Istri Bar-Bar Sang Pewaris

Istri Bar-Bar Sang Pewaris
Bab 94 S2 Tutup Telinga


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, Melani dan Jendra tak lagi dibuat pusing oleh hubungan diantara mereka yang makin kesini semakin banyak yang menjodoh-jodohkan keduanya.


Bukan hanya karyawan kantor, klien-klien penting juga mulai berbisik-bisik mengenai restu yang digadang-gadang sudah diberikan oleh pemilik perusahaan, yaitu Surendra Dewandaru kepada mereka berdua.


Bukan tanpa alasan, ternyata saat makan malam bersama, ada karyawan kantor yang melihat Jendra datang bersama Melani dan disusul oleh kedua orang tua Jendra.


Melani masuk ke dalam mobil Jendra setelah mereka selesai meeting disalah satu perusahaan besar.


"Jujur saja, saya lelah dengan semua ini, Pak." Melani menghela nafas panjang saat dirinya sudah duduk dan menutup pintu mobil.


"Sampai kapan mereka akan selalu salah faham dengan hubungan kita?" Melani menatap Jendra yang hanya mengangkat bahu.


Jendra lebih fokus ke jalan raya karena ia tegah mengemudi. Pertanyaan Melani juga merupakan hal yang selalu ia fikirkan.


Bohong jika ia tidak terusik. Tapi, apa yang bisa ia lakukan? Baginya, selama tidak ada yang mengambil keuntungan dari gosip itu dan tidak menimbulkan kerugian baginya dan perusahaan, ia ingin bersikap acuh saja.


"Tutup saja telinga kamu! Karena kedua tangan kamu tidak akan cukup untuk membungkam mulut semua orang, Mel."


"Selagi kamu menikmati dan nyaman dengan pekerjaan kamu sebagai sekretaris saya, biarkan saja mereka mau bilang apa."


"Kadang saya juga inginnya begitu, Pak. Selagi tidak mengurangi isi dompet dan saldo dalam tabungan saya, terserah mereka mau bilang apa."


Jendra malah tertawa.


"Tapi, kadang risih juga, Pak!"


"Sampai-sampai banyak sekali yang bertanya kepada saya secara pribadi. Entah melalui sosial media atau pesan singkat."


"Laki-laki atau perempuan, Mel?"


"Kebanyakan laki-laki, Pak."


Jendra menahan tawa, "Kasihan sekali, kamu Mel. Pantas saja kamu masih single sampai sekarang!"


Kening Melani berkerut. Ia merasa tidak ada hubungannya dengan dirinya yang masih sendiri.


"Hahaha..." Jendra tertawa. "Bisa saya bayangkan sih!"


"Saat ada pria yang menyukaimu dan ingin mendekati kamu, pasti sudah mundur duluan!"


"Pria itu mengira akan bersaing denganku."


Jendra terbahak. "Astaga! Sebaiknya kamu menjauh dariku, Mel." Jendra mengibaskan tangannya sebagai isyarat kalau Melani harus menjaga jarak darinya.


"Supaya jodoh kamu segera datang!"


Melani mencibir bosnya, "Lebih baik saya sendiri dulu untuk waktu yang belum ditentukan, dari pada harus bersama pria yang hanya ingin main-main."


"Kalau yang bapak katakan memang benar, berarti gosip yang beredar selama ini menguntungkan bagi saya."


"Setidaknya dengan cara ini, jodoh saya terseleksi dengan sendirinya. Yang merasa tidak pantas atau memang tidak pantas akan tersingkir tanpa saya melakukan apapun," ucapnya enteng.


Bukan masalah baginya, jika pria yang ingin serius dengannya, pasti akan tetap maju dan mencari tahu kebenaran mengenai hubungannya dengan si Bos.

__ADS_1


Jendra tertawa. "Kamu benar juga, Mel. Selama ini juga tidak ada gadis yang mengganggu hidup saya lagi."


"Mungkin mereka melihat kamu yang selalu berjalan dibelakang saya, lebih terlihat seperti pawang dibanding sekretaris saya." Bukannya sedih, ia malah tertawa senang.


Pawang singa gil*. Fikir Melani.


Melani tertawa. Bukan karena ucapan Jendra, tapi karena fikirannya sendiri.


Keduanya tiba di kantor dan tampak mobil Kalandra sudah terparkir disana.


"Kalandra datang pada saat jam kerja seperti ini, pasti ada apa-apa, Mel," ujar Jendra ketika keduanya masuk ke dalam gedung perkantoran itu.


Mereka buru-buru masuk ke dalam lift setelah Melani meyakinkan tidak ada jadwal meeting dengan perusahaan pria itu.


"Saya malah khawatir terjadi sesuatu dengan Kayla, Pak."


