pasti Kayla kesulitan menahan rasa sesak yang ia rasakan setiap satu jam sekali.


"Maksudku, Nyonya Dewandaru," balas Melani.


Kayla terkesiap. Ia merapihkan meja kerjanya yang sedikit berantakan. "Aku harus bagaimana, Mbak Mel."


"Sapa dengan senyum. Dan kamu harus jadi orang yang percaya diri dihadapnya. Dia sangat perfeksionis."


Kayla memang belum pernah bertemu Nyonya Dewandaru secara langsung. Karena selama ini wanita bernama lengkap Jenahara Dewandaru dan suaminya- Surendra Dewandaru menetap di pulau Dewata, Bali.


Dalam hitungan menit, Kayla bisa melihat wanita anggun, berjalan bak model dengan langkah satu garis lurus. Seperti flaminggo yang berdiri tegak dengan dada membusung ke depan. Sungguh, defini wanita sempurna dengan rasa percaya diri yang tinggi.


Oh Tuhan, kulitnya cantik sekali. Kuning langsat dan tampak lembut. Rambutnya panjang, matanya menatap tajam. Mengapa Bu Jenar lebih cocok menjadi kakaknya pak Jendra? batin Kayla.


"Selamat pagi, Bu!" Sapa Melani yang sudah berdiri keluar dari meja kerjanya demi menyambut wanita paling berwibawa yang pernah ia lihat.


"Selamat pagi, Bu!" sapa Kayla juga.


Bu Jenar membalas sapaan mereka dengan senyum merekah. Barisan gigi putih terawat diantara dua bibir yang dibalut lipstik warna merah menyala membuat siapapun pasti terpukau.


"Jendranya, ada Mel?" tanya Bu Jenar pada Melani.


"Ada Bu, mari saya antar!" Ucap Melani sembari berjalan didepan Bu Jenar, lalu ia membuka pintu kaca itu.


"Selamat siang, Pak! Ibu ingin bertemu dengan anda," ucap Melani pada Jendra.


Jendra belum menjawab, tapi wanita paling cantik sedunia versinya itu sudah masuk ke dalam ruangan.


"Terima kasih, Mel."


Melani keluar dari ruangan Jendra dengan jantung yang masih berdebar hebat.

__ADS_1


"Sepertinya, Bu Jenar orangnya ramah dan lemah lembut, Mbak!" tanya Kayla pelan.


Ia bisa menyimpulkan dari apa yang dilihatnya saat ini. Wanita itu tidak memberi tatapan merendah pada mereka berdua. Cara bicaranya juga sopan walaupun tegas. Dan senyumnya, jika saja Kayla adalah seorang pria, mungkin dia sudah jatuh cinta hanya dengan melihat senyum itu.


"Bu Jenar memang seperti yang kamu katakan tadi, Kay! Tapi dibalik sikapnya yang seperti itu, dia bisa tiba-tiba memberi teguran pada kamu hanya karena sebuah kesalahan kecil."


"Dia keibuan, ku akui itu. Dan dia paket lengkap, komplit, no minus." puji Melani tulus karena ia juga mengakui wanita yang ia sebut induk singa itu sangat keibuan.


Baginya, sikap Jendra yang ingin tampil sempurna disetiap meeting, atau dalam hal apapun, merupakan turunan dari Bu Jenar.


Berkas salah sedikit, harus di revisi ulang. Dan yang Melani baru tahu adalah saat liburan ke Bali beberapa bulan lalu. Jendra selalu tampil sempurna, meski hanya dengan jeans setinggi lutut. Jika saja Jendra bukan bos nya, mungkin ia akan jatuh cinta. Namun, Jendra malah membuatnya illfeel karena mencium dirinya secara tiba-tiba.


Setelah 30 menit kedatangan Bu Jenar, Kayla dikejutkan dengan kedatangan suaminya.


"Mas Kalandra?" gumam Kayla saat melihat suaminya yang datang sendirian.


"Mau apa pak Kalandra kesini, Kay?" tanya Melani yang sudah mencium bau-bau masalah baru.


"Tidak ada meeting kan, hari ini?" tanya Melani lagi.


