
"Selamat pagi, Pak!" sapa Melani ramah pada pria bernama Jendra.
"Hem, pagi!" balas Jendra sambil berjalan menuju ruang kerjanya.
"Beberapa berkas sudah saya letakkan di atas meja anda, Pak!" ucap Melani lagi.
"Terima kasih." Lagi-lagi Jendra membalasnya tanpa senyum sama sekali.
Melani menggaruk keningnya dengan ekspresi masa bodoh. Lama sekali luka di hatinya sembuh. *Apa hati seorang pria akan lebih sulit sembuh saat terluka?
Ah, dasar pria! Tidak sebanding jika dia menyakiti hati seorang wanita*.
Melani melihat Kayla semakin mendekat. Gadis itu hampir terlambat pagi ini.
Melani menghela nafas. Maklum saja, namanya juga pengantin baru. Batin Melani lagi.
"Selamat pagi, mbak Mel!" Sapa Kayla.
"Pagi Kay!"
Kayla meletakkan tas di meja kerjanya lalu duduk di depan meja kerja Melani.
"Ada apa, Kay?" tanya Melani saat melihat Kayla bukannya bersiap untuk bekerja tapi malah duduk di depannya.
"Mbak, aku akan honeymoon ke Bali malam ini!" Kayla menopang dagu dengan kedua telapak tangannya.
"Apaaaaa?" Teriak Melani tak percaya kala temannya, -Kayla mengatakan akan pergi bulan madu ke Bali malam ini.
Kayla yang menutup telinganya membuat Melani tersadar bahwa suaranya bisa saja menembus ruangan Jendra, - pak Bos yang sedang menjelma sebagai singa gil* yang masih terus patah hati meski sudah putus selama seminggu.
Melani meminta maaf dan melirik pintu ruangan Jendra yang masih tertutup rapat.
Aman. Batinnya lega.
"Kamu serius akan ke Bali?" Melani melotot tak percaya. Ia masih ragu dengan apa yang Kayla katakan.
Setelah menikah, Kayla sudah berbulan madu dengan menambah cuti selama satu minggu.
Dan diusia pernikahan yang baru dua minggu, Kayla dan suaminya malah akan berlibur lagi ke Bali weekend ini.
Melani merasa Kayla adalah wanita yang beruntung karena dinikahi oleh Kalandra, pria kaya yang tanpa fikir dua kali untuk liburan.
Kayla mengangguk.
"Malam ini?" tanyanya lagi.
Kayla mengangguk lagi. "Iya. Jam 7 malam nanti," jawab temannya itu.
"Oh Tuhan! Berikan jomblo paling mengenaskan yang cantik jelita ini jodoh yang kaya raya seperti suami Kayla!" Melani menengadahkan tangannya ke atas. Ia berdoa semoga bisa seberuntung Kayla.
Kayla yang tadinya tampak tak bersemangat, kini malah terbahak. "Amin! Semoga jomblo putus asa ini segera bertemu CEO yang kelak akan meminangnya..."
"Amiiiiiiiin." Ucap Melani semangat.
"Mel..."
__ADS_1
Melani menoleh ke asal suara dan bertepatan dengan terbukanya pintu kandang sing* gila yang terbuat dari kaca itu. Dan ternyata Kayla juga melakukan hal yang sama.
"Buatkan saya kopi!" Perintah pria itu padanya tanpa keluar dari ruangan kerja.
"Gulanya sedikit saja."
Ia yang masih speachless tak sempat menjawab perintah Bosnya yang sudah kembali masuk ke ruangannya.
Ia dan Kayla masih masih memikirkan mengapa kemunculan Jendra bertepatan saat Melani mengucapkan kata amin.
"Doa mbak Mel langsung dikabulkan Tuhan!"
Melani menatap Kayla yang terbahak karena seolah mengatakan Jendra yang menjadi jawaban atas doanya.
Ia memanyunkan bibirnya. Ia cemberut kesal. "Ya Tuhan, kalau memang dia orangnya, please! Cancel saja!" ucapnya kemudian.
Ia tak rela jika singa gil* itu yang menjadi suaminya. Meskipun Jendra adalah seorang CEO, tapi apakah dia tidak boleh memilih CEO dari Perusahaan mana?
"Terima saja, Mbak!"
"Pewaris Dewandaru Group loh ini!"
Melani tak ingin menanggapi ucapan Kayla. Ia masih kesal dengan sebuah kebetulan yang malah membuatnya cemas.
Bagaiamana kalau doanya memang Tuhan kabulkan saat itu juga? Apa ia bisa menerima pak Bos menjadi jodohnya?
