
"Ki-kita naik ini, Pak?" tanya Melani terbata saat ia menyadari tengah bersiap naik ke anak tangga sebuah pesawat pribadi yang ukurannya jelas jauh lebih kecil dari pesawat komersial.
Sepanjang jalan hingga sampai di bandara, Melani hanya memikirkan kekesalan hatinya saja. Ia kesal karena Jendra terus menghubunginya meski ia mengatakan sedang berada di dalam lift menuju lantai bawah hingga ia tak menyadari bahwa hanya ada dirinya dan Jendra yang berjalan menuju pesawat.
Jendra tersenyum lebar. "Ya... Keren kan?" tanyanya setelah turun dari anak tangga karena sebelumnya ia berjalan di depan Melani.
"Tapi ini mahal, Pak!" bisik Melani pelan. Ia takkan sanggup membayar biaya penerbangannya.
Jendra menarik tangan Melani yang sedang menyeret kopernya. "Sudah, jangan fikirkan ini mahal atau tidak. Karena uangku juga tidak berkurang sama sekali."
Melani menduga-duga, siapa yang membayar jika bukan Bosnya itu. Tidak mungkin dirinya. Jendra juga pasti tahu, uang di rekeningnya hanya cukup untuk membeli gorengan.
Melani terpesona dengan interiornya. Bukan karena kemewahannya, tapi karena ini kali pertamanya naik pesawat pribadi.
Seperti manusia norak pada umumnya, Melani menarik tangan Jendra sehingga membuat pria itu memberi tatapan yang tidak bisa ia artikan.
Sementara itu, baru kali ini Ia merasa berdebar saat seorang gadis menarik tangannya. Jendra melihat tangannya yang digenggam Melani.
Wajah Melani yang polos tanpa make up membuat Jendra menyadari satu hal, yaitu sekretarisnya cantik natural.
Kulit wajah yang putih mulus bebas jerawat dan bulu mata lentik tanpa maskara sedikitpun itu sangat berbeda dengan keseharian Melani yang selalu tampil dengan riasan lengkap.
Padahal ini bukan kali pertama ia melihat Melani diluar jam kerja. Tapi memang Melani tampak berbeda kali ini.
Sweater tebal dengan rambut berantakan yang di cepol sungguh tidak seperti seseorang yang akan pergi liburan.
"Pak, fotokan saya, please!" Melani memohon.
Jendra menghela nafas. "Baiklah. Demi sekretarisku yang norak. Aku rela menjadi tukang foto dadakan."
Bukannya marah, Melani malah tertawa. "Kapan lagi saya bisa pamer di sosial media, Pak."
Melani bergaya di depan pintu pesawat dan meminta Jendra mengambil fotonya dari bawah.
Pria itu tertawa. Baru kali ini ada bawahan yang berani memerintah atasannya. Bahkan Mona saja tidak sekurang ajar ini padanya.
"Lama-lama kamu ngelunjak!" gumam Jendra.
Melani bersikap masa bodoh. "Saat ini, derajat kita sama, Pak. Anda bukan bos saya karena kita tidak sedang berada di kantor."
"Dan lagi pula, kita sama-sama menikmati liburan gratis." Melani tertawa.
Mereka masuk ke dalam pesawat itu. Jendra sempatkan diri untuk berfoto juga.
"Ternyata anda norak juga." Melani tertawa saat menerima ponsel Jendra yang minta difotokan.
"Sebagai bukti kalau kita memanfaatkan fasilitas dengan baik, Mel!"
__ADS_1
"Kakinya disilangkan, Pak!" Melani mengarahkan pose Jendra dan tak menanggapi ucapan pria itu.
"Kaki kanan naik ke kaki kiri," perintahnya lagi.
"Seperti ini?" tanya Jendra.
"Nah begitu! Kan, terlihat aura konglomeratnya!" Melani terbahak.
"Saya semakin terlihat tampan, kan Mel?" tanya Jendra.
"Memangnya kapan anda terlihat jelek?" balas Melani dengan sebuah pertanyaan yang tanpa sadar ia ucapkan sembari mengembalikan ponsel Jendra.
Jendra tertawa. "Terima kasih!"
"Sama-sama. Semoga kita bisa saling membantu saat di sana nanti!" Maksud Melani adalah mereka bisa saling bergantian mengambil foto satu sama lain.
"Bukan untuk fotonya, tapi untuk pujiannya."
Melani tersentak malu saat ia mengingat apa yang ia katakan tadi, sementara Jendra masih menunjukkan senyum termanisnya meski matanya telah mengarah pada ponsel pintarnya.