Melani merasa gelisah karena rekannya itu memang tengah hamil muda. Dan rentan terjadi sesuatu pada kandungannya jika terlalu stress dan kelelahan.


Kayla bahkan pernah pingsan saat sebelum ketahuan kalau wanita itu tengah mengandung.


"Saya juga merasa begitu, Mel."


Mereka tiba di ruang kerja. "Mereka tidak ada, Pak!" Melani sedikit panik. Ia meletakkan tas dan beberapa berkas yang ia bawa ke meja kerjanya.


"Tas Kayla ada di meja kerjanya," ucap Melani melaporkan apa yang ia lihat.


"Izin pulang saja!" Mereka mendengar suara dari arah toilet.


"Pulang atau tidak bekerja sama sekali!" Suara Kalandra terdengar seperti sedang membentak.


Melani dan Jendra saling tatap dan keduanya bergegas menuju toilet.


Tampak Kayla yang menghempaskan tangan suaminya saat pria itu mencoba membantu Kayla yang tengah berjalan pelan.


"Aku bisa sendiri, Mas!" ucap Kayla dengan wajah cemberut.


Kehadiran Jendra dan Melani membuat langkah kaki Kayla berhenti.


"Ada apa ini, Kal?" Jendra bertanya pada pria yang berdiri di belakang istrinya itu.


"Tidak ada apa-apa, Pak. Hanya pertengkaran kecil. Saya permisi kembali bekerja dulu, Pak!" balas Kayla yang mengangguk pelan dan berjalan melewati tubuh Jendra dan Melani.


"Ada apa?" Tanya Jendra lagi pada sahabatnya.


"Dia terus saja mual dan muntah. Ku minta untuk izin saja hari ini, tapi dia menolak."


Ketiganya menyusul Kayla yang kembali ke ruang kerja.


"Bawa dia pulang, jika kamu merasa khawatir. Aku juga tidak ingin bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada calon keponakanku."


"Dia keras kepala, Jend. Dia selalu menganggapku memanfaatkan hubungan kita untuk mempermudah segala urusannya."


Jendra tertawa. "Bukannya memang begitu? Istrimu tidak salah, Kal!"

__ADS_1


Kalandra malah berdecak kesal.


"Mel, tolong bujuk Kayla agar lebih baik ikut suaminya pulang dan istirahat di rumah."


"Baik, pak."


Melani duduk di depan meja Kayla. Sementara Jendra dan Kalandra berdiri tak jauh darinya.


"Kay, lebih baik kamu pulang saja."


"Aku masih kuat, Mbak Mel. Aku sudah biasa melawan sakit seperti ini."


Melani tersenyum menatap wanita yang tengah menempelkan botol minyak angin yang terbuka ke hidungnya.


"Dulu dan sekarang itu berbeda, Kay." Melani bicara dengan selembut mungkin. Ia pernah menghadapi Mona yang tengah hamil dulu, jadi ia sedikit tahu kalau mood wanita hamil selalu berubah-ubah.


"Dulu, kamu sendirian. Sekarang, dalam tubuh kamu ada janin yang harus kamu jaga."


"Dia punya nyawa loh!"


"Jantungnya bahkan sudah berdetak."


Kayla menatap Melani.


"Mungkin saja kamu memang kuat, tapi dia?" Tatapan mata melani mengarah ke perut Kayla.


"Lihat!" Melani melirik Kalandra. "Sekarang kamu punya suami yang mengkhawatirkan kamu dan juga calon anak kalian."


"Pulang, ya..."


"Ikut dengan suamimu."


Kayla menunduk dan menangis. Kalandra mulai kebingungan. "Sayang!" Kalandra berdiri disamping Kayla dan mengusap bahunya.


Kayla malah minta dipeluk dan memohon maaf pada suaminya karena terlalu egois dan memikirkan dirinya sendiri.


"Kenapa aneh begitu, Mel?" Jendra menatap punggung Kayla dan Kalandra yang mulai menjauh.


"Apa karena bawaan bayinya?"


Melani mengangkat bahu. "Mungkin saja. Tapi, kebanyakan wanita hamil memang begitu."


Jendra menghela nafas lalu tertawa pelan membuat Melani seketika menatapnya.


"Mengapa anda jadi ikut-ikutan aneh, Pak?"


Jendra tertawa. "Saya yakin, memang bawaan bayi, Mel. Bapaknya saja suka merepotkan, wajar kalau anaknya juga merepotkan."


"Selamat lembur, Mel!" Jendra masuk ke dalam ruang kerjanya.


Melani menggaruk keningnya yang tak gatal. "Ya ampun!"


"Mengapa nasibku selalu seperti ini?" Melani berdiri dan berjalan dengan tak bersemangat ke meja kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2