Dari pada berlarut dalam fikiran negatif, lebih baik ia pergi ke pantry dan membuatkan kopi untuk pria itu.
"Biasanya hanya memberi perintah melalui intercom. Mengapa kali ini dia malah muncul di pintu." Melani masih kesal.
Sejak menjadi sekretaris Jendra 3 tahun lalu, ia sudah hafal dengan pria playboy yang selalu saja dicari-cari wanita cantik yang berbeda tiap minggunya.
Melani kembali dari pantry dan Kayla tampak menyemangatinya.
"Siapa tahu, dari kopi masuk ke hati." Ia melengos saat melihat Kayla tertawa.
Namun, tak urung Melani juga tertawa. "Semoga kopi ini bisa mengubah cuaca yang tidak menentu menjadi lebih cerah!"
Maksudnya adalah suasana hati Jendra yang masih sering berubah-ubah. Kadang marah tanpa sebab, kadang diam saja seperti singa jinak.
Tapi, Melani sudah melihat banyak perubahan. Pria itu sudah mau minum kopi, itu artinya pria itu mulai melawan kebenciannya terhadap Cahaya.
Dan beberapa hari terakhir, Jendra malah selalu merepotkan Melani untuk membuatkan kopi.
Melani masuk ke dalam ruangan Jendra. Dan pria itu hanya berpesan bahwa wanita bernama Clara akan datang. Ia diminta untuk mencegah agar Clara tak bertengkar dengan Kayla.
***
"Makan yang banyak!" Melani mengerutkan keningnya saat Jendra meletakkan sepotong ayam gorengbberukuran besar di atas piringnya.
Saat ini mereka makan siang bersama. Bukan karena kebetulan atau atas keinginan Melani, tapi karena Jendra yang mengajaknya.
Sementara Kayla makan siang bersama suaminya membuat Melani terpaksa ikut dengan Jendra.
Siulan mengoda yang Kayla tujukan padanya sebelum keluar dari kantor tadi, sempat membuatnya kembali merasa kesal.
__ADS_1
"Saya tidak serakus ini, Pak!" Melani melirik Jendra yang malah menopang dagu menatap dirinya yang sedang makan.
"Makan saja! Supaya kamu semakin pintar!" ucap Jendra.
"Saya sudah pintar!" gumam Melani.
Jendra menyeringai. "Kalau kamu pintar, tidak mungkin kamu bisa hampir terjebak oleh rencana Richard!"
"Jangan ingatkan saya soal itu. Itu yang pertama dan terakhir."
"Ya... ya... ya..." Jendra mengangguk tapi bibirnya mencebik meremehkan Melani. "Kalau saya tidak datang, malam itu memang menjadi malam terakhir kamu bisa tersenyum."
"Kecuali..."
Melani menatap Jendra yang menjeda ucapannya. "Kecuali apa?"
"Kecuali kalau kamu menyukai permainannya."
Melani berdecak. Permainan dalam tanda kutip yang dimaksud oleh Jendra.
"Kayla akan ke Bali," ucap Melani.
Jendra mengangguk. "Hanya dua hari. Saat weekend."
"Senin dia akan kembali bekerja."
"Huuh! Syukurlah." Melani bernafas lega.
"Saya tidak bisa membayangkan kalau dia akan cuti lagi."
Jendra tertawa. "Kamu sepertinya frustasi sekali kalau dia tidak datang."
Melani mengangguk. "Tentu. Ibarat kata, saya dipaksa dewasa sebelum saatnya, Pak!"
"Drama!" balas Jendra cepat.
Melani melirik tajam atasannya. "Saya harus menjadi sekretaris senior disaat saya belum siap."
"Mengatur jadwal meeting, ikut dalam meeting, dan mengurus pekerjaan lain. Saya tidak sehebat itu untuk bisa melakukan segalanya."
Jendra tersenyum. "Saya percaya kamu bisa."
"Semangat, Mel. Naik jabatan otomatis naik gaji. Belum lagi bonus dari saya kalau kerja kamu bagus."
"Untuk apa jabatan tinggi kalau saya belum mampu, Pak!"
Melani menyingkirkan piring kotornya. Ia menyeka bibir dengan tissu.
"Saya yakin kamu mampu. Ketika belum ada Kayla kamu juga bisa menangani semuanya," ucap Jendra.
"Tapi..."
"Tapi kamu harus ekstra sabar menghadapi saya!" Jendra tertawa tanpa suara.
"Sepertinya itu yang paling sulit, Pak!" Jendra kembali tertawa mendengar pengakuan Melani.
__ADS_1