Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 93 S2 Tidak Romantis


__ADS_3

"Selamat pagi, Mel." Melani melihat sosok pria tampan yang kemarin malam berhasil membuatnya tak bisa tidur.


Kata menikah selalu terngiang-ngiang di telinganya. Ia memang pernah berdoa untuk menikah dengan seorang CEO. Tapi, bukan dengan bosnya juga sih. Ia tak pernah membayangkan sedikitpun untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama pria itu.


"Sarapan buat kamu!" Pria bernama Jendra Dewandaru itu meletakkan paperbag berisi sarapan pagi untuk Melani.


"Harus kuat dan semangat karena Kayla tidak masuk hari ini. Dia sedang dirawat di rumah sakit." Jendra berlalu dan masuk ke ruang kerjanya.


Bahu Melani merosot. Lemas rasanya saat tahu akan bekerja sendiri lagi. Kayla memang pingsan kemarin. Tapi, ia tidak tahu kalau temannya itu tengah dirawat.


Melani hampir mengeluarkan isi paperbag yang Jendra berikan padanya, tapi pria itu kembali muncul di depan pintu.


"Berikan padaku!" Jendra kembali mengambil paperbag itu. "Sarapanku juga ada di dalamnya.


"Ikut denganku!" Jendra mengajaknya makan bersama di dalam ruangan pria itu.


"Saya sudah sarapan, Pak!"


"Ikut saya, Mel! Kita perlu bicara."


Dasar Jendra! Suka-sukanya saja. Kadang pakai kata saya, kadang aku.


Melani menghela nafas dan ikut masuk ke ruangan Jendra. Mereka duduk bersebelahan di sofa.


"Ini untuk kamu, dan ini untuk saya." Jendra mengeluarkan dua box kotak bekal berisi bubur ayam. Dan Ia juga mengeluarkan dua cup berisi kopi yang masih hangat.


"Buatan mama saya."


Melani sudah tak heran lagi karena ia memang menebak demikian. Jika bubur ayam yang dijual di pinggir jalan, pasti dikemas dengan box berbahan styrofoam.


"Makan, Mel!" perintahnya. "Setelah ini, kita akan bahas masalah kemarin."


Jendra juga sulit tidur malam tadi. Ia mulai tertidur saat malam menjelang pagi. Ia bahkan tak sempat sarapan.


Melani tetap menghabiskan bubur ayam yang rasanya sangat enak itu. Ia sudah terbiasa untuk tidak membuang-buang makanan. Lagi pula, ia hanya menikmati dua lembar roti yang ia beri selai untuk sarapannya pagi ini.


Melani merapihkan kotak bekal dan kembali memasukkannya ke dalam paperbag.


"Biarkan saja. Biar OB yang mencucinya!" ucap Jendra.


"Begini, Mel."


Melani terkesiap karena sepertinya Jendra memang ingin membahas masalah mereka.


"Saya sudah bicara pada mama dan Papa saya. Bukannya mengerti penjelasan saya, mereka malah terang-terangan memberi restu."


Melani membulatkan matanya.


"Kaget, kan?" tanya Jendra.


"Sama. Saya juga begitu, Mel!" Jendra menunjuk dirinya sendiri.


"Mereka malah menyuruh saya untuk menikahi kamu."


"Dan menurut saya, percuma saja saya meyakinkan mereka, mereka juga tidak akan percaya."


"Lalu..."


"Saran saya, biarkan saja mereka menganggap demikian, Mel."


"Tapi, Pak. Bagaimana mungkin?"


"Kalau kita tidak membicarakan pernikahan, mereka pasti perlahan akan mengerti."

__ADS_1


"Untuk saat ini, iya kan saja apapun yang mereka bilang."


"Jika mereka sudah pulang, kamu kan tidak akan kerepotan lagi."


Melani mengangguk. "Saya tidak yakin ini akan berhasil, Pak."


