Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 119 S2 Mishel Aurora


__ADS_3

Setelah beberapa hari pasca resepsi pernikahan, Jendra dan Melani masih belum kembali ke Jakarta ataupun pulang ke rumah orang tua Jendra yang ada di kota itu.


Keduanya memilih menghabiskan waktu berdua untuk mengeksplor beberapa tempat wisata, bahkan mereka hanya sekedar berjemur atau berenang bersama ikan ikan kecil.


Seperti sore ini, keduanya memilih berjalan kaki di sekitar pantai. Banyaknya pengunjung pantai yang memakai pakaian minim membuat Melani risih.


"Jangan katakan kalau kaca mata hitam itu untuk menutupi mata kamu yang jelalatan melihat bukit kembar berserakan, Mas!" bisik Melani pada pria yang berjalan di sampingnya.


Jendra berhenti melangkah, membuat Melani yang ia gandeng juga berhenti.


Jendra menatap Melani. Ia menurunkan sedikit kaca matanya hingga mengganjal di bagian tengah hidung mancungnya. Ia mengintip istrinya.


"Mata ini hanya ingin menatap kamu, sayang!"


Melani tertawa. "Aku tidak percaya."


Jendra memajukan bibir bawahnya. Ia melepaskan gandengan tangan mereka. "Kita mengurung diri saja di cottage, yuk!"


"Capek aku, kena fitnah terus!" Jendra pura-pura merajuk.


Melani menarik hidung Jendra dan kembali menggandeng tangan suaminya itu.


"Ayo!" Melani menarik Jendra yang masih mematung.


"Mas!"


Jendra menggeleng.


Lucu tapi menjengkelkan! Batin Melani yang sedang menatap Jendra dengan alis hampir menyatu.


"Merajuklah! Justru aku senang!" Melani melepaskan tangan Jendra. "Tidak akan ada yang mengganggu tidurku malam ini," ucap Melani berjalan menjauh dari suaminya itu.


"Sayang! Sayang, tunggu!" Jendra melebarkan langkah mengejar Melani.


Melani tertawa dan berlari hingga tanpa sengaja tubuhnya menabrak seorang wanita tua yang sedang berjalan.


"Astaga! Maaf, Nek!" Melani terkejut saat sesuatu di tangannya tersangkut di outer rajut yang dipakai wanita tua berusia sekitar hampir 80 tahun itu.


Wanita tua itu melihat sesuatu yang tersangkut di pakaiannya. Melani berusaha melepaskan benang yang tersangkut di kalung peninggalan orang tuanya yang ia lilitkan di pergelangan tangan.


Entah mengapa, ia ingin memakainya. Karena kalungnya terlalu pendek untuk ia pakai di leher, akhirnya ia menjadikannya sebagai gelang.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Jendra mendekat dan berusaha melepaskan benang yang tersangkut di gelang Melani.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Mas. Hanya tersangkut."


"Lain kali, berhati-hatilah!" Jendra berhasil melepaskan benang yang tersangkut.


"Kamu sampai mengganggu orang lain."


Jendra dan Melani terheran saat melihat wanita tua itu malah mematung sembari terus menatap gelang itu dan wajah Melani secara bergantian.


"Nek ... nenek tidak kenapa-kenapa?" tanya Melani yang menatap wajah wanita tua itu lebih dekat.


"Nek, apakah nenek baik-baik saja?" Jendra semakin heran saat wanita itu tampak syok melihat Melani.


Jendra membawanya untuk duduk di sebuah bangku yang tak jauh letaknya dari posisi mereka berdiri.


Wanita itu menurut saja membuat Jendra yakin sedang terjadi sesuatu padanya.


"Nenek kenapa?" tanya Jendra. "Maafkan istri saya karena telah membuat nenek terkejut. Apa nenek merasakan sakit di dada? Atau jantung nenek sedang tidak baik-baik saja?" tanya Jendra yang khawatir nenek tersebut terkena serangan jantung.


"Mas, beliau masih sadar," bisik Melani memberitahu Jendra kalau wanita tua itu baik-baik saja.


"Bo-boleh saya lihat gelang kamu?"


Melani dan Jendra saling tatap. Ada apa dengan gelang yang Melani pakai? Apakah wanita ini menyukainya lalu ingin memintanya, atau membelinya?


Melani mengangguk dan menunjukkan gelang itu tanpa melepasnya. Melani menunjukkan pergelangan tangannya di hadapan wanita itu.


