
Pagi-pagi buta, Kalandra terbangun karena merasa ada sesuatu yang berat menimpa perutnya.
Malam tadi, ia tidur terlalu larut karena menjaga Kayla yang terlihat sulit tidur. Ia sembari menghabiskan setengah toples kue nastar yang Kayla bawa.
Kalandra menggeliat namun sulit karena tubuhnya terasa tertimpa sesuatu. Perlahan ia membuka mata.
"Astaga!" gumamnya saat melihat kepala Kayla berada di perutnya. Gadis itu menjadikan perut kotak-kotaknya yang terlapis kaos dan selimut sebagai bantal.
Kalandra seketika membungkam mulutnya sendiri. Ia takut Kayla bangun dan mendapatinya tengah menatap wajah gadis itu.
Kayla tidur miring dengan wajah menghadap kearah Kalandra. Kaki Dan tangan gadis itu memeluk guling.
Kalandra bingung harus bagaimana. Membangunkannya, pasti akan menimbulkan kecanggungan. Ia akhirnya membiarkan gadis berbulu mata lentik itu terlelap diatas perutnya.
Kalandra tersenyum kecil. Dalam keadaan tertidur saja kamu tampak cantik. batinnya.
Kalandra mengusap kepala Kayla yang wajahnya tampak sendu meski tengah terlelap.
Aku sadar Kay, aku tidak berhak tahu atas kehidupan kamu dimasa lalu. Tapi, aku tidak keberatan untuk mendengarkan cerita kamu.
Aku tidak tahu, seberat apa cobaan hidup yang kamu hadapi dulu Kay. Tapi, sekarang ku harap kamu bisa hidup lebih baik di dalam keluargaku.
Maaf aku telah menyeretmu dalam permasalahan di keluargaku. Aku sebenarnya tidak ingin siapapun terlibat. Tapi mau bagaimana lagi, karena kamu adalah istriku sekarang.
Aku berterima kasih pada Tuhan karena telah mengatur hidupku dengan sedemikian rupa hingga akhirnya aku bisa menikahi kamu.
Aku punya teman untuk sekedar mengungkapkan perasaan kesal dan sedih.
Aku tidak sendirian di kamar ini. Dan ada teman untuk menikmati secangkir kopi pada malam hari. Batin Kalandra.
Usapan lembut di rambut Kayla membuat gadis itu perlahan menggeliat. Kayla tampak meregangkan tangannya. Kalandra menjauhkan tangannya dari kepala Kayla dan pura-pura tidur lagi.
Kayla mengucek mata dan perlahan membukanya. Yang pertama kali Kayla lihat adalah bibir berisi sedikit merah muda serta sepasang lubang hidung dan hidung mancung milik seseorang yang tak asing baginya.
Matanya membulat sempurna saat menyadari ketidak wajaran yang terjadi.
"Oh My God!" Pekiknya lalu membungkam mulutnya dengan telapak tangan karena takut pria yang menyandang status sebagai suaminya itu terbangun.
Kayla duduk diatas kasur dan melihat kekacauan yang telah terjadi.
Bantalnya masih di posisi semula. Tapi dua guling yang menjadi pembatas diantara mereka sudah berpindah posisi. Satu guling jatuh di lantai dan satu lagi berada dalam dekapannya.
Selimutnya tersampir di pinggir ranjang dan nyaris terjatuh. Dan dirinya tidur melintang di ranjang dengan berbantalkan perut Kalandra.
Kayla mengacak rambutnya. Mengapa bisa terjadi seperti ini? Apa jangan jangan hal seperti ini sering terjadi, tapi dia bangun lebih dulu dan kembali mengubah posisiku?
Kayla berkaki kali menepuk keningnya. "Dasar Kayla bodoh!" gumam Kayla kesal pada dirinya sendiri. "Kayla bodoh!"
"Kenapa, Kay?"
Kayla tersentak kaget saat mendengar suara serak khas bangun tidur itu. Ia melihat Kalandra masih menerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.
Kayla mengatur nafasnya. "Tidak- tidak apa-apa," ucap Kayla cepat. Ia segera turun dari tempat tidur sebelum pria itu menyadari kekacauan yang terjadi.
Kalandra tak tahan lagi untuk membuka mata saat ia mendengar suara tepukan di kening Kayla.
Ia menahan tawa melihat kegugupan sekaligus wajah Kayla yang tengah terkejut itu.
***
__ADS_1
Perusahaan Rajaswa Group.
"Masuk!" perintah Kalandra saat pintu ruangannya di ketuk.
"Pak, Pak Jendra ingin bertemu anda," ucap Dea-sekretarianya.
"Persilakan dia masuk!" jawab Kalandra.
"Tumben-tumbenan dia meminta izin!" gumam Kalandra. Biasanya Jendra akan langsung masuk ke ruangannya tanpa meminta Dea bertanya dulu.
Tak lama, Jendra masuk ke dalam ruangan Kalandra. Pria itu duduk bersandar di kursi yang ada di depan mejanya.
"Kenapa? Belum mendapat penggantinya?" tanya Kalandra menatap wajah Jendra yang terlihat lesu.
Tebak Kalandra karena playboy di depannya masih berduka sebab diputuskan secara sepihak beberapa minggu lalu.
Jendra tertawa miris. "Ternyata jadi jomblo mengenaskan itu tidak enak!" Ia mengeluh di depan jomblo akut.
