
Setelah hampir satu jam berada di ruangan itu. Akhirnya Melani keluar juga, membuat Kayla bisa menghembuskan nafas lega.
Selama Melani berada di dalam, banyak pertanyaan muncul di kepalanya. Ia berniat akan mencecar Melani dengan semua pertanyaan itu.
"Ada masalah apa, Mbak?" Kayla langsung menarik tangan Melani yang wajahnya tampak kusut.
"Mengapa lama sekali di dalam? Membuatku khawatir saja! Apa ada kesalahan kita dalam bekerja?"
Melani menggeleng pelan. "Nanti saja ceritanya ya, Kay! Aku sedang pusing," ucap Melani lemas sambil memijat keningnya. Gadis itu langsung kembali ke meja kerjanya.
"Kay, sebaiknya kamu segera duduk sebelum Bu Jenar melihatmu berdiri ditengah jalan begitu." perintah Melani karena Kayla malah mematung.
Kayla akhirnya duduk di kursi kerjanya. Kepalanya yang terasa pusing, malah semakin menjadi tambah pusing karena Melani enggan bercerita. Ia penasaran ada masalah apa yang sampai melibatkan suaminya.
Jika ada kesalahan dalam pekerjaan, sudah pasti dia juga akan dipanggil ke dalam. Tapi nyatanya tidak.
Kayla menghela nafas. Entah mengapa, pandangannya mulai buram. Ia mencoba menerjabkan matanya beberapa kali, namun tetap sama. Ia bahkan mengucek matanya, dan tetap saja masih tampak buram.
"Sayang!" Sapa Kalandra.
Kayla menatap wajah suaminya yang terlihat berbayang. Kayla mengedipkan mata dan mulai menyadari ada yang tidak beres dengan dirinya.
"Mas..."
"Ayo, kita makan siang!" Ajak Kalandra.
"Tapi, belum waktunya makan siang, Mas." jawab Kayla setelah melihat jam dinding.
"Aku sudah izin pada Jendra," balasnya. Jam makan siang masih 15 menit lagi, makanya Jendra memberi izin. Walaupun, Bu Jenar sempat memprotes Kalandra tapi Jendra membela pria itu.
Kalandra mengambil tas kulit milik istrinya dan tangannya yang lain menarik tangan Kayla.
Kayla berdiri dan pandangannya semakin gelap. "Mas!" teriaknya lemah dan ia tak sadarkan diri.
Kalandra terkejut saat merasakan tangan Kayla menariknya ke bawah. Ternyata istrinya sudah ambruk dan hampir terjatuh di lantai. Untung saja, Kalandra dengan sigap meraih pinggang Kayla.
"Sayang!" Kalandra mulai panik. Ia membenarkan posisi Kayla agar mudah untuk ia gendong.
Kalandra membawa Kayla ke arah sofa dan membaringkan istrinya itu disana.
Melani yang melihat Kayla pingsan segera menghampirinya. Ia berjalan di belakang Kalandra dan membantu pria itu meluruskan kaki Kayla. Melani meletakkan banyak dibawah kaki Kayla agar letaknya lebih tinggi dari kepala. Tujuannya adalah untuk meningkatkan aliran oksigen menuju otak.
"Kayla, bangun!" Teriak Kalandra panik. Wajah pucat istrinya membuat Kalandra takut kalau terjadi sesuatu pada Kayla.
"Saya ambil minyak angin dulu, Pak!" Melani segera berjalan cepat mengambil minyak angin yang selalu ia bawa di tasnya. Kerja lembur tak kenal waktu kadang membuat Melani masuk angin sehingga ia selalu menyediakannya di dalam tas.
"Ini, Pak!" Melani memberikan sebotol minyak kayu putih kepada Kalandra.
__ADS_1
Kalandra menuang sedikit minyak di ujung jarinya dan ia oleskan ke hidung dan kening istrinya.
"Kayla...! Jangan membuatku takut!" gumam Kalandra dengan tangan yang terus mengosok pangkal hidung istrinya. Ia tidak tahu cara itu efektif atau tidak, tapi yang pasti saat dalam situasi genting begini, otaknya tidak ingin diajak kerja sama.
"Dia hanya pingsan, Pak. Anda jangan panik," ucap Melani mengambil alih.
"Dia istriku, Mel! Bagaimana bisa aku tidak panik!"
Melani tidak menanggapi teriakan Kalandra. Ia terus memberikan rangs*agan di hidung Kayla dengan minyak kayu putih.
"Aku harus membawanya ke rumah sakit!" Kalandra berdiri dan bersiap membawa Kayla.
"Ada apa, Kal?" tanya Jendra yang baru saja keluar bersama Bu Jenar. "Kayla kenapa?"
