Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 55 Liburan


__ADS_3

Setelah selesai mandi, Kalandra membantu Kayla untuk duduk di sofa. Ia sudah membawakan dua piring berisi makanan untuk mereka sarapan pagi menjelang siang ini.


Wajah fresh miliknya berbanding terbalik dengan wajah Kayla yang beberapa kali tampak meringis menahan sesuatu yang tidak nyaman.


"Apa masih terlalu sakit, Kay?" tanyanya khawatir. "Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja?"


"Aku takut terjadi infeksi dan malah menjadi fatal akibatnya."


Kayla menggeleng pelan. "Tidak. Hanya saja terasa kurang nyaman, Mas."


"Untuk apa ke dokter? Membuat malu saja!" kesal Kayla.


"Baiklah jika tidak ingin. Kalau semakin sakit, segera katakan padaku!"


Kalandra mendekatkan piring ke hadapan Kayla. "Mau ku suapi atau makan sendiri?" tanya Kalandra.


Kayla tersenyum tipis. "Tanganku baik-baik saja, Mas. Aku masih bisa makan sendiri."


Selesai sarapan, Kayla berniat membawa piring kotor itu ke dapur. Namun, karena cara berjalannya yang lambat membuat Kalandra tidak tega membiarkan Kayla turun ke bawah.


"Biar aku saja," Kalandra merebut piring ditangan Kayla.


"Aku bisa, Mas." cegah Kayla yang merasa ini adalah tugasnya sebagai seorang istri.


"Aku saja, Kayla..." paksa Kalandra. "Kalau kamu yang turun ke bawah, kamu akan sampai di sana setelah makan siang." Kalandra tertawa dan berjalan keluar dari kamar.


"Ini semua juga gara-gara kamu, Mas!"


***


"Hai Oma." sapa Kalandra saat ia melihat Oma sedang berada di gazebo di halaman belakang.


Dari arah dapur, tampak Oma tengah serius dengan tab di tangannya. Sehingga Kalandra memutuskan untuk mendekat dan melihat apa yang tengah wanita tua itu lakukan.


"Hai, Andra!" balas Oma menatap Kalandra yang duduk di depannya. "Bagaimana proses pembuatannya? Apakah berjalan lancar?" tanya Oma tanpa menatapnya.


"Hahaha.." Ia tertawa pelan. "Sedikit ada hambatan, but i finished well."


Oma tertawa menatap cucunya yang tampak berseri hari ini. "Jaga pernikahan kalian Andra. Setialah padanya, karena jantung dalam rumah tangga adalah istri. Jika istri bahagia, maka suasana rumah akan tetap hangat."


"Layani dia, jadilah temannya dan salinglah membutuhkan. Karena jika istrimu terbiasa melakukan apapun tanpa bantuanmu, maka saat itulah nilaimu sudah tidak ada lagi baginya."


"Jangan biarkan dia terlalu mandiri, Andra."


"Ya, Oma. Sepertinya aku akan tetap mengantar dan menjemputnya selama bekerja selagi aku bisa."


"Aku tidak ingin membatasi ruang geraknya. Akan ku ijinkan dia bekerja karena mungkin itu adalah salah satu impian ayahnya, melihat dia menjadi bagian dari sebuah perusahaan besar."


Oma mengangguk. "Dia seorang wanita, dan dia sangat bijaksana. Oma yakin, dia akan berhenti disaat dia merasa dia harus berhenti."


"Oma sedang apa?" tanya Kalandra kemudian. "Aku melihat Oma tengah sibuk dengan tab itu."

__ADS_1


"Oma sedang mendesain beberapa pakaian musim panas karena aunty-mu sepertinya akan ikut dalam sebuah event."


Kalandra tertawa melihat si tua yang masih produktif di usia senjanya ini. "Sampai kapan oma akan terus bekerja?"


"Aku sengaja membiarkan oma tetap disini agar oma berhenti bekerja," ungkap Kalandra membuat wanita tua itu terharu.


"Aku sanggup untuk sekedar membiayai kebutuhan Oma."


"Ini merupakan satu sumber kebahagian untuk Oma." jawab Oma. "Oma merasa hanya sedang melakukan hobi Oma, bukan sedang bekerja."


Kalandra tersenyum, "Oma terlalu mencintai pekerjaan ini."


"Jujur, Oma. Aku sebenarnya tidak ingin semua harta yang almarhum Opa dan Papa tinggalkan ku kelolah sendiri." Kalandra menatap bangunan rumah yang sangat luas itu.


"Tapi, melihat mama dan Gia yang kemarin-kemarin masih tampak tamak atas harta warisan ini, membuatku terpaksa mengambil keputusan sulit."


"Aku tahu, papa juga sama beratnya membuat keputusan dengan tidak membagi rata warisan antara aku dan Reyga."


"Tapi..." Kalandra menatap Oma. "Papa harus tetap melakukan itu demi keutuhan keluarga dan harta peninggalan Opa."


"Opa tidak meninggalkan apapun untuk kita, Andra. Semuanya murni atas usaha dan kegigihan papa kamu."