Melani dan Jendra sama-sama diam saat mereka sibuk mengunggah foto masing-masing di sosial media.
Jendra pun tak lupa mengirimkan foto pada Kalandra. Donatur yang membiayai sewa pesawat pribadi ini.
Pesawat mereka sudah lepas landas. Jendra dan Melani duduk bersebelahan.
"Hem," jawab Jendra yang sedang fokus padan game di ponselnya.
"Apa beliau tidak keberatan, Pak? Harga sewa pesawat ini pasti sangat mahal."
Jendra meletakkan ponselnya. Ia menatap Melani. "Mel, Kalandra hanya membayar biaya sewa. Bukan membeli kan pesawat ini untuk kita."
"Tenanglah Mel! Dia tidak akan jatuh miskin meski ia membiayai kita untuk pergi ke Bali setiap minggu."
"I-iya Pak."
"Nikmati saja liburanmu kali ini. Mumpung gratis dan mewah pula."
***
Jendra dan Melani mendapat jemputan dari pihak cottage atas perintah Kalandra.
"Dia sungguh tidak tanggung-tanggung saat men-servis sahabatnya sendiri," ujar Jendra saat Kalandra menyediakan jemputan untuk mereka berdua.
"Pak, saya jadi tidak enak hati pada Kayla dan Pak-"
"Sssst!" Jendra menempelkan telunjuk di bibirnya.
__ADS_1
"Saatnya saya bersantai menikmati liburan. Bukan untuk mendengarkan keluhan dan kekhawatiran kamu, Mel!"
"Berhentilah memikirkan hal buruk yang ada dalam kepalamu itu."
"Nikmati saja waktu singkat ini. Just it!"
Melani enggan berdebat lagi karena ia mulai mengantuk. Tapi, saat sudah tiba di cottage, matanya malah tak ingin terpejam karena melihat pemandangan malam yang segitu indah.
Melani meletakkan tasnya. Ia masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.
Melani duduk di teras cottage dan memandang ke arah langit dimana banyak bintang bertaburan. Kedua tangannya berada di belakang menopang tubuhnya.
Angin bertiup agak kencang dan suara deburan ombak terdengar jelas. Melani melihat beberapa pasangan berjalan bersama berkeliling area itu.
"Seandainya, aku ke sini tidak sendirian..." gumam Melani membayangkan ia tengah berlibur bersama pria yang sudah menjadi suaminya.
"Aku pasti akan mengajaknya tidur beratapkan langit dan bercerita sepanjang malam."
"Pasti romantis sekali." Melani senyum senyum sendiri.
"Apakah jomblo boleh berkhayal sejauh itu, Mel?" tanya Jendra yang tiba-tiba muncul dan duduk disamping Melani. Posisi duduknya mengikuti posisi duduk gadis itu.
Jendra tidak bisa memejamkan mata. Ternyata cottage mewah ini tidak menjamin ia bisa tidur nyenyak.
Melani yang terkejut atas kemunculan pria itu sampai bergeser dari posisinya semula.
"Astaga! Bapak mengejutkan saya." Melani sampai memegangi dadanya.
Jendra tertawa. "Begitu saja terkejut. Dasar payah!" Ia menepuk bahu Melani agak keras.
"Aduh!" Keluh Melani. "Bapak bisa merontokkan tulang-tulang saya, Pak!"
Jendra malah tertawa. Pria itu bangkit dan berjalan menjauhi Melani. Pria itu berbalik. "Ingin ikut, tidak Mel?"
"Kemana?"
"Menelusuri bibir pantai," balas Jendra.
Melani tersenyum lebar. "Tunggu saya, Pak!" Melani berlari mengejar pria yang memakai celana pendek dan kaos putih itu.
Melani berjalan disamping Jendra. "Apa tidak apa-apa saya pakai pakaian seperti ini?" Melani menunjuk piyama tidurnya yang berlengan panjang dengan celana yang juga panjang.
Jendra mengangkat bahu. "Itu belum seberapa, Mel. Besok kamu akan lihat semua orang memakai pakaian yang sangat minim disini."
Melani tertawa. "Pantas saja bapak memilih Bali sebagai tujuan liburan ini."
Jendra menyeringai. "Tidak ada pengaruhnya bagi saya, Mel. Saya bahkan pernah merasakan bagian yang tertutup kain yang lebarnya tak lebih dari sejengkal itu."
__ADS_1
Melani waspada menatap Jendra. "Biasa saja melihatnya!" Jendra mendorong keningnya. "Saya nafs* juga milih-milih, Mel!"