"Kay!" Melani menepuk pipi Kayla sambil memanggil dengan keras. "Kayla bagun! Kayla!"
"Huuhh! Syukurlah!"
Ucapan Melani sontak membuat Kalandra berjongkok di depan wajah Kayla. Mata itu mulai terbuka dan kembali menutup.
"Sayang! kamu sudah bangun?" tanya Kalandra mengusap rambut istrinya.
"Kepalaku pusing, Mas. Rasanya ruangan ini berputar-putar," ucap Kayla lirih dengan mata yang masih menutup.
"Ajak bicara terus, Pak!" perintah Melani. Ia segera mengambil segelas air putih di meja Kayla.
"Kayla, minum dulu, yuk!" Ajak Kalandra agar Kayla membuka matanya.
Kayla minum sedikit demi sedikit dengan batuan Kalandra yang menopang kepalanya.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Kalandra yang masih merasa khawatir.
Kayla menggeleng. "Nanti saja, Mas. Kepalaku masih pusing."
"Biarkan sebentar, Pak. Biar dia menyesuaikan diri dulu. Tunggu 10 sampai 20 menit agar dia tidak pingsan lagi saat berjalan," ucap Melani.
"Aku akan menggendongnya, Mel!" bentak Kalandra. "Dia harus ditangani!"
"Jangan membentaknya, Kal!" Kesal Jendra karena Kalandra malah melampiaskan kekhawatirannya pada Melani.
Prilaku Jendra mendapat perhatian dari Mamanya. Jendra tampak tidak suka melihat Kalandra berkata dengan nada tinggi pada Melani. Padahal, alasannya hanya karena Kalandra panik, bukan karena marah pada Melani.
Kalandra menuntun Kayla menuju lift karena istrinya itu menolak untuk fi gendong.
"Kita pulang saja, Mas." pinta Kayla.
Kalandra menggeleng. "Tidak! Kamu harus tetap ke rumah sakit." Paksa Kalandra.
__ADS_1
"Aku sudah merasa lebih baik," jawab Kayla lemah.
Kalandra menggeleng. Ia malas berdebat karena akan membuat Kayla juga semakin mendebatnya. Kalandra khawatir Kayla akan semakin lemah.
Mereka langsung menemui dokter. Kayla diperiksa oleh suster. Kayla menjelaskan kondisinya yang mulai terasa berbeda sejak beberapa hari terakhir.
"Sudah sejak kapan anda merasa pusing?"
"Baru hari ini, Dok!" jawab Kayla yang masih berbaring.
"Tapi, beberapa hari ini saya mudah merasa lelah. Seperti saat berjalan menuju ruang kerja atau menaiki dan menuruni anak tangga," papar Kayla lagi.
Kalandra cukup terkejut karena Kayla tidak mengeluh sama sekali selama beberapa hari ini.
"Tekanan darah anda sangat rendah, Bu," ucap Dokter setelah melihat hasil pemeriksaan suster.
Dokter akhirnya memberikan cairan infus agar kondisi Kayla segera membaik.
"Apa anda merasakan kram perut beberapa hari terakhir?"
"Hanya sesekali, mungkin tanda-tanda akan haid, Dok."
"Apakah anda sedang menjalani program kehamilan?" tanya Dokter.
Kalandra menggeleng. "Kami sedang tidak menjalankan program, Dok."
"Apakah ada masalah, Dok?" tanyanya khawatir.
Dokter muda itu tersenyum. "Kapan terakhir anda haid, Bu?" tanya Dokter lagi.
Kayla coba mengingat. "Belum sebulan, Dok. Tanggal 15 bulan lalu."
Dokter tersebut mengangguk. "Saya belum bisa memastikan dugaan saya benar atau tidak. Tapi, kemungkinan anda sedang hamil."
Kalandra memicing tak percaya karena ini masih dugaan dokter.
"Sebaiknya melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Bisa dengan melalui tes darah, USG setelah terlambat haid, atau menggunakan tespack."
"Bagaimana Sayang?" tanya Kalandra. Ia bukannya tidak bisa mengambil keputusan, Tapi ia takut Kayla kecewa dengan hasilnya. Dirinya juga belum siap, jika dugaan dokter ternyata salah.
"Sebaiknya bagaimana, Dok?"
"Saya sarankan untuk melakukan tes darah dan pasien dirawat untuk beberapa hari."
"Selain untuk mengetahui istri anda hamil atau tidak, dari tes darah kita juga bisa mengetahui penyakit apa yang sedang menyerang istri anda. Termasuk jika ada masalah dalam kehamilannya."
Kalandra akhirnya setuju jika Kayla melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
__ADS_1