Kayla menggeleng. "Tidak ada, Mbak."


"Tante Jenar ada di dalam, Mel?" tanya Kalandra yang memasukkan satu tangannya di saku celana.


Melani mengangguk. "Ada, Pak."


"Ck! Bos kamu cari masalah saja!" gumam Kalandra membuat Melani mengerutkan kening karena merasa bingung.


"Hai sayang!" Kalandra sempatkan menyapa istrinya. "Kamu tampak pucat, sayang." Kalandra memegang dagu Kayla yang sedang duduk di kursi kerjanya.


Kalandra memutar kursi beroda itu dan menelisik wajah Kayla. "Jangan terlalu lelah." Ia mengecup pucuk kepala Kayla berulang kali.


"Istirahat nanti, makan siang denganku. Jangan keluar gedung tanpa aku." ucap Kalandra sebelum masuk ke dalam ruangan Jendra.


Melani merebahkan kepalanya di meja setelah tubuh Kalandra tidak terlihat lagi.


"Aaaaahhh..." ucapnya dengan suara lemah. "Aku iri..."


"Aku kena diabet!" Lirihnya lagi.


"Oh Tuhan, Kayla. Bagaimana bisa kamu melewati hari-hari dengan pria semanis itu."

__ADS_1


Kayla menatap Melani yang kini juga menatapnya. Kayla menahan senyum mendengar Melani mengatakan iri padanya.


"Dia manis sekali, Kay!"


Kayla tertawa. "Apa sekarang temanku sedang mengagumi suamiku?" Kayla menopang dagunya dengan kedua tangannya.


Melani terkesiap, takut Kayla salah faham. Ia mencebikkan bibir. "Makananku masih nasi, Kayla. Jadi tenanglah, aku tidak akan makan teman sendiri!"


Kayla tertawa. "Aku percaya."


"Baguslah. Aku lega!" Jawab Melani.


"Pada suamiku!" balas Kayla sambil tertawa.


Melani mencebikkan bibir lagi. "Aku juga bisa dipercaya, Kayla."


Kayla mengangguk. "Tapi aku lebih percaya pada suamiku, Mbak. Jika seandainya gadis itu bukan mbak Mel, aku juga takkan merasa cemburu."


"Karena aku percaya pada suamiku."


Melani berfikir sejenak. Ia melipat tangan di meja. Bukannya kembali bekerja, mereka malah sibuk bercerita. Padahal di dalam ada induk singa berserta anak singa.


"Kamu sepercaya itu pada suamimu, Kay?" tanya Melani.


Kayla mengangguk. "Ya, aku percaya padanya."


"Kamu tidak pernah memeriksa aplikasi pesan di ponselnya?"


Kayla menggeleng. "Tidak. Untuk apa aku memeriksa ponselnya."


Melani salut. "Kamu terlalu cuek atau terlalu percaya sih, Kay?" tanya Melani.


Kayla menanggapinya dengan senyum. "Bagiku memeriksa ponsel pasangan kita itu adalah hal yang tidak etis. Semua orang punya privasi, Mbak. Termasuk suamiku."


"Bukankah kualitas hubungan bisa dilihat dari sana. Jika kita masih memeriksa ponsel pasangan secara diam-diam, itu artinya kita belum percaya sepenuhnya pada pasangan kita."


"Dan aku tidak akan melakukan itu. Jika memang Mas Kalandra memiliki rahasia di ponselnya, aku tidak ingin tahu selama hubungan kami masih baik-baik saja."


"Mel, ke ruangan saya sekarang!" suara Jendra terdengar dari intercom.


Melani mendelik. Ia menatap Kayla yang seketika merasa sama khawatirnya dengan dia.

__ADS_1


"Kay, doakan semoga aku bisa keluar dengan selamat!" ucap Melani sebelum masuk ke dalam ruangan itu.


Kayla mengangguk. Entah apa masalah yang telah terjadi, tapi yang pasti Kayla terus nertanya-tanya. Apalagi sampai lebih dari 30 menit, Melani belum keluar dari ruangan itu.


__ADS_2