"Ya berdoa saja semoga berhasil."


"Saya lelah harus terus-terus meyakinkan mama saya, Mel. Kamu tahu sendiri, pekerjaan kita sangat banyak. Banyak proyek yang masih berjalan dan saya tidak punya waktu untuk terus memikirkan kesalah fahaman mama saya."


***


Beberapa malam berlalu, akhirnya Melani dan Jendra bicara bersama kedua orang tua pria itu.


Melani tampak gugup saat Jendra menjemputnya. Pria itu berpenampilan rapi dan tampak fresh dengan blazer berwarna navi itu.


"Kita tidak sedang dalam acara formal kan, Pak?" tanya Melani yang memakai dress selutut berlengan panjang.


"Tidak, jadi rileks saja."


Jendra melajukan mobilnya menuju restoran mewah dimana orang tuanya sudah menunggu.


"Intinya, buat orang tua saya senang, Mel. Dengan begitu, mereka akan segera kembali. Dan setelahnya, saya akan katakan bahwa kita tidak menemukan kecocokan."


Melani mengangguk. Ia tak tahu kemana Jendra akan membawa sandiwara ini. Ia memang belum pernah terlibat dalam satu hubungan percintaan. Tidak munafik, dia yang belum berpengalaman itu pun ingin punya pasangan yang kelak akan membawanya hidup jauh lebih baik.


Mereka menikmati hidangan makan malam bersama setelah saling menyapa dengan ramah.


Melani beberapa kali melirik kearah Jendra dan memberikan kode untuk bicara lebih dulu sebelum wanita bernama Jenahara itu memulainya.


Jendra melihat ke arah Melani yang seolah memberi kode. Bukannya merespon, Jendra malah asyik melahap puding di atas piring kecil di hadapannya.


"Kenapa? Kamu ingin mencoba?" Jendra malah bertanya demikian membuat Melani memutar bola matanya.


"Tidak! Ini juga ada, Pak!" jawabnya.


Apa benar yang Jendra katakan kalau liburan kemarin memang murni karena ia iba pada Melani yang bekerja terlalu keras?


Bukankah Jendra tidak pernah membawa pacarnya liburan? Lalu apa aku salah jika menganggap Melani spesial baginya?


Selama beberapa hari ini, ia juga sibuk memikirkan putranya. Ia tentu senang jika putranya memang memiliki hubungan spesial dengan Melani.


Sebagai seorang ibu, ia pasti ingin memiliki menantu yang baik dan pintar. Ia juga ingin putranya menikah dengan gadis baik-baik.


"Mama dan Papa akan kembali besok," ujar Surendra.


"Mengapa cepat sekali?" tanya Jendra.


"Mengapa bibir kamu bicara begitu sementara hatimu bersorak kegirangan, ha?" tanya papanya yang selalu bisa menebak.


Jendra tertawa, "Mengapa bisa tepat, Pa?"


Jendra kembali tertawa. "Sebenarnya bukan begitu. Pekerjaanku sangat banyak, Pa."


"Banyak proyek sedang berjalan dan aku sibuk meeting sana sini."


"Percuma saja kalian disini, tapi aku tidak punya waktu untuk kalian."


"Jangan sok sibuk," balas mamanya. "Katakan saja kalau tidak ingin waktumu bersama Melani jadi berkurang."


Jendra tertawa. "Apa yang membuat mama begitu ingin menjadikan Melani sebagai menantu mama?"


"Mengapa hanya Melani yang menjadi satu-satunya gadis yang kamu bawa liburan bersamamu? Hanya berdua pula?" Bukannya menjawab pertanyaannya, Mamanya malah memberinya pertanyaan juga.

__ADS_1


"Bagaimana bisa mama tidak berfikir kalau kalian punya hubungan?"


"Dari foto itu, mama lihat tangan Melani memegang erat pinggang kamu."