"Bagus, bukan?" tanya Melani.


Wanita itu menatap Melani dengan wajah berkaca-kaca. Ia memegang tangan Melani dan melihat gelang itu dengan teliti. Wanita itu berusaha membuka liontinnya.


"Ini bisa dibuka?" tanya wanita itu.


Lagi-lagi Jendra dan Melani dibuat heran, setelah terlihat tertarik dengan gelang yang Melani pakai, mengapa sekarang wanita itu mengetahui kalau liontin itu bisa dibuka.


Jendra mengangguk dan membantu membukakan sayap kupu-kupu itu. Ia tidak tahu apakah wanita tua ini memiliki benda yang sama atau mungkin malah mengetahui sesuatu tentang liontin itu.


Wanita itu menutup mulutnya karena merasa terkejut. Perlahan air mata itu lolos begitu saja.


"Dari mana kamu mendapatkan benda ini?" tanya wanita itu pada Melani.


"I-ini dari ..." Melani ragu untuk menjawab. Ia tidak tahu harus jujur atau tidak. Ia merasa sedikit aneh menceritakan masa lalunya pada orang yang baru ia kenal.


Melani merasa wanita itu benar-benar sedang menunggu jawaban darinya.

__ADS_1


"Ini milik saya, Nek. Pemberian orang tua saya."


"Dimana orang tua kamu, Nak?" tanya wanita itu lagi.


"Di ..." Melani menatap Jendra.


"Dia dibesarkan di sebuah panti asuhan. Dan benda itu sudah ada bersamanya sejak ia ditemukan." Jendra yang menjawab karena tidak tega saat menyadari Melani merasa sakit untuk menceritakannya.


Wanita itu kembali mengambil nafas panjang. "Berapa usiamu, Nak?"


"Tiga puluh tahun."


Wanita itu menangis sesenggukan. Air matanya tumpah dan ia seka dengan lengannya yang tertutup outer.


"Nek, sebenarnya ada apa?" tanya Melani memegangi lengan yang ikut bergetar itu kerena siempunya tengah menangis.


"Apa nenek memiliki kalung yang sama? Atau nenek teringat dengan seseorang yang memikili kalung seperti ini?"


"Atau nenek ...."


"Mishela Aurora."


Jendra dan Melani menelan ludah menyadari nama yang disebut oleh wanita itu memiliki inisial yang sama dengan yang tertulis di dalam liontinnya.


Mishela Aurora? Itu nama siapa? Apakah nama pemilik kalung ini? Ataukah kalung ini bukan milikku, melainkan barang yang sempat hilang dan terjatuh lalu ditemukan oleh orang tuaku sebelum meletakkanku di panti asuhan?


Jendra sama terkejutnya. Ia juga memiliki banyak pertanyaan di benaknya mengenai siapa wanita tua ini sebenarnya? Dan siapa Mishel Aurora itu?


"Bisakah kalian ikut dengan saya sebentar saja?" tanya wanita tua itu setelah tangisnya mereda.


Melani dan Jendra saling tatap. Melani merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya sehingga ia ingin sekali untuk ikut dan mengetahui jawaban atas rasa penasarannya.


Sementara Jendra mulai merasa was-was. Nenek ini mau apa meminta kami untuk ikut? Apa jangan-jangan memang dia mengetahui sesuatu mengenai kalung itu? Sebenarnya ada rahasia apa dibalik semua ini?


Melani sengaja dibuang untuk diselamatkan, atau dibuang karena memang takut tidak diurus? Bagaimana jika Melani di buang agar tidak dibunuh?


Fikiran Jendra kian kacau saat ia merasa takut kalau semua ini hanya jebakan.


Jendra diam-diam memperhatikan wajah wanita itu. Apa dia adalah ibunya Melani? Usianya sekitar 80 tahun, sementara Melani sudah 30 tahun. Apa mungkin ada wanita yang melahirkan di usia 50 tahun?


"Jangan takut!" ucap wanita tua itu. "Saya tidak memiliki niat jahat sedikitpun."


"Saya ingin menunjukkan sesuatu pada kalian di rumah saya."

__ADS_1


"Tidak jauh dari sini, hanya sekitar 20 menit jika berjalan kaki."


Melani menatap suaminya untuk meminta pendapat. Apakah mereka harus ikut atau tidak?


__ADS_2