Kalandra tersenyum tipis. "Nama Rajaswa sudah cukup membuktikan bahwa pondasi perusahaan adalah dari tetesan keringat almarhum Opa."


"Aku ingin semua orang hidup dari keringat Opa dan Papa. Aku ingin setiap rupiah dari Rajaswa Group mengalir dalam darah kita."


"Aku ingin semua orang menikmati setiap rupiah dari perusahaan, Oma. Aku berniat membagi rata semua penghasilan dari perusahaan."


"Kamu, nikmati uang gaji yang kamu terima."


"Riana sudah mendapat bagiannya. Begitu juga dengan Reyga."


"Lalu uncle Bagus?"


Oma tertawa. "Uncle Bagus sudah mendapatkan bagiannya sejak awal. Dia sepertinya memang tidak tertarik dengan pekerjaan sebagai pengusaha. Biarlah dia mengabdikan dirinya sebagai petugas medis, sesuai dengan cita-citanta sejak dulu."


"Lalu bagaimana dengan Oma?" tanya Kalandra.


"Melihat anak dan cucu-cucu Oma bahagia, adalah satu-satunya warisan paling berharga untuk Oma."


Kalandra memeluk Omanya. "Oma, tetaplah sehat, karena suatu saat nanti aku akan menghadirkan seorang cucu buyut untuk Oma."


Oma malah tertawa. "Oma berharap, Kayla akan segera mengandung anak kamu."


"Amin."


***


"Aku merencanakan liburan untuk kita semua." ucap Kalandra saat makan malam sudah selesai.


Riana dan Oma menatap Kalandra yang membuat rencana dadakan.

__ADS_1


"Liburan, Mas?" tanya Kayla yang sama sekali tidak tahu mengenai rencana ini.


"Ya..."


"Kalian pilih saja."


"Kita ke Bali minggu ini atau ke rumah Uncle Bagus bulan depan."


"Kamu tidak berniat mengantarkan Oma pulang, kan Andra?" tanya Oma bercanda.


Kalandra tertawa. "Tidak Oma. Oma bisa ikut denganku lagi."


"Sepertinya Kayla ingin bermain salju."


Kayla tertawa. "Kamu yang ingin liburan, tapi malah menggunakan aku sebagai alasan, Mas!"


"Tapi, jawab jujur saja. Kamu ingin, kan?" tanya Kalandra.


"Selagi semua gratis, aku terima-terima saja." Jawab Kayla bercanda sambil tertawa.


Tentu Ia ingin. Satu hal yang bahkan tidak pernah ia impikan, yaitu bermain salju di negara barat.


"Oke. Kita akan ke rumah uncle Bagus. Kamu urus izin dari Jendra, dan aku akan mengurus semua tiketnya."


"Oma, jaga makan. Jangan sampai kondisi kesehatan oma menurun dan kita semua gagal liburan."


Mode kulkasnya sedang on. Dia bicara tanpa memberi kesempatan siapapun bicara. Mas, kamu mengajak diskusi atau hanya ingin memberi tahu untuk liburan.


Untuk apa dia bertanya ke Bali atau ke rumah Uncle Bagus, kalau akhirnya dia yang memutuskannya sendiri. Batin Kayla.


"Mas, aku takut pak Jendra tidak memberi izin," ucap Kayla yang tak yakin bosnya akan memberinya izin lagi.


"Jika dia memarahi kamu, katakan padaku. Aku akan meratakan Dewandaru Group dengan tanah!"


"Mas," lirih Kayla karena lagi-lagi Kalandra selalu bertindak sesukanya jika berhubungan dengan sahabatnya itu. "Tidak begitu, juga!"


"Hahaha... Iya... iya.. Aku akan bicara padanya nanti," jawab Kalandra.


"Bagaimana dengan Reyga, Andra?" tanya Riana yang merasa kurang lengkap jika tidak ada putranya yang satu lagi.


"Aku akan mengajaknya Ma. Aku akan ke restorannya dalam beberapa hari ini."


"Terima kasih, Andra." ucap Riana tulus.


Kalandra mengangguk dan tersenyum. Ia tahu, Riana sangat senang karena ini akan menjadi kali pertama mereka akan liburan bersama setelah bertahun-tahun lamanya.


"Kalau sempat, kapan-kapan kamu ajak mama berbelanja ya sayang! Kita semua pasti akan butuh pakaian yang tebal untuk liburan nanti." Ucap Kalandra pada Kayla yang sedikit terkejut dengan permintaan itu. Kayla merasa tak sedekat itu dengan Riana.


Kayla tak urung tetap mengangguk lemah. "Iya, Mas."


"Nanti, aku akan ajak mama berbelanja."

__ADS_1


Riana merasakan kehangatan di hatinya. Hari ini Ia merasa Kalandra keistimewakan dirinya dengan meminta Kayla mengajaknya berbelanja. Dan tanpa ia minta, Kalandra bersedia mengajak Reyga-putranya. Ia berharap ini akan menjadi awal yang baik untuk hubungan keluarga yang sempat renggang itu.


__ADS_2