Jendra menatap Melani yang juga terkejut. Keduanya sama-sama tidak menyadari kalau saat itu Melani memang berpegangan erat bahkan saat mereka sedang berhenti dan foto bersama di beberapa tempat yang mereka lalui.


"I-itu mungkin karena saya yang takut terjatuh, Bu."


"Mungkin?"


"Kamu saja terlihat tidak yakin begitu, Mel." Jenahara tersenyum miring.


"Kalau sudah merasa nyaman, bukan tidak mungkin akan muncul rasa suka, Mel."


Melani terkesiap. Mengapa semua tidak berjalan sesuai keinginan mereka? Mengapa malah ia yang terpojok sekarang.


"Itu tidak seperti yang mama fikirkan, Ma. Dia memang selalu berpegangan erat saat itu. Bahkan ia beberapa kali sampai mencengkeram pinggangku."


"Mama jangan berlebihan."


Melani bisa bernafas lega karena Jendra membantunya untuk menjelaskan.


Jenahara merasa feelingnya sebagai seorang ibu benar. Tapi, jika Melani dan Jendra tidak mengakui dia bisa apa.


"Sudah." Surendra menghentikan perdebatan itu. "Tujuan kita kan untuk makan malam, bukan berdebat seperti ini."


"Jika memang tidak ada hubungan apapun antara kamu dan Melani, papa mewakili mama, meminta maaf pada kalian."


"Melani, maaf atas ketidaknyamanan ini."


"Mama bersikap seperti itu, mungkin karena mama merasa kamu sudah memilih gadis yang tepat, Jend!"


Melani tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia menggaris bawahi kata gadis yang tepat.


Bu Jenahara menganggapku sebagai gadis yang pantas untuk Pak Jendra?


"Mama hanya tidak ingin kamu kembali seperti dulu setelah Cahaya merusak kepercayaan kamu."


"Sekali lagi, kami minta maaf Mel!"


Surendra berdiri dan meraih tangan Jenahara. "Kita pulang, sayang!"


Jenahara tersenyum dan mengangguk. "Maafkan tante ya, Mel!"


Tante?


Melani tertegun melihat kepergian sepasang orang tua yang berjalan dengan saling bergandeng tangan. Ia melihat keduanya begitu serasi dan tampak saling mencintai.


Tiba-tiba muncul keinginan dalam hatinya untuk melewati masa tua seperti itu. Masih saling berpegang tangan meski sudah puluhan tahun menikah.


"Kamu masih ingin disini, Mel?" tanya Jendra yang melihat Melani masih duduk di kursinya.


Melani terkesiap. Ia menatap Jendra dan kembali teringat ekspresi kecewa yang orang tua pria itu tunjukkan.


"Pak, apa tidak apa-apa kalau akhirnya seperti ini?" tanya Melani pelan dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa? Kenapa kamu malah sedih saat mereka sudah tidak lagi bersikeras dengan pemikiran mereka, Mel?"


"Saya hanya tidak sanggup melihat kekecewaan di mata mereka," ucapnya lirih.


Jendra juga mengakui bahwa ia juga tak sanggup melihat ekspresi orang tuanya yang sepertinya terlalu berharap agar ia segera menemukan gadis yang tepat untuk ia peristri.


Namun, ia tak mungkin menikah dengan Melani, gadis yang tidak ia cintai. Lagi pula Melani juga tidak mau menikah dengannya.

__ADS_1


Apa aku coba saja menikahi Melani seperti cara Kalandra menikahi Kayla? Dan jika lambat laun akan tumbuh cinta, maka aku akan membatalkan perjanjian itu.


Jendra menepis ide buruk itu. Ia tak yakin Melani mau. Dan yang pasti, nasib seseorang tidak akan sama. Belum tentu jika ia menempuh langkah seperti yang dilakukan Kalandra, perjalanan pernikahan mereka akan sama seperti pernikahan pria itu dan Kayla.


__ADS_2