"Jangan mengatas namakan jomblo sebagai alasan kamu tidak punya gairah hidup, Jend!"
"Aku selalu semangat meski selalu jomblo!" lanjut Kalandra sambil tertawa.
Ya, dia memang jomblo sejak dulu. Beberapa kali dekat dengan seorang gadis tak membuat status Kalandra berubah. Selama ini, ia tidak pernah berhubungan serius dengan siapapun.
"Dasar workaholic!" ejek Jendra pada sahabatnya yang gila kerja itu.
"Pacaran saja dengan berkas-berkasmu itu!"
Kalandra menyeringai.
"Lama juga move on-nya?" tanya Kalandra pada playboy hampir tobat, tapi gagal karena hubungannya kandas.
Jendra menggeleng. "Sulit." jawab Jendra.
"Yakin tidak pernah kamu sentuh?" tanya Kalandra tak percaya.
Jendra melirik kesal. "Ck!" decaknya. "I'm serious!"
"Aku menjaganya karena sudah berniat untuk menikahinya."
"Aku memperlakukannya berbeda dan istimewa dibanding pacar-pacarku yang lain."
Pacar-pacarku. Definisi seorang playboy, bukan?
"Tapi, dia malah hamil!" ucapnya lemah sembari bertopang dagu dengan siku yang bertumpu di meja.
Ekspresi lesu dan kesalnya bercampur jadi satu.
Kalandra tertawa. Baginya tetap saja terdengar lucu walaupun ia sudah tahu sejak awal.
"Meeting kemarin, sepertinya sudah terlihat baik-baik saja. Ku kira kamu sudah bisa melupakannya dan menerima kenyataan bahwa kalian tidak berjodoh," ucap Kalandra.
"Harusnya sih sudah. Tapi, pagi tadi aku melihat dia dan suaminya check up ke dokter kandungan..."
"Lalu?" tanya Kalandra.
"Aku jadi kembali teringat kalau aku telah dicurangi."
"Dia menduakan aku." Jendra berubah melow.
__ADS_1
Kalandra tertawa. "Itu namanya karma!"
"Aku tidak pernah mendua. Aku hanya punya satu pacar-"
"Dan satu calon pacar!" potong Kalandra.
Jendra adalah playboy yang tidak pernah punya dua pacar. Ia cukup punya satu pacar dan satu calon pacar baru. Jika ia sudah putus dengan pacarnya, maka ia akan segera menjalin hubungan baru dengan wanita cadangannya.
"Ck!" decak Jendra karena Kalandra sudah tahu betul mengenai hal itu
"Ikhlaskan saja. Anggap saja apa yang terjadi ini adalah sebaris doa salah satu mantan kamu yang dikabulkan Tuhan," Kalandra merasa geli dengan ucapannya sendiri.
Jendra menghela nafas berat. "Entahlah, Kal. Ingin marah padanya, tapi ku rasa percuma, Kal! Keadaan tidak akan berubah seperti yang ku harapkan."
"Terserah padamu, Jend. Asal jangan kamu lampiaskan pada Melani apa lagi pada istriku!"
Jendra menaikkan sebelah alisnya saat mendengar Kalandra mengucapkan kata 'istriku'.
"Istrimu?" ulang Jendra dengan ekspresi jahil. Ia punya hiburan baru sepertinya.
Kalandra terkesiap. "Bukankah benar?" tanyanya dengan nada dingin. Ia tahu, Jendra akan segera menggodanya.
"Ya... ya... ya..."
"Bagaimana? Sudah hamil belum?" tanya Jendra mengulum senyum. Padahal pria itu tahu betul isi surat perjanjian kontrak yang Kalandra dan Kayla tanda tangani.
Benarkan? Dia pasti akan menggangguku dengan pertanyaan-pertanyaan anehnya.
"Shi***t!" Umpat Kalandra tapi tak urung ia malah tertawa.
"Hahaha..." Jendra terbahak. "Kenapa? Benihmu sudah habis terbunuh karena cairan sabun?"
"Kurang aj*r!" Kesal Kalandra. "Ku haramkan sabun untuk memancing ribuan kecebong itu keluar!"
"Hahahahaha..." Jendra kembali terbahak.
"Jangan tertawa!" Kalandra masih kesal.
"Kalian tidur seranjang, kan?" tanya Jendra kembali serius.
Kalandra mengangguk.
"Pernah khilaf pasti, kan?" tanya Jendra.
Kalandra menggeleng. Jangankan khilaf, ketidak sengajaan pagi tadi saja sudah membuatku berdebar-debar.
"Tidak?" tanya Jendra melebarkan mata.
"Biasa saja! Tidak usah melotot!" marah Kalandra.
"Sepertinya kamu memang tidak normal!" Jendra berdiri dari kursinya. "Tidak menarik." Entah apa yang tidak menarik.
"Aku mau pulang saja!"
"Pulang sana!" usir Kaladra.
"Ya, ini juga aku akan pulang!" Ia merapihkan jasnya.
"Aku takut, aku yang polos ini jadi ternoda hanya karena CEO Rajaswa Group menerkamku!"
__ADS_1
"Tidak sudi, Jend! Meski kamu manusia terakhir dimuka bumi ini!"
Jendra terbahak keluar dari ruangan Kalandra.